ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 50



Kebetulan Zafian baru saja mundur untuk menghindar dan hampir saja terkena tendangan, lalu bersiap kembali memperkuat persiapannya yang kali ini untuk mempertahankan dirinya saja, karena melawan saat ini tidak mungkin.


"Terlalu banyak, aku_"


"Aku datang tepat waktu bukan?" Sahut seseorang.


"Sayang, Kenapa kemari, cepat kembali ke Mobil!" perintah Zafian yang masih terkejut dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.


"Ck, apa kamu lupa aku juga bisa bela diri?" Ucap Afita.


"Tapi ini bahaya!" Jawab Zafian tampak cemas.


"Bela diri memang untuk sesuatu yang membahayakan buat kita" sahut Afita.


"Yang, ini bahaya, pergilah dari sini, ku mohon"


Dag.


Satu tendangan berhasil di tangkis oleh Afita dengan baik, Zafian sangat terkejut.


"Lihat, aku bisa mengatasinya bukan!" Teriak Afita yang kini sudah melompat dan berganti menyerang.


"My God, hati-hati lah, jangan jauh-jauh dariku!" Teriak Zafian lagi yang kini sudah kembali bertarung.


Perhatian Zafian tak pernah lepas dari apa yang dilakukan Afita, bibirnya tersenyum melihat bagaimana gerakan bela diri sang istri ternyata begitu gesit dan lincah.


"Benar-benar wanita tangguh keluarga Nugraha" ucapnya lirih.


Bagaimana dengan para musuhnya?, Sekarang sepertinya keadaan sudah sedikit seimbang, kekuatan Zafian dan juga Afita rupanya mampu untuk mengatasi serangan mereka.


"Sial, Zafian Al Faradz memang sangat tangguh, tapi wanitanya juga tidak bisa dianggap remeh, siapa sebenarnya wanita itu, bagaimana mungkin gerakannya begitu ringan dan cepat sekali" ucap ketua musuh yang memimpin pertarungan.


"Apa sebaiknya kita mundur sekarang?" Tanya salah satu dari mereka yang mulai merasakan kekalahan.


"Hem, tapi beri aku kesempatan menjajaki bela diri Zafian Al Faradz"


"Baik, dan wanitanya adalah bagianku"


"Lakukan dan serang!" Ucap sang ketua.


Detik berikutnya, Zafian mendapat serangan dahsyat dari ketua gerombolan itu, rupanya ilmu bela diri dari orang ini hampir setara dengan Zafian, dengan seringai mengerikannya menyerang dengan tendangan di titik mematikan, Zafian bahkan harus di buat waspada penuh.


Afita melihat semua itu dan untuk sekian kali dia harus menahan diri, tidak ingin Zafian akan terkejut dengan kekuatan bela diri yang sesungguhnya dimiliki, Afita masih terus bertahan dan menyerang dengan kekuatan yang dibatasinya sendiri.


"Sayang, hati-hati!" Teriak Afita saat mengetahui sang ketua yang menyerang Zafian mengeluarkan senjata rahasianya.


Slep.


Jarum berukuran kecil yang dilempar tersembunyi sepertinya berhasil menembus kulit zafian.


"Akh!, sh-it!" Teriak Zafian lalu kemudian maju menyerang dengan kekuatan lebih.


Dag.


Musuh terpental beberapa jengkal jauh ke belakang, Zafian tersenyum puas melihat hasil tendangan telaknya.


Begitu juga dengan Afita yang sudah tidak sabar lagi dan ingin segera mengakhiri pertarungannya, sedikit menggunakan kekuatan tenaga dalamnya melompat dan menyerang dengan cepat, tangannya tidak menyentuh bagian musuhnya sama sekali, namun dorongan kuat dirasakan mereka hingga terpelanting.


"Akh!, wanita itu_ " teriak musuh terdengar.


"Pergi dari sini, Cepat!" Teriak sang ketua mengagetkan semuanya, dan berlari masuk ke dalam mobil lalu segera pergi.


Disaat yang sama satu mobil bergerak cepat mendekat ke arah Afita dan Zafian berada.


"Maaf Nona Afita, kami terlambat" ucapnya.


"Ck, aku sudah bilang jangan mengikuti ku, aku bisa mengatasi hal ini, pergilah!" Ucap Afita takut akan ketahuan sang suami bahwa dirinya juga punya pengawal dari keluarga Nugraha yang terus mengawasi.


Keduanya segera pergi sesuai perintah, semenjak menikah Afita memang sering membatasi pengawalan, walaupun sebenarnya Alex tidak mengizinkan.


"Yang, kau baik-baik saja?" Tanya Zafian menghampiri sang istri dengan wajah cemasnya.


"Aku baik, diam lah!" Ucap Afita yang langsung memeriksa tubuh Suaminya.


"Sial!" Gumam Afita saat menemukan satu jarum yang sangat lembut dan tertancap di lengan suaminya yang tidak di rasakan sama sekali.


"Ada apa?" Tanya Zafian bingung.


"Kita harus segera pulang, aku tidak bisa mengobati mu disini yang" sahut Afita dengan wajah paniknya.


"Maksudnya?" Tanya Zafian masih bingung.


"Ini, lihat jarum ini!" Ucap Afita menunjukkan jarum yang berhasil di lepas dari tubuh Zafian.


"What?, Apa ini?"


"Jarum beracun, atur nafas dan tenangkan diri mu dulu yang, detak jantung yang cepat akan semakin mempercepat racun di tubuhmu menyebar" ucap Afita yang sudah mengikat kuat lengan suaminya tepat disamping titik jarum yang tertancap.


"Jadi ini_"


"Jarumnya memang kecil, tapi racunnya luar biasa, aku sangat mengenalnya"


Zafian masih terdiam, lalu segera masuk ke dalam mobil di bantu oleh sang sopir, Benar apa yang dikatakan oleh Afita, tubuh Zafian kini mulai bereaksi akan racun yang ada.


"Yang aku mulai pusing" ucap Zafian.


"Tenang lah, Atur nafasmu yang" jawab Afita berusaha menenangkan suaminya.


"Ke Mansion!" Perintah Afita yang sempat membuat pak sopir terkejut, namun tidak berani bertanya atau menyangkalnya.


Zafian mulai merebahkan dirinya, merasakan tubuhnya mulai panas dan nafasnya terasa sedikit agak berat, rasa pusing mulai sangat terasa dan keringat dingin keluar begitu banyak.


"Yang, Tetap tenang, kita hampir sampai" Ucap Afita yang tidak mungkin membantu Zafian dengan tenaga dalamnya di ruang terbuka.


Tak lama mobil berhenti, tanpa sengaja dan keadaan panik, Afita langsung merangkul Zafian dan membawanya masuk sendiri, pak sopir sangat terkejut dengan apa yang di lakukan majikan perempuannya.


"Bagaimana mungkin Nyonya Afita melakukannya sendiri, aku saja kerepotan dengan beban tubuh tuan Zafian, sangat Aneh" ucapnya lirih lalu berlari masuk.


"Astagfirullah, ada apa Sayang, apa yang terjadi dengan Zafian?" Sambutan histeris dari sang bunda langsung terdengar nyaring.


"Tidak apa-apa bunda, aku akan membawa Zafian masuk dulu, dan mengganti pakaiannya!" Sahut Afita lalu segera masuk ke kamar, meletakkan Zafian di atas tempat tidur bersama dengan Anita dan pak sopir yang berada di belakangnya.


"Zafian, nak, bangun lah!" Ucap Anita begitu cemas.


"Bunda bisa keluar dulu?, Biarkan Afita mengganti pakaiannya Zafian" Alasan Afita.


"Tapi_"


"Zafian tidak apa-apa Bunda, aku janji sebentar lagi dia akan terbangun seperti biasanya" ucap Afita lagi, dan akhirnya berhasil membuat Afita segera melakukan aksinya.


"My God, aku harus membuka semua baju Zafian, racunnya sudah menyebar begitu cepat.


Afita merasa kikuk, terus terang dirinya belum pernah melihat suaminya polos tanpa busana di depannya, dan kali ini dia harus membuat keadaan seperti itu, dengan keresahan hati terpaksa Afita membuang semua kain yang menempel di tubuh suaminya.


Sejenak terkejut melihat sesuatu di bawah sana, "Besar sekali" ucap Afita lirih tanpa disadari.


"Oh my God, apa yang aku pikirkan, Ayo Afita jangan Gila!" Teriaknya dalam hati menyesali apa yang baru saja melintasi alam pikirannya.


"Bersiaplah sayang, Bismillah" ucap lirih Afita, lalu segera membuka kekuatan tenaga dalamnya untuk menetralisir racun di dalam tubuh suaminya.


Telapak tangannya mengeluarkan sebuah cahaya putih, menempel perlahan dan memberikan sedikit getaran di tubuh Zafian, hampir sepuluh menit waktu telah berjalan, keringat membanjiri tubuh Afita di tengah konsentrasi yang dilakukan.


*


Zafian merasa tubuhnya begitu berat, bahkan untuk membuka mata saja rasanya sangat sulit.


"Bunda?" Ucap Zafian yang terkejut saat matanya terbuka dan melihat Anita sudah tersenyum di sebelahnya.


"Alhamdulillah, kamu sudah terbangun, bagaimana keadaanmu Zaf?" Sahut sang Bunda.


"Aku_, dimana Afita!" Teriak Zafian cemas.


"Sst, tenanglah, lihat itu" ucap Anita menoleh ke tempat yang di tuju.


Terlihat Afita tertidur pulas di kursi sofa yang tak jauh dari tempat tidur, Zafian langsung ber nafas lega melihat istrinya nampak baik-baik saja, bahkan tertidur cantik di hadapannya.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, dia baik-baik saja kan Bun?" Tanya Zafian lagi.


"Afita baik-baik saja, justru dia yang memapah mu masuk kedalam kamar ini, Bunda lebih khawatir padamu, bagaimana semua ini bisa terjadi?"


"Ada yang menyerang kami Bun, tapi kami tidak apa-apa”


"Tidak apa-apa bagaimana, sopir kamu tadi sudah cerita semuanya, Bunda tidak mau tau lagi, pakai pengawalan kalau pergi kemanapun, percuma kamu bayar mahal orang-orang untuk menjaga Mansion, kalau kamu sendiri justru dalam bahaya"


"Iya Bun, aku akan menyuruh mereka untuk ikut kemanapun kita pergi mulai sekarang"


Anita tersenyum, keduanya segera Menatap Afita yang tiba-tiba saja bergerak membenahi posisi tidurnya.


"Aku tidak tau lagi, siapa sebenarnya istrimu ini Zaf" ucap lirih Anita yang mengejutkan Alfaro.


"Maksud Bunda?"


"Aku mendengar cerita dari sopir mu, Afita ikut berkelahi bersamamu tadi"


"Oh itu, iya Bun"


Plak


"Akh!, Kenapa Bunda memukulku?"


"Dia wanita yang begitu lembut di mataku, kenapa kau ajak berkelahi, memang dia bisa?"


"Siapa yang mengajak Bun, dia sendiri yang sudah tiba-tiba muncul di sampingku, aku juga terkejut, dan bunda pasti akan syok kalau tau bagaimana cepatnya dia bertarung"


"Apa!, Jadi benar Afita bisa bela diri?"


"Iya Bun, sangat bisa, dia wanita tangguh dan hebat, bunda jangan heran, semua keluarga Nugraha menguasai ilmu bela diri"


"Apa!, Maksud mu yang perempuan juga?" Tanya Anita lagi.


"Iya Bun, se mu a nya!" Ulang Zafian.


"Berarti Ibu Reyna Juga?"


"Hem, begitulah"


Dan sang Bunda langsung melongo dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Zafian, rasanya tak percaya tapi semua mengatakan demikian, Anita tidak bisa membayangkan wanita-wanita yang begitu lembut dan menutup tubuhnya dengan begitu sempurna mampu melakukan gerakan bela diri yang bahkan terdengar begitu hebat dari apa yang di jelaskan oleh Zafian.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.