ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 77



Alex masih terdiam, mencoba untuk mengingat kembali sesuatu yang mengganjal pikirannya, dan tak lama kemudian dirinya mendekati Anita untuk memperjelas apa yang sedang dipikirkannya.


"Maaf Bu Anita, apa pak Kyai yang anda maksud adalah ini?" Ucap Alex memperlihatkan sebuah foto di handphonenya.


Deg.


Anita sontak terkejut, membelalakkan mata tak percaya sambil menutup mulutnya sendiri.


"Maaf, Bagaimana anda bisa mempunyai foto pak Kyai?" Tanya Anita kemudian.


"Boleh saya melihatnya Dad?" Tanya Zafian, dan Alex segera menggeser tempatnya berdiri hingga lebih dekat lagi dengan Zafian.


"Bagaimana, apa ini orang yang kamu maksud?" Tanya Alex lagi.


"Iya, benar sekali, bagaimana mungkin itu_"


"Beliau kakek buyutku, sudah Almarhum kurang lebih tiga tahun yang lalu" sahut Afita dengan senyuman tipis penuh dengan kerinduan.


"Jadi_" ucap Anita masih dalam keterkejutannya.


"Kyai Rahmat Hasan Nugraha, pemilik Pondok pesantren yang ibu Anita maksud, beliau adalah kakek buyut Afita, meninggal diusia hampir 80 tahun" ucap Reyna.


Anita dan Zafian semakin terkejut dengan apa yang didengarnya, lalu kemudian perbincangan berlangsung semakin seru, rupanya kejadian demi kejadian kini mulai terbuka berurutan, tidak disangka bahwa penolong dan penyegel kekuatan Zafian adalah sang kakek yaitu Almarhum Kyai Rahmat Hasan Nugraha.


"Apa itu artinya, kita akan semakin mudah melepas semua segel dan mengenalkan Zafian akan kekuatannya sendiri Dad?" Tanya Aftan yang sedari tadi masih terdiam mendengarkan.


"Hem, semoga seperti itu, dan kamu Zaf, setelah kesembuhan mu, segeralah bersiap" ucap Alex menatap penuh harapan kepada menantunya.


"Aku akan membantumu yang" sahut Afita.


Diskusi kali ini segera di sudahi saat hari mulai gelap, nampak Aftan masih berada di ruangan Zafian menunggu yang lain datang kembali.


"Aku dengar soal kamu dan Ailina" ucap Zafian.


"Tidak perlu di bahas, dia juga sudah pergi dan terbang kembali ke Belanda, tidak ada yang penting baginya kalau harus berlama-lama disini" ucap Aftan yang tampak berusaha menguatkan diri.


"Aku tau, tapi perasaan tidak bisa di paksakan, sebagainya laki-laki normal, tidak ada yang tidak terpesona dengan sosok Wanita seperti Ailina, wanita yang sangat langka dengan kecantikan yang disempurnakan dengan mata birunya" ucap Zafian.


"Maksud mu?, Kau juga menginginkannya, begitu?"


"Oh my God Af, kau terlalu naif, aku memang menyukai sosok Ailina, tapi hanya sebatas kagum saja, kalau soal Cinta, ya jelas Afita satu-satunya" ucap Zafian menegaskan.


"Entahlah, aku juga kadang bingung, mungkin perasaanku ini hanya kekaguman saja, bukan cinta dan sebagainya" sahut Zafian dalam tatapan tanpa harapan.


"Itu maksudku, mungkin kau hanya mengagumi saja, bukan mencintainya, jadi buka hatimu untuk wanita yang akan datang menyambut cintamu" ucap Zafian kemudian.


Aftan menoleh sejenak dan beradu pandang dengan Zafian, lalu kemudian beranjak mendekat ke jendela untuk menyegarkan pikirannya dengan melihat pemandangan taman yang cukup indah dipandang mata.


*


*


Sementara itu, kabar terkini masih belum ada hal yang baik, anak buah Zafian bahkan belum sadarkan diri, semua bukti tidak lagi bisa di bawa ke pengadilan, hingga kasus harus berhenti dan kesempatan itu digunakan oleh pihak keluarga Ricardo untuk membebaskan Edric.


Bebas bersyarat pun di dapatkan, kini Edric tengah duduk di balkon rumahnya dan berbincang serius dengan Elonar.


"Bagus, kerjamu sengat cepat Elonar" ucap Edric.


"Terimakasih pa, itu hanya masalah kecil"


"Lalu bagaimana dengan Adikmu Eliza?" Tanya Edric.


"Sifat arogansinya masih saja sama, itu harus segera dihilangkan pa, bisa sangat berbahaya untuk langkah kita selanjutnya" Jawa Elonar.


"Jangan terlalu keras padanya, lindungi Eliza apapun yang terjadi, itu tugasmu sebagai kakaknya"


"Hem, tentu saja" jawab Elonar yang tengah serius dan sepertinya sedang mencemaskan sesuatu.


"Apa yang mengganggu pikiran mu?" Tanya Edric.


"Zafian, laki-laki itu, bagaimana mungkin masih bertahan dan kabar terakhir dia sudah pulih dengan cepat, rasanya tidak mungkin" ucap Elonar dengan berbagai pikiran yang tidak dia mengerti.


"Benarkah?" Tanya Edric ikut terkejut.


"Benar-benar diluar perkiraan ku, apa mungkin istrinya yang berada di belakang semua ini?" Tanya Edric makin penasaran.


"Seperti yang aku pikirkan Pa, sepertinya ada sesuatu disini, siapa sebenarnya Afita Khaira?, Sial!, Kenapa susah sekali mencari informasi soal dirinya" sahut Elonar dengan kesal.


"Dia punya kekuatan yang mengerikan, aku sudah pernah melihatnya sendiri Elo, dan kamu harus lebih hati-hati lagi"


Elonar terdiam, mengangguk sebentar, lalu tatapannya menerawang jauh kembali ke bayangan bagaimana Afita dengan marah menyerangnya karena telah melukai Suaminya.


"Ck, ada apa denganku, kenapa hatiku merasakan nyeri, apakah aku menyukainya atau bahkan lebih?, Oh my God, sh-it!" Um-pat Elonar makin kesal dengan keadaan.


"Apa kau baik-baik saja?, Lalu apa yang akan kau lakukan Sekarang?" Tanya Edric membuyarkan lamunan anaknya.


"Habisi saksi kunci yang berada di pihak Zafian, lalu selanjutnya aku akan buat Zafian bertekuk lutut di hadapan papa karena menyesali perbuatannya yang kurang ajar!" Sahut Elonar dengan kilatan amarah di matanya.


"Lalu, wanita itu?" Tanya Edric, membuat Elonar yang akan pamit keluar, langsung terdiam ditempat nya sejenak, lalu melanjutkan langkahnya kembali.


"Wanita itu urusanku Pa, jangan ada yang berani menyentuhnya!" Teriak Elonar sambil terus melangkah keluar dari kamar yang berada di mansion.


Dan satu jam kemudian, Elonar sudah berada di sebuah tempat hiburan dengan para wanita yang sengaja dia pilih untuk memuaskan has-rat nya malam ini.


Elonar meneguk beberapa minuman, sejenak berbuat gila karena ingin terlepas dari bayangan wanita yang memenuhi kepalanya beberapa hari ini.


"Apa kau Ingin bercinnta?" Tanya seorang wanita yang kini sudah berdiri meliak-liukan tubuhnya di depan Elonar.


Senyuman tipis mengembang di bibir Elonar, "Apa kau yakin bisa memuaskan ku?" Ucap Elonar dan kini sudah menarik baju wanita penghibur itu lali menempatkan di pangkuannya.


"Aku ingin milikku di manjakan oleh mulutmu, dan lakukan sampai aku puas, apa kau bisa?" Ucap Elonar.


"Sure baby" sahut wanita itu yang kini sudah berjongkok dan beraksi dengan memainkan pusaka Elonar dengan mulutnya.


Segera ruangan itu memanas, pintu pun tertutup otomatis dengan remote yang baru saja di ambil oleh wanita malamnya.


"Yes baby, Sucking!" Teriak Elonar yang kini sudah memegangi kepala wanita itu dan membuat tubuh bagian bawahnya bergerak maju mundur dengan de-sa-han nikmat yang semakin terdengar.


Sesaat kemudian, benih Elonar segera tertumpah memenuhi mulut wanita yang masih berada di bawahnya, namun apa yang dilakukan oleh wanita penghibur itu membuatnya seketika murka.


"Kurang ajar, berani kau memuntahkannya!" Teriak Elonar yang kini langsung menendang wanita itu hingga terlempar keluar.


Brak.


"Ampun Tuan, saya mohon!" Teriak wanita itu yang kini sangat ketakutan dengan tubuh polosnya.


"Jallang sepertimu tidak pantas hidup!" Teriak Elonar dan tangannya sudah bersiap menghancurkan wanita itu.


Dag.


Sebuah tendangan melesat dengan cepat, hingga membuat Elonar terkejut dan mundur mengurungkan niatnya.


"Breng-sek!, Siapa kau, berani ikut campur urusanku?!" Ucap Elonar dengan wajah murkanya.


"Siapa aku tidak penting, yang jelas, wanita itu bukan lawanmu, jangan jadi pengecut!" Sahut laki-laki yang sudah tersenyum sinis kearah Elonar.


"Baik, kau harus menggantikan wanita itu untuk aku bina-sa kan, jangan menyesal!" Teriak Elonar langsung menyerang.


Laki-laki itu tersenyum miring, melompat menghindar dengan lincah seolah tubuhnya ringan sekali, detik berikutnya, Elonar tidak bisa menahan diri lagi, hingga kekuatan tenaga dalam yang dia miliki akhirnya digunakan untuk menyerang.


Dag.


"Sh-it!" Ucap laki-laki itu segera mundur, rupanya gerakan Elonar berhasil mengenai lengannya.


Namun betapa terkejutnya Elonar melihat pemandangan dimana seharusnya kulit itu hancur terbakar, dengan sekali usapan tangan pemiliknya, langsung sembuh seketika, hanya kemerahan dan tanpa luka yang berarti.


"Diatas langit, masih ada langit kawan, jadi, saatnya aku memberikan sebuah balasan!!" Teriak laki-laki itu, bergerak secepat kilat dan kini sudah ada di depan hidung Elonar, lalu_


"Akh!" Teriak Elonar, yang rupanya terkena tendangan hingga mundur beberapa jengkal.


"Sial, rupanya laki-laki ini juga mempunyai tenaga dalam, siapa dia?" Batin Elonar mulai cemas.


Yang makin Penasaran..yuk jangan lupa Senin waktunya VOTE, VOTE, VOTE.


Bersambung.