ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 36



Segera Zafian melempar handphone nya begitu saja, setelah panggilan yang dilakuan ke Firman sahabatnya.


"Semoga kau bisa memberiku masukan yang terbaik Fir" desah Zafian sambil memijit pelipisnya.


Seperti yang di perintahkan Zafian, Firman yang saat itu kebetulan tengah beristirahat, segera melesat pergi saat mendengar panggilan dari sahabat satu-satunya yang selalu memberi perintah seenaknya sendiri.


"Dasar ini orang, ada apa lagi sekarang?" Batin Firman sambil melajukan mobilnya ke tempat kerja Zafian.


Kurang dari lima belas menit kini keduanya sudah berhadapan.


"Ada apa?" Tanya Firman setelah mengucap salam dan duduk di hadapan Zafian.


"Aku butuh pertimbangan mu, ada masalah serius"


"Serius?, Soal apa?, Kamu mau kawin lagi?" Tanya Firman berusaha menggali dengan ngawur.


Bug.


"Sh-it!, Sakit Zaf!" Teriak Firman kesakitan karena hantaman benda yang dilempar begitu saja oleh Zafian.


"Mangkanya dengarkan dulu penjelasan ku, jangan main kesimpulan sendiri!"


Firman lalu segera memasang wajah seriusnya, sepertinya apa yang ingin di katakan oleh sahabatnya benar-benar masalah yang serius.


"Sorry, ada apa?"


"Afita" ucapan Pertaman dari mulut Zafian dan membuat Firman menaikkan satu alisnya.


"Ada apa dengan Afita, Hamil?"


"Ck, bukan itu, tapi Bimo"


"What, Hamil dengan Bimo?!"


Bug.


Satu hantaman benda lolos tepat di kepala Firman kali ini.


"Akh!, Ya ampun Zaf, bisa-bisa aku gegar otak lama-lama bersamamu disini!" Teriak Firman yang masih bingung dengan teka teki masalah Zafian.


"Diam, jangan ngomong dan dengarkan dulu!" Teriak Zafian tak kalah emosi dengan Firman yang masih menggosok kepalanya.


"Ish, iya, sorry, lanjut!" Teriak Firman yang juga sama dalam mode jengkelnya.


"Bimo mengancam ku Fir"


"Ha, dan kamu takut, begitu?"


"Ck, bukan seperti itu, tapi ini, lihatlah!" Ucap Zafian sambil melemparkan beberapa foto di atas meja.


Firman segera mengambil dan melotot melihatnya, "ini foto setingan ulah dari Bimo?" Tanya Firman memastikan.


"Sayangnya tidak, anak buah ku sudah memperlihatkan ke ahlinya dan ini asli"


"Kok bisa?, Kamu berhubungan lagi dengan Eliza?"


"Tentu saja tidak Fir, aku masih cukup waras, tidak mungkin berbuat hal seperti itu!"


"Lalu ini apa?"


"Itu foto asli yang di dapatkan Bimo, tapi dia mengambilnya dengan posisi yang seolah aku sedang sendirian bersama dengan istrinya disaat itu"


"Terus?"


"Dia mengancamnya ku menggunakan itu untuk memberitahu Afita, kecuali aku mau menuruti keinginan nya"


"Tunggu-tunggu, berarti saat itu bukan hanya ada Eliza kan, tapi siapa lagi?"


"Cintia, sekretaris ku"


"Good, lalu dimana letak masalahnya?, Sekretaris mu kan bisa jadi saksinya"


"Hehh..sebenarnya iya, tapi ada lagi"


"What, ya Tuhan Zaf, apa lagi?"


"Aku_" ucap Zafian mengehentikan ucapannya, teringat bagaimana seringnya menanggapi curhatan dari Eliza hanya karena prihatin akan musibah yang dialaminya.


"Kamu kenapa?, Jangan muter-muter, aku makin tambah ikut pusing juga!" Sahut Firman yang sudah tidak sabaran lagi.


"Aku sering berbincang dengan Eliza beberapa minggu ini dan itu semua disadap oleh Bimo suaminya"


"Astagfirullah, Zafian!, Gitu katanya kamu itu waras, itu namanya kamu sudah gila!, Dasar!" Teriak Firman yang sudah geregetan, seumpama itu bukan Zafian, mungkin sudah di tendangnya dari tadi.


Kemudian Zafian menjelaskan, bahwa dia melakukan hal itu karena Eliza tengah menderita dengan masalahnya, Firman beberapa kali menarik nafas panjang, sumpek juga mendengar masalah sahabatnya.


"Kalau masalahnya seperti ini, mau apa lagi, jika uang bagimu tidak masalah, turuti saja kemauan Bimo untuk saat ini, tapi ingat, pastikan dia menempati janjinya!"


"Hem, tentu saja, yang terpenting untuk saat ini hubungan ku dengan Afita aman, dan selanjutnya aku akan menjelaskan semuanya pelan-pelan agar Afita mengerti kenapa aku melakukan hal ini"


"Baiklah" ucap Firman memberikan support, dan terkejut saat mendapat panggilan darurat dari ponselnya.


"Sorry Zaf, aku harus segera pergi ke Rumah Sakit, ada keadaan darurat"


"Pergilah, thanks Fir"


"Yoi, sama-sama, hati-hati, dan waspada!" Teriak Firman yang kini sudah menghilang di balik pintu.


Zafian segera menghubungi Cintia.


"Iya pak, ada apa?" Tanya Cintia.


"Apa masih ada pekerjaan yang membutuhkan ku lagi?"


"Em, sebentar pak" ucap Cintia kini membuka Tab, dan melihat daftar hadir ini. "Ada satu lagi pak, bertemu dengan klien yang akan mengadakan kontrak kerja pembangunan tempat Hiburan"


"Cancel dan cari hari lagi, segera hubungi karena aku tidak bisa, ada urusan mendadak yang sangat penting" ucap Zafian membuat Cintia sangat terkejut, melihat sang bos tidak biasa melakukan hal ini.


"Baik pak, saya akan segera menghubungi"


"Hem, terimakasih dan kau bisa keluar"


"Baik pak"


"Tunggu!" Ucap Zafian yang lupa akan sesuatu.


"Iya pak, ada lagi?"


"Kalau Bimo Trihatmodjo datang, langsung saja suruh masuk ke ruangan ku" perintah Zafian.


"Baik pak, ada yang bisa saya bantu lagi pak?"


"Cukup, dan kau bisa keluar dari sini" jawab Zafian yang kini duduk di kursinya kembali.


Tak lama kemudian, Zafian segera menghubungi bagian keuangan perusahannya, memerintahkan untuk segera datang ke ruangannya.


"Iya pak, ada masalah apa?" Tanya salah satu pegawai nya dengan wajah cemas, takut kalau melakukan kesalahan dalam pengaturan keuangan di perusahaan.


"Tidak ada, aku hanya ingin kau segera menghapuskan kekurangan dana pembangunan hotel milik Bimo Trihatmodjo, segera buatkan berkas-berkas nya dan bawa kembali kesini"


"Apa!, Tapi pak?"


"Jangan ada bantahan lagi, aku sudah pusing, lakukan saja perintahku kali ini"


"Oh i iya pak, maaf"


"Tunggu, bisa kau perkirakan apa kita mengalami kerugian?"


Sejenak berhenti dan orang yang di percaya untuk memegang keuangan perusahaan itu segera mengkalkulasi dengan cepat.


"Begini pak, sebenarnya kekurangan yang tinggal 30 persen itu tidak membuat perusahaan kita rugi, hanya saja keuntungan yang kita perkirakan sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada"


"Hem, baiklah, itu sudah sekalian pembayaran gaji para pegawai dalam pembangunan bukan?"


"Iya pak, semuanya sudah terbayarkan, kita tidak punya tanggungan apapun lagi"


"Okey, syukurlah kalau begitu, lakukan apa yang ku perintahkan tadi, dan segera buat berkas-berkas nya"


"Siap pak"


Zafian kembali menunggu dengan cemas, dan saatnya kini dirinya harus menghadapi masalahnya dengan nyata, rupanya tepat jam tiga sore, Bimo sudah datang dan dipersilahkan masuk oleh Cintia.


"Kelihatannya kau sudah menunggu ku tuan Zafian Al Faradz, bagaimana keadaanmu?" Ucap Bimo menyapa dengan senyum liciknya.


"Tentu saja baik" ucap Zafian dingin.


"Lalu, apa keputusan mu?"


"Kali ini aku akan menuruti apa maumu!" Ucap Zafian dengan tegas dan menahan emosinya.


"Hahaha, sudah aku duga, rupanya kau sangat mencintai istrimu Hem?" Tawa Bimo dalam celotehnya.


Zafian tetap terdiam dan hanya memperhatikan sejenak, lalu menjawab. "Tentu saja, aku sangat mencintai Afita, dia wanita spesial" Zafian membanggakan.


"Oh tentu saja, aku bisa melihat hal itu, aku pun akan merebutnya dengan cepat kalau kau tidak menginginkan nya, atau kita bisa bertukar istri saja tuan Zafian?" sahut Bimo dan tentu saja membuat Zafian bertambah marah.


"Bang-sat!, Jaga bicaramu Bimo!" Sahut Zafian yang langsung tersulut emosi.


"Hahaha, tenanglah Tuan Zafian, aku hanya bercanda, kau serius sekali" ucap Bimo Trihatmodjo mengesalkan.


Ceklek.


Pintu pun terbuka, Cintia masuk sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk penghapusan uang piutang dari Bimo Trihatmodjo.


Cintia segera keluar, kemudian Zafian membuka berkas-berkas yang ada di depannya.


"Semua sudah aku siapkan, tinggal tanda tangan untuk pengesahannya" ucap Zafian.


"Okey, kita sepakati" jawab Bimo dengan senyuman liciknya.


Kini Zafian yang membubuhkan tanda tangan sebelum nanti Bimo sebagai pihak kedua ikut bertanda tangan juga.


Perlahan Bimo mengambil alat tulis dengan tinta yang sudah digunakan sebelumnya, dan kemudian bersiap untuk menandatangani.


"Sebentar lagi aku akan bebas untuk semakin memanfaatkan mu" batin Bimo senang, namun kemudian.


Brak!


Suara pintu begitu keras dan kini telah terbuka lebar, baik Zafian dan Bimo terkejut melihat sosok yang ada disana.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.


Bersambung.