
Terbuka perlahan, berusaha memfokuskan pandangan, walaupun tubuhnya masih terasa begitu lemah dan kepala berdenyut nyeri terkadang menghilang.
"Sshh, Zaf?" Suara lirih itu memanggil sang kekasih hati yang ternyata bayangan pertama ada di area pandangannya.
"Alhamdulillah, aku disini sayang, apa kau ingin sesuatu?" Jawab Zafian dengan kebahagian hati yang membuncah dan luar biasa, bahkan dalam hatinya berulang kali mengucapkan syukur, walaupun merasa sangat tidak pantas melakukannya.
"Apa yang terjadi denganku?" Tanya Afita yang masih belum menyadari banyak keluarga yang ada di sana.
"Tenanglah, kamu akan segera membaik" sahut Zafian, masih menggenggam erat tangan Sang istri, Zafian menyentuh lembut wajahnya.
Afita seperti sedang mengingat sesuatu, dan diapun memejamkan mata sambil menarik nafas panjangnya.
"Aku ingat, ada jarum beracun yang mengenai tubuhku dan setelah itu_" ucapan Afita terputus.
"Sudah, jangan diingat lagi, kamu sudah sembuh saat ini" sahut Reyna yang sudah tidak tahan lagi untuk menyapa putri satu-satunya.
"Mommy?" Afita terkejut.
"Kami juga disini" sahut Alena yang sudah mendekat.
"Aunty, Om, Daddy?" Ucap Afita dengan mata berkaca-kaca saat melihat orang-orang terkasihnya.
Afita tersenyum begitu senang, seolah rasa haus yang menerpa tubuhnya sekian lama langsung terobati dengan siraman air kebahagiaan saat melihat keluarga berkumpul di sampingnya.
"Dan jangan lupakan kami juga" suara indah nan syahdu tertangkap telinga Afita, hingga langsung menoleh ke arah pintu.
Tampak Ailina memimpin masuk semua anggota Klan termuda dari keturunan keluarga Nugraha, dan tentu saja mereka adalah saudara Afita.
"Kalian!" Seru Afita langsung membentangkan tangan seolah meminta pelukan hangat dan kasih sayang dari semua saudaranya.
Keempatnya segera bergantian memeluk Afita, memberikan kecupan kasih sayang dan do'a yang terbaik untuk Afita yang baru tersadar dari kondisi kritisnya.
"Terimakasih" ucap lirih Afita dengan air mata yang akhirnya menetes.
Reyna tersenyum hangat, Alex menyentuh Surai anaknya dengan lembut.
"Terimakasih juga, kamu sudah mau berjuang dan bertahan sayang" sahut Alex, lalu menci-um puncak kepala Afita.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanya Edward yang kini sudah mendekat.
"Tubuhku masih terasa sangat lemah Om, dan aku seolah berada di dalam sebuah mimpi yang mengerikan, semua tampak begitu nyata" Afita menjelaskan dengan raut wajah yang seketika berubah.
"Sudahlah Sayang, itu hanya mimpi buruk, lupakan saja" sahut Alena berusaha menenangkan hati keponakannya.
"Tidak Aunty, Aku seperti berada di sebuah pertarungan, dan_" lagi-lagi ucapan Afita terhenti.
Semua ikut terdiam, hampir semuanya berdoa kalau apa yang dimimpikan Afita tidak ada hubungan dengan kejadian mengerikan yang dilakukan oleh suaminya.
"LAUTAN DARAH" Lanjut Afita.
DEG
Seketika Zafian bereaksi, tubuhnya terasa Kaku, seolah tak bisa bergerak sama sekali.
Sementara yang lain, hanya menahan nafas sejenak dan berusaha untuk tetap tenang, demi emosi yang harus di jaga karena ada janin dalam rahim yang butuh kestabilan emosi sang pemiliknya.
"Ehem, itu hanya mimpi sayang, sudahlah, sebaiknya beristirahat dulu ya" sebuah suara segera menyahut dan berusaha merubah keadaan yang menegangkan.
"Hem, Zaf, temani istrimu, kita semua akan beristirahat malam ini" sahut Alex, segera mengajak yang lain untuk pergi meninggalkan kamar.
Aftan masih melihat betapa Zafian sangat terluka saat ini, kemungkinan besar rasa Dosa sedang mengungkung erat jiwa dan pikirannya.
Namun yang lebih di khawatirkan lagi adalah keadaan sang adik tercinta saat mengetahui ini semua, hingga perlahan Aftan menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Zafian yang masih terdiam.
"Jangan ceritakan apapun dulu, anak dan istri mu sangat membutuhkan ketenangan saat ini" Bisik Aftan begitu lirih tepat di telinga Zafian.
Lalu Aftan mendekati Afita untuk mencium keningnya sebelum ucapan selamat malam terlontar kan.
"Pulihkan tenagamu Be, besok kita akan bekerja keras kembali" ucap Edward.
"Hem, Janin itu memberikan PR yang sangat susah" sahut Alena sambil menyamankan posisi pelukan suami.
Edward terkekeh, menarik tubuh istri cantiknya lalu memeluknya erat.
"Tapi kita harus membersihkan kekuatan hitamnya, karena Janin itu anak keturunan keluarga kita, ingat itu"
"Tentu saja honey, besok kita akan menggabungkan kekuatan untuk mengatasi hal itu" ucap Alena.
"Hem" sahut Edward, lalu mendaratkan sedikit luma-tan yang lumayan dalam pada bibir wanita yang sangat di cintai nya, sebelum akhirnya semua terlelap dalam tidurnya.
*
*
Sosok laki-laki tengah berdiri di sebuah ruangan perawatan intensif, menatap seseorang yang tengah membeku bagai raga tanpa nyawa dengan semua alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Tak lama kemudian merasakan handphonenya bergetar, tangannya reflek mengambil benda pipih itu dari sakunya dan membuka pesan masuk yang baru saya di terima.
"Alhamdulillah" ucapnya lirih dan menyunggingkan senyuman, rupanya kabar sadarnya istri sahabatnya membuat hatinya ikut merasa lega dan bahagia, walaupun di tempatnya saat ini, hatinya hancur dan begitu terluka melihat wanita yang baru saja sanggup menggetarkan hatinya tengah berjuang.
"Aku tau kamu wanita yang kuat Naura, penderitaan hidupmu sebelumnya pasti membentuk mu menjadi wanita yang tidak mudah menyerah" ucap Firman sambil terus menatap Naura yang masih tergeletak di Ruang ICU.
"Maaf Dokter, anda sudah terlalu lama berdiri di sini, mungkin lebih baik beristirahat dahulu, kami akan menjaga pasien ini semaksimal mungkin" ucap salah satu tenaga medis yang berjaga.
Firman terkejut, sedikit menarik nafasnya dan mengucapkan terimakasih, lalu dirinya melangkah keluar dengan sebelumnya menyentuh lembut tangan Naura.
Berjalan menyusuri koridor Rumah sakit Elit tempatnya bekerja, Firman melajukan langkahnya untuk melihat keadaan seseorang yang sudah di amanah kan padanya.
Langkahnya terhenti saat akan memasuki ruangan perawatan, dilihatnya dari kaca yang ada di pintu, rupanya wanita yang ingin di sambanginya tengah beristirahat memejamkan mata, setelah beberapa waktu yang lalu begitu histeris melihat keadaan Naura.
Sebuah pesan di ketik dan di kirim kepada seseorang yang menitipkan, lalu terlihat ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.
Terjadilah perbincangan cukup serius.
"Kak Zafian baru saja tersadar beberapa jam yang lalu, dan terlalu fokus dengan Kak Afita yang juga baru siuman"
"Aku tau, Zafian baru saja mengirim kan pesan padaku" ucap Firman.
"Syukurlah kalau kak Zafian sudah menghubungi mu Dokter"
"Jadi Zafian belum menyadari kalau bunda tidak ada di Mansion, benarkah begitu Ev?" Tanya Firman.
"Hem, maaf, merepotkan mu agak lama Dokter Firman" jawab Evan.
"Tentu saja Tidak, aku senang bisa membantu Zafian dan kalian semua"
"Terimakasih, lalu_, bagaimana keadaan Naura?" Tanya Evan selanjutnya.
"Sangat Kritis, aku bahkan tidak bisa memprediksi apakah dia bisa tersadar kembali" jawab Firman sebagai Dokter yang melihat keadaan pasiennya.
"Astagfirullah, aku sangat menyesali hal ini, dan terus terang, kami belum berani untuk memberitahu kak Afita, karena kami tau bagaimana Naura di hati kak Afita"
"Iya, sebaiknya di rahasiakan dulu, Afita baru saja tersadar, apalagi keadaannya sangat rawan karena kehamilannya" ucap Firman.
Dan percakapan itu segera di hentikan setelah dirasa cukup untuk saling memberikan kabar, setelah handphone di tutup Firman baru saja menyadari sesuatu dan tersenyum penuh harapan.
"Tidak peduli itu masuk akal atau tidak, tapi mereka bukan orang-orang biasa, semoga salah satunya bisa memperbaiki keadaan Naura" batin Firman dengan senyuman yang mengembang dan segera melangkahkan kaki dengan harapan tinggi akan kondisi wanita yang mulai memasuki relung hatinya.
semoga masalah Naura segera terselesaikan gaes, jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.