ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 59



Zafian terkejut bukan main, segera menghubungi beberapa orang anak buahnya untuk melacak keberadaan Afita, tidak menunggu lama, karena ponsel Afita bisa menunjukkan keberadaannya.


"Akhirnya, ayo ikuti aku!" perintah Zafian ke beberapa pengawalnya.


"Tunggu Zaf, apa Afita di temukan?" Tanya sang Bunda masih dalam keadaan cemas yang amat sangat, begitu juga dengan Naura.


"Tenanglah Bun, aku bisa melacak keberadaan Afita saat ini"


"Alhamdulillah, pergilah, selamatkan Afita Zaf" ucap sang Bunda.


Zafian segera mengangguk, memerintahkan anak buahnya untuk membawa ibunya pulang ke Mansion bersama dengan Naura, memeluknya sejenak sebelum akhirnya dia pergi bersama dengan dua mobil yang berada di belakangnya.


**


Sementara itu, di sebuah tempat yang tidak di kenal, Afita kini berada di dalam ruangan, tepatnya seperti sebuah kamar, karena disana ada tempat tidur lengkap dengan kamar mandi yang cukup bersih dan terawat.


"Dimana ini, aku benar-benar tidak bisa melihat apapun dari kamar ini" ucap lirih Afita sambil berjalan mengelilingi, dia hanya bisa merasakan kalau saat ini pastinya hari sudah malam.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah seseorang mendekati pintu dan membukanya.


Ceklek


Pintu perlahan terbuka, Afita langsung menyiapkan dirinya, kali ini dia berharap bisa melihat siapa di balik penculikannya.


"Selamat siang nyonya Zafian, bagaimana kabar mu hari ini, Hem?" Ucap seseorang dan rupanya Afita tidak terkejut sama sekali karena memang sebelumya dia pernah menduga siapa di balik kejadian yang menimpanya saat ini.


"Kau_?" Ucap Afita dengan tatapan datarnya.


"Oh, sepertinya kau sudah menduga akan hal ini nyonya Zafian, bagaimana perasaan mu bertemu denganku di sini?" Ucap seorang laki-laki yang tengah tersenyum menji-jikkan.


"Menyelami lakon mu bukan hal sulit bagiku Bimo Trihatmodjo" jawab Afita dengan sinis.


"Benarkah, lalu apa kau juga sudah bisa menduga apa yang akan aku lakukan padamu?" Ucap Bimo terus berjalan mendekati.


"Yang pasti, aku tidak akan membiarkan tanganmu menyentuh ku" ucap Afita melangkah mundur.


"Wow, benarkah, aku semakin penasaran untuk melakukan hal itu" sahut Bimo semakin ingin tau.


Dengan cepat Bimo menerjang Afita, menggampangkan seolah dia akan dengan mudah menyentuh wanita yang berada dalam tahanannya, namun apa yang terjadi?


Kali ini Afita tidak main-main dengan perkataanya, menyambar dengan cepat tangan Bimo lalu memelintirnya hingga terkapar di lantai.


Sungguh gerakan yang tidak pernah di duga sama sekali, bahkan kini dua orang anak buah Bimo segera berlari masuk untuk menolong Tuannya.


"Wanita Sial-an, lepaskan Tuan Bimo!" Ucap salah satu dari mereka.


Afita hanya tersenyum, detik berikutnya melepaskan Bimo dan langsung menyerang kedua orang itu untuk mencapai pintu yang masih terbuka lebar.


"Akh!" Kedua orang itu terpental kebelakang menghantam tembok saat tangan Afita mengibas begitu saja.


Bimo yang sekilas melihat hal itu sampai membelalak kan mata.


"Apa ini, dia _?"


"Aku bisa berbuat lebih dari ini, biarkan aku pergi dan jangan mengusikku lagi, atau akan ku obral abrik tempat ini sampai tak tersisa!" Ancam Afita dengan kekuatan tangannya yang kemudian menghempaskan daun pintu hingga terlepas.


"Ka kau_, bukan manusia?" Ucap lirih Bimo masih tidak percaya, suara kegaduhan yang ditimbulkan membuat beberapa anak buah Bimo berlari mendekat dan kini mengelilingi Afita.


Sekali lagi Afita menyeringai, lalu kemudian melesat kesana kemari melakukan pertarungan dengan banyak musuh yang mendapat perintah untuk menyerang bersama dan menangkapnya hidup atau mati.


Tidak tinggal diam, Afita terus melakukan perlawanan, di titik terakhir, dia pun mengeluarkan tenaga dalamnya kembali, kali ini lebih dahsyat dan mampu membuat gedung bangunan itu bergetar.


Bimo terlempar menghantam tembok dengan luka dalam yang cukup parah hingga tidak bisa berdiri.


Seketika banyak musuhnya yang berteriak kesakitan, serangan api putih dari telapak tangannya mempu membuat efek luar biasa mengenai para musuhnya dan langsung membuatnya tidak bisa berdiri kembali.


Kini Afita melesat keluar setelah menimbulkan kerusakan yang sangat luar biasa, bahkan suara ledakan hebat mampu dia ciptakan untuk meluluh lantakkan semua barang yang yang ada di dalam sana.


Tentu saja para musuh segera berlarian keluar untuk menyelamatkan diri, begitu juga Bimo yang berusaha untuk keluar, tanpa satu pun Anak buahnya yang mau menyelamatkannya, semua mencari keselamatan diri sendiri.


Afita yang melihat Bimo dalam keadaan panik dengan langkah yang terseok-seok ingin sekali tidak peduli, namun saat melihat laki-laki itu tertindih pilar yang tiba-tiba roboh dan menghimpit kakinya hingga menjerit tak bisa berbuat apa-apa lagi, Afita tidak bisa berdiam diri lagi.


Tangannya menghempaskan pilar hingga terpental jauh, lalu kekuatan telapak tangannya mengayun dan membuat tubuh Bimo terbang melesat keluar dengan cepat sebelum bangunan itu benar-benar roboh.


Afita mendekati Bimo Trihatmodjo, ingin memastikan kalau laki-laki itu masih bernafas dengan luka yang cukup parah.


"Jangan..jangan membunuhku, ampun!" Ucap Bimo lirih.


"Kalau aku berniat membunuhmu, tidak mungkin aku membuatmu keluar dari gedung itu" ucap Afita masih mengamati.


Detik berikutnya Bimo tak bersuara lagi karena sudah tak sadarkan diri, memeriksa keadaannya sejenak, lalu Afita melangkah menjauh, disaat itulah dilihatnya serombongan mobil datang mendekat.


BRUG


Zafian langsung memeluknya erat.


"Aku baik-baik saja yang" ucap Afita, lalu mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi, hingga beberapa anak buahnya salah tingkah memalingkan wajah.


"Hentikan yang, malu" ucap Afita menjauhkan wajah suaminya.


"Aku tidak perduli, kamu benar-benar tidak apa-apa kan?"


"Iya, Alhamdulillah, lihat sendiri kan?" Sahut Afita meyakinkan.


"Alhamdulillah, sayang, jangan lagi membuatku takut, aku bisa mati terkejut" ucap Zafian memeluk Afita kembali.


Afita tersenyum, merasa sangat bahagia melihat kecemasan sang suami akan dirinya.


Sementara anak buah Zafian di buat melongo dengan pemandangan yang di lihatnya, gedung yang roboh dan porak poranda, belum lagi banyaknya musuh yang terluka dan tak sadarkan diri.


Salah satu anak buah Zafian mendekati musuh yang masih terlihat sadar untuk mencari penjelasan.


"Siapa yang melakukan ini semua?" Tanyanya dengan penasaran.


"Dia, wa wanita itu, dia bukan manusia, di dia iblis!" Ucapnya lirih lalu roboh dan pingsan.


"Wanita?, Iblis?, Apa maksud nya?" Ucap salah satu anak buah Zafian yang semakin tambah bingung dan penasaran.


Zafian mengantar Afita yang tampak kelelahan ke dalam mobil, menyeka keringat istrinya lalu duduk disampingnya, perlahan dirinya mengedarkan pandangan dan sangat terkejut baru menyadari apa yang sudah terjadi di sekitarnya.


"Apa ini, yang, siapa yang menghancurkan tempat ini, apa yang terjadi, apa kau melihatnya?" Tanya Zafian banyak sekali.


Seketika Afita gelagapan, bingung harus menjawab apa, mungkinkah jujur, tapi apa iya suaminya akan percaya begitu saja, takutnya malah dikira stres karena trauma dan sebagainya.


"Apa yang harus aku katakan" batin Afita masih terdiam mencari-cari cara untuk menjawab suaminya.


"Yang, kau baik-baik saja kan, katakan apa yang terjadi, apa ada yang membantu mu?" Tanya Zafian kembali.


"Aku, Aku bingung menjelaskannya yang" ucap Afita pada akhirnya.


"Apa maksud nya bingung, siapa yang menghajar mereka semua dan menghancurkan bangunan itu, apa ada yang membantu mu?" Tanya Zafian lagi.


"Ck, tidak ada yang, aku yang melakukan itu semua, mereka sudah keterlaluan dan membahayakan ku, aku terpaksa melakukannya" ucap Afita akhirnya, dan tentu saja Zafian melongo dengan penjelasan yang baginya tidak masuk akal.


"Apa kepalamu terbentur?" Tanya Zafian ambil memeriksa kepala Afita.


"Ish, aku tidak apa-apa yang, aku baik-baik saja!" Teriak Afita kesal dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Oke, kita ke Rumah Sakit Sekarang, Cepat!" Teriak Zafian memerintahkan sopirnya untuk melesat.


Afita hanya bernafas panjang, sudah di duga , bukannya percaya akan apa yang di jelaskan, pastinya Zafian malah semakin khawatir dikira dirinya mengalami trauma benturan kepala dan mungkin gila.


"Heh.., terserah, aku juga capek, lumayan istirahat di Rumah Sakit juga tak mengapa" pasrah Afita pada akhirnya.


**


Afita kini sudah terbaring dengan nyaman tanpa protes, dibiarkan saja apa mau suaminya akan dirinya yang disuruh beristirahat di rumah sakit setelah melakukan beberapa pemeriksaan yang semua hasilnya tentu saja baik-baik saja.


Tak lama kemudian, Zafian keluar saat anak buahnya yang ditugaskan untuk menyelidiki kejadian bersama dengan petugas yang berwenang, telah datang menghampiri.


"Bimo Trihatmodjo terluka dan kakinya telah diamputasi karena cidera sangat parah, begitu juga dengan beberapa orang anak buahnya Tuan"


"Lalu, keterangan yang lain soal kejadian itu?" Tanya Zafian.


"Ma, maaf tuan, apa yang mereka katakan semuanya hampir sama"


"Apa?" Tanya Zafian makin penasaran mendengar jawaban selanjutnya.


Anak buah zafian langsung melirik Afita dengan tatapan anehnya, Zafian yang melihat hal itu langsung memukul anak buahnya.


"Jelaskan padaku, bukan malah melihat istriku, kau mau mati!" Ucap dingin Zafian.


"Ma maaf Tuan, bukan seperti itu, sebaiknya kita bicara di luar ruangan ini saja" ucapnya dengan cemas.


Afita hanya menoleh sejenak saat suaminya pamit untuk keluar bersama nak buahnya.


"Heh, kenapa aku merasa seperti hantu saja dimata anak buah Zafian" ucapnya lirih.


Makin seru kan, Yuk jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANNYA.


Bersambung.