
Evan segera melompat, dengan tenaga dalamnya membawa tubuh Zafian segera berpindah tempat, kekuatan Teleportasi kini membuat tubuh keduanya menghilang dalam sekejab.
"Yang!" Jerit Afita yang tengah terkejut.
"Tenanglah, Zafian hanya berpindah tempat bersama Evan, demi keselamatan kita semua" sahut Aftan segera memeluk adiknya yang sejenak histeris akan kekhawatiran nya.
"Hem, tidak akan lama, dan aku yakin Evan bisa menyelesaikan masalah ini" sahut Alex menenangkan Putri nya.
Ceklek
Pintu terbuka, nampak Reyna merasakan ada yang tidak beres di dalam sana, hingga akhirnya ikut masuk.
"Apa yang terjadi, mana Zafian?" Tanya Reyna mulai was-was saat melihat anak perempuannya berada dalam pelukan Aftan dengan tangisan.
"Kekuatannya sangat berbahaya berada disini, Evan melakukan teleportasi, membawa tubuh Zafian bersamanya untuk berpindah tempat" jawab Alex.
"Astagfirullah, kalian tidak apa-apa?" Tanya Reyna tampak begitu khawatir.
"Tidak Mom, kami semua baik-baik saja" jawab Aftan.
"Dan sebaiknya kamu segera keluar menemani Bunda Zafian honey, aku takut, dia akan shock kalau sampai mengetahui hal ini" ucap Alex mengingatkan sang istri.
"Oh, okey, aku akan keluar dan mengamankan ibu Anita, kalian tetaplah disini sampai nanti Zafian kembali, butuh apapun hubungi aku honey" ucap Reyna sebelum akhirnya hilang bersama dengan pintu kamar yang kini telah tertutup kembali.
*
*
Evan melakukan teleportasi dengan cepat, membawa Zafian keluar dari sana, menghilang dan tiba berada dalam hutan belantara.
"Oh Sial, kendalikan dirimu Zafian" ucap Evan yang kini berusaha sekuat tenaga menekan kekuatan Zafian yang masih mengeluarkan api dalam tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, Evan mati-matian menggunakan tenaga dalamnya, dan tak berselang lama, keadaan terlihat tenang kembali.
Perlahan Evan melepaskan kekuatan tenaga dalamnya, namun demikian, Zafian masih tetap terpejam dengan posisi masih seperti sedia kala, sengaja di biarkan karena kekuatan Zafian masih timbul tenggelam, dan belum bisa dikatakan terkendali sepenuhnya.
"Aku belum bisa memastikan kekuatan Zafian sejauh mana, terlalu mengkhawatirkan, tidak mungkin aku mengatasi ini sendiri" batin Evan tampak dalam kecemasan.
Tidak berpikir lama, akhirnya Zafian segera memutuskan sesuatu, menggunakan kekuatan teleportasinya kembali dan menghilang sekejab meninggalkan Zafian sendirian setelah dirasa dalam tempat yang aman.
Kurang lebih dalam hitungan menit, Evan kembali muncul, namun kali ini tidak sendiri, membawa dua orang yang masih tengah terkejut dengan apa yang dilakukan oleh seorang Evan.
"Sh-it!, Apa yang kau lakukan Ev, aku ada rapat sebentar lagi!" Teriak Sosok laki-laki berpakaian kerja dengan lengkap.
"Oh ayolah kak, tidak ada waktu untuk menjelaskan, bantu kak Zafian, aku tidak sanggup lagi mengendalikam kekuatannya" sahut Evan.
Ethan langsung melihat ke arah Zafian, tubuhnya mulai bergetar kembali seolah tidak kuat lagi menahan kekuatannya sendiri, Ethan langsung melompat dan menotok beberapa bagian titik tertentu sebelum akhirnya menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya.
Sementara itu, sosok wanita cantik tengah sibuk memuntahkan isi perutnya ketika tiba-tiba saja disambar oleh Evan saat melakukan teleportasinya.
"Kau tidak apa-apa Ai?" Tanya Evan merasa bersalah dan memijit tengkuk adiknya.
"Kau keterlaluan kak, aku sampai muntah gara-gara perbuatanmu!" Teriak Ailina emosi jiwa karena perbuatan Evan yang membawanya tanpa persiapan.
"Hehehe, maaf sayang, kau masih tetap cantik dalam kondisi apapun" ucap Evan tertawa lirih melihat Ailina sedikit lemas karena perbuatannya.
"Minggir!, Mana kak Zafian?" Tanya Ailina menatap sekitar dan akhirnya menemukan Ethan tengah mengendalikan kekuatan Zafian.
"Kalian tidak usah bertindak, cukup aku saja bisa mengatasinya!" Dan kekuatan Ethan akhirnya mampu mengendalikan kekuatan Zafian.
Ailina masih berdiri mengamati dengan lega, begitu juga Evan yang cukup keras bekerja kali ini, karena melakukan teleportasi berkali-kali dan cukup jauh untuk membawa kakak dan adiknya.
"Kau ini sangat merepotkan!" Ucap Ethan yang kini masih menyelesaikan tugasnya yang tinggal sebentar lagi.
"Maaf kak, aku tadi panik" sahut Evan yang tengah menggaruk kepalanya.
"Ck, seringlah berlatih, kekuatan mu saja sebenarnya sudah cukup, kalau kau menggunakan dengan cara yang tepat" ucap Ethan yang kini perlahan telah melepaskan kekuatan tenaga dalamnya dari tubuh Zafian.
Sementara Ailina tengah menatap jengah kepada sosok Evan yang merepotkan dirinya.
"Dasar kau ini kak!, Ish, mengagetkan ku saja!" Teriak Ailin yang juga tengah kesal dengan Evan yang tiba-tiba datang membawanya disaat dia sedang mandi.
"Kakak!, Aku akan menghajar mu!" Teriak Ailina yang sudah melesat berterbangan dari pohon ke pohon mengejar Evan yang ingin di hajarnya.
Bukannya marah, Ethan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, membiarkan sejenak apa yang dilakukan kedua adiknya, melihat tingkah polah mereka, membuatnya terhibur dan kerinduannya sedikit terobati.
"Kalian ini" ucapnya lirih lalu mengamati Zafian yang masih terpejam dan duduk dengan tenang.
Tentu saja Ethan tidak akan membuatnya tersadar saat ini, dikhawatirkan akan membuat Zafian terkejut saat tempatnya tidak lagi berada dalam kamarnya, melainkan di tengah hutan belantara.
Merasa sudah cukup memuaskan Evan dan Ailina, Ethan segera memberikan peringatan kepada Evan untuk menggunakan kekuatan teleportasinya kembali ke Mansion Zafian secepatnya.
"Tapi kak, kekuatanku terkuras habis, aku takut tidak akan sampai disana" ucap Evan yang tau akan tenaganya telah terkuras.
"Lalu maksud mu?" Tanya Ethan mulai panik.
"Aku mungkin bisa melakukannya satu kali, dan itu hanya berada di Mansion kak Zafian" jawab Evan dengan pasti.
"Oh my God, kak, jangan bercanda, lihat aku masih pakai bathrobe dan kepalaku juga masih berbalut handuk!" Teriak Ailina makin kesal dengan Evan kakaknya.
"Ayolah cantik, pakai apapun kamu adalah yang terbaik" sahut Evan merayu.
"Jangan menggombaliku, aku ini adikmu, bukan wanita gila di luaran sana yang mengejar-ngejar dirimu kak!" Teriak Ailina bertambah marah.
"Sudah-sudah, okey, lakukan yang terbaik Ev, hari sudah gelap, kita tidak tau bahaya apa yang ada di hutan ini, lakukan dengan cepat!" Sahut Ethan dengan serius.
Evan tidak menyia-nyiakan waktu, dengan cepat Akhirnya membawa semuanya untuk melakukan teleportasi sekali lagi, sekuat tenaga Evan membawa kembali semuanya ke tempat awal, dan menit berikutnya mendapati sebuah kamar megah di sebuah Mansion yang tak lain adalah milik Zafian.
Afita langsung menjerit menyambut kemunculan mereka kembali, bersyukur melihat sang suami tampak baik-baik saja, namun sangat terkejut melihat dua sepupu kembarnya juga berada disana.
"Apa ini, kalian_?" Tanya Afita tak percaya melihat Ethan dan juga Afita lengkap dengan baju aneh mereka.
"Jangan tanya lagi kak, tentu saja ini perbuatan kak Evan, dasar!" Ucap Ailina kini merasa tidak enak dengan baju yang dikenakannya.
Sementara itu Aftan sempat terkejut melihat sosok wanita yang sudah memporak-porandakan hatinya, lalu kini tersenyum melihat kekonyolan Ailina yang berada dalam balutan bathrobe dan tampak lucu.
"Ganti bajumu dulu" ucap Aftan, membuat Ailina jadi kikuk sendiri, lalu segera melesat menuju ke ruang ganti untuk meminjam baju Afita.
Sejenak Alex memeriksa keadaan Zafian, memastikan Zafian baik-baik saja, dan tak lama kemudian membuka matanya perlahan.
"Yang, kau baik-baik saja?" Tanya Afita tampak mencemaskan suaminya.
"Aku baik-baik saja, apa yang terjadi?" Tanya Zafian sedikit bingung, apa lagi mendapati sosok Ethan yang asing baginya karena belum pernah bertemu sebelumnya.
"Aku Ethan, sepupu Kak Afita" ucap Ethan memberikan salam perkenalan dengan menjabat tangan Zafian lalu memeluknya sejenak.
"Oh, maaf, aku tidak mengenalimu" ucap Zafian.
"Tidak apa-apa, kita juga belum pernah ketemu, apa kau tidak merasakan keluhan?" Tanya Ethan memastikan.
"Alhamdulillah, aku hanya merasa sangat capek saja, seperti baru saja terkuras seluruh tenaga" jawab Zafian.
"Itu wajar, istirahatlah" sahut Alex terlihat lega.
Zafian membaringkan tubuhnya, dibantu dengan Afita, sementara Alex, Aftan dan Ethan kini keluar kamar untuk ikut beristirahat sejenak.
Tidak dengan Ailina yang sudah menyeret sang kakak yaitu Evan untuk segera memulangkannya dengan cepat.
"Pulangkan aku sekarang juga kak, atau aku akan menjadi berita besar di tempat penelitianku, Tolonglah" rengek Ailina memohon.
"Tenaga ku habis Ai, aku tidak kuat lagi, yang ada tidak sampai ke Belanda malah nyasar ke mana-mana" jawab Evan pasrah.
"Oh No, ayolah kak, cari jalan keluarnya, ku mohon" ucap Ailina merasa frustasi.
"Akan aku berikan tenaga dalamku!" Ucap seseorang yang mengejutkan keduanya, menoleh kearah sumber suara, lalu saling pandang antara Evan dan Ailina.
Jangan lupa dukungannya ya, kasih Author VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.