
Sengaja Afita celingukan untuk mengawasi keadaan sekitar, dirasa aman, dirinya segera mendekati Naura yang sedang duduk sendirian di taman belakang melihat pemandangan kolam ikan.
"Aman kan?"
"Astagfirullah, Nona, mengagetkan saja" ucap Naura.
"Tadi Zafian tanya seberapa banyak?" Tanya Afita memastikan.
"Aman Nona, tenang saja, sekarang tugas berat anda adalah menjelaskan semua ke Tuan Zafian, bersiap-siaplah" ucap Naura dengan serius.
"Ish, kau ini, kenapa malah menakuti ku, bikin orang gak tenang saja"
Sejenak Naura tersenyum, diatas kesedihannya nyatanya keanehan wajah Afita masih mampu membuat dirinya terhibur.
"Lalu apa yang akan Nona lakukan?" Tanya Naura.
"Kamu sendiri?"
"Saya akan kembali ke kontrakan Nona, dan bekerja seperti biasanya"
"Tinggallah di Apartemen ku dulu, masih ingat kan alamatnya?"
"What!, Tidak-tidak, itu terlalu mewah bagi saya" sahut Naura yang sempat kaget.
"Lalu maumu gimana, tinggal di kontrakan lagi?" Tanya Afita.
"Tentu saja nona, sayang kalau tidak di tempati, aku sudah bayar mahal untuk dua tahun, dan masih aku tempati setengah tahunan, saya gak mau rugi"
"Heh..., Terserah lah, yang penting kamu nyaman, aku tidak bisa memaksa"
"Terimakasih Nona, nanti sore, saya akan kembali ke kontrakan, sekali lagi maaf merepotkan Nona dan terimakasih banyak"
"Ck, kau ini ngomong apa, yang aku lakukan tidak seberapa di banding apa yang kalian alami selama ini, dan maaf, aku tidak tau sama sekali" ucap Afita.
"Bukan salah Nona Afita, memang seperti itulah takdir hidup yang harus kami jalani, dan saya iklhas" sahut Naura.
Sejenak Afita terdiam, merasa bangga dengan sosok wanita kuat yang ada disampingnya, rasa syukur dipanjatkan oleh Afita, bahwa dirinya masih di beri lebih dari orang lain.
"Kenapa Nona terdiam, jangan mengkhawatirkan saya, pikirkan saja nasib Nona setelah ini?"
"Maksud mu?" Afita terkejut dengan perkataan Naura.
"Hehe, penjelasan tuan Elonar ke Tuan Zafian, jangan lupa"
"Oh my God, kau membuatku resah saja Nau" ucap Afita segera ngacir dari tempatnya, Naura tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Perkataan Naura rupanya begitu terngiang-ngiang di telinga Afita, berfikir cukup keras bagaimana cara menjelaskan ke Zafian dan tidak terlalu disalahkan, bahkan tanpa sadar ber salipan dengan seseorang yang di pikirkan.
"What, apa yang terjadi dengan Afita?" Batin Zafian yang langsung berhenti melangkah, berbalik melihat istrinya terus berjalan tanpa menyadari telah melewatinya.
Zafian menarik nafas dalam-dalam, tidak mood untuk melanjutkan langkahnya, lalu menyusul keberadaan sang Istri, sampai di kamar, rupanya Afita tengah duduk di balkon kamarnya menikmati hari yang mulai senja.
Cup
Zafian memeluk istrinya dari belakang, menghirup mau rambutnya yang begitu harum di penciuman.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" Tanya Zafian memulai perbincangan tanpa melepaskan pelukannya.
Afita masih terdiam, tampak sekali berpikir sebelum akhirnya berucap.
"Yang, kalau aku berbuat salah, apa kau akan marah?" Tanya Afita sedikit ragu.
"Salah?" Tanya Zafian.
"Iya, aku manusia dan tentu saja harus di maklumi kalau berbuat salah bukan, dan aku tidak sengaja melakukannya, lebih tepatnya aku di je_"
"Elonar?" Sahut Zafian.
Deg
Seketika Afita mengehentikan ucapannya, jantungnya berdegup kencang, khawatir akan kemarahan Zafian selanjutnya, dan tidak menyangka suaminya akan tau secepat ini.
"I iya, maaf.." ucap lirih Afita.
Zafian memutar tubuh Afita perlahan, kini istrinya sudah menghadap ke dirinya dengan tertunduk.
"Sampai sejauh mana?" Tanya Zafian berusaha menahan emosinya.
"Kerjasama"
"Teken kontrak?" Tanya Zafian lagi.
Afita mengangguk, Zafian menarik nafas panjang, tidak habis pikir, bagaimana istrinya begitu ceroboh sampai terjebak sejauh itu.
"Berapa lama?" Tanya Zafian lagi.
"Satu Tahun" jawab Afita.
"Dan itu terlalu lama" sahut Zafian.
"Maaf sayang.." ucap Afita.
Zafian memeluknya kembali, tidak ingin membuat istrinya sampai ketakutan karena perbuatan salahnya.
"Lain kali hati-hati, kamu tau kan siapa Elonar, dia pasti sudah merencanakan hal ini untuk tujuan tertentu, aku yakin itu"
"Iya sayang, aku juga berpikir begitu, tapi aku benar-benar tidak tau kalau pemilik hotel itu adalah Elonar, sungguh" ucap Afita.
"Sudahlah, putuskan saja kontrakmu, lakukan secepatnya dan bagaimana pun caranya, apa kamu mengerti?" ucap Zafian sambil membawa wajah istrinya untuk menatapnya.
"Hem, tapi_"
"Berapa uang ganti rugi yang harus dibayar?" Tanya Zafian yang sangat mengerti dunia bisnis.
"Dua Milyar, biar nanti aku ambilkan dari tabunganku, karena ini semua murni kesalahanku"
"Aku suamimu, apa kau lupa, uang tidak ada apa-apanya di banding dengan keselamatan keluarga kita, apalagi dirimu, nyawa pun tidak penting lagi kalau harus aku tukar dengan kebahagian mu" sahut Zafian.
Afita tersenyum, terharu akan kata-kata suaminya, marah memang nampak pada raut wajahnya, lebih tepatnya Zafian terlihat begitu kecewa, tapi sikap lembutnya membuat Afita tetap merasa nyaman dalam takutnya.
"Jadi?" tanya Afita.
"Aku yang akan mengurusnya, jangan menemui Elonar lagi, kuasa hukum yang kita punya akan mengurusi hal itu, atau aku sendiri yang akan turun langsung" ucap Zafian.
"Jangan dengan kekerasan" ucap Afita tampak khawatir.
"Kamu tidak marah?" Afita melepaskan cium-annya dan memastikan keadaan suaminya.
"Tentu saja aku marah, dan kamu harus membayarnya" jawab Zafian.
"Akh!, Zafian!" Teriak Afita yang sudah di panggul dan di bawa masuk kedalam kamar sambil di pukul panntat nya oleh Zafian.
Dan terjadilah sore yang panas dengan pergulatan diatas ranjang, keduanya merebahkan diri setelah semua terselesaikan, dan Afita memikirkan kembali rencananya untuk segera lepas dari kerjasama itu, karena suami tidak mengijinkan lagi.
"Ada apa?' tanya Zafian saat melihat Afita yang terdiam.
"Aku memikirkan bagaimana caramu untuk mengakhiri perjanjian dengan Elonar" jawab Afita terlihat resah.
"Tidak usah di pikirkan, serahkan padaku, besok ku urus semuanya"
"Tapi yang, itu terkesan aku tidak profesional dalam bekerja, ini masalah bisnis"
"Ck, tapi cara Elonar juga tidak profesional, untuk apa di pusingkan bagaimana cara lepas dari perjanjian yang dari awal sudah tidak benar"
"Iya juga sih, tapi_"
Cup,
"Jangan membuatku marah untuk kedua kali, atau aku akan menghajar mu lagi" Zafian menyibak selimut Afita dengan tiba-tiba.
"Hentikan, yang!" Teriak Afita.
"Katakan ampun"
"Iya, ampun, sudah!" Teriak Afita lagi.
Dan Zafian membalik tubuh istrinya, mengikat tangannya ke belakang dengan genggaman yang erat, seketika tubuh polos Afita bagian belakang begitu terekspos, Zafian merasa dahaga menghampiri kembali, apa yang dilihatnya tampak begitu sekksi.
"Yang, jangan, cukup!" Teriak Afita merasa geli sendiri.
Lidah suaminya kini menyusuri punggungnya, beberapa kecu-pan terasa semakin intens berada di sana, hingga berakhir di pangkal pa-hanya.
Zafian membuka kaki istrinya dengan posisi yang masih telungkup, mengganjal dengan bantal, hingga sesuatu yang ingin di rasakannya mudah untuk dilihat dan disentuh, Lidahnya perlahan menyusuri lembah itu dari belakang, dan bau khas yang sangat memabukkan mulai memenuhi indera penciumannya.
Perlahan issapan lembut bibir dan lidahnya mulai bekerja, genggaman tangannya yang digunakan untuk menahan tangan istrinya pun terlepas perlahan, saat terdengar suara indah dari bibir istrinya mulai lolos begitu saja.
"Emh.. yang.." ucap lirih Afita yang tubuhnya mulai mengejang merasakan nikmat yang luar biasa.
Zafian tersenyum senang, dari pemberontakan yang dilakukan berujung penerimaan, terbukti kini bagian bawah sang Istri sangat basah, dan saatnya Zafian menyempurnakannya.
"Akh!" Teriak Afita saat kepunyaan suaminya mulai menerobos masuk menggantikan lidah yang sedari tadi bekerja.
Sedikit susah memasukkan semuanya dengan posisi seperti ini, namun sensasi luar biasa di dapat kembali, Zafian merasakan milik istrinya semakin sempit dan menjepit.
"Ough.. ini luar biasa, sshh.." gumam Zafian begitu menikmati, hingga matanya memejam dan membuka beberapa kali.
Tubuh keduanya mulai bergerak berirama, sentuhan lembut Zafian di berikan berulangkali di bagian punggung dan kedua bukit kembar sang istri.
"Ah ah, yang, aku_" ucap Afita sambil meremas sprei dengan kuat.
Zafian menghentak semakin kuat dan cepat, Afita semakin tidak tahan, dan keduanya berteriak bersama, terlempar dalam rasa nikmat yang luar biasa untuk ke dua kali.
Kali ini sensasi yang berbeda didapatkan oleh keduanya, bahkan perlahan rasa sedikit nyeri di area bawah Afita mulai dirasakan, saat Zafian mencabut miliknya perlahan, terlihat Afita meringis.
"Kenapa sayang, sakit?" Tanya Zafian sambil perlahan membalikkan badan sang Istri.
"Sedikit perih, tapi enak"
Zafian tertawa, menyentil hidung istrinya lalu menci-umi bibirnya berkali-kali, hingga membuat Afita tertawa geli.
*
*
Zafian sudah bersiap pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Maaf Pak, apa anda yakin akan kesana sendiri?" Tanya sekretarisnya.
"Jangan khawatir" sahut Zafian.
Kini Zafian sudah membawa beberapa berkas penting dan bersemangat sekali untuk menyelesaikan masalah istrinya dengan Elonar.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai disana, kebetulan sekali jalanan tidak seramai biasanya, dan Zafian segera turun dari mobil menuju ke ruangan kerja Elonar tanpa perduli dengan suara seorang wanita yang sedang memanggilnya.
"Tuan, maaf, Tuan!" Teriakan wanita itu semakin terdengar, dan rupanya di telah berhasil mengejar Zafian.
"Maaf, saya harus bertemu dengan Elonar sekarang juga, ini penting" Zafian menghentikan langkahnya dan berbalik dengan tatapan tajamnya.
"Oh, maaf, Tuan Zafian Al Faradz bukan?" Tanya Sekretaris itu terpana, maklum siapa yang tak kenal dengan pengusaha muda yang sukses dan masuk jajaran sepuluh besar di Asia.
"Hem, jadi?" Sahut Zafian menyadarkan wanita yang menatapnya saat ini.
"Oh iya, ma maaf Tuan, baiklah, tunggu sebentar saya akan_"
Ceklek
Zafian sudah membuka pintu itu tanpa meminta persetujuan lagi.
"Tuan!" Teriak wanita itu terkejut, namun sudah tidak mungkin lagi untuk menghalangi.
Tentu saja terlihat Elonar terkejut melihat kedatangan seseorang yang tidak di duga sama sekali.
"Ma maaf, Tuan Elonar, sa saya_" ucap sekretaris barunya dengan takut.
"Keluar!" Seru Elonar memberi perintah.
Segera sang sekretaris pergi dan menutup pintunya dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Apa kedatanganku harus membuatmu panik dan berbicara keras dengan sektretaris mu?" Ucap Zafian yang masih berdiri di depan Elonar saat ini.
"Bukan urusanmu" sahut Elonar yang kini sudah mensejajarkan diri.
Zafian tersenyum sinis, lalu duduk di depan meja Zafian tanpa permisi, mengeluarkan sesuatu dari koper tipis yang dibawanya, lalu melemparkannya di atas meja Elonar, lebih tepat di depan wajahnya.
"Baca dan tandatangani, atau kita kembali beradu di meja hijau, kau tau apa yang bisa aku lakukan bukan?" Ucap Zafian.
Zafian kok dilawan.., yuk readers tercinta, jangan lupa kasih VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA ya.
Bersambung.