
Di belahan bumi yang lain, seorang laki-laki yang sudah sangat matang tengah mengutak-atik alat canggihnya, keahlian dalam berbagai alat elektronik yang di kuasai membuatnya tak pernah bisa untuk mengembangkan Perusahaannya di bidang tekhnologi yang semakin di minati.
Hingga kemudian kedatangan seseorang membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Ada apa kau kemari?" Tanya nya.
"Sudah tiga tahun Raka" sebuah nama terucap dalam kata.
"Lalu?" Raka menatap lawan bicaranya.
"Aku tetap tidak akan menyerah menanyakan hal yang sama" jawabnya.
"Kai, aku juga akan tetap memberikan jawaban yang sama" Sahut Raka.
"Oh ayolah, aku mohon, beritahu dimana Afita kau sembunyikan!" Tanya Kaisar seperti biasanya.
"Kenapa kau selalu menuduhku melakukan itu?"
"Karena hanya kamu yang mempunyai Akses Sakti untuk melakukan semua itu, untuk keahlian mu menguasai IT dan menutup akses Dunia, aku Akui belum ada tandingannya, lalu_, siapa lagi yang harus aku curigai?" Ucap Kaisar yang kini sudah menghempaskan dirinya di kursi sofa tepat di depan meja kerja Raka.
"Aku benar-benar tidak bisa membantumu Kai, maafkan aku" ucap Raja lalu melanjutkan aktifitasnya seolah tidak ada apapun.
Seperti itulah Raka saat Kaisar selalu mendatanginya untuk menanyakan soal salah satu keturunan Nugraha yang menghilang beberapa tahun silam.
"Ck, kau sungguh menyebalkan, seandainya kau tidak punya alat untuk menangkal kekuatan Pikiran Ethan, pasti tugasku tidak seberat ini" ucap Kaisar masih begitu kesal.
Diam-diam terbit senyuman di bibir Raka, karena merasa senang bisa menciptakan alat untuk menangkal kekuatan salah satu anak kesayangannya yang mampu membaca pikiran.
"Sudahlah, tugas penting mu yang lain bagaimana?" Kini berganti Raka yang bertanya.
"Tugasku banyak, yang mana?" Tanya Kaisar menatap jengah sahabat yang sudah dianggap saudara.
"Zafian Al Faradz" jawab Raka cukup singkat.
"Aman" jawab Kausar tak kalah padat.
"Bisa kau jelaskan?" Tanya Raka membuat Kaisar makin kesal.
"Kekuatannya berangsur kembali, Edward berhasil membalikkan kekuatan itu dengan sempurna, walaupun banyak yang di buang karena berbahaya"
"Syukurlah, kekuatan Zafian sangat rumit" ucap Raka.
"Serumit masalah yang di timbulkannya" sahut Kaisar.
Raka tertawa, teringat tugas berat Kaisar saat melatih Zafian mengendalikan kekuatannya kembali, hingga berulang kali Kaisar harus terluka saat Zafian lagi-lagi belum mampu untuk menguasai.
"Beruntung saat ini semua sudah Aman, dan Alex juga sudah sembuh seperti sedia kala"
"Hem, tinggal satu masalah lagi, aku tunggu kau bisa mengatakan keberadaan Afita Khaira Nugraha" kembali Kaisar membicarakan hal yang selalu ditanyakan ke Raka.
"Sudah sore, apa kau masih begitu merindukanku hingga tak ingin beranjak pulang?" Tanya Raka berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dasar kau!" Sahut Kaisar dengan sirit mata tajam dan segera berdiri diikuti oleh Raja yang juga ingin keluar dari ruangan kerjanya.
Mereka melakukan perjalanan masing-masing menuju ke Rumah untuk mengistirahatkan diri, ditengah perjalanan, Raka mengeluarkan ponsel rancangannya sendiri yang tentu saja bisa menghindari segala alat pelacak di seluruh dunia.
"Apa kalian baik-baik saja?" Ucap Raka setelah mengucapkan salam.
"Iya Paman, ada kabar apa?" Suara seorang wanita dalam ponselnya.
"Afita sudah dirumah?" tanya Raka
"Belum Paman, hari ini akan pulang agak terlambat, karena banyak pekerjaan" jawab Naura
"Baiklah Naura, oh iya, bagaimana kabar bocah cilik kesayangan ku?" tanya Raka yang begitu merindukan Fian.
"Sedang mandi, apa paman ingin bicara dengannya?"
"Tidak usah Naura, nanti malam saja, aku sedang di jalan, sampaikan salam ku ke Afita dan Bocil jagoanku, bulan depan aku akan kesana, hati-hati menjalani hidup, karena keadaan yang Afita inginkan, aku tidak bisa melindungi sepenuhnya" ucap Raka.
Raka memutuskan sambungan, tak lama kemudian suara panggilan masuk dari Zafian membuatnya merasa pusing seketika, berharap tidak menanyakan seperti apa yang selalu Kaisar lakukan.
"Ada apa Zaf?" Ucap Raka setelah menyahut salam.
"Bagaimana kabar Paman?" Tanya Zafian.
"Baik, apa kau di Jakarta Sekarang?" Tanya Raka sedikit cemas.
"Tidak Paman, urusan di Surabaya begitu banyak menyita waktuku, Apa paman sudah mengetahui keadaan Afita, Paman tentunya membantu tugas Paman Kaisar Bukan?" Ucap Zafian yang selalu membuat beban Raka seketika begitu berat walaupun hanya sekedar menjawab.
"Aku masih belum bisa membantu Kaisar untuk hal itu, maaf" ucap Raka.
"Tidak apa-apa Paman, jangan khawatir, aku tidak akan menyerah sampai kapanpun, terimakasih Paman, maaf kalau sering menelpon dan berharap Paman pada akhirnya bisa membantuku menemukan Afita"
"Hem" hanya itu jawaban yang di berikan Raka, singkat, namun begitu dalam menghujam relung hatinya, ikut merasa sakit melihat Zafian yang dia tau pasti sangat menderita.m, tapi sebuah JANJI bagi Raka adalah sesuatu yang harus di junjung tinggi.
Dan Raka selalu berdoa, akan ada masa di mana semua menjadi lebih baik dan berakhir bahagia tanpa harus melanggar sumpahnya.
*
*
Masih menjalani proses menegang kan, Afita masih setia dengan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya, seperti itulah dia berusaha untuk menyamarkan wajahnya, nampak seperti wanita Culun dengan lebih banyak menundukkan pandangan.
Yah, mungkin itulah yang membuat ibu Tiwi yang super seksi dan menor itu menyukainya, tidak ada persaingan yang berarti mungkin.
Rapat Bisnis dengan perusahaan Asing berjalan dengan lancar, sosok pemilik perusahaan JAYA ABADI yang bergerak di bidang Batu mulia dan emas yaitu Reno Trijaya, nampak puas dengan kerja sang Sekretaris dan asistennya.
"Bagus Bu Tiwi, kerjamu semakin cepat dan tepat" ucap Reno sebelum masuk mobil mewahnya.
"Terimakasih Pak Reno, saya akan terus bekerja lebih baik lagi" jawab Bu Tiwi dengan senyum merekah bagai bunga tujuh rupa yang siap untuk di buat mandi.
"Hem, dan kamu_" ucap Pemilik perusahaan itu sambil memberi kode kepada Bu Tiwi untuk sedikit minggir karena menghalangi pandangannya.
Afita yang merasa tidak ikut andil dalam perbincangan karena masih berada di belakang Bu Bosnya, masih terdiam sambil melihat isi pesan yang dikirim oleh Naura.
"Sst, Fita!" Ucap lirih Bu Tiwi sambil menyenggol lengannya.
Seketika Afita ter jingkat, hampir saya handphonenya terlepas hingga reflek berteriak dan melepaskan berkas.
Byur
Seketika semua tampak Ambyar, Afita berniat memungut dengan cepat hingga menjatuhkan kacamatanya.
"Ma maaf pak" ucapnya terbata kemudian.
Dan kini dirinya bertatapan dengan mata sang pemilik perusahaan tanpa penghalang apapun juga.
Terkesiap Reno di buatnya, sungguh perubahan wajah yang tidak pernah dia sangka, tanpa kacamata bulat dan jadul itu, Wanita yang selama ini tak pernah di pandangnya membuat matanya tak bisa beralih.
"Ehem, pakai kaca matamu, cepat!" Ucap lirih Bu Tiwi menyadarkan Afita.
Mendengar perkataan Bu Tiwi Afita tersentak, segera memutus tatapan dan mencari keberadaan kaca mata yang sudah lenyap dari wajahnya tanpa di sadari.
Lalu terdengar suara.
KREK
Kaca mata yang di cari sudah remuk dalam injakan kaki seseorang yang tidak mungkin di protes lagi.
Sontak Bu Tiwi dan Afita terkejut, suara itu begitu nyaring di bawah kaki sang Bos Besar, Afita ingin bicara, namun di tahan oleh Bu Tiwi dengan cepat.
"Ganti kaca matamu, perbaiki penampilanmu, aku tidak suka ada pegawai di perusahaan yang kampungan!" Bentak Reno semakin menginjak kacamata itu hingga lebih hancur lagi, lalu masuk begitu saja ke dalam mobil tanpa bicara apapun.
Yuk jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.