ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 98



Saat menaiki tangga, hampir saja Firman terjatuh, sorot mata tajam, namun begitu indah dan menawan membuatnya sampai hampir saja salah menapakkan kakinya.


"Sh-it!, Itu tadi penampakan bidadari ataukah halusinasi?" Batin Firman kini berjalan cepat ingin mengejar sosok wanita yang sekilas menatap dengan mata birunya.


Dan di saat yang sama, muncul satu laki-laki keluar dari pintu yang ingin dimasukinya, kedua mata saling bertemu, Firman tampak berpikir keras karena seperti tidak asing akan wajahnya.


"Maaf, anda siapa ya?" Tanya Firman dengan cepat sebum terlambat.


"Saya Evan, sepupu Kak Afita, lalu Anda sendiri?" Tanya Evan yang juga mengamati.


"Oh, saya Firman, sahabat Zafian" sahut Firman.


Berikutnya mereka saling bersalaman, tak lagi bertanya darimana dan kapan datangnya, seolah Firman mulai paham bahwa di sekelilingnya banyak orang istimewa dengan kekuatan supranatural yang masih tidak masuk akal baginya.


"Sepertinya saya tidak asing dengan anda, apa kita pernah bertemu?" Tanya Firman kembali.


Evan hanya tersenyum, lalu bersiap melanjutkan langkahnya, "Wajah saya memang sering lalu lalang di media, wajar kalau anda merasa pernah bertemu dengan saya"


Firman segera mengerutkan kening, otak cerdas yang menjadikannya seorang Dokter seketika langsung bekerja, Dan _


"Oh, iya, tidak disangka sekarang Artis dari group band ternama bisa ada disini, dan ternyata masih saudara dengan_" ucap Firman terpotong dan masih tak percaya.


Sementara Evan hanya tersenyum, berlalu begitu saja, walaupun tak lama kemudian, muncul Aftan yang tentu saja sudah di kenal oleh Firman sebelumnya.


"Kalau boleh tau, apa yang terjadi di sana?" Tanya Firman berusaha untuk melihat keadaan di dalam kamar sahabatnya.


"Dokter Firman bukan?" Aftan malah balik bertanya, seolah kebetulan sekali saat ini sedang mencarinya.


"Iya, dan_"


"Aku membutuhkan bantuan mu" ucap Aftan segera berjalan ke ruangan tengah diikuti oleh langkah Firman disampingnya.


"Ada apa?" Tanya Firman, setelah duduk dengan benar.


"Afita membutuhkan tenaga untuk terus bertahan, fisiknya lemah, sementara dia masih belum sadar, tidak mungkin untuk makan ataupun minum" Aftan menjelaskan.


"Oh, iya, aku tau, tapi_?" Ucap Firman menggantung, takut keliru akan pertanyaan yang akan di ajukan.


"Tapi apa?" Tanya Aftan.


"Apa tidak perlu ke Rumah Sakit untuk perawatan selanjutnya?" Lanjut pertanyaan Firman.


Aftan menarik nafas dalam, lalu perlahan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya, Firman tidak lagi harus berpikir logis untuk kasus wanita yang satu ini, dan akhirnya dia menyetujui akan melakukan perawatan dengan memasang infus sebagai alat untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh Afita, apalagi di ketahui bahwa istri sahabatnya itu sedang hamil.


"Aku akan sering ke sini, untuk ikut melihat keadaanya secara medis" ucap Firman.


"Dan aku bisa membantumu melakukan hal itu" suara seorang wanita mengejutkan Firman dan Aftan.


Kembali Firman diam mematung, memandang sosok wanita yang sudah duduk di sampingnya.


"Aku Ailina, dan kalau tidak salah, anda seorang dokter kan?" Ailina berbicara sambil memandang sekejab Firman yang seolah tak bisa bergerak dan terus menatapnya.


"Ehem.." suara Aftan berusaha untuk menyadarkan Firman.


"Oh, maaf, saya hanya terkejut dengan anda, apa anda benar seorang manusia?" Tanya konyol Firman yang masih tak percaya dengan kecantikan sempurna dan mata indah yang langka.


"Sebaiknya aku pergi, lanjutkan obrolan kalian, aku tidak ingin membuat orang semakin tak waras saat melihatku" ucap Ailina lalu beranjak bersama dengan Evan yang kebetulan akan berjalan masuk ke tempat yang sama.


Aftan tersenyum senang tentu saja, melihat wanita yang masih di kagumi nya menjauh dari laki-laki selain dirinya, sementara Firman langsung memutuskan pandangan.


"Mirip, apa mereka saudara?" Tanya Firman saat melihat Evan dan Ailina berjalan bersama.


"Hem, begitulah" jawab Aftan tak mau panjang lebar.


Keduanya kini berjalan masuk ke dalam kamar dimana Afita berada, Firman ingin mengetahui keadaan Afita sebelum mengambil semua peralatan medis untuk melakukan perawatan di Mansion.


Kini semua telah berkumpul, melihat Firman meneliti keadaan Afita, terkejut tentu saja, melihat kulit pucat dan mata yang terpejam rapat, bahkan Firman tidak mendapatkan reflek sama sekali dari tubuh Afita saat di periksa.


"Aku bukan ahli dalam mendeteksi Racun, tapi dari yang aku lihat, ini sangat kuat dan berbahaya" ucap Firman sambil memandang Zafian seolah mengatakan keadaan sang istri sangat serius kali ini.


Zafian masih menatap istrinya begitu dalam, tanpa melepaskan genggaman tangan, "Aku tau, dan tolong lakukan yang terbaik" ucap Zafian.


Firman mengangguk, menepuk pundak zafian, lalu beranjak pergi, dalam hati Firman begitu sedih melihat bagaimana sahabatnya tengah terluka hatinya saat ini, dan satu lagi yang membuatnya merasakan sakit, di saat teringat bagaimana Afita melindunginya dan juga keluarga yang lain saat berada dalam pertarungannya.


"Aku akan melakukan sampai batas akhir kemampuanku untuk membantumu Afita, itu janjiku" ucapnya dalam hati, lalu segera melesat pergi.


Naura melihat semua yang terjadi dengan Firman, bahkan bagaimana dia terpesona dengan sosok wanita yang sangat cantik dan sempurna, dan itu adalah saudara dari Atasannya.


"Kenapa aku merasa tak enak hati, ayolah, sadarkan dirimu Naura, kau itu hanya orang biasa dan sangat rendah, jangan sampai berani mempunyai hati untuk seorang Dokter Firman, itu tidak pantas" batinnya berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri.


*


*


Hampir jam 11 malam, di saat semuanya beristirahat, hanya Zafian dan Aftan yang masih bergantian terus menjaga Afita yang sudah terpasang infus di tangan kirinya,


"Jangan terlalu memforsir tenaga dalammu" ucap Aftan yang sudah bisa mulai memaklumi keadaan adik iparnya.


Zafian terdiam, melihat kearah Aftan sejenak, "Maafkan aku" ucap lirih Zafian penuh penyesalan.


"Hem, aku juga minta maaf, terlalu emosi melihat keadaan adikku" jawab Aftan.


"Kau pantas memukulku, bahkan membunuhku akan aku terima, semua ini salahku" ucap Zafian.


"Saat ini, adikku membutuhkanmu, kuatlah agar dia juga bisa bertahan, membunuh mu juga tidak akan bisa memutar waktu dan menghindari ini semua," sahut Aftan.


Zafian kembali terdiam, hingga Aftan tertidur sambil duduk di sebelah Afita. Namun tak lama kemudian, pintu terbuka, Zafian menoleh dan sangat terkejut mendapati sosok yang tengah menatap sang istri.


Begitu juga dengan Aftan, yang merasakan hatinya tak tenang, segera membuka matanya dan langsung berdiri melihat seseorang sudah berada di sana.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" Ucapnya pelan dan berat, seolah menahan sesak akibat luka hati yang teramat dalam melihat keadaan Afita tergeletak tak berdaya.


Zafian tidak berani untuk bergerak, rasanya beban ditubuhnya bertambah semakin berat, sedangkan Aftan menarik nafas dalam, merasa bertanggung jawab juga akan keadaan Afita karena saat ini dia saudara yang paling dekat berada dalam satu kota dan tidak bisa mencegah hal naas ini terjadi.


Hari ini UPDATE 2 kali, jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA.


Bersambung.