
Alex dan Aftan segera berjalan dengan cepat, sementara Firman masih tetap berada di tempat dan memandang Naura yang masih beristirahat dengan tenang.
"Semoga ini menjadi harapan yang lebih baik Naura, Bertahanlah, aku yakin kamu pasti bisa" ucap lirih Firman dalam doanya.
Setelah memberitakan Zafian akan kepentingan yang harus disegerakan, Alex dan Aftan mohon pamit ke Anita untuk secepatnya pergi ke Mansion, sedangkan Zafian menunggu sang Bunda untuk mengurus administrasi Rumah Sakit karena di perbolehkan pulang hari ini.
Tak lama Alex kini sudah berada di dalam mobil bersama dengan Aftan, mendengar bahwa kedua orang tuanya sudah berada di Mansion, tentu saja membuat dirinya harus segera berada di sana.
"Daddy tidak apa-apa?" Tanya Aftan nampak cemas melihat wajah tegang Daddy-nya.
"Hem" sahut Alex masih terdiam dengan pandangan menerawang jauh ke depan, dan sesekali menarik nafas dalamnya.
Perjalanan hampir satu jam, halaman Mansion kini sudah terlihat, mobil melewati dan berhenti, Alex segera turun di ikuti oleh Aftan yang tentu saja sangat kangen dengan kakek neneknya.
Berjalan masuk dengan langkah yang sangat berat di rasakan oleh Alex.
"Aku yakin Daddy menghadapi masalah apapun" ucap Aftan membuat Alex tersenyum dan mengangguk, sungguh sebuah support yang sangat dia butuhkan saat ini.
Tidak seperti yang di bayangkan, rupanya Mansion tampak masih sepi, hingga kemudian Reyna segera keluar untuk menjemput sang suami yang baru saja sampai di lantai atas.
"Honey" ucap Reyna segera memeluk suaminya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar yang di tempati.
"Dimana Daddy dan Mommy?" Tanya Alex tampak heran.
"Ada di kamar untuk beristirahat" jawab Reyna.
"Oh my God, lalu kenapa kamu meneleponku dan memintaku untuk segera pulang?"
"Aku takut honey, sepertinya mereka tau akan apa yang terjadi" ucap Reyna.
"Tentu saja, itu hal mudah yang bisa di lakukan oleh mereka honey, kamu lupa siapa keluarga Nugraha, menggali informasi soal keadaan anak cucunya bukan hal sulit untuk di lakukan" sahut Alex.
"Iya, aku tau honey, selain itu, kenapa aku menyuruhmu untuk segera pulang?"
"Memangnya kenapa?" Tanya Alex penasaran.
"Edward dan Alena baru saja menggabungkan kekuatannya" jawab Reyna dengan rona yang sangat bahagia.
"Maksudnya?" Tanya Alex masih belum mencerna perkataan istrinya.
Kemudian Reyna menceritakan penggabungan tenaga dalam adiknya bersama dengan suaminya, dengan kata lain, kini calon cucu yang ada di perut Afita sudah aman dari kekuatan hitam.
"Alhamdulillah, jadi Edward telah berhasil melakukannya?"
"Begitulah honey, semula aku ragu, namun terkejut juga mengetahui kekuatan Alena dan Edward kini begitu dahsyat" jawab Reyna.
"Aku bersyukur semuanya kini baik-baik saja, hanya saja_"
"Masalah Zafian?"
"Iya, dan aku sangat merasa berdosa dalam hal ini, aku tau, Daddy ber hak murka akan apa yang sudah ku lakukan, hingga membuat Zafian melakukan hal keji yang tak terbayangkan"
Reyna terdiam, hanya duduk dengan genangan air mata yang mengisyaratkan betapa dirinya ikut menyesali apa yang sudah terjadi.
"Aku tau, setiap tindakan akan ada resiko yang harus di tanggung" Ucap Alex pelan tapi begitu menghujam di relung hati.
"Honey?" Ucap lirih Reyna berusaha untuk menenangkan hati suaminya.
Alex menoleh dan memandang wajah istrinya, air mata itu menetes di pipi putihnya, tangan Alex mengusap lembut, "aku bukan orang yang lemah honey, apapun keputusan Daddy nanti, akan aku terima" ucap Alex sambil tersenyum.
*
*
Zafian sudah bersiap untuk pulang, dia sangat tau semua permasalahan yang diakibatkan oleh dirinya, kabar tentang kedatangan Abraham dan Jasmine tentu saja tak jauh dari urusan Dosa pemban-taian yang telah di lakukannya.
"Ada apa?" Tanya Anita saat duduk di sebelah Zafian dalam perjalanan menuju Mansion.
"Tidak ada Bunda" ucap Zafian yang berusaha menutupi kegusaran hatinya.
Anita terdiam, sangat tau akan sifat anaknya dari dulu, dimana Zafian tidak akan mengungkapkan apapun kalau harus membuat sang Bunda mengkhawatirkan dirinya.
"Apa yang kamu lakukan tidak sepenuhnya kesalahan mu" ucap Anita membuat Zafian terkejut.
"Bun, aku tidak ingin membahas hal ini" sahut Zafian.
"Aku akan membelamu kalau nanti mereka memojokkan mu" ucap Anita lagi membuat Zafian terkejut.
"Tapi Zaf_"
"Bund, aku mohon, mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan adalah wajib, aku sadar semua orang pasti melakukan kesalahan-kesalahan, tapi juga pasti harus menerima konsekuensi" sahut Zafian lagi.
Anita terdiam kembali, menelan ludahnya perlahan saat membayangkan banyaknya may-at yang bergelimpangan karena perbuatan anak satu-satunya, dan jikalau Zafian harus menerima hukuman, Anita tidak sanggup untuk melihatnya.
Keduanya kini terdiam dengan hati yang berkecamuk dengan apa yang akan terjadi didepan nanti, Zafian lebih berpasrah diri, hanya saja dirinya sungguh tidak sanggup kalau kenyataan ini terdengar oleh sang istri, menarik nafas sedalam-dalamnya saat Zafian kini membayangkan wajah kecewa dari Afita.
*
*
Hari menjelang sore, tepatnya di jam 15.00, perlahan Mansion tampak hidup kembali, Abraham membuka matanya, terasa tidurnya tak tenang sama sekali.
"Sudah terbangun yang?" Suara merdu dari wanita yang bertahun-tahun menemaninya terdengar di telinga Abraham.
"Hem, aku mandi dulu yang" ucap Abraham yang tampak begitu berat memikirkan sesuatu.
Jasmine tersenyum, menutupi kesedihannya, jangan dikira sebagai seorang ibu tidak terluka dengan kesalahan fatal yang di lakukan oleh enaknya, sedangkan hukuman harus tetap di tegakkan seperti perintah sang Ayah sebelum beliau beristirahat dengan tenang.
"Alex.." ucap lirih Jasmine dalam hatinya yang terus berdoa akan kebaikan anaknya.
Keduanya kini berjalan keluar kamar untuk menikmati suasana sore di halaman belakang Mansion, bersama dengan Edward dan ketiga anak kembarnya.
Sebuah percakapan yang nampak begitu hangat, walaupun dirasa kurang lengkap, Alena masih beristirahat untuk memulihkan tenaganya, Reyna masih menemani Afita di kamarnya, Alex dan Aftan belum nampak datang, begitu juga dengan Zafian dan Anita.
Hingga beberapa menit berikutnya.
"Dad?" Ucap seseorang dari arah belakang, sontak keadaan berubah menegangkan.
Abraham menoleh, begitu banyak getaran dihatinya, melihat sosok Alex, anak laki-laki satu-satunya.
"Ikut denganku!" Seru Abraham seketika itu juga berdiri dan melangkah pergi, tentu saja diikuti oleh Alex yang berada di belakangnya.
Sementara anggota keluarga yang lain sehat berdiri, bingung harus melakukan apa, lalu sesaat kemudian.
"Kalian tetaplah disini, semua akan terselesaikan dengan baik" perintah Jasmine dan membuat Edward menghentikan langkahnya.
"Tapi Mom_?"
"Apa kau meragukan Daddy mu?" Sahut Jasmine.
Semuanya terdiam, dan duduk kembali di tempat masing-masing, begitu juga dengan Aftan yang kini sudah mendapatkan pelukan erat dari Jasmine.
Sesaat Reyna dan Alena datang hampir bersamaan, keduanya tampak melihat keanehan dari situasi yang ada, terutama Reyna yang melihat adanya Aftan, namun tidak ada Alex dan Abraham di sana.
"Kapan kamu datang Af?" Tanya Reyna.
"Baru saja mom"
"Lalu mana Dady mu?"
"Daddy_" ucap Aftan tertahan saat sang GrandMa mengambil alih bicaranya.
"Bersama Daddy mu di ruang kerja Zafian, ada yang sedang mereka bicarakan, kita tunggu saja disini" ucap Jasmine.
"Apa!, Tapi Mom_"
"Aku saja yang akan kesana!, Kalian tetaplah disini dan kak Reyna, jangan mengikuti ku" seru Alena yang tidak bis dicegah lagi oleh siapapun.
Jasmine membiarkan saja, karena dia sangat tau, bagaimana Alena begitu dalam berada di dalam hati Daddy nya, dan hanya Alena satu-satunya orang yang tidak bisa ditolak oleh suaminya.
Sementara itu, dua orang laki-laki itu pun tiba di ruangan kerja Zafian, setiba di dalam sana_.
BRAK
Abraham menggebrak meja penuh emosi.
"Daddy sangat kecewa padamu Alex!"
Apa yang akan terjadi?, yuk kasih Author dukungan dengan memberi HADIAH, VOTE LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya
Bersambung.