ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 54



Afita masih memperhatikan siapa orang yang baru saja melintas, lalu dengan langkah perlahan mengikuti denga jarak yang dirasa cukup aman.


"Nona, bukankah itu Tuan Bimo?" Tanya Naura dengan suara cukup pelan.


"Sstt, diam lah, sebaiknya kau masuk saja ke apartemen mu, aku akan mengikutinya" ucap Afita lirih.


"Tapi Nona?"


"Jangan berdebat, bukan saat yang tepat, masuklah" perintah Afita mutlak, mengingat kondisi kaki Naura yang baru saja cidera dan kesulitan untuk berjalan normal.


Sekejab Afita memperhatikan Naura masuk ke dalam Apartemennya, lalu kembali mengikuti seseorang yang diburunya saat ini.


"Semoga aku tidak kehilangan Bimo kali ini" ucapnya dalam hati dan terus mempercepat langkahnya dengan hati-hati.


Dan benar saja, beruntung Afita masih bisa mengejar keberadaan Bimo, terlihat disana Bimo tengah menunggu di depan pintu Apartemen.


"Siapa yang ingin di temuinya?" Tanya Afita masih begitu penasaran.


Menit berikutnya, Afita dikejutkan dengan sosok wanita yang sangat dikenalnya,


"Sh-it!, Bukankah itu Cintia?" Ucapnya lirih dan masih terus mengintai.


Terlihat dengan jelas kedatangan Cintia sang sekretaris suaminya dari arah yang berbeda, rupanya dia menggunakan jalan lain untuk sampai di Apartemennya.


Cintia tersenyum, lalu segera memeluk Bimo Trihatmodjo dengan dekapan yang tidak biasa, ciu-man sedikit kasar dan penuh gair-ah tampak begitu nyata, bahkan mereka masih melakukannya di depan pintu Apartemen.


"Dasar manusia gila, rupanya mereka ada hubungan yang tak biasa" ucap Afita begitu ji-jik melihat kelakuan keduanya.


Setelah keduanya masuk, Afita segera melanjutkan langkahnya, perlahan mendekati pintu Apartemen yang di duga milik Cintia.


Nomor Apartemen cukup jelas, Afita tidak akan salah lagi jika harus kembali mengunjungi, namun rasa penasarannya tidak bisa pergi.


"Apa yang mereka lakukan?" Tanyanya dalam hati. "Mungkinkah Cintia yang telah berkhianat dan menyerahkan semua berkas itu ke tangan Bimo?" Ucapnya dalam hati.


Rasanya ingin sekali Afita mendobrak pintu itu saat ini, karena memang nyatanya itu bukan hal yang sulit untuk dilakukannya, namun bukti akan kebenaran praduganya masih belum didapatkan sama sekali, nyata memang mereka punya hubungan yang tak wajar, tapi pengkhianatan yang dilakukan oleh Cintia belum ada bukti yang kuat.


"Heh, seandainya disini ada Evan atau Ethan, semua akan menyelesaikan rasa penasaran ku" ucap Afita lirih, teringat akan kedua sepupunya yang mempunyai kekuatan dahsyat teleportasi dan pembaca pikiran.


Dirasa tidak ada gunanya juga Afita tetap berdiam diri disana, akhirnya segera memutuskan untuk pergi dengan hati-hati, setidaknya mulai hari ini, Afita bisa menentukan langkah apa yang harus dilakukan terhadap Cintia.


Afita kembali melangkah, kali ini tidak ingin mengganggu istirahat sang sekretaris yang tengah cidera, Afita segera berpamit melalui ponselnya.


"Tidak masuk ke Apartemen saya dulu Nona?' tanya Naura menawari.


"Tidak perlu, kau istirahat saja, aku akan segera pulang, sudah hampir magrib"


"Baiklah Nona, hati-hati" ucap Naura bersungguh-sungguh.


"Iya, jangan khawatir " sahut Afita.


"Jangan ngebut Nona, slow saja" ucap Naura yang memang nyata begitu khawatir mengingat kejadian dahulu hingga harus menikah dengan paksa.


"Ck, kau ini, cerewet sekali, sudah urusi saja kakimu, cepat sehat dan kembali bekerja" jawab Afita.


"Iya, tapi mobil saya belum lunas kreditan nya"


Tut


"Astaga, Nona, halo, Nona Afita!" Teriak Naura yang kesal bercampur khawatir akan mobilnya, sementara Sabungan handphone telah dimatikan oleh Afita.


**


Sementara itu, Zafian yang baru saja sampai di Mansion, segera masuk dengan tergesa, Lantaran entah kenapa semakin hari semakin merindukan istrinya.


"Bun, Afita sudah pulang?" Tanya Zafian saat melihat sang bunda duduk di ruang tengah dekat tangga.


"Astagfirullah, salam dulu kenapa, Bunda sampai kaget Zaf"


Zafian terkekeh, lalu memeluk sang Bunda dan mengucapkan salam di telinga sang Bunda, Anita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.


"Afita belum pulang, memangnya kau tidak menjemput nya?" Tanya Anita merasa aneh.


"Afita pulang sendiri, tadi ijin mengantar sekretarisnya yang cidera"


"Apa?, Afita kecelakaan?" Tanya Anita langsung berdiri merasa terkejut dengan penjelasan Zafian.


"Tidak Bunda, sekretarisnya yang kakinya keseleo saat beraktivitas tadi" sahut Zafian memberikan penjelasan.


"Oh, syukurlah" ucap Anita sambil mengusap dadanya, karena memang tingkat kekhawatiran Anita menjadi berlipat-lipat setelah kejadian yang menimpa kedua orang tersayang nya tempo hari.


Zafian segera masuk ke dalam kamar, khawatir akan keadaan sang istri, dirinya tidak segera membersihkan diri, melainkan meraih ponsel dan menghubungi istri tercintanya.


"Dimana sekarang?" Tanya Zafian.


"Hampir sampai Mansion, yang" jawab Afita.


"Hati-hati sayang, membawa mobil sendiri?" Tanya Zafian lagi.


"Iya, mobil Naura aku bawa untuk sementara, biar nanti pak sopir yang mengembalikan" jawab Afita.


"Siap bos" sahut Afita kembali.


"Aku serius sayang"


"Iya iya, dimengerti sayang, sudah, aku tutup dulu, ini hampir sampai" ucap Afita.


"Ba_"


Tut


"What!, Dasar, yang, halo, sayang!" Teriak Zafian masih berusaha bicara di sambungan yang sudah di matikan oleh Istrinya.


Zafian mendengus kasar, segera membuka baju untuk selanjutnya membersihkan diri.


"Awas saja sampai rumah, beraninya memutuskan sambungan telpon saat aku masih bicara" gumam Zafian yang sudah tidak sabar akan memberikan hukuman.


Sementara Zafian masih sibuk dengan dirinya yang berada di kamar mandi, rupanya Afita kini sudah memasuki Mansion, penjaga yang berada di pintu gerbang segera menghentikan mobil yang dinaikinya, karena memang mobil asing baik tamu atau siapapun akan di periksa sebelum memasuki Mansion.


CIIT


Bunyi mobil mendekati pintu gerbang Mansion, beberapa penjaga langsung bertindak melihat mobil yang sedikit ugal-ugalan berhenti di depan pintu gerbang.


"Oh Nyonya Zafian, maaf, saya tidak tau kalau anda yang membawa mobil ini" ucap salah satu penjaganya.


"Hehe, tolong bukakan ya pak" ucap Afita.


"Siap nyonya"


Afita hanya tersenyum, lalu meminta tolong untuk membukakan pintu pagar untuk segera masuk ke dalam, mobil milik orang lain itupun melaju kembali.


"Nyonya Zafian?" Tanya salah satu dari penjaga yang lain.


"Iya, aku tidak menyangka, rupanya istri Tuan Zafian seorang pembalap juga"


"Bukan hanya itu, yang aku dengar bahkan beliau seorang wanita yang bisa berkelahi"


"Apa!" Ucap dua orang yang lainnya begitu terkejut.


Hahaha


Terdengar suara tawa dari mereka semua, bahkan penjaga lain yang ikut mendengar di buat tak percaya dengan kabar mengejutkan dari anggota baru yaitu istri majikannya.


Afita mengucapkan salam dengan suara khasnya sebelum memasuki pintu utama, Anita langsung menoleh dan menyambutnya dengan suka cita.


"Alhamdulillah, kamu sudah dirumah sayang" ucap Anita setelah mendapatkan ciuman tangan dan pelukan dari Afita.


"Tentu saja Bun, tadi Afita tidak bisa pulang bareng" ucap Afita menjelaskan.


"Bunda tau, sudah sana, bersihkan diri dulu" Anita tersenyum melihat Afita segera berlari seperti anak kecil yang lama bermain di luar dan telat pulang.


Mendapati tingkah absurd menantunya, Anita justru merasa terhibur dan tertawa, kadang juga tidak percaya dengan apa yang dilihat dari sosok Afita.


Ceklek


Pintu kamar Zafian terbuka, sebenarnya Afita merasakan perasaan yang tidak enak karena mendapat ijin dengan paksa, ditambah dengan kepulangannya yang jelas terlambat sekali karena suatu misi.


Berjalan perlahan masuk, tidak mendapati ada tanda-tanda suaminya di dalam kamar, lalu segera menutup pelan pintu kamarnya dengan tetap waspada, detik berikutnya.


"Kena kau!"


"Akh!" Teriak Afita hampir saja reflek mengeluarkan tenaga dalamnya, beruntung segera tersadar dan bisa mengendalikan diri.


"Yang, lepaskan, mengagetkanku saja" ucap Afita meronta untuk lepas dari dekapan suaminya.


"Dari mana saja hem?" Tanya Zafian, lalu kemudian_


Cup Cup Cup


Zafian memberikan ciu-man berulang kali di wajah sang istri.


"Yang, aku masih belum mandi, kotor, lepaskan!" Terik Afita mencoba menahan wajah suaminya yang nyatanya masih terus berbuat rusuh.


"Aku akan menghukum mu karena sudah membuatku khawatir dan pulang terlambat"


"Akh!, Yang, turunkan aku!" Teriak Afita lagi, saat tubuhnya sudah melayang dalam gendongan sang suami.


Zafian memasukkan Afita kedalam kamar mandi bersamanya, lalu membuat sang istri polos dengan sedikit paksa.


"Yang, hentikan, aku malu!" teriak Afita berusaha menutupi bagian-bagian tubuhnya dengan kedua tangan.


Zafian terkekeh, lalu menghidupkan shower, tanpa memperdulikan protes yang didengarnya, kini tubuh sang istri sempurna terguyur, begitu juga dengan dirinya.


"Yang, jangan macam-macam!" Teriak Afita saat mendapati Zafian sudah sama seperti dirinya, polos tanpa apapun di tubuhnya.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.


Bersambung.