
Afita menjelaskan lebih detail tentang keadaan Naura, Firman mendengarkan dengan seksama, begitu juga dengan Zafian.
"Bisakah aku menemuinya sekarang?" tanya Firman.
Afita terdiam, lalu menatap Zafian yang berada di dekatnya seolah ingin meminta pendapat, "menurutku tidak apa-apa , mungkin Firman bisa melihat keadaannya dan membantu Naura" ucap Zafian
"Baiklah kalau begitu, kita akan pergi bersama" jawab Afita.
Firman tersenyum bahagia, lalu mengucapkan terimakasih karena Afita sudah mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan Naura saat ini juga.
Ketiganya melangkahkan kaki bersama meninggalkan tempat itu, tentu saja menuju tempat tinggal Afita, "Bagaimana kalau kamu ikut di mobilku sayang?" Ucap Zafian.
"Sorry, aku bawa mobil sendiri, kita akan bertemu di Rumahku saja" jawab Afita.
"Ada aku Zaf, kau lupa?" Sahut Firman dan membuat Zafian tertawa begitu juga Afita.
"Ck, tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu disini Fir, ayo masuklah" sahut Zafian.
Tak lama kemudian kedua mobil itu beriringan, Zafian memperhatikan beberapa kali mobil yang di bawa oleh istrinya.
"Kau kenapa, khawatir sekali" ucap Firman melihat tingkah Zafian.
"Aku hanya tak tega saja, tidak pernah melihat Afita menaiki mobil biasa seperti itu sebelumnya" jawab Zafian tak melepaskan pengawasan.
"Ck, tenanglah, aku melihat Afita sangat nyaman mengemudikan mobilnya, wanita yang aneh"
"Apa maksudmu, dia istriku, ingat itu!" Seru Zafian memperingatkan.
"Sorry, bukan begitu maksud ku, hanya saja, aku tidak pernah menduga seorang putri dari keluarga Nugraha mampu hidup dengan begitu sederhana, apa kau bisa bayangkan?" Sahut Firman.
"Hem, aku semakin merasa bersalah disini, beberapa tahun terkadang begitu menyalahkan Afita, tanpa tau dia melakukan semua itu demi Anak kami" sahut Zafian.
"Anak?" Tanya Firman. "Jadi seperti yang kita duga sebelumnya, kalau Afita menjaga kandungannya dengan baik bukan?" Ucap Firman ikut merasa senang.
"Alhamdulillah, dia wanita yang luar biasa"
"Tentu saja, aku tidak meragukan hal itu, lalu_ apa kita akan bertemu jagoan kecilmu juga Zaf?" Tanya Firman yang juga penasaran dengan sosok anak dari sahabatnya.
"Tidak, keberadaanku di dekatkan akan memicu bahaya dan mengancam keselamatannya"
"Apa?, Aku tidak mengerti" ucap Firman.
Zafian menatap Firman sejenak, lalu berpikir untuk menceritakan semuanya, bagaimana pun Firman adalah orang terdekatnya saat ini, dan dapat di percaya tentunya.
"My God, Bagaimana itu bisa terjadi, dan apa yang harus kita lakukan, tidak mungkin anakmu tumbuh tanpa seorang Ayah, sedangkan kau dalam keadaan baik-baik saja Zaf"
"Aku masih belum tau, saat ini aku hanya ingin melihat wajahnya dan memeluknya dengan erat, tapi_"
"Sabar Zaf, pasti akan ada jalan, percayalah" ucap Firman memberikan support.
Hingga akhirnya mobil berhenti, mengikuti di belakang Mobil Afita, Zafian ikut menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah yang tentu saja sudah di kenalnya.
Afita turun dari mobil dan menunggu, setelah Zafian mendekat bersama Firman, Afita mengajak keduanya untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Kakak, sudah pulang?" Sambut seseorang membuka pintu.
Deg.
Disaat yang sama, nampak Firman terpaku melihat keadaan dan terlebih wajah Naura.
"Kamu?" ucap lirih Firman.
"Anda dokter yang kemaren bertemu di Rumah Sakit itu bukan?" Sahut Naura yang juga ikut terkejut.
"Sebaiknya kita masuk dulu" sahut Afita yang sadar akan keterkejutan Firman akan keadaan Naura.
Zafian menepuk pundak Firman, seolah menyampaikan maksud hati untuk bersabar, Firman tersentak dan tersadar, lalu ikut berjalan masuk di belakang Zafian.
"Jadi kalian sudah pernah bertemu?" Tanya Afita melanjutkan perbincangan.
"Iya kak, di Rumah Sakit, kemaren saat aku terapi, iya kan dok?"
"I iya, begitulah, bagaimana keadaan anda nona Naura?" Sahut Firman berusaha mengurai ketegangan.
"Alhamdulillah baik dokter"
Mendengar jawaban Naura, Firman Seolah tak percaya.
"Apa kau benar-benar tidak mengenalku?" Ucap Firman yang sudah tidak tahan lagi.
"Maaf, maksud anda?" Tanya Naura yang tentu saja di buat bingung dengan pertanyaan yang baru saja diajukan.
"Apa_" ucap Firman segera terhenti.
"Ehem, bagaimana kalau kita siapkan minuman dan cemilan dulu Nau" sahut Afita sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, maaf, biar aku saja yang mengambil kan kak" jawab Naura, lalu bergegas masuk ke dalam.
"Oh my God, aku benar-benar tak percaya, pantas saja waktu itu aku seperti tak asing dengan suara dan juga kebiasaan gerakan tubuhnya" ucap Firman.
"Dan tolong, jangan terlalu memaksanya untuk mengingat sesuatu, aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan" sahut Afita.
"Aku tau, maaf, tadi tidak bisa menahan diriku" ucap Firman.
"Kalau ingin membantunya, lakukan dengan perlahan, dan aku rasa kamu lebih tau hal itu Fir" sahut Zafian.
"Sudah hampir petang, apa tidak sebaiknya_"
"Aku tau, kita akan pulang, dan aku tunggu tentang anak kita, aku berharap segera bisa melihatnya sayang" ucap Zafian.
"Aku akan segera memberi kabar" ucap Afita dengan senyuman.
Zafian segera berdiri, diikuti oleh Firman, tak sampai hati rasanya meninggalkan rumah itu, namu Zafian tau kalau saat ini, Afita masih ingin fokus mencari solusi.
Keduanya segera berpamitan, Afita dan Naura mengantar sampai di teras depan, lalu kemudian masuk kembali.
"Aku akan membersihkan diri dulu" ucap Afita bersiap melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"Semua berjalan lancar kan kak?, Aku lihat tuan Zafian bersikap lebih hangat"
"Alhamdulillah" jawab Afita tersenyum dan Naura ikut bahagia.
Setelah menyelesaikan ibadah sholat magrib bersama, Afita berpikir sejenak.
"Ada apa kak?" Tanya Naura.
"Aku akan menghubungi paman Raka, Zafian ingin bertemu dengan Fian, dan aku masih takut" jawab Afita.
"Tidak apa-apa kak, segera di selesaikan saja, mungkin paman Raka punya solusinya" ucap Naura.
Afita segera berdiri dan mengambil ponselnya, menekan tombol yang ada disana dan kini sudah terhubung dengan Raka.
Perbincangan terjadi, terdengar juga Raka ternyata setuju dengan saran Zafian untuk mencoba mempertemukan.
Afita mengakhiri perbincangannya di sambungan ponsel dengan mengucap salam.
"Bagaimana kak?" Tanya Naura penasaran.
"Paman setuju, dan aku akan memberi kabar Zafian" ucap Afita di antara senang namun juga was-was.
*
*
Setelah beberapa jam berlalu, nampak si sebuah Mansion, ada seseorang yang tengah memperhatikan tingkah sahabatnya.
"Rapi banget, mau kemana?" Tanya Firman.
"Aku akan makan malam dengan Afita, sekalian membahas tentang putraku, sepertinya paman Raka kali ini mendukung ku" ucap Zafian sambil terus berjalan menuju pintu utama Mansion.
"Syukurlah, hati-hati Zaf" ucap Firman sebelum Zafian menghilang dari pandangannya.
Tak butuh waktu lama, Zafian melesat menembus gelapnya malam menuju sebuah restoran mewah yang sudah di pesannya, dan hanya sepuluh menit perjalanan kini Zafian sudah duduk disana menunggu kedatangan istri tercinta.
Afita segera duduk di depan Zafian, setelah melangkah cepat menuju tempat yang di siapkan.
"Maaf, apa aku terlambat?"
"Tidak sayang, aku saja yang datang terlalu cepat" jawab Zafian.
Lalu keduanya segera memesan makanan, perbincangan segera di mulai, Afita memberikan penjelasan bahwa Raka juga setuju akan maksud hati Zafian, dan untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, Zafian boleh menemuinya dari jauh untuk mengawali.
"Baik, aku setuju sayang, tidak masalah , apa paman Raka sudah memberitahu tempatnya?" Tanya Zafian.
"Iya, ada di _" ucapan Afita terpotong saat pelayanan sudah datang membawa makan malam yang siap di nikmati.
"Sebaiknya kita makan dulu" ucap Zafian.
"Baiklah" jawab Afita.
Keduanya menikmati malam bersama, Zafian tak henti menatap sang istri yang terlihat begitu cantik walaupun dengan penampilan yang biasa saja.
"Jangan melihatku seperti itu" ucap Afita merasa tidak enak dengan tatapan aneh Suaminya.
"Aku merindukanmu sayang, apa kau tidak?"
"Zaf, kita pikirkan dulu satu persatu masalah serius yang kita hadapi"
"Dan Has-rat ku juga sangat serius malam ini"
Ucap Zafian tersenyum nakal.
"Zaf!"
Zafian terkekeh, melihat Afita panik akan perkataannya, namun kemudian keduanya melanjutkan perbincangan, Afita menyebutkan sebuah tempat dengan lengkap, itu artinya Zafian siap pergi kesana.
"Kita pergi bersama, di sana nanti baru kita berpisah, kamu temui Fian dulu dan aku akan menjaga jarak sejauh-jauhnya" ucap Zafian.
"Terimakasih Zaf, maaf kamu harus berada jauh dari anak kita"
"Tidak apa-apa, ini hanya sementara, dan aku berjanji akan sekuat tenaga menemukan caranya"
Afita tersenyum, menatap mata sang suami yang ternyata sudah banyak berubah dan begitu bisa mengontrol emosinya.
Keduanya nampak begitu bahagia, hingga tanpa di sadari ada seseorang yang sudah tersenyum menang, setelah mendengar alamat yang terucap dan tertangkap dengan jelas oleh pendengarannya.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya dong.
Bersambung.