
Firman berjalan masuk ke kamar yang sudah di tunjukkan oleh Afita, lalu mendapati sahabatnya masih tertidur dengan tenang diatas ranjang.
"Zaf bangun, ini sudah siang" suara Firman rupanya berhasil menganggu tidur nyaman Zafian.
"Firman?, Kenapa ada disini?" Tanya Zafian yang mulai tersadar kembali.
"Aku tidak tenang saat semalam memberitahu kalau menginap disini"
"Memangnya kenapa?" tanya Zafian.
"Khawatir istrimu belum menerimamu, ternyata malah sebaliknya, bahkan kau sampai K.O tak bisa bangun pagi hari" jawab Firman sambil tertawa.
"Ck, aku hanya lelah saja, semalam_, sudah minggir, aku mau mandi!" Ucap Zafian langsung bangun dan bersiap mandi.
"Hahaha, kenapa tidak kamu teruskan kalimatnya, semalam kenapa?, Apa Afita menghajar mu?" Tanya Firman sengaja mengerjai Zafian sambil memberikan paper bag yang berisi baju ganti.
"Aku tidak selemah itu, bahkan pagi ini aku sudah menginginkannya kembali, tapi malah kamu yang ada di kamar ini, dasar!"
Firman semakin tertawa, lalu ikut keluar di belakang Zafian yang menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, semua sudah duduk di kursi makan masing-masing untuk menikmati sarapan pagi.
"Sepertinya kamu sudah rapi sayang?" Tanya Zafian sebelum menyantap makanannya.
"Hem, sebentar lagi berangkat kerja" jawab Afita.
"Kerja?" Zafian mengerutkan keningnya.
"Iya, menyelesaikan tugasku di perusahan itu dulu, bagaimana pun aku sudah menerima gaji sebagai hakku, dan kewajiban ku adalah menyelesaikan pekerjaanku" ucap Afita.
"Baik, aku berharap setelah itu kamu keluar dari sana, perusahaanmu sendiri membutuhkan mu sayang" sahut Zafian.
"Entahlah, kita lihat saja nanti, ada Fian yang harus aku pikirkan" ucap Afita.
"Aku tau, tapi kembali ke Surabaya dan bertempat yang saling berjauhan untuk sementara waktu, aku rasa tidak akan menimbulkan efek apapun pada Fian, bagaikan menurutmu?" tanya Zafian.
"Aku belum tau yang, kita lihat saja nanti, jarak sejauh mana kamu tidak bisa mempengaruhi keadaan anak kita" jawab Afita.
Perbincangan itu terjadi sejenak, semuanya memulai sarapan dengan tenang, pagi yang terasa sangat berbeda, bahkan Firman tak henti menatap sosok wanita yang berada di depannya saat ini dengan hati yang menghangat.
Beberapa menit kemudian, Afita sudah bersiap, begitu juga dengan Zafian dan juga Firman.
"Kita akan berangkat bersama" ucap Zafian.
"Tapi yang, aku tidak ingin menganggu pekerjaan yang harus segera kamu selesaikan, lagi pula Dokter Firman juga harus secepatnya ke Rumah Sakit bukan?" Sahut Afita.
"Aku tidak terlalu terikat waktu, keberadaanku disana hanya untuk melihat perkembangan Rumah Sakit cabang saja" ucap Firman mendukung Zafian.
"Sudah, masuklah yang, kita segera mengantarmu" ucap Zafian.
Afita tidak bisa lagi menolak, lalu dirinya segera bersiap masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa barang yang harus di bawanya bekerja.
Zafian membantunya dengan membawakan tas laptop yang di jinjing oleh Afita, senyuman hangat terbit di bibir Afita saat merasakan kembali perhatian Zafian yang begitu penuh dengan kasih sayang, bahkan tidak pernah membiarkan dirinya kerepotan sedikitpun.
Sampai di Perusahaan, Afita segera turun dari mobil mewah yang di bawa oleh suaminya, dan rupanya beberapa karyawan lain melihat semua itu, sontak mereka bergunjing dengan tatapan mata aneh dan banyak yang tak suka.
"Sudah, jangan di dengarkan, inilah yang sebenarnya aku takutkan yang" ucap Afita sambil tersenyum dan berpamitan.
"Hem, segera keluar dari perusahaan ini sayang, aku tidak suka kamu menjadi bahan pembicaraan mereka"
"Tenang saja, aku sudah biasa" sahut Afita.
"Aku sarankan segera turuti kata suamimu Nona Afita, sebelum dia tidak bisa menahan diri dan menutup mulut semua karyawan disini, kamu tau itu bukan hal yang sulit bukan?" Sahut Firman.
"Bersikaplah biasa saja, jangan berlebihan, disini aku hanya karyawan sayang, ingat itu" jawab Afita memberikan peringatan, lalu segera berjalan masuk ke dalam perusahaan.
"Beraninya Fita melakukan hal itu" ucapnya.
Reno yang tak sengaja melihat semua itu menjadi murka, dengan cepat berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya dimana Afita sudah berada disana.
"Astagfirullah, apa yang pak Reno lakukan?!" Ucap Afita terkejut saat tangan Reno sudah mencengkram lengannya.
"Apa kau tuli hingga tidak mendengar gunjingan semua karyawan tentangmu hari ini?!" Sentak Reno yang terlihat emosi.
"Lepaskan pak!" Ucap Afita lalu menarik paksa lengannya yang terasa sedikit nyeri.
"Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun, kenapa harus mendengarkan mereka?" Lanjut Afita.
"Tidak melakukan kesalahan?, Apa kamu sadar apa yang kamu katakan!" Seru Reno membuat Afita makin heran.
"Memangnya apa kesalahan saya pak?"
"Aku tidak mengerti, kau sangat membatasi semua urusan yang berhubungan dengan laki-laki, bahkan dengan ku, lalu tadi_, apa yang kau lakukan dengan turun dari mobil mewah pemilik perusahaan besar yang sedang bekerjasama dengan perusahaan ini ha!" Teriak Reno, hingga membuat Afita tersentak.
"Maaf, itu urusan pribadi saya pak, dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di perusahaan, ini jadwal pak Reno hari ini, pekerjaan yang kemaren tertunda juga akan saya selesaikan hari ini, jadi saya akan_"
"Diam!" Teriak Reno hingga membuat Afita langsung menghentikan ucapannya.
"Aku sedang bicara denganmu dan berusaha bersabar, jangan mengalihkan topik pembicaraan, paham!" Bentak Reno.
Afita terpaksa menambahkan stok sabar kedalam hatinya, menundukkan pandangan dan terdiam di depan orang yang kini masih menjadi bos nya.
"Kenapa kau bisa berada satu mobil dengan tuan Zafian, katakan dengan jujur dan jangan berani berbohong"
"Tuan Zafian yang menginginkan mengantar saya pak, saya bahkan sudah menolaknya" jawab Afita yang semakin membuat Reno tidak habis pikir.
"Hahaha, apa kau sedang bercanda?, Sandiwara apa yang sedang kau mainkan saat ini Fita, rupanya wajah cantikmu begitu menipu, aku kira kau wanita baik-baik, ternyata dalam otakmu menginginkan sasaran yang lebih besar lagi"
"Jaga ucapan bapak, saya tidak seperti yang anda katakan, dan saya rasa penjelasan saya sudah cukup"
"Bagus, kita lihat seberapa salah aku menilai mu" ucap Reno lalu semakin mendekati Afita.
Afita yang dari tadi belum sempat untuk duduk, segera mundur menjaga jarak, "jangan lagi berbuat sembarangan pak, kali ini saya tidak akan menahan diri lagi kalau pak Reno keterlaluan"
"Oh ya, bagaimana kalau aku akan memberikan apapun yang kamu mau, asal kau bisa memuaskan ku di sini" sahut Reno yang justru semakin maju mendekati.
"Dan jangan salahkan saya, kalau sampai harus menyakiti" jawab Afita dengan tatapan mata yang begitu tajam, bahkan Reno sampai di buat terkesiap melihatnya.
"Kau, berani sekali rupanya, berapa banyak Tuan Zafian memberimu, sampai kau berani mengancam ku sekarang ha?"
"Sudah saya katakan, anda salah sangka"
Reno segera melesat, Afita tak tinggal diam, walaupun kali ini sadar, kekuatan supranatural nya terasa hilang kembali, bukan berarti ilmu bela dirinya tidak bisa digunakan lagi.
Tendangan dari kaki Afita tepat mengenai tangan yang hampir saja menyentuhnya, Reno sangat terkejut, tak menyangka Afita bisa melakukan gerakan secepat itu.
"Baik, kau menantang ku rupanya" ucap lirih Reno.
Tangan Reno segera mengusap sesuatu yang terlihat bercahaya sekejab mata, dan dengan cepat kini gerakannya berhasil mencengkram pergelangan tangan Afita.
"Lepaskan!" Teriak Afita yang merasakan seolah tenaganya menghilang, bahkan merasakan tubuhnya sedikit lemas tanpa sebab yang jelas.
Reno tersenyum miring, merasa menang dan siap melakukan apa yang diinginkan, Afita terkejut dan semakin panik, terus menarik lengannya yang tak juga bisa terlepas.
Sedikit lagi Reno sudah dengan bebas akan menyentuh bibir Afita dengan tangan yang satunya, Afita semakin meronta dengan sekuat tenaga.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.