
Setelah makan siang bersama, Naura akhirnya menceritakan semuanya, bagaimana luka itu di dapat dari kecelakaan tunggal yang dialaminya.
"Lain kali berhati-hatilah saat mengemudi di tengah hujan lebat, atau lebih baik tunda saja perjalanan jika itu sangat membahayakan" ucap Firman.
"Iya, terimakasih sudah mendengarkan" jawab Naura.
"Sebaiknya kamu beristirahat kembali, panggil aku jika butuh sesuatu" ucap Firman.
"Sampai kapan aku disini?" Tanya Naura ragu-ragu.
"Sampai lukamu sembuh" jawab Firman.
"Apa?!, Kira-kira berapa lama Dokter?" Tanya Naura nampak cemas.
"Tenang saja, cepat tidaknya kesembuhan lukamu tergantung dirimu sendiri, aku akan membantu merawatnya" jawab Firman.
"Tapi aku harus bekerja, bagaimana bisa aku meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama?" ucap Naura nampak kebingungan.
"Kamu itu hidup di zaman apa?, Pekerjaan bisa kamu handel dari sini, nanti aku ambilkan laptop dan segala keperluan mu, Mommy juga mengerti akan keadaanmu" Firman menjelaskan untuk mengurangi kecemasan Naura.
"Tapi_"
"Aku akan tidur di kamar yang lain, tenang saja" sahut Firman.
"Aku saja yang pindah di kamar sebelah" ucap Naura.
"Turuti saja perintah ku" ucap Firman tak mau lagi menerima bantahan.
"Baik" jawab Naura pada akhirnya.
Firman keluar sambil membawa barang-barang yang di perlukan. Sementara Naura hanya melihatnya saja, tanpa bisa membantu, rasanya tidak tega melihat Tuan rumah justru kerepotan karena dirinya, namun sekali lagi, Naura tidak berani membantah.
*
*
Hingga Sore hari menjelang, Firman akhirnya kembali ke kamar, dan sangat terkejut mendapati Naura yang meringis kesakitan berusaha untuk berjalan sambil membawa infusnya.
"My God, apa yang kamu lakukan Nau?!" Teriak Furman segera menghampiri dan memapah Naura kembali ke tempat tidur.
"Aku ingin ke kamar mandi" ucap Naura memohon.
"Kenapa tidak memanggilku saja?"
"Apa?!, Tidak mungkin, Dokter kan laki-laki" jawab Naura mengingatkan.
"Ck, aku dokter, sudah biasa membantu pasien dengan jenis kelamin apapun dan dalam keadaan apapun, kamu lupa?" Ucap Firman yang kini mengambil bathrob miliknya untuk di pinjamkan ke Naura.
Firman bersiap menggendong Naura karena tidak ingin luka jahitan di kakinya mengeluarkan darah kembali, namun Naura segera memundurkan tubuhnya.
"Kenapa?" Tanya Firman.
"Apa Dokter tidak punya Asisten Rumah tangga?" Tanya Naura nampak cemas.
"Ada, datang hanya pagi dan malam nanti saatnya makan malam, memang kenapa?" Tanya Firman merasa aneh dengan pertanyaan Naura.
"Bagaimana kalau saya mandinya nanti malam saja, nunggu Asisten Rumah tangga Dokter datang, saya akan meminta ban_"
"Akh!, Dokter!" Teriak Naura yang tubuhnya sudah disambar dan berada dalam gendongan Firman dengan cepat.
"Ribet sekali, kelamaan!" Sahut Firman sambil terus berjalan dan membawa Naura masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan Firman meletakkan Naura di closed, lalu memutar tombol shower untuk mengecek suhu air hangat yang diinginkan.
"Aku rasa ini cukup hangat, lukamu jangan terkena air dulu, setidaknya empat sampai satu Minggu, hati-hati saat mandi, pelan-pelan saja, baju dan semua yang kau butuhnya sudah ada yang mengantar tadi, dan akan aku tata semuanya saat kamu mandi, setelah selesai, panggil aku dan pastikan pakai bathrob mu, okey?" ucap Firman.
"Hem" Naura tidak bisa lagi menolak apapun dan langsung mengangguk saja.
Kurang lebih 20 menit kemudian, Naura memanggil Firman setelah menyelesaikan semuanya di kamar mandi.
"Aku akan masuk" teriak Firman.
Firman segera membuka pintu dan mendapati Naura sudah berada dalam bathrob besar miliknya yang terlihat lucu karena kebesaran, sedangkan hijabnya juga sudah terpasang di kepalanya.
Firman tersenyum, lalu menggendong Naura kembali, dan meletakkan di atas tempat tidur, lanjut melakukan perawatan luka di kaki Naura kembali.
"Terimakasih" sahut Naura.
"Hem, sama-sama" ucap Firman lalu membantu Naura mendekatkan baju ganti yang diinginkan.
Naura hampir saja melepaskan hijabnya, namun segera berhenti saat melihat Firman malah menatapnya dan tak mau pergi.
"Bisakah Dokter keluar dulu, aku akan berganti baju" ucap Naura.
"Oh, sorry, okey, aku akan keluar" jawab Firman gugup, lalu segera pergi.
Seperti yang sudah direncanakan, Afita dan juga Zafian datang ke tempat Firman tepatnya sebelum jam makan malam, namun di luar dugaan, Ana juga mengunjungi karena alasan sebuah pekerjaan.
Kini semua berakhir di meja makan, Firman sengaja duduk disamping Naura untuk menjaganya, jadi tak perlu lagi Naura susah-susah berdiri untuk mengambil makanan yanga diinginkan, dengan kata lain, kini Firman yang membantu mengambilkan semua yang diinginkan oleh Naura.
Afita dan Zafian hanya menatap dan memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh Firman terhadap Naura, berbeda dengan Ana yang merasa tidak enak hati melihatnya.
"Kamu belum enak makan Naura?" Tanya Afita melihat Naura hanya sedikit menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tidak kak, mungkin ada efek obat yang membuat aku cepat kenyang" jawab Naura.
"Tidak ada obat yang seperti itu, hanya psikis mu saja" sahut Firman.
"Makanlah yang banyak Naura, biar cepat sehat" ucap Zafian.
"Iya kak" jawab Naura namun masih saja sedikit sekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Firman sudah tidak sabar lagi, lalu menggeser piring Naura sedikit lebih dekat dengannya, sekejab kemudian Firman sudah menyendok makanan dan siap menyuapkan.
"Buka mulutmu" ucap Firman, tentu saja membuat ketiga orang lainnya terkejut di buatnya.
"Aku bisa makan sendiri dokter" jawab Naura, yang bersiap mengambil alih sendok, namun di tepis oleh tangan Firman.
"Bukalah mulutmu Nau, Firman tidak akan meletakkan suapannya sebelum kamu memakannya" sahut Zafian yang sangat mengerti bagaimana sifat Sahabatnya.
Naura akhirnya membuka mulut dan makan perlahan, Firman juga kembali melanjutkan makannya, hingga berhasil membuat Naura menghabiskan makanannya begitu juga dengan dirinya, tak peduli dengan tatapan mata orang-orang yang ada di sekitarnya.
Zafian segera pamit bersama dengan Afita setelah makan malam, Karena mengkhawatirkan Fian yang tidak di ajak, karena ada tugas sekolah yang harus diselesaikan.
Begitu juga Ana yang terpaksa membatalkan diskusi yang akan dilakukan karena mendapat panggilan dari Rumah Sakit.
"Kenapa dokter menyuapiku tadi, aku bisa makan sendiri" ucap Naura.
"Aku hanya ingin memastikan kamu menghabiskan makanannya saja tadi" jawab Firman.
"Dokter Ana menyukai mu, dan saya merasa tidak enak dengan apa yang dokter lakukan, itu akan menyakitinya" ucap Naura.
"Lalu?" Sahut Firman yang kini sudah menatap intens Naura.
"Seharusnya Dokter tidak menyuapiku tadi" Jawab Naura.
"Ana temanku, bukan kekasih ku dan aku rasa tidak perlu juga aku harus menjaga perasaannya" jawab Firman.
"Tapi Dokter Ana ana menyukai mu" ucap Naura.
"Jadi, kamu ingin aku menyambut perasaan nya dan menerimanya, begitu?" Jawab Firman sambil menatap manik mata Naura dan ingin segera mengetahui jawabannya.
Naura terdiam sebentar, tak berkata apapun lagi, lalu dirinya segera berdiri dan meminta asisten rumah tangga untuk membantunya menuju ke kamar tanpa mengucap sepatah katapun.
Firman bersandar di kursinya, menatap kepergian Naura, lalu melipat tangan di dadanya, sampai saat ini Firman masih berpikir, perasaan apa yang sebenarnya Naura rasakan para dirinya.
Yuk semangat, jangan lupa kasih dukungan dong..hari ini bonus Update 3 kali, di tunggu HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.