
Bibir Firman kembali melu-mat dan bermain di bibir sang istri, tangannya satu bermain diatas bukit kembar istrinya, dan yang satunya terus menjelajahi bagian bawah Naura.
Tak lama nampak Firman merasakan bagian yang begitu basah, beberapa kali bahkan tubuh sang istri sedikit terangkat seolah bingung menahan dan merasakan sensasi yang baru untuknya.
Sedikit jari yang dimasukkan mungkin akan membuka jalan yang masih sangat rapat di tempat terin-tim, dan reaksi berikutnya luar biasa.
"Akh, yang!" Teriak Naura terkejut merasakan tubuhnya begitu aktif merespon dan membuat kedua pa-hanya reflek membuka.
Firman menghentikan gerakan tangannya dan menatap wajah Naura yang terlihat sangat cantik dan memerah.
"Kenapa?" Goda Firman.
"Yang.." sahut Naura yang nampak begitu malu dan menutup wajahnya.
Firman tertawa pelan, lalu melanjutkan kembali, dan kali ini merapatkan tubuhnya diatas tubuh Naura, perlahan sang pusaka yang sudah tegak berdiri sejak tadi bersiap memasuki tempatnya.
"Akh!" Teriak Naura yang merasakan sakit saat milik Firman mulai tertancap ujungnya saja.
Firman menghentikan gerakannya, kembali memberikan rangsangan lembut lebih dalam untuk mengalihkan rasa tidak nyaman yang dialami oleh Naura.
"Masih sakit?" Tanya Firman ditengah kegiatan panasnya.
Tidak ada jawaban apapun, hanya ada tatapan mata Naura yang seolah tak ingin semuanya berakhir begitu saja.
Firman tersenyum, melu-mat bibir Naura, menyusuri leher jenjangnya dan memberikan gigitan kecil yang membekas, Naura semakin tak bisa mengontrol lagi hasratnya.
Dirasa ini saat yang paling tepat, tubuh Firman kembali mendorong maju, kedua pa-ha Naura semakin terbuka dengan bantuan tangan Firman, hingga kemudian setelah bersusah payah dengan beberapa kali gerakan, akhirnya_
"AKh!" Teriak Naura kembali mencengkram apapun yang berada di sekitar tangannya.
"Emmh.." Firman mendesah merasakan kenik-matan yang luar biasa saat miliknya berhasil tenggelam penuh.
Nampak Naura meneteskan air mata, rasanya masih sangat perih, dan terasa dirinya terbelah menjadi dua walaupun rasa nikmat yang tak pernah dirasa mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.
Sementara Firman masih terdiam, sengaja memberi waktu untuk membuat Naura terbiasa akan miliknya.
"Maaf, aku sudah tak bisa menghentikan nya" ucap lirih Firman ditelinga Naura.
Naura berusaha tersenyum, lalu mengangguk dan menarik tubuh Firman seolah dirinya telah siap menjadi seorang istri seutuhnya.
Lampu hijau didapatkan, Firman tak menyia-nyiakan kesempatan, kembali melakukan tugasnya dan membuat miliknya menggesek perlahan-lahan hingga akhirnya terdengar de-sa-han indah dari bibir Naura.
"Yes Baby, ini sangat nikmat" ucap Firman yang kini semakin mempercepat gerakannya.
"Yang, Akh!"
"Masih sakit?" Tanya Firman yang kini mulai aktif.
"Sedikit" jawab Naura dengan tubuh semakin terguncang karena gerakan suaminya.
Firman menambahkan lagi gerakannya, membuat Naura terkadang meringis tapi juga terlihat begitu suka, hingga kemudian_
"Yang aku ingin_ ohh!"
"Aku juga, hampir yang" sahut Firman.
Hingga akhirnya suara teriakan keduanya saat mencapai puncak terdengar indah saling bersahutan.
Sementara itu di kamar sebelah seseorang yang berada di balkon kamarnya, hampir saja tersedak minumannya sendiri.
"Sh-itt!, Kalian keterlaluan, bagaimana bisa teriak sampai terdengar di telingaku" Reno mengum-pat dan segera masuk lalu mengunci pintu untuk menenangkan pikirannya yang merayunya untuk traveling kemana-mana.
*
*
Pagi hari yang cukup melelahkan bagi Naura, dimana tubuhnya terasa kehilangan banyak tenaga, namun ada senyuman seseorang yang sudah menyambutnya saat membuka matanya.
"Pagi sayang" ucap Firman setelah mengecup kening dan bibir sang istri yang sudah berhasil membuat dirinya tida henti untuk menikmati surga dunia.
"Pagi" jawab Naura yang kini tersenyum dan bersiap untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
"Biar aku yang mengangkat mu" ucap firman bersiap.
Firman sengaja menggoda dan sedikit menarik selimut itu, menatap takjub kedua bukit kembar yang sudah membuatnya mabuk kepayang.
"Jangan melihat ku seperti itu" ucap Naura nampak begitu malu.
Firman tertawa, justru mengeratkan pelukan setelah membuka selimut dan menyatukan kulitnya.
"Aku suka melihatmu berantakan tanpa pakaian, terlihat sangat se-ksi dan cantik" ucap Firman sambil tertawa kecil.
Naura merasa malu, wajahnya memerah dan mengigit bibirnya, seketika Firman langsung melahap bibir itu dengan cepat dan dalam sebelum Naura bergegas karena ingin membersihkan diri di kamar mandi.
"Akh!" Teriak Naura saat baru saja melangkah, nampak meringis kesakitan merasakan nyeri di bagian bawahnya.
"Aku sudah memperingatkan mu sayang" ucap Firman yang sempat tersenyum dan segera menyambar tubuh sang istri lalu membawa masuk ke dalam kamar mandi.
"Masih perih?" Tanya Firman.
"Hem, lumayan" jawab Naura yang kini harus pasrah menampilkan tubuh polosnya karena Firman tidak mau keluar dari kamar mandi.
Senyuman dan tubuh Naura yang hanya terdiam di bawah guyuran air shower rupanya memberikan magnet tersendiri, rasanya Firman tak tahan lagi.
"Sayang, bisakah aku meminta satu Hal darimu?" Tanya Firman yang sekuat tenaga menahan has-ratnya.
Naura menatap sekejab, menyahut bathrob dan segera memakainya.
"Ada apa yang?" Tanya Naura.
"Bagaimana kali kita segera pindah ke Apartemen ku saja, disini aku merasa_"
"Apa?" Tanya Naura yang heran melihat Firman mengehentikan ucapannya.
"Kurang bebas seperti ini" ucap Firman yang sudah tidak kuat lagi, lalu menarik tubuh Naura dan membuatnya polos kembali.
"Yang!" Teriak Naura sangat terkejut dan mulai terang-sang saat Firman sudah membuatnya mengangkat satu kakinya.
Penutupan terjadi kembali, entah berapa kali mereka mengulangi, hingga berakhir dimana Naura kini berteriak disaat Firman berganti cara memasukkan miliknya dari belakang.
"Pelang yang, sakit!, Emmh" Ucap Naura saat Firman mulai mengguncang tubuhnya.
"Sorry, aku tidak tahan lagi, ohh!" Sahut Firman yang mulai kembali ingin mengeluarkan benihnya.
Kaki Naura membuka untuk memposisikan dengan nyaman, Firman terus bergerak mencari kenikmatan.
"AKH!" Teriak Firman yang sudah dulu sampai di puncak kenikmatan, dan disusul oleh Naura beberapa saat kemudian.
"Cukup yang" ucap Naura saat perlahan firman masih menghentakkan kembali miliknya masuk ke dalam lubang surgawi milik sang istri.
Firman tersenyum, dalam hati sudah mantap untuk segera pindah ke Apartemen karena ingin bebas menikmati sang istri.
Naura pun akhirnya setuju, sebagai seorang istri sudah seharusnya menghormati keputusan suaminya dan toh hal itu tidak merugikan apapun juga.
Berjalan menyusuri pinggiran jalan, Naura kini sudah sampai di Apartemen suaminya, hari itu juga mereka berdua diijinkan untuk pindah tempat dengan alasan panjang lebar hingga baik Afita dan Anita akhirnya mengijinkan.
Saat hampir saja sampai di pintu lif, Naura dikejutkan dengan kedatangan seseorang lagi, tentu saja dirinya langsung berubah, tubuhnya menegang dan bayangan masa lalu langsung menyambar ingatannya.
"Ikut aku!"
"Tidak" sahut cepat Naura.
"Ini penting!" Teriak orang itu dengan paksa.
"Bukan urusanku!" Jawab Naura.
"Kau minta di_"
"Berani kau menyentuhnya, aku pastikan hari ini juga kamu pulang tinggal nama" ucapan seseorang membuat Naira dan orang itu sangat terkejut.
"Yang?!" Naira segera bergeser.
Firman kini beralih di depan sang istri untuk melindungi.