
Tak salah lagi, kini Reno dan Eliza sudah berada di area rumah yang cukup mewah di sebuah kota dimana ada Raka bersama Fian di sana.
Dengan sangat berhati-hati, keduanya masih terus mengawasi, hingga kemudian mereka kembali ke sebuah hotel yang terletak tak jauh dari sana.
Sementara Raka sedang mengamati seorang Bocah yang sangat tampan dan rupawan yang kini tengah tertidur di pangkuan beberapa menit yang lalu.
"Kamu akan bertemu dengan Mommy Mu sebentar lagi Boy, dan semoga saja semuanya akan berjalan dengan baik, masalah kalian akan segera terselesaikan" ucap Raka sambil terus mengusap rambut Fian yang tertidur dengan nyaman.
Fian segera di pindahkan ke dalam kamar, dan Raka berniat untuk mematikan lampu ruang tengah, namun tiba-tiba saja ponselnya berdering, rupanya Afita sedang menghubunginya.
"Bagaimana keadaan Fian paman?" Tanya Afita yang masih dalam perjalanan.
"Dia baik, dan tentu saja sangat merindukanmu" jawab Raka.
"Besok kita sudah sampai di sana paman, dan aku akan langsung menuju ke tempat Paman" ucap Afita yang tentu saja sudah menahan kerinduannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan" pesan Raka sebelum memutuskan sambungan ponselnya.
*
*
Malam itu terasa sangat dingin, bahkan dalam perjalanan darat yang di lakukan, Zafian tiada henti memeluk tubuh sang istri di dalam mobil pribadi, sengaja tidak melakukan perjalanan udara karena cuaca yang tidak mendukung sama sekali.
"Bagaimana keadaan Fian?" Tanya Zafian tiba-tiba merasakan sesuatu tidak yang tidak enak di hatinya.
"Dia baik-baik saja yang, aku sangat merindukannya, rasanya tidak kuat lagi kalau nanti harus jauh darinya, entahlah, perasaanku begitu tak tenang" jawab Afita.
"Aku juga begitu, tidak ingin lagi jauh dari putraku" ucap Zafian sambil menatap jauh pemandangan di luar jendela mobil pribadinya.
Zafian mencium puncak kepala Istrinya, begitu merasakan penderitaan yang kini tengah di alami, hingga tangannya perlahan menggosok pelan punggung Afita untuk memberikan ketenangan.
Berbeda dengan keadaan di sana, Raka tengah sekuat tenaga menyelamatkan Fian yang kini tengah menjadi incaran, seketika rumah menjadi berantakan, setelah lebih dari sepuluh orang telah menyerang kediamannya.
"Si-al!, Mereka sepertinya orang-orang terlatih, dan aku benar-benar tidak menyiapkan apapun" ucap Raka yang masih mendekap erat tubuh Fian yang terlihat ketakutan.
"Kakek, Fian takut" ucapnya lirih.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apapun, Fian diam dulu ya" jawab Raka menenangkan.
Dan di saat yang sama, sebuah tembakan terdengar begitu dekat, Raka merasakan tubuhnya tak lagi bisa berdiri dengan baik, tenaganya menghilang begitu saja, dan hanya bayangan Fian tengah di bawa oleh beberapa orang yang terakhir dilihatnya.
*
*
Afita terkejut, serasa ada sesuatu yang mengagetkan tidurnya, hingga kemudian dirinya memegang dadanya dengan degupan jantungnya yang semakin keras.
"Ada apa?" Tanya Zafian.
"Entahlah, Sepertinya aku mendengar teriakan Fian" jawab Afita begitu tampak resah.
"Tenanglah, beberapa jam lagi kita akan segera sampai, setelah ini kamu bisa menemui Fian sepuasnya, dan aku akan berusaha untuk menjauh terlebih dahulu, sampai semuanya benar-benar aman" ucap Zafian.
Afita memeluk Zafian dengan erat, bau tubuh suaminya yang hampir sama dengan sang putra membuatnya sedikit lebih nyaman, Zafian tersenyum menciumi puncak kepala Istrinya berulang-kali.
Seperti yang telah di perkirakan, tiga jam kemudian keduanya telah sampai di sebuah rumah mewah yang terlihat ramai dengan beberapa orang, bahkan ada mobil polisi disana.
DEG.
Afita yang mulai mendekati rumah itu di buat terkejut, melangkah cepat dan akhirnya berlari saat melihat Raka tengah di dorong di sebuah tempat tidur untuk masuk ke dalam Ambulan.
"Astagfirullah, paman, Paman Raka, apa yang terjadi?!" Teriak Afita berusaha untuk membuka jalan mendekati.
"Anda keluarganya?" Tanya salah satu petugas keamanan yang ada di sana.
"Baik, silahkan ikut ke Rumah Sakit"
Afita segera berlari dan kini sudah berada di dalam ambulan bersama dengan Raka yang masih tak sadarkan diri.
Sementara Zafian yang mengamati dari jauh merasa ada sesuatu yang tak aman, hingga salah satu pengawalnya datang membawa sebuah pesan.
"Apa?!, Lalu anakku bagaimana?"
"Maaf Tuan, kasusnya sepertinya penculikan tuan Fian"
DEG.
Serasa langit runtuh mengenai Zafian, dadanya terasa sesak seketika dan dengan cepat Zafian melesat dengan kekuatannya.
Sontak sang pengawal sangat terkejut, detik berikutnya Zafian sudah berada di ambang pintu Ambulan.
"Yang!" Teriak Afita, mengagetkan petugas kesehatan hingga tak jadi menutup pintu Ambulan.
"Bapak siapa?" Tanya petugas itu.
"Suami saya Dokter" sahut Afita.
Dan akhirnya Zafian berada dalam ambulan bersama dengan. Afita yang sudah berlinangan air mata.
"Sayang tenangkan dirimu" ucap Zafian yang sebenarnya juga merasa terpukul.
"Bagaimana dengan Fian sayang, dia pasti sedang ketakutan saat ini" sahut Afita.
"Aku tau, tapi aku juga yakin, anak kita luar biasa, dia anak yang special, pasti bisa mengatasi segala situasi" ucap Zafian menguatkan.
Afita mengangguk, masih memegangi tangan sang Paman, sebenarnya ingin memberikan bantuan tenaga dalamnya, tapi juga tidak mungkin karena ada orang asing di sampingnya.
Begitu juga dengan Zafian, hingga keduanya masih terdiam mengikuti semua kejadian yang tengah dialami, semua serba mengejutkan, hingga keduanya terasa seperti mimpi, hingga keduanya harus segera turun saat sampai di rumah sakit.
Zafian yang sudah menghubungi Firman sebelumnya, sudah mengkondisikan pelayanan prima dengan kecepatan pelayanan yang sangat optimal.
"Anda teman dari Dokter Firman?"
"Iya, saya Zafian"
"Oh, baiklah, silahkan tuan Zafian mengisi formulir ini dan pasien akan kamu tangani dengan jalur khusus rumah sakit ini" ucap salah satu dokter yang nampak sangat di segani.
Dan kini mereka berdua duduk di ruang tunggu sambil beberapa kali menghubungi anak buahnya untuk mencarikan informasi kondisi sebelum kejadian itu terjadi.
Bahkan beberapa anak buah Zafian berhasil meretas rekaman Cctv yang ada di rumah itu.
"Cari tau siapa dalang semua ini, aku rasa Cctv itu cukup untuk kalian mencari bukti bukan?" Ucap Zafian begitu geram dan masih berada dalam percakapan di dalam ponselnya.
Lalu semuanya terhenti di saat seorang dokter keluar dari pintu Perawatan darurat.
"Bagaimana keadaan Paman saya?" Tanya Afita yang nampak begitu cemas.
Dokter menjelaskan kalau keadaan Raka baik-baik saja, sudah di berikan obat dan sudah mulai siuman.
"Bisa kita masuk dokter?" Tanya Zafian yang sudah tidak sabar.
"Maaf, sebentar lagi pasien kita pindahkan, dan anda bisa menemaninya dengan maksimal penunggu 2 orang agar tak terlalu gaduh" jawab sang dokter.
Dan kemudian, terlihat Raka sudah di dorong diatas kasur perawatan menuju ke kamar yang sudah di sediakan, tentu saja Zafian dan Afita langsung mengekor di belakang petugas medis yang sudah mengantarkan Raka.
Yang makin penasaran, yok kita kasih HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.