ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 113



Sementara itu apa yang terjadi dengan Afita di Rumah Sakit?, Rupanya wanita itu masih berdiri dengan tubuh yang terguncang menahan tangisnya, bahkan dirinya tidak menyadari kalau sudah ada Firman yang mengawasi.


"Maafkan aku Nau, Maafkan Aku Ibu, tidak bisa memegang janjiku, bahwa aku akan melindunginya, dan justru Suamiku sendiri yang telah mencelakai mu" ucap Afita lirih.


Mungkin kondisi yang memang masih lemah, membuat kepala Afita tiba-tiba saja berdenyut, sejenak dirinya terhuyung mundur dan menggapai tembok untuk menahan beban tubuhnya sendiri agar tidak terjatuh.


Firman tidak bisa lagi hanya melihat saja, menunggu kedatangan Zafian terlalu lama, kekhawatiran akan keadaan Afita membuatnya memutuskan untuk keluar dari persembunyian dan bergegas mendekati istri dari sahabatnya yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Nona Afita?" Suara Firman berakhir dengan memberikan reflek terkejut terhadap wanita yang kini ada disampingnya.


"Dokter Firman?" Ucap Afita lalu terdiam.


"Duduklah, aku lihat kamu tampak begitu lelah, bagaimana keadaanmu?" Tanya Firman.


"Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan Naura?" Tanya Afita menoleh dengan tajam.


"Dia_" sesaat Firman menghela nafas panjang.


"Sungguh sempurna apa yang sudah di lakukan Zafian, bukan begitu?" Sahut Afita yang kini menatap lurus ke arah Naura tanpa berkedip sedikitpun.


"Apa Zafian sudah menceritakan segalanya?" Tanya Firman sangat berhati-hati.


"Kebetulan aku mendengar semuanya sebelum dia tidak tau sampai kapan akan menutupi hal ini dariku" sahut Afita.


Firman terdiam, kini dirinya menyadari kalau kondisi Afita sedang labil, apalagi kenyataan pahit yang dilihat didepan mata dia ketahui dari kondisi dimana Zafian belum sempat berterus terang, ditambah kehamilannya yang pasti membuat perubahan hormon yang membuatnya begitu sensitif.


"Kenapa Kamu terdiam, bukankah Zafian Sahabat mu?" Ucap Afita


Firman terkejut dan serba salah ingin menjawabnya, saat ini yang dipikirkan hanya satu, melakukan tugas yang di beri Zafian, untuk menjaga istrinya tetap berada di tempatnya sekarang ini dengan aman.


"Maaf, aku tidak ber hak memberikan asumsi apapun disini, sebaiknya semua itu di bicarakan dengan Zafian, dengan begitu permasalahan akan jelas, kalau untuk kondisi Naura, aku tidak akan berbohong karena percuma, kamu pasti bisa mendeteksinya" sahut Firman.


"Bawa aku masuk ke sana, akses khusus darimu akan memudahkan ku" ucap Afita sekali lagi menatap Firman.


Lalu keduanya memasuki kamar Naura dengan kemudahan yang di berikan karena dokter Firman yang meminta, mengingat jam besuk sangat di batasi bagi pasien dengan kondisi darurat seperti Naura.


Afita memegang tangan Naura, sedikit tersentak karena merasakan kekuatan tenaga dalam yang tak asing telah memasuki tubuh wanita yang sudah dianggapnya saudara.


"Daddy " ucap lirih Afita seketika teringat dengan Alex dan apa yang sudah terjadi dengannya saat ini.


Afita menangis kembali, dia sangat tau bagaimana keadaan Daddy-nya saat ini, dan juga keadaan Naura, bahkan Afita meragukan seandainya Naura bisa di tolong dengan kekuatan supranatural pun, Keadaannya pasti tetap berbeda, kerusakan sistem tubuhnya sangat parah, banyak organ dalam yang terkena imbas kekuatan suaminya.


Afita yang sudah terduduk di kursi masih sesenggukan, namun dirinya merasa aneh saat bau tubuh yang sangat dikenalnya menyambangi Indra penciumannya, dan kemudian, sentuhan tangan yang tak asing juga mulai terasa di salah satu pundaknya.


"Sayang?" Suara itu sangat familiar ditelinga Afita.


Seketika Afita menoleh, dan apa yang terjadi, kali ini Afita merasa tubuhnya tidak bisa lagi berdekatan dengan sosok yang membuat dua orang yang dia sayangi menderita, dan bayangan lautan darah di mimpinya membuatnya segera mundur menghindari suaminya.


"Yang?" Sekali lagi Zafian berniat maju untuk mendekati.


"Jangan berani maju dan menyentuhku!" Ucap Afita yang reflek mundur sekali lagi sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba dirasakan nyeri.


Zafian terkejut dengan respon sang istri yang tidak pernah di sangkanya, Firman memberikan tatapan tajam ke Zafian untuk mundur kembali mengingat keadaan Afita yang semakin tidak stabil.


Afita segera keluar untuk menghindar, setelah berada di depan pintu ruang ICU, kembali dirinya merasakan nyeri di perutnya, kali ini sampai meringis dan menghentikan langkahnya.


"Yang, kamu_"


"Jangan menyentuh ku!" Afita kembali menjauhkan tubuhnya.


"Dan tolong pengertiannya juga, aku tidak bisa berdekatan dengan orang yang sudah membuat lautan darah, membuat Daddy-ku sendiri menderita dan Naura_, lihatlah, lihat dengan jelas apa yang sudah kamu lakukan!" Teriak Afita semakin histeris.


Firman segera menengahi, saat ini Zafian tidak mungkin terus mendekati Afita yang menolaknya, itu akan sangat bahaya.


"Aku mohon Nona Afita, tenanglah, ada janin masih rapuh yang harus kamu jaga" ucap Firman.


Afita menggigit bibirnya, meringis merasakan nyeri di perutnya kini semakin terasa, hingga kemudian salah satu Perawat Wanita di panggil Firman untuk membantunya.


"Bawa ke ruangan perawatan kehamilan" ucap Firman memberi perintah.


Perawat yang bertugas dengan tanggap kini sudah membawa Afita ke ruang perawatan khusus ibu hamil untuk segera dilakukan pemeriksaan.


Sedangkan Firman menahan Zafian terlalu dekat dengan Afita karena itu akan berpengaruh buruk untuk saat ini.


"Mengertilah Zaf, saat ini jangan memaksakan dirimu untuk diterima oleh Afita, itu akan mempengaruhi psikis dan kesehatannya" Firman memberikan penjelasan.


"Tapi aku suaminya Fir, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja, aku tidak bisa!" Sahut Zafian melangkah pergi untuk menyusul sang istri .


"Zaf, tunggu, dengarkan aku dulu!" Teriak Firman yang tak di pedulikan lagi oleh Zafian.


Firman terpaksa mengejar kembali sahabatnya, keadaan di perkirakan akan semakin runyam saat Zafian memaksa tetap berada di dekat Afita yang saat ini jelas menolaknya.


Seperti yang di duga, terdengar teriakan Afita menyuruh Zafian pergi, tidak ingin di dekati.


"Pergi Zaf, aku ingin sendiri, jangan mendekatiku, aku semakin sakit saat kau ada disini!" Teriak Afita lagi.


"Aku tidak akan pergi, kamu istriku, ada anak yang juga tanggung jawabku, aku mencintaimu Afita, tidak mungkin aku membiarkan mu sendirian, dan aku tidak bisa jauh dari kalian!" Seru Zafian yang tidak bisa menerima permintaan istrinya.


"Pergi!" Teriak Afita kini sudah beranjak, bahkan infus yang baru terpasang seketika terlepas begitu saja.


Sontak Zafian terkejut, darah dari pergelangan lengan Afita menyembur keluar, dengan cepat Zafian menahannya, niat hati ingin menghentikan perdarahan, namun lagi-lagi mendapat perlawanan dari istrinya.


Hingga tanpa sengaja, kekuatan itu muncul tiba-tiba, terlambat Zafian ingin menghentikan, seperti yang terjadi sebelumnya, seolah tidak bisa mengontrolnya, Zafian menggunakan kekuatan hitamnya mencengkeram kuat Afita yang akhirnya juga mengeluarkan tenaga dalam untuk melawannya.


Tubuh Afita masih lemah, tentu saja bukan lawan yang seimbang, Zafian sudah mencengkram kuat, bahkan warna matanya perlahan berubah sedikit merah, Afita terkejut, tangan Zafian seolah membakar lengannya yang ter cengkram kuat.


"Lepaskan, kau menyakitiku Zafian!" Teriak Afita.


Firman yang melihat dengan jelas apa yang dilakukan Zafian, segera berlari untuk menyadarkan.


"Sh-it!, Hentikan Zafian!" Sekuat tenaga Firman mendorong tubuh Zafian, hingga akhirnya terlepas dan Afita terhuyung menabrak tempat tidur.


Zafian terkejut, seketika kekuatan itu terlepas dan kembali sadar.


"Afita_" ucapnya lirih, tak percaya dengan apa yang sudah di perbuat oleh dirinya sendiri.


Sementara Afita tak kalah shock dengan perbuatan Zafian, dia bisa merasakan kekuatan hitam itu sangat dominan berada di tubuh suaminya, dan itu tidak bisa di lawannya.


"Kau_, bukan Zafian ku" ucap lirih Afita yang masih menatap tak percaya, bahkan lengannya membekas cengkraman yang sangat menyakitkan.


"Sayang, maafkan aku, itu_"


"Keluar dari kamar ini!" Teriak Afita lebih histeris lagi.


Yuk yang makin penasaran, jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.