
Tentu saja Afita sangat terkejut, merasa bersalah akan kata-katanya dan tidak tau sama sekali penderitaan orang yang bisa dikatakan paling dekat saat ini selain keluarga.
"Astagfirullah, maaf, Aku tidak tau Nau, Maafkan aku" ucap Afita langsung memeluk tubuh Naura yang masih terguncang di tengah tangisannya.
"Aku bingung Nona, hanya ibu yang aku punya di dunia ini" ucap Naura dan tangisnya makin pecah.
"Sabar, ada aku, kapanpun siap membantu mu, mulai sekarang jujur dan ceritakan semuanya, biar aku juga tau"
"Benarkah, apa nona tidak keberatan, saya hanya_"
"Kamu temanku Nau, saat ini hanya kamu yang paling dekat, aku merasa bersalah tidak tau apapun tentang masalah berat yang kau hadapi, maafkan aku"
Naura terdiam, tidak percaya bahwa wanita kaya dan berkuasa yang berstatus atasannya menganggapnya begitu special.
"Tidak Nona, Justru saya berterimakasih, Nona sudah menganggap saya teman dekat, maaf kalau saya merepotkan"
Afita tersenyum, membantu Naura untuk berdiri, lalu merekapun berpelukan kembali, tak lama kemudian keduanya dikejutkan dengan getaran handphone milik Naura.
"Baik dokter, saya kesana!" Teriak Naura langsung berlari bingung mencari taksi.
"Tunggu, kau mau kemana?!" Teriak Afita mengejar Naura dan menarik tangannya.
"Ibu saya Nona, Ibu saya!" Sahut Naura begitu bingung dan ketakutan.
"Ikut Aku!"
Afita menarik Naura kembali masuk ke dalam mobil, dan melesat cepat menuju Rumah Sakit.
Tak berapa lama tiba disana, Naura segera berlari masuk, diikuti oleh Afita, berjalan cepat keduanya menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat perawatan.
Naura segera masuk, disana sudah ada dokter dan perawat yang mendampingi, lalu segera menjauh memberikan ruang bagi Naura untuk berada dekat di samping ibunya yang kini tersenyum melihat kedatangan putrinya.
"Ibu, yang kuat Bu, ini Naura"
Sang ibu hanya tersenyum, melihat lekat wajah putrinya, lalu kemudian membelai lembut.
"Maafkan ibu nak" ucapnya lirih.
"Bu, jangan berkata seperti itu, ini lihatlah, wanita cantik yang sering aku ceritakan, seperti bidadari kan Bu, aku tidak bohong, dan nona Afita datang kesini Bu, lihatlah"
Afita tergetar, air mata berusaha di tahan sekuatnya, melihat sosok wanita tua dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Tangan itu mengulur, seolah meminta sambutan dari Afita, dan perlahan Afita meraihnya dengan lembut.
"Apa kau Bidadari?" Tanya lirih ibu Naura sambil tersenyum.
"Saya Afita Bu"
"Cantik dan Hangat" sahutnya lagi.
"Ini Nona Afita Bu, dia bersedia datang kesini, dan mau menganggap ku teman dekatnya, ada yang mau berteman denganku Bu, walau tau aku tidak punya apa-apa" ucap Naura dengan tetesan air mata.
Afita tidak kuat lagi menahan, Air mata akhirnya menetes, melihat dengan nyata sedalam apa penderitaan kedua wanita ini menjalani hidup.
"Bukan hanya teman dekat, Naura seperti saudara bagiku Bu" ucap Afita, Naura dan ibunya terkejut, saling pandang sejenak, dan tanpa berkata lagi, ibu Naura menuntun tangan Afita dan menempatkan di punggung tangan Naura.
"Ibu titip Naura" ucapnya lirih.
Afita mengangguk sambil menyeka air matanya yang semakin tumpah.
"Saya akan menjaganya" jawab Afita.
"Terimakasih"
Dan berakhir dengan suara alat yang menunjukkan bahwa Ibu Naura diambang ajalnya, Naura menjerit, Afita menenangkan Naura dan merangkulnya.
"Tuntun ibu mu Nau, aku bantu" ucapnya.
Naura tersadar dan berbisik di telinga ibunya dengan menyebut asma Allah, begitu juga dengan Afita yang sudah berpindah di telinga satunya dan melakukan hal yang sama, hingga terdengar lirih satu kata terucap mengagungkan nama-Nya dari mulut ibu Naura sebelum nafas terakhir berhembus.
*
*
Zafian baru saja selesai berbincang dengan Firman, namun kemudian dikejutkan dengan suara panggilan handphone, segera firman meraih ponselnya, sedikit mengerutkan kening dan segera menyambungkan.
"Iya, ada apa?" Tanya Firman setelah mengucap salam.
Tampak raut wajah yang langsung berubah, Zafian yang sedang memperhatikan semakin penasaran.
"Ada apa?" Tanya Zafian setelah Firman menutup handphone dan bersiap.
"Kita harus ke Rumah Sakit"
"Kita?" Tanya Zafian heran, takut kalau sahabatnya itu sudah oleng dan mengira dirinya juga seorang dokter.
"Ck, Ayoo?!" Ucap Firman menatap aneh Zafian.
"Kau saja, kenapa aku harus ke Rumah Sakit?, Aku bukan Dokter yang bertugas disana!" Ucap Zafian.
"Afita disana, yakin tidak mau ikut?"
"What?!, Ada apa dengan istriku!" Panik Zafian seketika.
Tanpa perlu penjelasan lagi, Zafian langsung melesat mendahului Firman.
"Sh-it!, Tunggu Zaf!" Teriak Firman berlari menyusul Zafian.
Berada di dalam mobil, Zafian masih terdiam sambil mengemudi seperti orang kesetanan, sementara Firman sampai hampir saja tidak bisa bernafas karena tegang.
"Kau ingin kita mati!" Teriak Firman yang sudah tidak tahan lagi.
"Diam, aku konsentrasi" sahut Zafian tidak peduli.
"Iya, tapi kalau seperti ini, bisa-bisa kita datang langsung masuk IGD!" Teriak Firman lagi.
"Ck, berisik!"
"Berhenti Zaf, atau aku loncat!" Teriak Firman terpaksa mengancam.
Ciiit.
Mobil berhenti mendadak, Firman sampai merasakan mual, pening, dan sebagainya.
"Kenapa kau cerewet sekali, Afita dalam bahaya!" Teriak Zafian pada akhirnya.
"Bahaya gimana?" Tanya Firman dengan tatapan aneh.
"Apa!, Kau itu yang konslet, aku bilang Afita di Rumah Sakit, tapi bukan dalam keadaan bahaya, dia bersama Naura yang sedang berduka" jelas Firman masih menahan mual di perutnya.
Zafian melongo, ada rasa lega tapi juga bersalah karena terlalu ceroboh dan membuat Firman kini sedang tidak baik-baik saja.
"Sini, biar aku yang nyetir!" Firman berinisiatif keluar, namun segera di tahan oleh Zafian.
"Sorry, aku akan berjalan pelan, lain kali.. yang lengkap kalau memberikan penjelasan" ucap Zafian tetap mencari pembenaran diri.
Firman memutar matanya, tanda begitu jengah dengan sikap sahabatnya, lalu duduk dengan tenang dan bersandar, berusaha mengendalikan keadaannya agar lebih baik.
Tak berselang lama, akhirnya mereka berdua tiba dengan selamat, Firman sudah mulai lebih baik, walaupun kepala sedikit berdenyut, namun masih bisa di tahan.
"Mana Ruangannya?" Tanya Zafian yang kini sudah melangkah disamping sahabatnya.
"Ikuti saja aku" ucap Firman terus melangkah menyusul koridor Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Hingga keduanya tiba di sebuah ruangan, terlihat Afita sedang merangkul Naura yang duduk disampingnya, tampak kedua wajah wanita itu sembab.
"Oh my God, sayang?" Ucap Zafian lirih menghampiri wanitanya.
Afita terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya, lalu menoleh dan tersenyum nanar melihat pujaan hatinya ternyata sudah ada di sana.
"Yang?" Ucap Afita, melepaskan rangkulannya, dan berjalan menyongsong Zafian.
Brug
Kini Afita sudah berada dalam pelukan suaminya.
"Sabar, apa kau baik-baik saja?" Tanya Zafian yang sungguh tidak tega saat melihat air mata menetes di pipi Afita.
"Hem, ibu Naura_"
"Aku tau, Firman sudah menceritakannya" sahut Zafian.
"Aku baru tau tadi, dan sekarang beliau sudah tiada"
"Innailaihi wainnailaihi ilaihi Raji'un" ucap Zafian sambil mengusap lembut punggung Afita.
Lalu Semuanya di kejutkan dengan kedatangan jenazah ibu Naura yang sudah di sucikan dan terbungkus dengan rapi.
Firman masih terdiam menatap sosok Naura yang begitu tampak berbeda dari yang pernah dia lihat sebelumnya, entah kenapa Firman merasakan hatinya berbeda saat melihat semuanya.
"Turut berduka cita, semoga Khusnul khatimah, tambahkan hatimu Nona Naura" ucap firman, disambut dengan senyuman yg begitu mengandung duka yang dalam.
"Terimakasih, dokter Firman" ucap Naura yang kemudian hendak berdiri.
Namun tiba-tiba saja, tubuh Naura terasa begitu ringan, pandangan mengabur dan gelap.
BRUG
"Nau!" Teriak Afita terkejut.
Firman dengan sigap menangkap tubuh Naura, lalu menggendong dan membawanya masuk ke sebuah ruangan.
"Kalian urusi jenazah ibunya dulu, biar aku yang mengatasi Naura!" Teriak Firman sebelum menghilang dari pandangan Zafian.
"Bagaimana ini yang?" Ucap Afita panik.
"Kita antarkan saja jenazahnya, kamu tau tempatnya kan sayang?"
"Tidak, Naura tidak punya sanak saudara, dia dan ibunya di buang dari keluarga besar ayahnya karena pernikahannya dulu ditentang"
"What!, Oh my God, lalu?" Seketika Zafian ikutan panik.
"Aku bingung yang, tadinya Naura pengen ke pemakaman umum didekat kontrakannya, tapi aku tidak tau tempatnya dimana, aku saja baru tau kalau dia jual apartemen untuk membiayai ibunya"
Zafian makin melongo dengan penjelasan istrinya, berpikir sejenak, lalu kemudian menemukan solusinya.
"Ok, tunggu" ucap Zafian, lalu segera merogoh saku, mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Iya Bunda, terimakasih, kita akan sampai kurang lebih 30 menit lagi, apa waktunya cukup?"
"Iya Zaf, tenang saja, Bunda yang akan mengurus semuanya disini"
"Siap Bunda, makasih"
Ceklek.
Handphone segera ditutup dan Zafian memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu pihak rumah sakit akan tujuan Jenazah di berangkatkan.
"Makasih sayang, Bunda baik banget ya, alhamdulilah" ucap Afita merasa bahagia, akhirnya menemukan jalan keluarnya.
"Jangan khawatir sayang, ayo kita pulang, mengikuti ambulance jenazah ke Mansion kita, Bunda sudah menyiapkan semuanya" ucap Zafian, mencium bibir dan kening istrinya sebelum melangkah bersama menuju ke mobil untuk pulang.
Sementara itu, Firman yang tengah memeriksa keadaan Naura merasa lega, rupanya wanita yang kini tengah berduka itu terlalu kecapekan fisik dan pikirannya.
"Syukurlah" ucapnya lirih, lalu kemudian duduk di sebelah Naura.
"Apa yang tejadi?" Ucap Naura yang rupanya sudah tersadar.
Firman yang sedang membalas Chat dari Zafian terkejut mendapati sebuah suara menyapa telinganya.
"Nona Naura, kau sudah sadar?" Tanya Firman.
Naura juga merasa aneh saat sosok Firman ada di dekatnya saat ini.
"Maaf Dokter, kenapa saya ada disini?" Tanyanya bingung.
"Kamu tadi pingsan, apa sekarang masih ada keluhan?" Tanya Firman khas seorang dokter menangani pasiennya.
"Tidak, saya sudah baik, terimakasih atas batuan Dokter, maaf saya harus mengurusi Jenazah ibu saya" ucap Naura tiba-tiba saja bangkit.
"Akh!"
Naura memegangi kepala yang ketika berdenyut sakit.
Firman langsung menghampiri dan membantu Naura untuk berbaring kembali.
"Tenanglah, jangan dipaksakan dulu, semua sudah diurus oleh Zafian dan Istrinya, sekarang menuju ke Mansion" ucap Firman.
"Apa!, Astaga.. saya merepotkan mereka, Maafkan saya" ucap Naura lirih lalu menunduk, tetesan air mata keluar perlahan, sungguh Firman tidak tega dan entah keberanian dari mana, tangan dan tubuhnya bergerak spontan memeluk Naura.
Semangat Readers..jangan lupa VOTE di hari SENIN ya..
Bersambung.