ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 45



Afita kembali ke kamarnya sendiri setelah berkeluh kesah dengan Mommy nya, perlahan membuka pintu dan ternyata tidak mendapati sang suami disana, dengan bernafas lega, perlahan masuk ke dalam bathroom.


"Akh!"


Berakhir dengan teriakan Afita, Zafian pun yang berada di Bathroom ikut terkejut.


"Kenapa kamu tidak mengunci pintunya Zaf!" teriak Afita yang sudah melesat keluar kembali.


Zafian hanya tersenyum melanjutkan membersihkan dirinya didepan cermin, sementara Afita kini tengah mengatur detakan jantungnya yang sudah melihat kepolosan dada bidang zafian tanpa sengaja.


"Aku sudah selesai" ucap Zafian saat keluar dari Bathroom.


"Ck, lain kali kunci pintunya!" Ucap Afita sambil berlalu pergi.


Tidak membiarkan begitu saja, Zafian langsung menyambar tubuh langsing istrinya, dan kini seketika berada dalam pelukan suaminya.


"Zaf, aku mau membersihkan diri, lepaskan!" Ucap Afita berusaha untuk lolos dari dekapan suaminya.


"Sebentar saja" jawab Zafian yang kini semakin erat memeluk Afita.


Bergerak perlahan, Zafian merasa kurang menghirup bau tubuh istrinya, hingga tangannya pelan melepaskan hijab yang menutupi rambut indah Afita.


Afita yang masih terkejut dengan pelukan dari belakang yang dilakukan suaminya, semakin merasa panas dingin saat nafas Zafian terasa di leher jenjangnya, dan_


Cup


Satu kecupan lembut dan dalam telah menyentuh kulit lehernya.


"Zaf, aku_"


"Lima menit lagi" sahut Zafian.


Kembali has-rat Zafian seolah meminta untuk tetap berada di tempat nyaman dengan memeluk tubuh Afita, kecupan hangat berpindah ke sisi lain membuatnya semakin ketagihan untuk menghirup bau tubuh istrinya, hingga janji lima menit telah dilanggarnya.


Afita yang ikut terbawa arus itu pun tidak merasakan waktu yang terlewat, menikmati setiap sentuhan bibir suaminya yang membuatnya semakin tidak bisa berbuat apapun.


Zafian tersenyum, melihat dari cermin yang kebetulan memantulkan bayangan, bagaimana istrinya memejamkan mata dan menikmati apa yang dilakukannya, dalam hatinya bahagia merasakan Afita sudah kembali menerima keberadaannya.


Dengan usil Zafian spontan melepaskan pelukannya.


"Aku rasa cukup"


"Apa!" Ucap Afita sangat terkejut.


Zafian tertawa, membalikkan tubuh istrinya dan menge-cup bibirnya lembut.


"Bersihkan dirimu dulu, atau langsung aku eksekusi sekarang?" Tanya Zafian.


"Ish, kau ini!" Sahut Afita dengan wajah memerah segera melesat ke bathroom untuk membersihkan diri.


Afita sejenak gamang ingin keluar dari Bathroom, terus terang masih merasa takut akan kewajiban yang harus diberikan di saat Zafian akan memintanya, ia berdiri sedikit lama di ambang pintu, hingga suara sang suami mengagetkannya.


"Afita?!" Teriak Zafian terdengar.


"I_ iya, sebentar" sahut Afita yang siap atau tidak, harus keluar dari Bathroom sekarang juga.


"Ada apa, lama sekali?" Tanya Zafian yang kini sudah mendapati istrinya berada di depannya.


"Sorry, perutku sedikit sakit" ucap Afita memberikan alasan.


"Sekarang sudah enakan?" Tanya Zafian ikut cemas seketika.


"Hem, lumayan" sahut Afita yang kini hendak pergi berganti baju.


Masuk kedalam ruangan khusus tempat dimana semua baju dan barang-barang pribadinya di tempatkan, rupanya tanpa sadar tidak mengetahui kalau sang suami juga tengah berdiri di dekat pintu menatapnya mengganti pakaian.


"Astagfirullah, Zaf!"


"Kenapa?" Tanya Zafian santai sambil tersenyum aneh.


"Keluar dulu, aku masih mau ganti baju" ucap Afita yang sudah melepas separo baju atasnya dan kini menahannya sampai di dada.


Bukannya keluar, Zafian justru berjalan maju mendekat, sontak Afita sangat terkejut, membenahi bajunya tak mungkin, apalagi berganti di depan Zafian, hingga membuatnya mundur sejengkal saat sang suami kini sudah ada didepan.


"Zaf, ja_ !"


Afita langsung terbungkam disaat luma-tan lembut dan menuntut menghampirinya, tubuhnya yang merasa panas dingin kini mulai seperti terbakar perlahan, baju yang dipegangnya erat kini benar-benar terjatuh ke lantai, tubuh Afita kini hanya berbalut kain di area tubuh tertentu saja.


Zafian tersenyum dalam hati, pelajaran pertama akan dimulai, dengan sedikit dorongan Zafian membawa tubuh Afita menempel ke tembok dengan perlahan, tangan Zafian mulai beralih ketempat yang lain tanpa melepaskan pagu-tan bibir dan lidahnya yang terus menyisir.


Suara merdu desa-han terdengar lirih dari mulut Afita disaat usapan lembut menyapa kedua bukit kembarnya.


Tangan terampil itu kini berhasil melepas kain penutup di sana, sejenak Afita langsung menutupi kedua bukit kembarnya yang polos dengan kedua tangannya.


"Kenapa hem?" Tanya Zafian lembut sambil menatap istrinya.


"Aku malu" ucap Afita.


Zafian tersenyum, kembali melu-mat bibir istrinya, dan membiarkan tangan itu menutupi area kesukaan untuk sementara, toh pada kenyataannya Zafian mampu membuat tangan Afita kini beralih mencengkram tembok di belakangnya saat tangan dan bibir Zafian menikmati puncak bukit kembarnya dengan bergantian.


"Akh, Zaf"


Berusaha menahan semua has-rat nya, Afita mende-sah beberapa kali, kini tangannya berusaha menggapai apapun untuk menahan rasa nikmat yang luar biasa dari permainan sang suami yang baru pertama kali baginya.


Zafian semakin bersemangat saat melihat apa yang dilakukan membuat sang pasangan melayang, tangannya turun mengusap lembut kulit perut sang istri beberapa kali, setelah dirasa waktunya tepat, kain penutup yang ada di bawah sana berhasil di buat meninggalkan tempatnya.


"Zaf!"


Pekik Afita tertahan dalam keterkejutannya kembali, dimana sesuatu yang selalu di rawat dan di sembunyikan dengan baik, kini polos terpampang begitu saja, sontak kedua telapak tangannya menutupi.


Lagi-lagi Zafian hanya tersenyum, membiarkan apa yang dilakukan sang istri karena menyadari ini adalah pengalaman pertamanya. Namun tentu saja Zafian sudah mempersiapkan taktik untuk membuat istrinya nyaman menerima dirinya.


Usapan tangan di perut sang istri berganti dengan mulut dan terkadang usapan lidah yang menyusuri, dengan merendahkan tubuh, zafian semakin membuat Afita mende-sah dan terkadang sedikit jeritan kecil saat Zafian mengigit dan meninggalkan jejak disana.


Sesuai yang di prediksi, kini area terlarang itu tanpa pengamanan, tangan Afita sibuk mencari pegangan untuk menahan semua has-rat yang muncul dan tidak dia pahami.


"Zafian, apa yang kau_ Akh!"


Pekik Afita saat Lidah itu tiba-tiba saja menyapa di bagian bawah Afita.


Reflek alami terjadi begitu saja, niat hati kaget dan ingin menolak, justru kedua kaki Afita malah terbuka, membuat akses leluasa untuk Zafian semakin mengagumi apa yang dinikmatinya sekarang.


"Zaf, Oh, hentikan!"


Teriak Afita yang merasakan has-rat nya seolah makin meluap.


Zafian segera menghentikan, tidak ingin terlalu membuat sang istri semakin tak terkendali di ruangan ganti, Zafian kini berdiri kembali.


"Kenapa Hem?" Tanya Zafian yang kini menyambar baju kimono dan membalurkan di tubuh polos istrinya yang masih berdiri dengan nafas masih memburu.


"Aku_ maaf" ucap Afita bingung harus berkata apa, karena semua yang dilakukan oleh Zafian membuat sesaat kesadarannya hilang.


Zafian terkekeh, mencium kening sang istri dan sedetik kemudian menggendongnya.


"Aku akan membawamu ke tempat tidur, disana lebih nyaman sayang"


Afita tidak memberontak sedikitpun, berusaha pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, walaupun dalam hatinya merasa takut. "Sial, kenapa aku se takut ini, mending bertarung dengan seratus musuh dari pada harus_"


"Jangan berpikir macam-macam, santai dan Rileks" ucap Zafian meletakkan tubuh istrinya dengan perlahan di atas tempat tidur.


Afita terkejut, bagaimana mungkin Zafian menebak isi kepalanya yang bingung tidak karuan saat ini, detik berikutnya Zafian sudah berada di atas tubuhnya.


"Tunggu!" Ucap Afita menahan dada bidang polos sang suami, karena Zafian saat ini hanya memakai boxer nya saja.


Bukannya berhenti, Zafian hanya tersenyum dan menci-um bibir indah milik sang istri.


"Zaf tunggu!" Ucap Afita lagi.


Terpaksa kali ini Zafian berhenti.


"Ada apa?" Tanya Zafian.


"Jangan terlalu menyakiti ku" ucap Afita dengan wajah cemasnya.


Zafian terkekeh geli, permintaan sang istri yang begitu polos membuatnya gemas dan ingin segera menerjangnya saja.


"Tenang sayang, Rileks, jangan tegang, aku akan pelan-pelan" ucap Zafian


Berikutnya Zafian melu-mat kembali bibir sang istri yang sedikit bengkak karena ulahnya dari tadi, perlahan kembali tangannya menyusuri kulit sang istri untuk membebaskan dari kain penutup yang sempat di pasangkan nya tadi, hingga kini tubuh Afita kembali polos di depan matanya.


Kedua bukit kembar menjadi sasaran permainan nakal tangan Zafian dan bibirnya, Afita mende-sah beberapa kali bahkan memekik saat puncak itu mendapat usapan sedikit kasar namun menciptakan kenikmatan yang luar biasa.


Sabar dulu ya readers, Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.