ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 130



Hingga Pertemuan itu pun berakhir, Reno menghampiri Zafian, berjalan mengiringi kepergian pemilik perusahaan besar AFIAN GROUP sampai di depan pintu ruang rapat.


Sedangkan Afita harus menghentikan langkah saat sosok Eliza kini sudah berada tepat di depannya.


"Tidak ku sangka, kau muncul juga pada akhirnya" ucap Eliza dengan sinis.


"Maaf, aku tidak ada urusan selain pekerjaan disini" jawab Afita.


"Kalau kau tidak menginginkan Zafian lagi, jangan menggodanya!" Sahut Eliza dengan tatapan tajamnya.


"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan Nona Eliza" jawab Afita yang kini semakin panik saat Reno mulai mendekati.


"Apa ada masalah disini?" Tanya Reno.


"Tentu saja tidak, aku hanya bertanya mulai kapan asisten mu ini bekerja, Karena yang aku tau hanya Bu Tiwi yang biasa membantumu" ucap Eliza.


"Oh, Nona Fita baru beberapa hari menjadi asisten ku" sahut Reno menatap Aneh Eliza yang masih menatap tajam ke arah Afita.


"Okey, itu bukan urusanku, hati-hatilah bekerja disini, dan ingat siapa dirimu saat ini, hanya seorang Asisten saja, iya kan?" Ucap Eliza menegaskan kedudukan Afita yang berada di bawahnya.


"Tentu saja Nona Eliza, saya sangat tau akan hal itu" jawab Afita.


"Bagus, aku pergi dulu Reno, dan hati-hatilah berdekatan dengan wanita ini, siapa tau ada kejutan yang tak bisa kau bayangkan" sahut Eliza lalu kemudian segera pergi dari tempat itu.


Reno merasa ada yang aneh dengan sorot mata Eliza saat menatap aneh Afita, nampak sekali kebencian dan tatapan yang tak bersahabat.


"Apa dia mengganggu mu?" Tanya Reno yang tidak mencurigai hubungan Afita dan Eliza sebelumnya.


"Tidak Pak, saya permisi dulu" ucap Afita menuju ke ruang kerja Bu Tiwi, ingin merilekskan fisik dan pikirannya.


Sementara itu Zafian yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya, dihadang oleh Eliza, sontak Zafian terkejut dan memerintahkan salah satu pegawainya untuk sedikit menunggu.


"Ada apa?" Tanya Zafian.


"Tadi itu Afita, apa kau sudah tau?"


"Hem" jawab Zafian lalu menyuruh sopir untuk segera melajukan mobilnya.


"Tunggu!" Ucap Eliza menahan pintu mobil yang akan tertutup.


"Apa lagi?" Tanya Zafian.


"Bukankah Afita yang sengaja meninggalkanmu hingga hampir tiga tahun lamanya?" Tanya Eliza.


"Aku rasa itu bukan urusanmu, dan tidak pantas kalau menanyakan hal pribadi, jangan melewati batasanmu" jawab Zafian.


Eliza tersentak dengan jawaban Zafian, merasa sangat sulit untuk kembali dekat dengan Zafian, ditambah lagi dengan kehadiran Afita yang tidak pernah di sangkanya.


Zafian segera melajukan mobilnya, meninggalkan Eliza yang terdiam dan mengum-pat dalam hati.


"kali ini, kalau kau tidak bisa kumiliki, maka jangan harap siapapun akan mendapat ku, termasuk juga Afita" ucapnya lirih namun penuh dengan emosi yang tertahan.


*


*


Sementara itu, Afita yang masih juga belum tuntas mengistirahatkan diri, harus bergegas kembali masuk ke ruangan sang Bos yang sudah memanggilnya kembali.


"Iya pak, maaf saya tadi beristirahat di ruang Bu Tiwi"


"Jangan ulangi lagi, kalau kau mau beristirahat, bisa di lakukan disini, rebahkan saja tubuhmu di sofa" ucap Reno.


"Apa?!, Apa pak Reno gak salah ucap?" Sahut Afita terkejut.


"Tentu saja tidak, memangnya kenapa?" Tanya Reno sambil menatap lekat wanita yang dirasa semakin membuatnya suka.


Reno tentu masih bisa mendengarnya, lalu berdiri dan melangkah mendekati Afita yang belum sempat duduk karena membereskan berkas yang masih ada di atas mejanya.


"Astagfirullah, apa yang bapak lakukan?" Tanya Afita terkejut saat membalikkan badan sudah ada Reno yang kini telah berhadapan dengannya dengan jarak yang begitu dekat.


Reno terkesiap, baru kali ini dirinya benar-benar berada di posisi paling dekat dengan Afita, hingga mata yang begitu indah dalam wajah yang begitu sempurna semakin membuat Reno serasa tak rela untuk memutuskan pandangnya.


"Cantik" ucap lirih Reno yang membuat Afita langsung melebarkan mata dan segera mundur sedikit untuk menjaga jaraknya.


"Maaf, pak Reno menghalangi jalan saya untuk duduk" ucap Afita.


Reno masih terdiam, tidak juga menggeser tubuhnya, malah semakin mendekat seolah ingin meraih wajah Afita.


Tentu saja Afita langsung menghempaskan tangan Reno yang sedikit saja sudah menyentuh wajahnya.


"Jangan macam-macam pak!" Ucap Afita terus mundur, namun sayang tubuhnya sudah mentok membentur pinggiran meja.


"Kau sangat cantik, dan aku menginginkanmu, aku tau kamu butuh uang untuk menghidupi anak dan adikmu, jadi aku menawarkan uang dan kemewahan, asal kau mau menjadi pasanganku, bagaimana?"


"Apa?!, Pak Reno jangan gila, saya disini bekerja sebagai Asisten Anda, dan tidak lebih dari itu" sahut Afita semakin panik.


"Oh ya, bagaimana dengan penawaran ku?, Aku akan menjamin biaya sekolah anakmu sampai sekolah di perguruan tinggi sesuai yang kalian inginkan" Reno semakin berani melangkah maju mendekati Afita lagi.


"Stop pak, saya ingatkan, jangan berani melangkah lagi dan melakukan hal yang tidak pantas"


Reno tertawa, sekaligus merasa aneh dengan Afita, sejumlah uang dengan jumlah yang sangat besar bahkan di tolaknya tanpa berpikir panjang lagi.


Bibir Afita yang begitu nampak menggoda di mata Reno, kini menjadi sasaran utama Hasrat Reno yang tak bisa di bendung lagi, dengan satu langkah saja, kini Reno sudah hampir menempel kan badannya.


Bagi seorang Afita bukan hal sulit membuat tubuh Reno terpental ke belakang, bahkan hanya dengan satu kali gerakan tangan yang berkekuatan tenaga dalam, Reno pasti akan terjungkal.


Tapi Afita merasa Aneh, kekuatannya seolah menghilang begitu saja, kini keringat membanjiri tubuhnya, dan jalan satu-satunya adalah melawan Reno dengan Ilmu bela dirinya.


Sekali hentak, Reno segera terdorong mundur, lalu kemudian Afita segera berpindah tempat untuk menghindari, tidak ingin juga dirinya harus membuat keributan yang akan menarik perhatian banyak orang yang ada di perusahaan.


"Aku terkejut, rupanya diam-diam kau bukan wanita biasa"


"Apa maksud Pak Reno, saya hanya membela diri, maafkan saya kalau sampai menyakiti" sahut Afita hendak pergi untuk menghindar.


Reno hendak menarik kembali Afita untuk jatuh ke dalam pelukannya, namun saat itu juga pintu terbuka tanpa ada tanda-tanda ketukan pintu seperti biasanya.


"Eliza?!" Ucap Reno terkejut dan segera mundur mengurungkan niatnya.


"Maaf, saya permisi dulu" Afita langsung menggunakan kesempatan itu untuk segera keluar dari ruangan.


"Tunggu Fita!" Teriak Reno yang tak di gubris sama sekali oleh Afita.


"Ada apa?" Sahut Eliza nampak curiga.


"Bukan urusanmu, dan kau menganggu saja" jawab Reno yang nampak kesal namun tak mu mungkin lagi mengejar Afita.


"Hati-hati lah saat kau mendekatinya" sahut Eliza dengan senyum miring penuh arti.


"Memangnya kenapa?" Ucap Reno.


"Tidak ada, aku hanya memperingatkan mu saja, apa kau masih menggunakan gelang itu?" Tanya Eliza sambil meraih tangan kiri Reno.


"Tentu saja, tau sendiri gelang itu tak bisa lepas dari tanganku, sungguh menyebalkan" ucap Reno yang kini melihat gelang hitam yang melingkar di tangan kirinya.


Ada senyuman penuh arti dari keduanya, bahkan tatapan keduanya seolah mengisyaratkan sesuatu dan hanya mereka berdua yang tau.


Yang makin penasaran, yuk jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


bersambung.