ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 129



Kini wajah yang sudah lama tak pernah dilihat kembali muncul, bahkan di pagi hari seperti yang sudah di perkirakan oleh pamannya.


"Aku menunggu semua penjelasan darimu" ucap Zafian yang masuk begitu saja setelah pintu di buka oleh Afita.


"Aku akan berangkat kerja, nanti kita akan bicara" sahut Afita yang masih berdiri.


"Siapa kak?" Ucap Naura yang menjalankan kursi rodanya untuk melihat siapa yang datang.


"Tuan Zafian?" Ucap Naura begitu terkejut, tak menyangka secepat ini akan menemukan kediaman Afita dan dirinya.


Zafian tampak mengerutkan kening, tak bisa mengenali siapa yang sedang menatap dirinya diatas kursi roda.


"Maaf, apa kita saling kenal?" Tanya Zafian.


"Saya_"


"Kita bicara di luar" sahut Afita cepat.


"Naura, tutup pintunya dan aku akan langsung berangkat kerja" sambungnya lagi.


"Ba baik kak" sahut Naura, mengerti maksud hati dari Afita.


Afita berjalan cepat menuju mobil yang baru di beri oleh Raka, dengan cepat Zafian mengikuti langkahnya dan kini ikut masuk duduk disebelah Afita.


"Kenapa kamu ikut mobilku?" Tanya Afita.


"Jangan pikir aku akan melepaskan mu" sahut Zafian dengan tenang dan menatap lurus ke depan.


"Ck, aku akan bekerja, dan sudah ku katakan nanti kita akan bicara, tapi tidak sekarang" ucap Afita.


Zafian menatap Afita sejenak, seolah mencari kesungguhan dalam perkataan wanita yang masih ada ikatan pernikahan dengannya.


"Baik, aku keluar dan ingat, jangan berani lagi lari dariku" ucap Zafian sebelum kemudian berakhir dengan keluar dari mobil.


Afita melajukan mobilnya, jam sudah menunjukkan waktu yang mepet untuk bekerja, hingga melajukan kendaraannya sedikit cepat untuk sampai tepat waktu.


*


*


Sementara itu, Zafian juga tak ingin membuang waktu percuma, di sela urusan pentingnya yaitu menunggu penjelasan dari Afita, dirinya segera mengagendakan rapat dengan perusahaan yang baru saja bekerja sama.


"Siap pak, kita akan melakukan rapat kembali nanti jam sembilan pagi" ucap salah satu anak buah Zafian.


"Hem, kita berangkat sekarang" ucap Zafian.


Semuanya berangkat bersama dari Mansion, kerjasama bisnis baru yang di geluti Zafian mengharuskan dirinya extra konsentrasi, bahkan sampai belum bisa menyapa sahabatnya sendiri, di tambah dengan Firman yang pulang selalu larut malam.


Tepat pukul sembilan pagi, Zafian dan tim sudah berada di ruang pertemuan perusahaan JAYA ABADI.


"Sebentar lagi akan kita mulai" ucap sang pemilik perusahaan yang tak lain adalah Reno Trijaya.


"Apa kita sedang menunggu seseorang?" Tanya Zafian nampak berpikir.


"Iya Tuan Zafian, seorang pengusaha wanita yang nantinya akan membantu kita dalam kerjasama ini" ucap Reno.


"Hem, baiklah" sahut Zafian.


Lalu kemudian nampak pintu pertemuan terbuka kembali, rupanya wanita yang di tunggu-tunggu telah datang, dan tentu saja Zafian sangat terkejut melihatnya.


"Eliza?" Ucap Zafian lirih.


Reno menyambut kedatangan Eliza, sejenak tatapan mata Zafian juga beradu dengannya, lalu Eliza pun menyapa dengan formal.


"Bagaimana kabarmu tuan Zafian?"


"Baik" jawab Zafian dengan senyum yang di paksakan.


"Aku tidak menyangka, kita bertemu disini" ucap Eliza seolah tidak mengetahui bahwa Zafian yang telah bekerjasama.


"Aku juga" sahut Zafian.


"Hem, kebetulan iya" sahut Zafian datar.


"Lebih dari itu, kita dulu hampir bertunangan, bukan begitu tuan Zafian?" Ucap Eliza dengan semangat.


Zafian hanya menatap Eliza sesaat, tanpa memperlihatkan ekspresi apapun, sementara Reno semakin tercengang, karena sebelumnya Eliza tak menceritakan hubungannya sampai sejauh itu.


"Oh, jadi begitu, maaf, saya tidak tau apapun dan saya harap kita bisa kerjasama dengan baik" sahut Reno berusaha menyamankan keadaan.


"Tidak masalah, kami tidak ada hubungan apapun saat ini, dan masa lalu tidak pantas untuk di bicarakan disini, sebaiknya kita mulai saja" ucap Zafian tak lagi memperdulikan.


Akhirnya Pertemuan penting itu di lanjutkan, berbagai strategi pemasaran dan juga pemahaman tentang batu-batu mulia yang harganya fantastis di bahas dengan detail, Eliza yang kebetulan sudah mengawali masuk dalam bisnis ini terlihat sudah memahami strategi untuk menembus pasaran.


Sedangkan Zafian masih berusaha mempelajari dan mengamati kekurangan dan kelebihan yang dapat dilihatnya, hingga perbincangan serius itu terhenti saat Reno harus mengambil beberapa file yang harus direvisi.


"Tunggu sebentar, saya akan memanggil asisten saya ke sini untuk mengantar file yang sudah di benarkan" ucap Reno lalu kembali melakukan pembahasan yang bisa dilakukan.


Beberapa menit kemudian, pintu terbuka kembali, Reno segera menoleh ke arah pintu dan tersenyum saat melihat Asistennya sudah membawa file yang diinginkan.


Namun apa yang terjadi?, Afita yang baru saja membuka pintu terkejut setengah mati, tepat di lurus pandangan terlihat sosok Suami yang tak lain adalah Zafian.


Tatapan mereka terkunci, keduanya tidak menyangka kalau mereka akan di pertemukan di tempat yang sama saat ini.


Panggilan Reno membuat Afita tersentak dan segera memutuskan pandangan, berjalan cepat mengantarkan berkas yang diminta tanpa berani menoleh ke arah Zafian sama sekali.


"Ini pak" ucap Afita.


"Oke, syukurlah kamu tepat waktu, dan tunggulah disini, siapa tau nanti aku membutuhkanmu" ucap Reno menyediakan satu kursi kosong tepat disampingnya.


Afita tak bisa lagi menolak maupun menjauh, karena ruangan rapat itu begitu penuh dari orang-orang penting tiga perusahaan yang mengadakan rapat kerjasama .


Zafian mengeratkan rahangnya, saat melihat Reno nampak begitu senang berada di dekat Afita, sementara Eliza yang juga masih ternganga melihat siapa yang ada di sebelah sahabatnya, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sialan, bukankah itu Afita?" Ucap lirih Eliza.


Dan Afita kini hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, karena dia yakin saat ini Eliza juga sudah dipastikan mengenalinya.


Rapat berlanjut cukup sengit, entah ada apa, namun udara di ruangan itu terasa sangat panas, bahkan beberapa kali Zafian menatap nyalang Afita saat Reno begitu dekat membaca sebuah file yang berada di tangan Afita.


"My God, rasanya pengen sekali aku menghilang dari sini" batin Afita dalam hati.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Eliza berbuat yang sama, mendekatkan duduknya di dekat Zafian dan sengaja melakukan pembahasan dengan melihat sketsa perencanaan pemasaran yang ada ditangan Zafian.


Afita segera mengalihkan pandangan, tak ingin harinya semakin kacau melihat kedekatan Zafian dan Eliza di depan matanya.


"Semua sudah saya benarkan pak, bisakah saya pergi sekarang, saya rasa sudah tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan disini, atau mungkin biar Bu Tiwi yang saya panggil untuk menggantikan" ucap Afita memberikan saran.


"Tidak perlu, aku ingin kamu saja yang ada disamping ku, satu asisten saja sudah cukup" ucap Reno yang tentu saja bisa didengar dengan jelas oleh Zafian.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Afita lagi, hingga terpaksa dirinya harus duduk diam mengikuti, sementara Zafian lebih sibuk memikirkan bagaimana cara menjauhkan istrinya dari rekan bisnisnya sendiri.


Tanpa disadari, ada hati yang terbakar kembali seperti dahulu kala, siapa lagi kalau bukan Eliza yang menatap tajam Afita yang terdiam tanpa ekspresi apapun.


"Dasar wanita tak tau diri, kenapa dia muncul kembali disaat seperti ini, sial-an!" Eliza mengumpat dalam hati.


Tak tahan dengan apa yang dilihatnya, Zafian seolah berpikir lain, dimana Reno kembali mendekat dan menunjukkan sesuatu ke Afita.


"Bre-ng-sek!" Ucap Zafian dalam hati.


Zafian berpikir sejenak, lalu kemudian tersenyum miring, dengan kekuatan supranatural dia berpikir akan mudah untuk membuat insiden di mana Reno akhirnya akan menjauh dari Afita.


Kekuatan dipersiapkan, tangan Zafian dibawah meja mulai beraksi, niat hati ingin membuat tempat duduk Reno patah hingga nantinya harus bergeser di tempat duduk yang lain, namun terjadi suatu keanehan, kekuatan Zafian tidak berguna sama sekali, dengan kata lain tidak terjadi reaksi apapun.


"Apa yang terjadi dengan kekuatanku?" Batin Zafian dalam keterkejutan.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.