
Dan disaat yang sama, terdengar suara yang mengejutkan keduanya.
"Maaf!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Bu Tiwi.
"Tutup!" Bentak Reno dengan keras, dan masih memegang erat lengan Afita.
"Jangan Bu, Tolong!" Teriak Afita sebelum Bu Tiwi akhirnya menutup pintu kembali.
Reno kini menatap tajam, semakin menggebu ingin melampiaskan maksud hatinya.
"Saya mohon pak, jangan berani berbuat kurang ajar, atau bapak akan menyesal!" Ucap Afita memperingatkan lagi.
"Oh ya, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan, setelah itu, jangan harap kau bisa lepas dariku, aku ikat kau dengan pernikahan seumur hidup dan tak ada satu laki-laki pun yang bisa memiliki mu kecuali aku!"
"Kau sudah gila!" Teriak Afita dengan sisa kekuatannya berhasil menghempaskan tangan Reno dari lengannya.
Afita mengum-pat dalam hati, merasakan tubuhnya semakin melemah, bahkan kakinya terasa kesulitan untuk menopang tubuhnya lagi.
"Apa yang terjadi denganku?" Ucap Afita masih berusaha terus mundur dengan berpegangan pada kursi yang ada disana.
Reno hanya terdiam dengan senyuman, seolah menunggu sang mangsa tidak berdaya di depannya.
"Kau pikir mudah lari dariku Hem" ucap Reno yang kini sudah berjalan mendekati Afita.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ucapan hati Afita yang semakin panik.
Reno kembali mendekati, kembali tangannya meraih wajah Afita.
"Lepaskan pak!" Suara teriakan dari arah pintu yang terbuka mengejutkan Reno.
"Bu Tiwi, berani sekali kau_"
"Saya tidak peduli Bapak mau memecat saya, tapi jangan berani berbuat kurang ajar dengan Fita!" Teriak Bu Tiwi yang kini segera berlari menghampiri Afita.
"Terimakasih Bu"
"Maaf, tadi aku tak menghiraukan mu"
Afita tersenyum, dan disaat yang sama terdengar suara seseorang dari arah pintu.
"Permisi, aku mengantarkan _" suara itu terhenti, melihat ada yang aneh sedang terjadi.
"Maaf, apa terjadi sesuatu disini?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Zafian yang berniat mengantarkan laptop Afita yang tertinggal di mobilnya.
Semua orang di ruangan itu sangat terkejut, terutama Reno yang kini segera berbalik membelakangi Afita dan Bu Tiwi.
"Tidak ada apapun Tuan Zafian, kami hanya membicarakan pekerjaan saja" sahut Reno menutupi apa yang terjadi.
Zafian terdiam, sedikit menggeser kepalanya kesamping untuk melihat sang istri yang tertutupi tubuh Reno dan juga Bu Tiwi.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Sebuah pertanyaan dengan panggilan Sayang yang membuat Reno dan Bu Tiwi sangat terkejut.
"Aku_" ucap Afita berusaha mengatur nafasnya.
"Maaf, boleh saya menemui Afita, dan memberikan laptop ini langsung padanya?" Tanya Zafian yang merasakan telah terjadi sesuatu dengan wanitanya.
"Biar saya saja" Reno segera menjulurkan tangan, dan justru membuat Zafian semakin curiga.
Zafian tak lagi mengindahkan, berjalan begitu saja melewati Reno dan kini sudah berada di depan Afita yang tengah di rangkul oleh Bu Tiwi.
"Ma maaf Tuan Zafian, Afita sedang_" ucap Bu Tiwi dengan wajah paniknya.
"Minggir!" Ucap Zafian begitu dingin mengamati.
"Yang_" ucap lirih Afita.
Zafian langsung menangkap tubuh istrinya yang penuh dengan keringat dingin.
"Apa yang terjadi?" Ucap lirih Zafian yang merasakan tubuh Afita tidak baik-baik saja.
"Aku hanya_"
Zafian segera mengangkat tubuh Afita dalam gendongannya, tak peduli lagi apa yang terjadi disana.
"Jangan harap aku menuruti mu, tubuhmu tidak baik-baik saja" jawab Zafian masih terus melangkah, bahkan Bu Tiwi yang semakin terkejut kembali mengikuti.
"Saya rasa anda sangat lancang sekali Tuan Zafian!" Seru Reno yang membuat Zafian menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap dengan tajam.
"Saat ini aku tidak peduli dengan omonganmu Pak Reno, dan aku harap semua yang terjadi dengan Afita bukan ulahmu"
Deg.
Reno terdiam seribu bahasa, merasakan ada sesuatu yang mengancam dan membahayakan kerjasama perusahaannya.
Zafian kembali melangkah, diikuti oleh Bu Tiwi yang berada di belakangnya, melewati koridor perusaan tentu saja semua orang menatap heran, seorang pengusaha ternama sedang menggendong karyawan, tentu kabar heboh yang segera menjadi perbincangan.
"Maaf, apa anda bis membantu saya?" Ucap Zafian setelah menempatkan Afita di kursi belakang.
"I iya tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Bu Tiwi.
"Ambilkan semua barang-barang Afita, saya tunggu disini" ucap Zafian.
"Baik Tuan, tunggu sebentar" ucap Bu Tiwi segera melesat masuk ke dalam kembali.
Zafian mengusap keringat Afita yang ada di kening, "Apa kau baik-baik saja sayang, apa yang terjadi?, Kau sakit?" Tanya Zafian nampak sangat khawatir.
"Aku hanya lelah yang, istirahat sebentar pasti akan baik-baik saja" jawab Afita yang belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya, takut akan terjadi keributan besar saat ini juga.
Bu Tiwi terlihat bergegas dengan langkah cepat sudah membawa barang-barang Afita.
"Maaf Fita, aku tak bisa menemani, harus membereskan barang-barang ku juga, pak Reno memecat ku"
"Apa?!, Keterlaluan!" Ucap Afita terkejut.
"Ikut dengan kami, ada yang ingin saya tanyakan" sahut Zafian memberi perintah ke Bu Tiwi yang tentu saja terkejut.
"Tapi Tuan, saya_"
"Tidak perlu membereskan barang-barang Ibu saat ini, tetaplah kembali bekerja, aku yang akan mengurusnya" sahut Zafian.
"Masuklah Bu" ucap Afita mempersilahkan.
Dan salah satu pengawal turun lalu menjemput Bu Tiwi untuk duduk di kursi depan.
Perjalanan terasa begitu mencekam bagi Bu Tiwi, rasanya masih membuatnya tak percaya kalau saat ini mendapati Afita tengah dalam pelukan seorang milyarder muda dengan segudang perusahaan besar yang ada dalam genggamannya.
Hingga kemudian tiba di sebuah hunian mewah dan besar, sebuah Mansion yang baru saja bisa di lihat dengan nyata oleh Bu Tiwi.
"Astaga, kejutan apa lagi ini?" Batin Bu Tiwi dengan mengelus dadanya.
Zafian segera turun dengan menggendong Afita, tak membiarkan wanitanya itu berjalan sendiri karena keadaan yang dirasa masih perlu untuk beristirahat.
"Apa mungkin aku terlalu memforsir tenagamu tadi malam, Hem?" Ucap lirih Zafian namun masih bisa tertangkap telinga Afita.
"Yang, jaga bicaramu, kau ini" sahut Afita yang malah mendapati Zafian tersenyum dan mengecup keningnya.
"Ya Tuhan, apa aku tak salah dengar ,mereka sudah_, Akh tidak-tidak, aku pasti salah dengar, Fita wanita baik-baik, tidak mungkin melakukan hal bebas seperti itu" Bu Tiwi bicara dalam hati.
Kalau tadi telinga Bu Tiwi yang di buat terkejut, kini matanya menatap takjub keadaan di dalam Mansion yang begitu mewah, hingga kepalanya menggeleng beberapa kali karena tak percaya dengan kemewahan yang nampak di depan matanya.
"Maaf Bu, anda bisa menunggu saya disini dulu" ucap Zafian lalu kembali melanjutkan langkah menuju sebuah kamar di lantai atas.
"Kenapa tidak di rumahku saja, bagaimana dengan Naura, aku takut dia cemas kalau sampai nanti sore aku tidak pulang" ucap Afita saat tubuhnya sudah berada nyaman di tempat tidur.
"Aku sudah menyuruh Firman untuk menjemputnya nanti, jangan khawatir, sebaiknya kalian bertempat di Mansion dulu" ucap Zafian, lalu mencium bibir Afita sebelum keluar kembali untuk memerintahkan asisten rumah tangga menyiapkan minuman hangat untuk sang istri.
Zafian berjalan cepat tak sabar ingin menemui Bu Tiwi dan menanyakan apa yang sudah terjadi, karena dia sangat tau, Afita saat ini tidak akan mau menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
"Maaf Bu, bisa ceritakan apa yang anda tau tentang keadaan Afita sebelum saya datang?" Tanya Zafian.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.