
Firman tertawa melihat ekspresi kaget Naura yang nampak sangat lucu di matanya.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan, Afita hanya salah paham saja, tapi aku juga sependapat dengannya" ucap Firman.
"Sependapat bagaimana maksudmu, kamu ingin membuatku jantungan dokter?" Jawab Naura.
"Dan aku akan mengobatinya sayang" sahut Firman terkekeh.
"Ish, bukan itu maksudku" ucap Naura merasa kesal.
Lalu Firman mendekat dan dengan cepat memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, kita akan nampak di Cctv!" Teriak Naura lagi dan berusaha melepaskan diri.
Firman bukannya melepaskan, namun dengan sengaja malah mengeratkan pelukannya sambil tertawa bahagia.
"Aku akan melepaskan mu, kalau kamu mengganti panggilanmu padaku" Firman memberikan pilihan.
"Tapi dokter_"
"Ganti atau aku akan berbuat lebih dari ini?" Sahut Firman membuat Naura semakin cemas.
"Aku harus memanggil apa?" Tanya Naura bingung.
"Terserah, asal bukan dokter" jawab Firman.
"Oh my_, lepaskan dulu dokter!" Ucap Naura.
"NO!"
"Lepaskan sayang?!" Ucap Naura sedikit lirih merasa canggung.
CUP
"SAYANG!!" Teriak Naura mengulangi panggilan sayangnya karena terkejut.
"Tidak akan nampak di Cctv, aku membelakanginya, terimakasih sayang, suaramu sangat se-ksi dengan panggilan itu" ucap Firman yang kini sudah melepaskan pelukannya.
Naura akhirnya bisa bernafas dengan lega, dan berharap Afita tidak akan melepaskannya kembali dengan pertanyaan yang membuatnya ketakutan setengah mati.
*
*
Malam ke tiga yang membuat Naura nampak begitu cemas, Naura segera kembali ke kamar karena hari sudah larut malam, setelah menjalankan ibadah, dirinya menuju balkon kamarnya dan berdiri termenung disana.
Mengingat kembali perkataan Firman yang begitu serius saat mengatakan akan bertanggung jawab dan segera mengurus pernikahan.
"Apakah dia benar-benar jodohku?, Apa orang tuanya akan setuju dan menerima keadaanku, dan teman-teman di lingkungannya juga bukan orang sembarangan, apa dia nantinya tidak akan di cemooh, apa_"
SRET
sebuah pelukan dari belakang membuat Naura begitu terkejut.
"Aku memanggilmu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban, rupanya kamu sedang termenung disini, Hem?" Ucap Firman kini sudah dengan nyaman memeluk kekasihnya dari belakang.
"Sorry, aku tidak mendengar mu" jawab Naura dan membiarkan Firman memeluknya karena hanya di kamarnya tempat paling aman tanpa Cctv.
"Ada apa?" Tanya Firman.
"Besok kak Afita sudah kembali, aku merasa takut" ucap lirih Naura.
"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Firman lagi.
"Kak Afita akan memaksa kita untuk menikah, aku terus terang belum siap, kita baru saja menjalin hubungan ini, dan bagaimana dengan orang tuamu, teman-teman mu dan _"
"Kenapa kamu memikirkan hal yang tak perlu, pernikahan kita yang akan menjalani, soal mereka semua kita akan menghadapi bersama, jangan khawatir, asal kamu selalu di sampingku" ucap Firman masih dengan nyaman mengeratkan pelukannya.
"Kaki ku sakit" ucap Naura yang merasa kecapekan berdiri.
"Sebaiknya kamu segera istirahat, aku akan membawamu ke tempat tidur" ucap Firman yang kini sudah menggendong Naura.
Berjalan perlahan Firman hampir saja merebahkan Naura diatas kasur, namun sebuah insiden terjadi.
"****!"
BRUG.
Firman hampir saja membuat Naura terjatuh, beruntung letak tubuhnya sudah di atas kasur, hingga dengan terpaksa Firman sedikit kasar membuat Naura sudah berada diatas tempat tidur, tentu saja dengan tubuh yang tak sengaja sudah menindih tubuh Naura.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka.
"NAURA!"
"FIRMAN!"
suara teriakan kedua orang yang Familiar di telinga membuat seketika Firman dan Naura menoleh bersama.
Kedua mata Firman terbelalak, begitu juga dengan Naura karena tak menyangka sang kakak sudah ada di Mansion.
"Apa yang kalian lakukan, keterlaluan!" Teriak Afita.
BRAK
"****!" Teriak Firman yang tubuhnya sudah di hempaskan dengan kasar oleh Afita saat itu juga.
"Jaga emosimu yang" Zafian berusaha menenangkan istrinya.
"Keluar sekarang juga, aku tunggu kalian di bawah!" Teriak Afita dengan tatapan nyalang nya.
"Tapi Kak, ini salah paham, tidak seperti yang kakak lihat" ucap Naura berusaha berjalan sedikit terpincang ingin mengejar Afita.
"Sudahlah, Jaga langkahmu, ingat luka mu Naura, dan kau Firman, pertanggung jawabkan perbuatan mu!" Sahut Zafian memperingatkan.
"Ck, kalian hanya salah paham, aku tidak melakukan apapun Zaf" Firman membela diri, walaupun sebenarnya dirinya tidak ingin ribut, dan bersedia menikah kalau memang mereka memaksa.
"Heh, tapi sejauh mataku melihat, kalian sudah melewati batas, dan Aku tidak bisa membantu kalian lagi di depan Afita" sahut Zafian.
"Kak, tolonglah?" Ucap Naura memohon bantuan.
"Sudahlah, ayo kita ke bawah, dan kita selesaikan hal ini secepatnya" justru Firman bersemangat, membuat Zafian menggelengkan kepala, dan Naura semakin menekuk wajahnya.
Sebagai seorang penjahat yang kini sedang diadili di depan sang hakim, firman dan Naura duduk berdampingan, sementara avita dan Sofyan duduk di depannya dengan sorot mata penuh selidik.
"Sejauh mana yang sudah kalian lakukan?" Ucap avita dengan nada yang begitu dingin.
"Aku hanya_"
"Berci-uman dan berpelukan" Firman sebelum Naura menyelesaikan ucapannya.
"Yang_!" Teriak Naura kelepasan memanggil Firman.
"Oh, bagus ya, sudah mulai dengan panggilan sayang rupanya, baiklah, kalian harus nikah malam ini juga!" Ucap tegas Afita.
"Kak, maaf, bukan begitu, kita memang sudah menjalin hubungan, tapi tidak melewati batas kak, kami hanya sebatas itu saja, sungguhkah aku tidak berbohong!" Jawab Naura dengan wajah yang panik.
"Aku tidak peduli, bagiku apa yang sudah kalian lakukan akan menghasilkan dosa yang bisa juga itu Kami ikut menanggungnya, jadi aku putuskan malam ini juga kalian harus menikah!" Ucap Afita.
"Kak!, Aku mohon, ini terlalu cepat untukku, aku belum siap Kak" jawab Naura lagi.
"Tidak bisa, keputusanku sudah bulat, dan kamu tidak membela diri lagi Dokter Firman?" Tanya Afita menatap sinis ke arah Firman.
"Yang, Bagaimana kalau kita memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk menjelaskan semuanya, aku rasa kamu terlalu emosi saat ini" sahut Zafian yang berusaha menenangkan sang istri.
"Tidak bisa sayang, Aku adalah pengganti ibu Naura, beliau sudah menitipkan kepercayaan padaku, dan aku rasa ini adalah keputusan yang paling tepat saat ini, sebelum kita nanti akan menyesal melihat mereka berdua berbuat hal-hal yang hanya akan menghasilkan dosa" jawab Afita.
Firman hanya terdiam, tidak ada sanggahan lagi dari dirinya, melihat bagaimana Afita sangat mencemaskan Naura, justru Firman tersenyum dan merasa berterima kasih karena di sana begitu terlihat Afita sangat menyayangi kekasihnya.
"Kami akan menikah" sahut Firman mantap.
"APA!?"
"YANG!, oh maaf, Dokter Firman!" Teriak Naura yang terkejut dan berteriak.
Zafian menahan tawa melihat tingkah konyol Naura, begitu juga dengan Firman yang tentu saja tidak akan berani menampakkan senyum di depan Afita saat ini, kedua laki-laki itu hanya saling melempar tatapan seolah berbicara dengan telepati.