ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 40



Hampir satu bulan Afita berada di mansion keluarga besarnya, nampak dirinya begitu tenang, senang dan bahagia menikmati semuanya.


Sang bunda tersenyum melihat bagaimana putrinya berusaha membahagiakan dirinya walaupun dia sangat yakin kalau telah terjadi sesuatu dengan keluarganya.


"Sore yang sangat indah bukan?" Tanya Reyna saat melihat putri cantiknya sedang termenung di pinggiran pagar taman belakang.


"Mommy?" Afita terkejut dan menoleh seketika dengan senyuman yang semakin menambah kecantikannya.


Namun kemudian, dengan gerakan yang tidak terduga oleh Afita, sang Mommy melesat dengan cepat, di barengi dengan tendangan yang siap menyerang.


Kilatan mata Afita seketika nampak dengan jelas, berlompatan ke belakang menghindari serangan dari sang Mommy yang kini tersenyum senang.


"Apa yang Mommy lakukan!" Teriak Afita yang kini berdiri diatas Sebuh baru besar yang ada di taman, dengan nafas yang berubah memburu, Afita tetap waspada akan Mommy nya.


Reyna tersenyum senang, dirinya pun masih berdiri tegap dengan kuda-kuda yang kuat.


"Bagus, ternyata insting mu masih bekerja, itu tandanya kewarasanmu masih terjaga " jawab Reyna.


"Oh, come on, ini sudah sore Mom, bukan saatnya untuk mengeluarkan keringat lagi"


"Kita tidak pernah kekurangan air, setelah ini kau mandi lagi tidak akan rugi bukan?"


"Tapi Mom_"


Blar!


Serangan tenaga dalam Reyna kini di luncurkan tepat pada sasaran.


Dan disaat itulah Afita mengeluarkan tenaga dalam dari telapak tangannya hingga mengeluarkan cahaya putih yang begitu kuat untuk menahan serangan kearahnya.


Keduanya melesat mundur, benturan tenaga dalam yang kuat tengah terjadi, dan rupanya getaran di rasakan oleh seseorang di dalam Mansion.


"Apa yang terjadi Dad?" Tanya Aftan terkejut saat merasakannya.


"Lihat saja sendiri"


"Oh ayolah, ini sudah hampir petang, jangan bilang Mommy dan Afita sedang bertarung saat ini"


"Sepertinya memang begitu" jawab Alex sambil menyeruput kopinya.


"Heh, mereka tidak tau waktu sama sekali, bisakah Daddy menghentikannya?" Ucap Aftan.


"Aku tidak mau ikut campur, takut salah dan Mommy mu akan menghukum ku nanti"


"Oh my God, Daddy benar-benar Bucin sekali"


"Hahaha, nanti kau juga akan merasakan hal yang sama, disaat itulah kau tidak akan bisa berbuat apapun" sahut Alex dan terdengar menyebalkan di telinga Aftan.


Segera melesat pergi, Aftan tidak terlalu sulit sebenarnya menghentikan pertarungan itu, hanya saja, dirinya takut membuat kedua wanita yang sangat di sayanginya tidak suka dengan apa yang di perbuat nya.


"Mom!, Afita!, Ayolah, hentikan!, Ini hampir petang!" Teriak Aftan pada akhirnya.


Keduanya segera menghentikan serangan, Reyna menatap Aftan sekejab, begitu juga dengan Afita yang masih mengatur nafasnya.


"Hentikan!, Bersiap saja sholat berjamaah bersama, hampir magrib!" Teriak Aftan mencari alasan yang sangat tepat.


Afita menoleh di jam tangan mewah yang melingkari tangannya, begitu juga dengan Reyna, dan keduanya kini saling pandang, seolah memberikan kode untuk mengakhiri pertarungan.


Aftan tersenyum senang, dan merangkul Afita membawa masuk ke dalam.


"Jangan gini kak, risih, masih keringetan akunya" ucap Afita berusaha melepaskan diri dari rangkulan sang kakak.


"Ish, pelit sekali, mentang-mentang sudah ada yang merangkul tiap malam" jawab Aftan melepaskan adiknya.


"Jangan mulai kak, tiap malam juga tidur di mansion ini sendirian" sahut Afita.


"Mau aku temani?" Goda Aftan.


"Tentu saja tidak, aku bukan anak kecil lagi" Jawab Afita sebal.


"Siapa tau ingin jadi bocah lagi"


"Mana ada"


"Buktinya sekarang lagi main petak umpet sama Zafian" ucap Aftan menyindir Adiknya.


"Kak, jangan mulai deh!" Teriak Afita makin tak suka saat sang kakak menyebut nama suaminya.


"Apa?, Sudah sana, mandi dulu, baumu tidak enak sama sekali!" Sahut Zafian.


"Ish, dasar!' Teriak Afita ingin memukul sang kakak yang sudah lari menghindar sambil tertawa.


Alex tersenyum melihat tingkah kedua anaknya, sedangkan Reyna sudah melesat pergi ke dalam kamar untuk membersihkan diri, begitu juga dengan Afita.


Tinggal Alex dan Aftan yang kemudian berbincang.


"Sepertinya masih kurang baik, sering aku lihat melamun dan diam saat tidak ada siapapun di sampingnya Dad"


"Hem, menurutmu, apa Afita sudah mulai menyukai suaminya ?"


"Sepertinya begitu, terlihat di sering memikirkannya, pernah mengigau juga soal Zafian"


"Kau melihatnya?"


"Tentu saja Dad, aku yang membangunkan Afita dari tidurnya waktu itu terjadi"


Alex mengerutkan kening, berpikir sejenak lalu tersenyum, rupanya ini alasan Aftan sering berpindah tidur di sofa ruang tengah yang lebih dekat dengan kamar Adiknya.


"Apa perlu kita ikut campur Dad?"


"Jangan dulu, Afita masih merahasiakan masalahnya dari kita, beri dia waktu untuk dirinya sendiri memutuskan"


"Hem, baiklah, semoga saja masalah Afita cepat selesai, aku pusing sendiri dengan kelakuan suaminya yang hampir tiap dua jam sekali menanyakan kabar Afita, menyebalkan!" Ucap Aftan.


"Oh ya, sepertinya Zafian sangat takut kehilangan adikmu"


"Siapa yang tidak takut akan kehilangan wanita seperti Afita, dia wanita langka, yang tidak pernah mengenal cinta dan tentu saja wanita kuat yang sangat mandiri, belum lagi paras cantik keluarga Nugraha tidak ada yang meragukan lagi"


"Hem, dan Daddy harap nantinya kau juga akan menemukan wanita pendamping hidupmu yang sepesial"


Aftan hanya terdiam, menatap Alex sebentar dan kemudian mengalihkan pandangannya.


Setelah kedatangan kedua wanita yang ditunggu, kini mereka semua menunaikan ibadah lalu berlanjut untuk makan malam.


Tepat jam delapan malam semua berkumpul di ruang tengah, Aftan dengan laptop di atas pangkuannya, Reyna sang mommy duduk bersandar di dada Suaminya, sedangkan Afita merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan Handphone ditangannya dan beberapa kali melakukan perbincangan bisnis dengan sekertaris nya.


"Ehem.. bagaimana kabar Zafian?" Tanya Reyna mengawali perbincangan.


"Zafian?, Oh, dia, baik Mom" sahut Afita sedikit kebingungan.


"Kamu sendiri?" Sahut Aftan.


"Baik kak, lihat sendiri kan?"


"Aku melihatmu seperti orang linglung di Mansion ini, tak tau arah tujuan" jawab Aftan.


"Apa sih kak, aku baik-baik saja" ucap Afita.


"Jadi sampai kapan akan tinggal disini?" Tanya Alex menimpali.


"Daddy mengusirku?" Sahut Afita.


"Bukan, justru Daddy senang kau tinggal di Mansion ini, tapi bukankah harusnya Zafian ikut juga?" Ucap Alex.


"Itu baru benar" sahut Reyna sang Mommy.


Afita terdiam, merasa bersalah karena tidak menceritakan apapun pada keluarganya, namun dirinya sungguh tidak ingin masalah keluarganya sampai membuat kepikiran kedua orang tuanya.


"Maaf, sebenarnya Aku dan Zafian ada masalah" ucap lirih Afita pada akhirnya.


"Serius?" Tanya Reyna.


Afita menatap sang Mommy, dan disaat itu juga tidak mampu untuk menceritakan semuanya karena tidak bisa membayangkan wajah sedih wanita yang sudah menjaganya dengan baik bertahun-tahun.


"Tidak Mom, tapi aku butuh ketenangan dulu, dan aku mohon, ijinkan aku tinggal di sini sampai aku merasa siap bertemu Suami ku kembali" ucap Aftan terdengar nelangsa.


Reyna segera bangkit dan kini duduk di samping anak perempuannya yang tampak sedih, "Kami siap membantu apapun saat kau butuhkan sayang, kalau memang kamu tidak kuat menahan beban pikiran, boleh berbagi dengan kami" ucap Reyna.


"Afita tau Mom, tapi_, biarkan Afita mencoba meyelesaikan masala ini dulu tanpa merepotkan kalian" ucap Afita.


Alex yang mendengar hal itu merasa bangga, rupanya anak perempuan satu-satunya sudah bisa bersikap bijaksana, dengan menjaga semua rahasia keluarganya.


Sang Daddy ikut berpindah tempat, merengkuh Afita dengan hangat, lalu mencium puncak kepalanya.


"Bersabarlah sayang, Daddy sangat tau betapa hebat dirimu"


Ucapan Alex Membuat hati Afita begitu damai, membalikkan badan dan memeluk erat Alex yang membalasnya dengan pelukan hangat dan melindungi.


Aftan tersenyum bahagia, rupanya Afita mulai bisa mengendalikan egonya, dan tentu saja Aftan sudah merencanakan sesuatu saat ini, semua dilakukan demi kebahagiaan sang adik tercinta.


Berjalan menjauh dan kini berada di tepi balkon yang di beri pagar pengaman, Aftan tampak menghubungi seseorang.


"Sepertinya ini saat yang tepat, rencanamu bisa kau lakukan" ucap Aftan dalam sambungan handphonenya.


Jangan lupa hari SENIN waktunya memberikan VOTE, VOTE, VOTE.


Bersambung.