ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 52



Afita terkejut kembali, kini tubuh kekar itu begitu dekat di hadapannya, dan hanya satu kain penutup yang berada di bawah sana belum terlepas, namun sangat terlihat bagaimana sesuatu yang begitu besar dan menegangkan berada di dalamnya.


Gleg.


Afita menelan ludah dengan susah, takut dan khawatir menjadi satu saat membayangkan sang pusaka akan berakhir dalam miliknya.


Zafian tersenyum, ingin tertawa melihat ekspresi konyol sang istri, namun tidak mungkin lagi, karena has-rat nya benar-benar tak tertahankan.


Kembali Zafian membuat aktivitas yang membuat Afita tak bisa mengendalikan diri kembali, dan perlahan membawa tangan Afita untuk berkenalan dengan pusakanya.


"Yang, ini?"


"Milikmu" sahut Zafian.


Afita pun tidak perduli lagi, kembali Zafian membuatnya melayang, dan tangannya pun kini sudah memanjakan pusaka yang berada dalam genggamannya.


"Oh.. " ucap lirih Zafian merasakan sesuatu yang begitu nikmat.


Kembali Zafian mengecek kesiapan tempat bersarangnya sang pusaka yang rupanya sudah begitu basah, perlahan Zafian menuntun Afita untuk melepaskan miliknya, lalu dengan posisinya yang sudah tepat, menempatkan pusaka nya di pintu masuk yang begitu hangat.


"Emh, yang" ucap lirih Afita.


"Maaf, Akan terasa sakit, apa kau siap?" Tanya Zafian di tengah-tengah aktifitas panasnya.


"Lakukan yang" jawab Afita.


Zafian menci-um puncak kepala istrinya setelah mengucapkan doa, menge-cup kening, kedua mata dan semua yang ada di wajah Afita, lalu membantu sang istri membuka kakinya lebih lebar, dan kemudian_


"Akh, Sakit yang, tunggu!" Afita reflek menahan dada Zafian yang berusaha memasuki dirinya.


"Sakit?" Tanya Zafian berhenti seketika.


"Iya, maaf" ucap Afita.


"Tidak apa-apa, lihat aku, dan bernafas lebih dalam ok, rileks" ucap Zafian berusaha mengalihkan rasa sakit sang istri agar tidak begitu terasa.


Kembali Zafian melu-mat bibir Afita, tangannya mere-mas kedua bukit kembarnya yang semakin menegang, kembali Afita di buat melayang dengan tubuh yang menahan has-rat, dan disaat itulah Alfaro dengan pelan namun kuat memasukkan miliknya.


"Emh" Afita menge-rang, menahan sakit tapi tak bisa menjerit karena mulut dan lidahnya masih menyatu dengan Zafian.


Tangan Afita mencengkram sprei yang berhasil di sahutnya untuk menahan perih dan rasa terbelah dalam tubuhnya, Zafian segera meraih telapak tangan sang istri untuk menyatukan dengan tangannya.


"Maaf" kembali Zafian berucap setelah melepaskan ciumannya dan mendapati setetes air mata jatuh dari sudut mata Afita.


"Tidak apa-apa, aku akan menahan, lakukan yang" ucap Afita yang berusaha membuat tubuhnya rileks.


"Terimakasih sayang" ucap Zafian, lalu kembali melanjutkan.


Terasa sekali bagaimana pusakanya menembus dan merobek sesuatu didalam sana, sebuah tempat yang hangat, padat dan masih begitu sempit namun perlahan bisa dimasukinya dengan susah payah.


Zafian kembali mendorong masuk sisa pusakanya hingga kini sempurna berada di dalam milik istrinya.


"Akh!, Pelan yang" ucap Afita mengigit bibir nya, menahan sakit merasakan miliknya kini terasa begitu penuh.


"Sshh" Zafian mende-sis, sensasi luar biasa nikmat namun harus ditahan lebih dulu demi kenyamanan Afita yang baru pertama kali dan tentunya butuh waktu untuk beradaptasi.


"Masih sakit?" Tanya Zafian berdiam diri dengan pusaka yang sudah penuh masuk seluruhnya.


"Hem" Afita memejamkan mata.


Zafian tersenyum, sungguh saat ini istrinya begitu cantik dan menggoda berkali-kali lipat, ingin sekali segera melakukan guncangan nikmat akan tubuhnya, tapi sekuat tenaga Zafian menahan semuanya.


"Lanjutkan yang" ucap Lirih Afita saat dengan sengaja Zafian menggerakkan pinggulnya sangat pelan.


"Tahan, sakitnya akan berganti nikmat" Ucap lirih Zafian segera bersiap.


Kedua tangan membelai wajah istrinya, bibirnya mencicipi semua yang ada di depannya, dan Zafian kembali bergerak perlahan namun lama-lama mengguncang tubuh istrinya.


"Ah.. oh, ini sangat_ Nikmat yang" ucap Zafian tak mengira akan sensasi luar biasa yang dirasakan.


Begitu juga dengan Afita, rasa perih itu tiba-tiba saja di ikuti oleh sensasi luar biasa, bahkan hampir tidak bisa merasakan sakit yang tadi begitu nyata dirasakan olehnya.


Gerakan semakin aktif, rema-san tangan Zafian juga bermain-main di atas bukit kembar Afita, bekas gigitan Zafian bahkan tampak dimana-mana, namun Afita semakin menikmati semua yang dilakukan oleh suaminya.


"Yang!" Teriak Afita saat Zafian mendorongnya penuh semangat dan dengan tempo yang semakin cepat.


Bunyi penyatuan yang begitu indah, di dukung guncangan tubuh keduanya saat bekerja keras saling mencari kenik-matan, membuat Afita merasa ada yang ingin keluar dari tubuhnya.


"Yang, aku ingin_"


"Keluarkan, jangan ditahan yang" ucap Zafian yang paham dimana perlakuan panas tubuhnya membuat Afita akan mencapai kenik-matan.


"Akh!" Teriak Afita.


"Oh.. !"


Nafas keduanya begitu memburu, keringat menetes deras membasahi seluruh tubuh, mata keduanya masih terpejam merasakan sesuatu yang luar biasa telah terjadi untuk yang pertama kali.


"Yang, kau baik-baik saja?" Tanya Zafian khawatir keadaan istrinya.


"Hem, kau membuatku tak berdaya" ucap lirih Afita.


Zafian terkekeh, rasa khawatirnya langsung hilang karena sang istri terlihat sudah tersadar sepenuhnya.


"Bagaimana?" Tanya Zafian.


"Luar biasa, tapi bisakah milikmu dikeluarkan dulu yang, ini terasa tidak nyaman" jawab Afita lalu membuka matanya.


Zafian langsung tertawa kembali, menci-um bibir istrinya yang begitu manis, dan menggodanya dengan menggigitnya sedikit keras.


"Aw, yang!" Teriak Afita.


Zafian makin terkekeh, bukanya menuruti apa yang diinginkan, justru miliknya malah menegang dan perlahan bergerak aktif kembali.


"Oh,oh,oh" Afita tidak bisa menolak sama sekali, justru tempo yang di berikan Zafian berusaha di imbangi.


Keadaan yang basah kini semakin basah terasa di milik istrinya, Zafian tersenyum senang karena nyata sang istri juga menginginkan dirinya kembali.


Kali ini hentakan lebih kuat di berikan, Afita sedikit meringis namun kemudian menikmatinya, tangannya merangkul pinggang Zafian untuk mengikuti semua gerakan yang di berikan.


"Oh, yang" ucap Zafian begitu mabuk kepayang.


Milik Zafian begitu dimanjakan di dalam sana, dire-mas oleh dinding-dinding lembut yang menghimpit penuh sesak, bahkan sang pemilik entah berapa kali berteriak saat sang pusaka melakukan aksi hebatnya.


"Yang, sshh" lirih ucap Zafian terdengar kembali, semakin cepat gerakannya mengguncang tubuh istrinya.


"Emh, oh, yang" sahut Afita merasa melayang.


Guncangan semakin cepat dilakukan Zafian, Afita sedikit menahan agar sang pusaka bisa lebih mudah keluar masuk miliknya yang hampir mere-mas dengan sempurna.


"Yang, Aku!" Teriak Afita saat gelombang itu mulai datang menerjang.


"Bersama yang!" Sahut Zafian semakin mendorong keluar masuk miliknya dengan cepat dan kuat.


Akhirnya teriakan keduanya begitu nyaring, seolah sangat puas mereguk manisnya rasa nikmat yang tak terkira.


"Yang, tubuhmu berat" ucap Afita saat tubuh suaminya masih berada diatas tubuhnya.


Zafian segera berguling, membawa tubuh istrinya berpindah posisi berada di atasnya, sontak sang istri terkejut namun tetap diam dan kini bertumpu pasrah diatas tubuhnya.


"Masih kuat?" Tanya Zafian lirih namun sukses membuat Afita langsung mendongak terkejut.


"Apa?!" Ucap Afita melongo tak percaya.


"Hahaha"


Suara Zafian terdengar, melihat wajah terkejut dan takut sang istri membuatnya langsung tertawa.


"Aku bercanda yang"


"Ish, dasar!" Ucap Afita kembali merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan tenang.


"Istirahat sebentar dulu, nanti kita_"


"Yang lama, tubuh ku masing lemas kamu terjang tanpa jeda" sahut Afita.


Kembali Zafian terkekeh, memeluk tubuh polos istrinya dengan erat.


"Aku keluarkan dulu milikku, kalau ingin istirahat lama" ucap Zafian lalu mengangkat pan-tat istrinya sedikit keatas.


"Akh, pelan yang" ucap Afita saat merasakan sedikit ngilu.


"Sempit sekali" gumam Zafian setelah miliknya kini terlepas dengan sempurna.


"Punya mu yang terlalu besar" sahut Afita.


"Tapi nikmat kan?"


"Ish, apa sih yang" jawab Afita malu dan langsung menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Zafian.


Keduanya kini menikmati istirahat nya yang entah kapan akan segera berakhir, mengingat Zafian sepertinya masih ingin melanjutkan kembali, sedangkan Afita yang memang telah lelah, kini perlahan sudah masuk ke alam mimpi dengan hati yang bahagia karena telah merasa sempurna menjadi seorang istri dari Zafian Al Faradz.


Mudah-mudahan bisa memuaskan pembaca, waktunya memberi VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA ya..


Bersambung.