
Hari yang seperti biasanya bagi Afita, jari jemarinya digunakan untuk menyelesaikan tugas yang menumpuk dari Bu Tiwi atasannya, beberapa berkas perjanjian penting di verifikasi untuk menghindari kesalahan penulisan kata, bukan hal mudah pada awalnya, tapi dengan berjalannya waktu Afita semakin terbiasa.
"Yap, selesai" Afita menggumam hingga terbitlah senyuman.
"Saatnya istirahat" lanjutnya lagi.
Afita berjalan cepat keluar dari ruangan kerja karena sudah menandakan waktunya untuk istirahat, tentu seperti biasanya, tempat ibadah menjadi tujuan utamanya sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju kantin perusahaan yang lumayan ramai.
"Fita!" Teriak seseorang yang nyaring dan tidak asing.
Afita menoleh, dan rupanya Bu Tiwi sudah duduk sempurna di salah satu tempat yang ada di sana.
"Sudah pesan Bu?" Tanya Afita menghampiri.
"Hem, kamu cepetan pesan, sebelum banyak menu yang sudah habis" ucap Bu Tiwi yang sedang memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Siap Bu!"
Afita tersenyum, wanita di depannya memang selalu menikmati semua makanan yang ada di dekatnya.
Tak berapa lama kemudian, keduanya sudah menyantap makan siang bersama dengan nyaman, walaupun ditempat itu begitu ramai, Afita sudah terbiasa dengan semua hal yang di jalaninya selama beberapa tahun di kota asing yang kini menjadi tempat tinggalnya.
Terdengar suara handphone berdering, Bu Tiwi segera melebarkan mata saat melihat layar dimana ada nama panggilan terlihat nyata.
"Siapa Bu?" Tanya Afita menatap heran.
"Huss, diam, Bos" ucapnya lirih dengan wajah amat serius.
Afita hanya manggut-manggut, lalu Bu Tiwi segera menerima panggilannya.
"Iya pak, saya masih di kantin" jawab Bu Tiwi sambil menahan pedas di mulutnya yang belum ilang.
Afita menahan tawa, melihat ekspresi wanita yang ada di depannya, bibirnya kadang mangap-mangap demi menahan efek panas sambal yang tadi di lahapnya.
Tak lama kemudian, Bu Tiwi sudah menaruh kembali ponselnya.
"Ikut aku, Cepat!"
"Maksudnya Bu?!"
Afita melongo, baru saja suapan ke tiga mau masuk mulutnya, tiba-tiba saja sang atasan memberi perintah untuk menyudahi.
"Gak usah tanya, Pak Reno menunggu kita sekarang juga" sahut Bu Tiwi.
"Apa?!" Afita makin terkejut.
Bu Tiwi tidak menggubris omongan Afita, malah menatap makanan yang sangat ia sayangkan untuk di tinggal sebelum habis.
"Bu, apa hubungannya dengan saya?" Tanya Afita di tengah-tengah langkah cepatnya bersama Bu Tiwi.
"Sudah jangan cerewet, aku juga tidak tau" jawab Bu Tiwi.
Afita terus mengikuti, dalam hati bertanya-tanya, jangan sampai ada masalah dalam pekerjaannya, dimana gaji yang di terimanya sangat di butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saat ini.
Ceklek
Pintu di buka perlahan oleh Bu Tiwi, terlihat Reno sudah duduk di kursi kebesarannya.
Keduanya masuk dan di persilahkan duduk di depan meja kerja mewah milik sang pimpinan.
Tampak Reno melihat penampilan Afita dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Aku sudah bilang, ganti caramu berpakaian, yang rapi!" Ucapnya ketus.
"Saya pak?" tanya Afita menunjuk dirinya.
"Memangnya mau siapa lagi!" Bentak Reno dengan tatapan tajam.
Afita tampak bingung, perasaan sudah rapi, bahkan dari semua pegawai yang ada di kantor, Afita bisa di bilang masuk rangking 10 besar dalam kerapian berpakaian.
"Maaf pak, perasaan saya sudah berpakaian sesuai aturan dari perusahaan, dan tidak ada pelanggaran" Jawab Afita.
Reno langsung berdiri, merasa Afita berani sekali menjawab protesnya, sementara Bu Tiwi sudah berkeringat dingin saat tau atasannya tampak emosi.
Berjalan mendekati, kini Reno sudah berada di samping Afita, sementara tidak ada pergerakan sama sekali dari wanita yang ingin sekali di lemparkan kaca mata yang menipu keindahan wajahnya.
"Buang kaca matamu!" Ucap Reno penuh penekanan.
"Saya tidak bisa pak, mata saya mengalami masalah kalau tidak memakainya" sahut Afita masih cukup tenang menurut Reno yang terus mengawasi.
"Sialan, wanita ini tidak ada takutnya sama sekali" batin Reno kini makin mendekat dan tangannya ingin meraih kaca mata itu untuk di hancurkan kembali.
SRET.
Cukup terkejut saat tangan Reno berhasil memegang gagang kaca mata Afita yang terpasang di wajahnya.
Lebih mengagetkan lagi, di saat kaca mata itu berhasil di sahut kembali oleh Afita saat melayang di udara untuk dijatuhkan dan diinjak oleh atasannya.
"Maaf, tindakan bapak tidak pantas!" Sahut Afita yang kini sudah akan memasang kembali kaca matanya.
"Fita!" Ucap lirih Bu Tiwi yang sudah ketakutan melihat wajah bos-nya.
"Kaca mata ini tidak melanggar apapun Bu, dan saya membutuhkannya"
"Buang!" Teriak Reno memperingatkan.
"Tapi pak _"
"Fita, please" ucap Bu Tiwi memohon lagi.
Afita sangat geram, ingin sekali dirinya dengan sekali hentakan memberi pelajaran kepada laki-laki yang menurutnya sengaja membuat masalah, tapi semua di tahan, demi keamanan dirinya dan juga pekerjaannya.
Akhirnya Afita melepaskan kembali kacamata, dan menyerahkan ke Reno yang sudah tersenyum miring penuh kemenangan walaupun dihatinya masih terkejut dengan gerakan tangan yang begitu cepat saat dirinya hampir menginjak kacamata Afita tadi.
Brug.
Setumpuk uang terlempar di depan Afita, seketika mata Afita menatap kearah Reno.
"Tidak usah heran seperti itu, beli kontak lensa untuk mengatasi masalah matamu, dan mulai besok tempat kerjamu di ruangan ini bersamaku"
"Maksud Ba_" sahut Bu Tiwi.
"Tidak usah banyak tanya, aku butuh asisten untuk mengatur jadwal ku lebih terperinci, dan anda Bu Tiwi, tetap menjadi sekretaris ku seperti biasanya, apa kalian sudah mengerti?"
"Sebentar pak" ucap Afita.
"Kami mengerti pak" sahut Bu Tiwi seketika menahan Afita yang akan melanjutkan ucapannya.
"Bagus, bawa uangnya dan silahkan keluar!" Ucap Reno yang masih memegang kaca mata jadul milik Afita.
Bu Tiwi segera menarik tangan Afita, mengambil uang yang diberikan, lalu kemudian berjalan cepat menuju ke ruang kerjanya.
"Bu, kenapa menerima saja apa yang dilakukan pak Reno, itu sudah tidak masuk akal dan keterlaluan!" Ucap Afita.
"Sudah, ini bawa saja uangnya, jangan ribut lagi, jamu tidak tau pak Reno itu seperti apa Fita" ucap Bu Tiwi.
"Saya gak peduli Bu, saya mau kembalikan uang ini dan_"
"Jangan Fita, kau akan membuatku di pecat dari perusahaan ini, tolonglah?"
"Apa?, Kok bisa begitu?"
"Karena aku yang dulu memasukkan mu di perusahaan ini tanpa melewati tes yang seharusnya, dan pak Reno tau akan hal itu, maaf Fita, aku melakukan itu karena aku dulu sangat membutuhkan bantuan menyelesaikan pekerjaan ku, dan saat melihatmu hari itu, aku merasa cocok, ingat kan, kamu langsung di terima keesokan harinya?"
"Oh my God, pantas saja" ucap Afita lirih sambil memijit keningnya.
"Lalu saya harus bagaimana Bu?" Tanya Afita bercampur kesal.
"Ikuti saja kemauan pak Reno, mungkin dia memang sedang butuh Asisten khusus untuk dirinya, perusahaan kita kan memang sedang naik ke puncak"
"Ck, tapi ini aneh Bu, saya seperti merasa ada niat gak baik dari pak Reno" ucap Afita.
"Jangan berpikiran negatif "
"Negatif Apanya Bu, lah tadi buktinya?!"
"Itu tadi karena kamu juga, sudah dibilang jangan pakai kaca mata jadul kayak gitu, malah beli lagi, Pak Reno kan jadi marah" sahut Bu Tiwi.
"Itu kan hak saya Bu, mau pakai kaca mata kuda sekalipun, pak Reno itu gak berhak ikut campur!" Ucap Afita kesal, lalu berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya dan duduk dengan kesal.
"Awas saja macam-macam denganku, kita lihat saja" batin Afita yang akhirnya harus menerima keputusan sang Atasan karena tidak ingin menyusahkan Bu Tiwi yang sudah banyak membantunya.
*
*
Sementara itu, sosok pengusaha yang makin berjaya di semua bidang bisnis, kini tengah duduk berdiskusi dengan serius untuk memasuki dunia bisnis baru yang sedang diminati.
"Jadi menurutmu, batu-batu Mulia itu banyak sekali peluang di pasaran saat ini?" Tanya sang Pimpinan Perusahaan.
"Iya Pak"
"Lalu, dari mana kita akan mengawali?"
"Saya sudah mendapatkan perusahaan yang bisa kita ajak untuk bekerja sama, perusahaan ini tidak besar, namun beberapa tahun ini, prospeknya sangat bagus menembus pasaran" sahut salah satu anggota rapat.
"Hem, jadi ada di luar pulau Jawa?"
"Iya Pak"
Yuk yang masih kepo, jangan lupa HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.