ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 140



Raka sudah berada di Kamar perawatan saat ini, dan tak lama kemudian, seperti yang sudah di beritahukan, perlahan mulai sadar kembali.


"Paman?" Ucap Afita sambil memegang tangan Raka.


"Fian!" Ucap Raka langsung menyebut nama itu saat mulai tersadar.


"Paman tenanglah" ucap Zafian merasa khawatir akan keadaan Raka.


"Zaf, Fian, apa kalian sudah menyelamatkannya, dia di bawa oleh _"


"Paman tenanglah dulu, kami juga berusaha untuk menemukan nya" ucap Zafian.


"Ini pasti akan sulit, aku tidak mengenali mereka sama sekali, apa kalian punya musuh yang patut di curigai saat ini?" Tanya Raka sambil memegang handphone dan menghubungi anak buahnya.


Sementara Zafian hanya saling menatap sebentar dengan Afita, lalu tak lama kemudian terdengar suara handphonenya berbunyi.


"Dari siapa?" Tanya Afita berharap ada kabar tentang putranya dari siapapun.


"Anak buahku, aku keluar sebentar sayang" ucap Zafian, tidak ingin menambah kecemasan Raka yang masih harus banyak beristirahat.


Perbincangan cukup serius terjadi antara Zafian dan anak buahnya,


"Apa kalian yakin?" Tanya Zafian.


"Iya tuan, kami berhasil meretas Cctv yang ada di rumah rumah Tuan Raka, dan hasil penyelidikan yang kami lakukan, mereka adalah anak buahnya"


"Ba-ng-sat!, Segera cari lokasinya sekarang juga, jangan buang-buang waktu, tambahkan anak buah jika memang di perlukan"


"Baik Tuan, sebentar lagi pasti akan kita temukan"


"Bagus, semakin cepat semakin baik, aku tidak ingin sampai tejadi sesuatu dengan putraku" ucap Zafian.


Perbincangan segera ditutup, Zafian sedikit lega karena anak buahnya tak butuh waktu lama untuk menemukan titik terang siapa di balik semua ini.


Berjalan masuk kembali, Afita segera menghampiri dengan wajah yang begitu penasaran, begitu juga dengan Raka.


"Alhamdulillah, semoga sebentar lagi Fian akan kita temukan"


Afita dan Raka seketika bisa bernafas dengan lega, lalu kemudian Raka harus mengatur suaranya karena mendapat panggilan dari seseorang yang saat ini benar-benar ingin dihindari.


"Aku baik-baik saja Kai, itu hanya perasaanmu saja" ucap Raka sambil membenarkan posisi berbaring nya.


Seketika Zafian dan Afita terdiam dan memperhatikan apa yang tengah di lakukan Raka, sebuah nama yang disebutkan membuat keduanya mengerti bahwa Kaisar merasakan sesuatu terjadi dengan Raka.


Malam itu semuanya bekerja cukup keras untuk menemukan Fian, bahkan Raka segera mengurus orang-orang kepercayaannya untuk menggunakan technologi canggihnya dalam membantu anak buah Zafian.


*


*


Di sebuah Rumah nampak dua orang itu sudah duduk dengan tenang setelah semua rencananya kini berhasil.


"Apa anak itu masih menangis?" Tanya Eliza.


"Aku tidak tau" sahut Reno


"Aku akan melihatnya, dan akan aku buat dia bungkam dengan cara apapun, aku tidak suka kebisingan!" Ucap Eliza langsung bangkit dari duduk ya dan berjalan menuju ke sebuah kamar.


Seperti yang di duga, nampak seorang anak kecil tengah menangis, bahkan terlihat kamar itu berantakan karena ulahnya yang mengamuk dan ingin keluar dari kamar.


"Diam!" Teriak Eliza dengan tatapan nyalang.


Bukannya menurut apa yang di perintahkan, Justru anak kecil itu menangis dengan keras dan membuat Eliza semakin murka dengan apa yang di lakukannya.


Tangannya sudah menyeret anak itu dan melemparkannya ke tempat tidur.


"Orang jahat, pergi kamu!" Teriak anak itu semakin meronta-ronta.


"Sialan, kau harus di beri pelajaran!" Ucap Eliza bersiap memberikan pukulan.


"Hentikan!" Seru seseorang yang sudah berada tak jauh dari Eliza.


"Kenapa kau menghentikan ku, lihatlah anak ini, bertambah manja" jawab Eliza masih dengan kekesalannya.


"Keluarlah, biar aku yang mengurusnya, jangan membuat masalah makin runyam dengan tindakan kekerasan mu pada anak kecil" sahut Reno yang kini melangkah mendekati anak kecil itu.


Eliza melengos dan segera keluar dari kamar itu, mendengus kesal dengan apa yang dilakukan oleh partner kerjanya.


"Siapa namamu?" Tanya Reno memulai berinteraksi.


"Fian paman" ucapnya.


"Oh, jadi Fian?, Nama yang keren dan bagus, Bagaimana kalau kita berteman" ucap Reno yang entah kenapa malah merasakan kenyamanan.


"Hem, paman orang baik?" Pertanyaan polos keluar dari Fian dengan tatapan lucu ke arah Reno.


Reno mengangguk, merasakan sebuah keanehan saat mata Fian menatap lekat padanya, hingga rencana untuk membekap mulut Fian gagal seketika.


"Kenapa aku seperti melihat diriku diwaktu kecil dulu, ini sangat mengerikan" batin Reno.


"Paman, jawab" Teriak Fian mengejutkan Reno dan segera mengangguk untuk memberikan jawaban.


Bukan hanya itu, gelang yang di pakai Reno memberikan reaksi, sedikit menyala terang saat berdekatan dengan Fian, tentu saja Reno begitu kaget, lalu memegang tangan Fian perlahan.


Reno merasakan sesuatu yang sama pada diri Fian, dan hal itu membuat dirinya merasakan sebuah ikatan.


"Paman bisa menemaniku?, Fian takut" ucap Fian penuh harap.


"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Reno.


"Wanita yang tadi, dia jahat padaku, tidurlah disini bersama ku Paman" ucap Fian lagi.


Reno tersenyum, lalu dirinya mengangguk, dan kemudian naik di atas tempat tidur, berada di samping Fian yang sudah mengantuk.


Kedekatan yang membuat Reno merasa aneh, tidak pernah dia bisa merasakan perasaan sebahagia dan setenang ini bersama dengan seorang anak kecil.


"Perasaan apa ini?" Batin Reno yang kini sudah mengusap lembut punggung Fian yang tertidur di sebelahnya.


Namun tidak dengan Eliza, merasa sangat tidak suka dengan apa yang tengah di lakukan Reno saat ini, sengaja Eliza membuka pintu kamar itu untuk melihat apa yang dilakukannya Reno, dan berharap memberikan pelajaran yang keras dengan anak itu, namun nyatanya malah sebaliknya.


"Apa yang kau lakukan?' tanya Eliza.


"Tidak ada, aku hanya berusaha menenangkan anak itu" jawab Reno.


"Tapi aku melihat kau berinteraksi yang tak semestinya, ingat tujuan kita membuat orang tua anak itu bertekuk lutut dan mengikuti semua kemauan kita" sahut Eliza.


"Aku tau, dan satu hal yang perlu kau ingat, jangan sampai menyakiti Fita, aku menginginkannya"


"Ck, aku tau, dan jangan sampai kau menyentuh Zafian, dia milikku" ucap Eliza yang kemudian berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Sementara Reno terduduk di kursi yang tak jauh dari jendela, menatap langit yang tampak gemerlap karena bintang yang tersebar di sana.


"Selama ini kau menutupi identitas mu, sungguh lucu, aku bahkan tidak bisa merasakan kekuatan supranatural mu Fita, pastinya itu bukan hal yang biasa saja, begitu juga dengan_"


BRAK


Sebuah alat telah masuk dengan cepat hingga memecahkan kaca jendela, dan detik berikutnya, asap mulai keluar dengan cepat dan memenuhi ruangan.


"Sh-it!, Apa yang terjadi?" Ucap lirih Reno yang sudah merunduk dan berusaha menggapai pintu kamar yang di tempati Eliza.


Eliza segera membuka pintu dan tercengang melihat pemandangan penuh dengan asap tebal yang makin lama makin memenuhi ruangan.


"Kemana orang-orang mu?!" Teriak Eliza yang kini sudah berpegangan di lengan Reno.


"Aku tidak tau, sepertinya mereka,_"


"Awas!" Teriak Eliza.


Dan suara tembakan melesat dengan cepat, Reno sempat melihat hal itu, lalu kemudian menarik Eliza dengan cepat.


"Hampir saja, si-al, siapa mereka?" Ucap Eliza yang masih berada dalam kekacauan yang terjadi.


Entahlah, tidak mungkin anak buah Zafian menemukan kita secepat ini bukan?" Sahut Reno yang masih berusaha terus bergerak mencari tempat yang aman.


"Aku tidak tau, tapi kita sudah mengambil langkah yang sangat aman, semuanya sudah aku persiapkan, tidak mungkin anak buah Zafian sudah menemukan tempat ini, atau mungkinkah_?"


"Apa?" Tanya Reno penasaran, merasa ada sesuatu yang masih di tutupi oleh Eliza.


Jangan lupa HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.