
Kedua mata Ailina nampak membuka dengan sempurna, dan tentu saja berlomba dengan kedua kakaknya melesat ke arah dua orang yang sangat di rindukan oleh mereka.
"Grand Ma!"
"Brand pa!"
Brug.
"Wow, tenanglah, kalian sudah dewasa jangan berebut seperti ini" ucap dari salah satunya.
"Kami sangat merindukan kalian" sahut Ethan yang sudah berada dalam pelukan Abraham, begitu juga dengan Evan yang tak mau kalah.
Sedangkan Jasmani telah mendekap erat Cucu satu-satunya yang mempunyai keturunan mata biru yang di wariskan dari keluarga Nugraha.
"Ailin kangen Grand Ma"
"Grand Ma tau, dan kalian sungguh tega tidak membiarkan kami masuk, hem?" Ucap Jasmine tersenyum bahagia.
"Sorry" ucap Ailina yang baru saja tersadar masih berada di depan pintu bersama dengan Grand Ma dan Grand Pa nya.
Lalu ketiganya melepaskan pelukan, membawa Jasmine dan Abraham masuk kedalam Mansion.
Ada keresahan di hati ketiga saudara kembar itu, menduga kedatangan kakek dan neneknya pasti dikarenakan masalah yang membelit Afita saat ini, namun semua tidak berarti dikala rasa kangen mereka akhirnya akan terobati.
Reyna yang merasa hatinya resah, akhirnya beranjak juga dari tempatnya, setelah Afita kini tertidur dengan pulas karena rasa capeknya, baru saja langkahnya menuruni tangga, dirinya di kejutkan dengan sosok dua orang yang di bawah oleh ketiga ponakannya.
"Mom!" Teriak Reyna langsung berjalan cepat mendekat, lalu memeluk Jasmine dengan sangat erat, seolah tak ingin terlepas.
Reyna menangis, entah kenapa saat berada dalam pelukan Jasmine seolah rasa lelah akan semua masalahnya selama ini merasa tertumpah.
"Maaf Mom" ucap Reyna lirih.
"Hem, sudahlah, kalian baik-baik saja?" Tanya Jasmine.
Reyna mengurai pelukannya, "Alhamdulillah Mom, kami semua baik-baik saja, berkat lindungan-NYA"
"Alhamdulillah" sahut Jasmine dan Abraham bersamaan.
Reyna tersenyum sambil menyeka sisa air mata yang sempat menetes, lalu berganti memeluk Abraham.
"Dimana Afita?" Tanya Abraham yang masih nampak ada kekhawatiran di wajahnya.
"Ada di dalam kamar, baru saja beristirahat, Daddy dan mommy mau menemui sekarang?" Tanya Reyna menawarkan.
Kedua sesepuh keluarga Nugraha itu saling pandang, melempar kode untuk hanya sekedar melihat keadaan Afita saja di saat ini, mereka pun akhirnya berjalan menuju ke sebuah kamar yang tertutup.
Pintu terbuka, Abraham dan Jasmine tak langsung masuk, hanya melihat cucu kesayangannya nampak tertidur pulas dengan wajah yang menunjukkan cukup lelah.
Abraham mengerutkan kening, seolah mengetahui sesuatu hanya satu kali pandang saja.
"Apa Ada cicitku di dalam rahim Afita?" Tanya Abraham masih terus meneliti tubuh yang nyaman terlentang menikmati mimpinya.
Reyna terkejut, dan segera mengangguk, sementara Jasmine seketika berubah tampak cemas dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Kenapa kalian tida memberitakan hal ini?" Ucap Jasmine yang kini melanjutkan langkah kakinya mendekati Afita untuk memastikan keadaannya.
Deg.
"Apa Alena ada di sini juga?" Tanya Jasmine terkejut ketika tangannya menyentuh kulit Afita dan merasakan tenaga dalam khas yang hanya di miliki oleh anak perempuan satu-satunya.
"Iya Mom" jawaban Reyna seketika membuat Jasmine tenang kembali.
"Edward juga?" Tanya Abraham.
"Iya Grand Pa, Orang tua kami sudah dua hari ini menemani kita semua di sini" sahut Ethan.
Jasmin dan Abraham kini beranjak, tidak mengkhawatirkan keadaan Afita lagi, toh Alena ternyata sudah membersihkan calon cicitnya dari kekuatan hitam yang bisa mereka rasakan.
Reyna segera membawa kedua orang tuanya untuk beristirahat di kamar khusus yang sudah di sediakan.
*
*
Sementara itu, Zafian kini sudah kembali ke kamar sang Bunda, bau khas Rumah Sakit sangat tercium, rupanya Anita baru saja mendapatkan perawatan pada luka-lukanya.
Firman ikut masuk ke dalam kamar perawatan Anita bersama dengan Zafian, terlihat Aftan dan Alex masih duduk dan berbincang.
"Kalian sudah datang?" Tanya Alex segera berdiri.
Zafian dengan raut wajah yang tak bisa di bayangkan hanya terdiam, Firman segera menjawab pertanyaan Alex sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mendekat.
Alex menatap Firman sejenak, dari cerita yang di dapat sebelumnya, bahwa Firman telah mengetahui banyak hal tentang kekuatan supranatural, menjadikan Alex menyetujui permintaannya.
Keduanya berjalan keluar kamar kembali, menutup pintu perlahan dan segera memilih tempat untuk duduk dan memulai obrolan.
"Saya minta maaf sebelumnya tuan, kalau saya lancang" ucap Firman yang sebenarnya begitu takut akan sosok Alex.
"Tidak apa-apa, katakan saja" sahut Alex.
"Saya tidak tau apapun tentang tenaga supranatural, dan saya melihat sendiri kekuatan itu sungguh ada, dengan mata kepala saya sendiri kekuatan itu sungguh dahsyat dan bahkan bisa menyembuhkan dengan cepat"
"Lalu?" Tanya Alex nampak berpikir.
"Bisakah saya mengajak anda ke sebuah tempat, sebelum anda nanti akan menjawab pertanyaan saya?" Ucap Firman.
"Baik" jawab Alex, lalu segera mengikuti langkah Firman yang sedikit berada di depannya.
Hingga tak lama kemudian, keduanya sudah ada di tempat Naura dilakukan perawatan, Alex tentu saja terkejut, dan sudah bisa menduga bahwa itu adalah Naura, karena sudah mendapat kabar sebelumnya.
"Lukanya sangat parah" lirih terdengar suara Alex yang masih terus mengamati.
"Saya Mohon dengan sangat Tuan, Bantu Naura dengan kekuatan anda, saya yakin Tuan Alex pasti bisa melakukannya" ucap Firman yang kini sudah bersimpuh di depan Alex.
Tentu saja beberapa pasang mata sangat terkejut melihatnya, pasalnya seorang Firman yang memegang peran penting di rumah sakit Elite itu, kini bersimpuh di depan seorang laki-laki.
"Bangunlah, tanpa kau minta, kami keluarga Nugraha pasti akan membantunya" ucap Alex.
DEG.
Firman sangat terkejut atas jawaban Alex, tak menyangka akan langsung di setujui dan SATU LAGI_
"Tunggu_, Keluarga NUGRAHA?" Firman mematung di tempat dan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sedangkan Alex, bukannya membantu Furman berdiri, justru melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang ICU setelah mendapatkan ijin dari petugas di sana
Di era saat ini, kabar besar dari berbagai dunia dengan mudah di Akses, dan siapa yang tidak tertarik dengan desas desus dari keluarga milyarder dengan nama besar NUGRAHA.
"My God, mungkinkah mereka adalah keluarga yang Fenomenal itu?" Batin Firman yang kini sudah berdiri.
Segera Firma membuka ponsel canggihnya, lalu berselancar sambil mengamati apa yang tengah di lakukan Alex di dalam sana, sebuah kenyataan yang membuatnya terkejut dan bangga, sudah di pertemukan dengan hampir semua anggota keluarga Nugraha.
Perlahan Alex menyentuhkan tangannya di beberapa titik tubuh Naura, sekilas tampak biasa saja, namun tubuh naura sebenarnya merespon lembut kekuatan supranatural yang masuk dalam tubuhnya.
"Terlalu lemah" ucap Alex yang tidak berani lebih banyak kagi memasukkan tenaga dalamnya, tapi sudah cukup untuk memperbaiki syaraf dan titik peredaran darahnya.
Alex tersenyum, melihat apa yang dilakukannya sudah membawa dampak luar biasa bagi Naura.
"Maafkan kesalahan ku, aku berjanji akan membantumu walau itu tidak mudah, bersabarlah Naura, sekali lagi, maafkan aku yang membuat Zafian berakhir dengan melukai mu" ucap lirih Alex, terbayang akan kesalahan yang sangat besar di lakukan dalam hidupnya.
Firman menyambut Alex yang kini sudah keluar dari ruang ICU, berharap mendapatkan kabar yang terbalik.
"Bagaimana Tuan Alex?" Tanya Firman tak sabaran.
Alex menempati tempat duduk ruang tunggu, diikuti oleh Firman yang tengah menunggu jawaban.
"Keadaan tubuhnya sangat parah, organ vitalnya banyak yang terkena, dan aku tadi sudah membuka beberapa titik aliran darah yang terhambat, semoga saja akan membuat sistem tubuhnya membaik dahulu"
"Jadi begitu?" Tanya Firman berusaha untuk paham.
"Hem, nanti akan dilanjutkan kembali, kekuatan supranatural sangat kuat, tidak bisa kita memasukkan sekaligus dalam diri seseorang, apalagi kondisi Naura sangat lemah" jawab Alex.
"Iya Tuan Alex, saya ucapkan terimakasih"
"Dia kekasih mu?" Pertanyaan singkat yang membuat Firman gugup di buatnya.
"Bukan, dia_" jawaban firman menggantung.
"Kesempatan tidak datang dua kali, segera ungkapkan niat baikmu, kalian bukan anak kecil lagi" sahut Alex seolah sangat mengerti.
"I iya Tuan" jawab Firman.
Saat Alex sudah keluar dati pintu ruang tunggu untuk kembali, rupanya Aftan juga tengah terburu-buru berjalan ke arahnya.
"Ada Apa?" Tanya Alex penasaran.
"Kita harus pulang sekarang juga Dad!" Sahut Aftan yang baru saja menerima kabar dari ponselnya.
Ada apakah gerangan?, yuk kasih HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.