
Zafian melihat Afita kebingungan harus berkata apa, lalu segera mendekat.
"Kami hanya sedang bermesraan Bun" jawab Zafian tanpa sungkan, membuat Afita memberikan peringatan lewat tatapan matanya.
"Kau itu kenapa, kita sudah suami istri, itu hal wajar, iya kan Bun?" Lanjut Zafian dan sang bunda hanya tersenyum.
"Zafian!" Ucap Afit memperingatkan Zafian kembali.
Anita hanya tertawa kecil, "Ya sudah, kalian bisa lanjutkan, Bunda akan ke kamar beristirahat karena sudah malam, salam dari Mommy Reyna untuk kalian"
"Waalkum salam " sahut keduanya bersamaan.
Plak.
"Aww!, sakit Af, apa-apaan kamu ini?"
"Kamu itu benar-benar gak tau malu Zaf, gak perlu juga ngomong begitu sama Bunda!" Ucap Afita jengkel akan perbuatan suaminya.
"Ck, dari pada kamu kebingungan begitu, kan lebih baik jujur, lagi pula Bunda pasti juga tau"
"Kok bisa tau?" sahut Afita.
"Lihat penampakan kamu yang acak-acakan begitu" jawab Zafian.
Sontak Afita langsung menoleh memeriksa dirinya, dan benar-benar merasa malu saat tersadar akan kondisi baju dan juga hijabnya yang sudah awut-awutan.
"Zafian!" Teriaknya makin kesal.
"Aku disini, gak perlu teriak" sahut Zafian merasa geli sendiri dengan apa yang di lakukan istrinya.
"Dasar, jangan lagi dekat denganku, awas!" Ucap Afita mengancam seolah penuh dendam dan amarah.
Bukannya takut, Zafian malah tertawa melihat ekspresi istrinya, sedangkan Afita yang makin kesal langsung melesat pergi dengan membanting pintu ruangan kerja Zafian cukup keras.
Malam semakin larut, keduanya tetap berada dalam satu ranjang meskipun telah terjadi pertengkaran sengit, seperti malam-malam sebelumya, saat tidur bersanding dengan istrinya, Zafian selalu merasakan hawa hangat yang selalu menyelimuti tubuhnya, dan itu membuat tidurnya sangat nyaman hingga pagi menjelang.
**
Perjalanan ke tempat kerja melibatkan beberapa perbincangan antara keduanya.
"Nanti kita akan berangkat jam tujuh malam, sebelumnya kamu bisa bersiap, apa perlu aku panggil MUA untukmu?" Tanya Zafian.
"Tidak perlu Zaf, untuk acara pesta pernikahan aku sudah biasa merias diriku sendiri"
"Yakin?"
"Memangnya harus seperti apa sih, paling juga yang penting tampak segar dan rapi, itu sudah cukup"
"Hem, kamu juga sudah sangat Cantik" sahut Zafian begitu saja.
Afita terdiam, tak dipungkiri hatinya sangat bahagia saat pujian keluar dari suaminya sendiri, walaupun dia sudah terbiasa mendengarkan hal itu dari orang lain.
"Jadi menurutmu aku cantik?" Tanya Afita iseng bertanya.
Zafian menoleh, merasa pertanyaan yang diajukan oleh istrinya terasa aneh.
"Memang ada yang bilang kamu jelek?" Tanya Zafian balik.
"Ish, kebiasaannya, jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan, gak sopan" sahut Afita membuat Zafian terkekeh.
Sejenak terdiam, perbincangan tidak berlanjut saat Afita mendapat panggilan dari ponselnya, nampak sekali Rona bahagia dari wajah Afita, membuat Zafian bertanya-tanya siapa yang telah menghubungi Afita.
"Siapa?" Tanya Zafian setelah Afita menutup handphonenya.
"Evan"
"Laki-laki?" Tanya Zafian konyol.
"Memang ada wanita namanya Evan?"
"Ck, siapa Evan?"
"Nanti kau akan tau sendiri"
"Kenapa harus nanti, bisa kan kau jelaskan sekarang?" Ucap Zafian menginterupsi.
"Sekarang sudah sampai di tempat kerjaku, nanti malam kamu juga akan tau, kita akan bertemu di pesta pernikahan mantan kekasih mu Eliza" ucap Afita segera turun lalu berpamitan.
Beberapa menit kemudian Zafian sudah sampai di tempat kerjanya, kali ini Cintia sudah datang menyambut, Karen memang Zafian datang agak terlambatnya.
"Tumben pak Zafian agak siang?" Tanya Cintia.
"Hem, dan mulai hari ini aku akan datang agak siang"
"Kenapa, ada masalah pak?"
"Tidak, aku harus mengantar Istri ku dahulu ke tempat kerja nya"
"Aku yang memintanya begitu, sebaiknya jaga ucapan mu"
"Oh, begitu, maaf pak"
Zafian terdiam, konsentrasi akan semua arsip yang sudah ada di atas mejanya, melihatnya satu persatu dan kemudian memberikan ke Cintia kembali untuk di revisi dan segera di proses jika sudah benar.
Cintia tersenyum seperti biasanya, selalu bersikap manis kepada Zafian, menawarkan minuman apa yang diinginkan, seperti biasa pula Zafian memesan minuman kesukaannya untuk dinikmati sambil bekerja.
"Maaf pak Zafian, perusahaan juga mendapat undangan pesta pernikahan tuan Bimo Trihatmodjo, apa saya juga harus datang seperti biasanya?" Tanya Cintia.
"Tentu saja"
"Jam berapa kita akan pergi bersama pak?" Tanya Cintia dengan pede nya.
"Aku akan berangkat jam tujuh malam, bersama istriku, kami akan datang dari Mansion ku, kamu ingin ikut bersama kami?" Tanya Zafian membuat Cintia terkejut.
"Maaf pak, saya tidak tau kalau bapak akan datang bersama istri, kalau begitu sebaiknya saya akan datang sendiri saja, nanti bertemu di sana pak" ucap Cintia.
"Hem, baiklah"
Cintia segera keluar, sedangkan Zafian melanjutkan pekerjaan nya kembali, tidak ingin sampai telat pulang dan menjemput Afita.
Sore akhirnya datang, Zafian segera bergegas meninggalkan tempat kerja untuk menyusul Afita. Setelah ibadah sholat Magrib, Afita segera berbenah diri untuk persiapan ke acara pesta yang akan di hadiri bersama dengan sang suami.
Zafian masih was-was dalam hati, tidak seperti wanita yang selalu lama dalam menghias diri, Zafian ragu apa mungkin Afita bisa secepat ini melakukan semuanya sendiri, hingga jam tujuh kuran sepuluh menit, mendapati Afita keluar dari ruang ganti.
Glek.
Zafian dan Anita sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, sosok Wanita yang sangat cantik dan anggun, riasan yang natural sangat pas di wajahnya, terkesan cantik, tegas dan berwibawa.
"Subhanallah, cantik sekali anak Bunda" ucap Anita sambil memutari Afita yang tengah tersenyum melihat apa yang dilakukan sang Bunda.
"Lumayan, ayo kita berangkat" ucap Zafian sudah menyediakan lengannya untuk di gandeng.
"Ck, lumayan saja?" Tanya Afita sambil melangkah.
"Cantik, sangat Cantik" ucap Zafian selanjutnya.
Afita yang mendengar hal itu langsung berbinar bahagia, senyumannya mengembang membuat para penjaga Mansion dan supirnya terbius hingga tak berkedip menatapnya.
"Kondisikan mata kalian, atau saya pecat sekarang juga!" Teriak Zafian membuat semuanya langsung bubar barisan melakukan tugasnya masing-masing.
"Kau itu, kejam sekali, dasar!" Sahut Afita yang kini sudah duduk disamping Zafian berada dalam mobil.
"Lain kali kalau keluar sendirian, gak usah berias diri, kalau perlu gak usah pakai apa-apa"
"Telan-jang maksud nya?" Goda Afita dengan sengaja.
"Afita!"
"Hahaha, iya, aku tau, gitu saja marah" jawab Afita.
Mobil melaju di jalanan dengan santai, kecepatan biasa saja dan tidak terburu-buru, hingga seperti yang diperkirakan, sampai di tempat pesta pukul tujuh lebih dua puluh menit, keduanya segera turun di pelataran gedung mewah yang sudah dipersiapkan.
Afita dengan anggun mendorong kursi roda suaminya, berjalan masuk dengan senyuman menghiasi bibirnya, kedatangan keduanya menarik perhatian para tamu undangan, semua terkesiap akan ketampanan dan kecantikan kedua pasangan yang tengah berjalan masuk.
"Apa aku terlalu berlebihan?" Tanya Afita tak enak hati.
Zafian hanya tersenyum, kadang begitu tidak mengerti dengan istrinya yang selalu tidak menyadari betapa cantik dan menariknya dirinya, walaupun tertutup oleh pakaian yang tidak menampakkan auratnya.
"Kamu justru nampak sangat sederhana di banding mereka, tapi aura kecantikan keturunan keluarga Nugraha memang tidak bisa di pungkiri" jawab Zafian membuat Afita melotot kan matanya.
"Jangan membawa-bawa nama keluarga ku, ingat sumpahmu untuk merahasiakan semua itu Zaf"
"Iya, aku tau, mereka juga tidak akan mendengar apa yang aku ucapkan" jawab Zafian.
Keduanya sudah mendapatkan tempat yang diinginkan, beberapa tamu undangan sudah mendekat dan menyapa mereka berdua, pesta sangat meriah, Zafian dan Afita menjadi pusat perhatian dan merasa sedikit risih, hingga kemudian Afita meminta Zafian untuk naik ke atas panggung mempelai untuk memberikan ucapan selamat.
"Kau saja" ucap Zafian.
"Kalau kau tidak ikut, aku akan pulang sendirian" ancam Afita.
Akhirnya keduanya menuju ke tempat pelaminan, Afita dengan setia mendorong kursi Zafian, rupanya tidak se menakutkan bayangan Zafian, saat berada dekat dengan Eliza justru dirinya merasa biasa saja.
Zafian memberikan ucapan selamat dan menjabat tangan Eliza, begitu juga dengan Afita yang ikut mengucapkan selamat akan pernikahan kedua penganten yang ada di depannya.
Zafian bernafas lega, kini sudah dalam perjalan kembali ke tempatnya bersama dengan Afita namun tiba-tiba saja, teriakan seorang laki-laki muda dengan paras yang sangat tampan nan rupawan membuat Zafian mengeratkan rahang.
"Sweety!" Teriak laki-laki itu merentangkan tangan, mendapat sambutan dan pelukan yang begitu hangat dari Afita.
Mata Zafian semakin melebar tak percaya, ingin sekali menarik Afita dan menendang laki-laki yang berani memeluk posesif istrinya.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.