
Sosok itu terdiam, kembali duduk bersama dengan seorang perempuan yang baru saja tiba dan masuk begitu saja.
"Jadi kakak mempunyai rencana untuk Afita?" Sebuah pertanyaan terlontar.
"Aku rasa tidak perlu aku menjelaskannya, bukankah kau sudah lama berada di balik pintu?" Ucap Elonar.
Eliza hanya terdiam dan tidak menjawab apapun, beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati jendela.
"Apa kakak akan melukai Zafian?" Tanya Eliza lagi.
"Apa kau keberatan?" Sahut Elonar.
"Kalau iya, apa kakak akan menghentikan rencana yang sudah di buat?"
"Tidak mungkin" jawab Elonar dengan tegas.
Eliza menarik nafas panjang, lalu duduk kembali di samping Elonar yang sedang menikmati cemilan dengan tenang.
"Baik, aku tidak peduli lagi, Zafian juga tidak akan pernah mau kembali padaku"
"Bagus kalau kau sadar hal itu"
"Tapi aku juga memperingatkan kakak akan Afita?"
"Apa maksud mu?" Tanya Elonar.
"Dia Wanita yang tidak akan goyah dengan apapun, apalagi jika harus mengkhianati suaminya, tidak akan pernah dia lakukan" ucap Eliza dengan senyum sinis nya.
Elonar merasa kesal dengan apa yang diucapkan Eliza, walau sebenarnya dia tau apa yang di dengarnya adalah kenyataan akan sosok wanita spesial yang ada di hatinya saat ini.
"Aku tidak peduli, kalau hatinya tidak bisa aku miliki, setidaknya raganya harus menjadi budakku untuk selamanya, itu hukumannya"
"Ck, kau mengerikan sekali" sahut Eliza terkejut dan menoleh menatap Elonar dengan tajam.
"Kenapa, apa kau keberatan, atau kau ingin mendukung Afita sebagai sesama perempuan, Silahkan saja, kau akan menyesal berurusan dengan ku" ucap Elonar.
"Aku juga sangat membenci Afita, karena dia adalah wanita pertama yang menghalangi semua rencanaku dan bahkan menghancurkannya"
"Lalu?"
"Aku tidak akan ambil bagian disini, rencanaku ingin melenyapkannya selamanya juga tidak mungkin, terserah kakak mau melakukan apa, aku akan menjadi penonton saja"
"Bagus, bersenang-senanglah, dan jangan mengganggu ku, pekerjaanku kali ini tidak mudah"
"Maksud kakak?"
"Zafian bukan seperti yang kau kenal dulu"
"Apa?!" Sahut Eliza terkejut.
"Ck, sudahlah, jauhi Zafian dan jangan lagi berusaha menemuinya"
Afita mengerutkan kening tanpa menanggapi perkataan Elonar, berfikir cukup keras sejenak dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Apa Zafian_?"
"Supranatural" sahut Elonar menyahut perkataan Eliza.
"Apa?!" Eliza terkejut kembali, "Bagaimana bisa, apa itu karena Afita?" Tanya Eliza yang makin penasaran.
"Aku tidak tau, jangan dekati Zafian, dia tidak sama seperti dulu, apa kau mengerti sekarang?" Tanya Elonar.
Eliza hanya menoleh sebentar, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Elonar, dengan sedikit kesal.
"Selalu saja memaksakan kehendaknya!" Gumam Eliza setelah berada di luar ruangan.
Elonar hanya menatap kepergian Eliza, dia tau bahwa wanita yang berstatus adik angkatnya, tidak akan bisa menurut begitu saja.
Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Elonar mempelajari bisnis baru yang tengah digeluti saat ini, bersiap memberikan kejutan untuk bergabung dalam kerjasama sesuai kontrak yang sudah disepakati.
*
*
Mengawali hari untuk beraktivitas, Afita bangun pagi dengan sangat, segera bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah melakukan ibadah subuh, dan kini sudah berada di depan cermin untuk merapikan diri.
Begitu juga Zafian, yang tak berapa lama keluar dari kamar mandi, masih berbalut handuk dan menatap takjub kecantikan sang istri yang baginya makin lama semakin sekksi di matanya.
"Yang, kamu masih basah!" Teriak Afita terkejut saat tubuhnya yang baru saja berganti pakaian dalam, kini harus basah karena dekapan suaminya.
"Harum sekali" ucap Zafian tidak memperdulikan apa yang di keluhkan sang istri dan justru mengendus tengkuk dan leher jenjangnya.
"Lepaskan yang, ini sudah jam berapa, jangan aneh-aneh" ancam Afita mulai waspada.
Zafian hanya tersenyum tanpa melepaskan pelukan hangat dari belakang di tubuh istrinya, justru semakin nakal dan mengusap lembut beberapa bagian tubuh Afita hingga membuatnya meremang dalam diam.
Bathrob yang dikenakan oleh Afita tersibak dan jatuh ke lantai begitu saja, selanjutnya Zafian menginginkan penyatuan yang singkat namun nikmat.
Sedikit merendahkan punggungnya, kedua tangan Afita menahan bahunya di atas meja rias yang ada didepannya.
Selanjutnya Zafian menyentuh area bawahnya dengan lembut, memastikan bahwa milik istrinya sudah basah dan siap menyambut nya.
"Yang, sshh.." Afita mulai mendessah, merasakan sesuatu yang membuat has-ratnya seketika menginginkan suaminya.
"Kita sudahi?" Goda Zafian sengaja.
"Jangan berani!" ucap Afita yang tentu saja tidak ingin kecewa.
Zafian tertawa sejenak, tangannya masih melakukan tugasnya hingga membuat sang istri semakin tidak karuan menerima apa yang dia lakukan.
Afita bersiap memposisikan tubuhnya, memberikan akses yang mudah untuk Zafian melakukan penyatuan dari belakang.
"Akh.." suara Afita lolos saat sang pusaka menyapa dan masuk kedalam miliknya.
"Sakit?" Tanya Zafian saat merasakan milik istrinya begitu sempit.
"Emh.. sedikit" sahut Afita.
Zafian mendorong kembali perlahan, setelah dirasakan cukup bisa terima oleh Afita, gerakan tubuhnya mulai dilakukan dengan tempo yang pelan, dan lama kelamaan berlanjut dengan lebih cepat.
"Shh..yang.." Zafian semakin tidak tahan, milik istrinya yang terasa meremass pusakanya, membuat benih miliknya ingin segera di semaikan.
Dan beberapa menit kemudian, keduanya berteriak saat puncak kenikmatan di pagi hari bisa dilakukan bersama.
Afita kini tengah bersiap sarapan pagi bersama dengan Zafian.
"Terlambat sepuluh menit yang" Ucap Zafian saat Afita sudah duduk di sebelahnya bersiap makan pagi.
"Iya maaf, itu juga karena mu" sahut Afita kesal mengingat bagaimana dirinya yang sudah rapi harus kembali masuk kedalam bathroom karena ulah suaminya yang melakukan penyatuan dengan tiba-tiba.
Sementara Anita hanya menggelengkan kepala, melihat Afita yang kesal, sedangkan Zafian hanya terlihat senyum-senyum senang.
*
*
"Apa ada pekerjaan penting, semalam aku lihat istriku tidak memperdulikan ku?" Tanya Zafian ketika sudah berada didalam mobil bersama dengan Afita.
"Oh, itu yang membuat mu pagi tadi menyerang ku?" Tanya Afita balik.
Zafian tertawa mendengar jawaban istrinya.
"Tentu saja, itu hukuman karena kamu membiarkan aku tidur sendiri beberapa saat" jawab Zafian.
"Ck, menyebalkan, nanti akan ada Klien baru, kemaren sudah tanda tangan kontrak, aku membantunya dalam kepengurusan hotel mewahnya"
"Apa itu sangat menyita waktumu sayang?" Tanya Zafian lagi.
"Tidak, hanya saja, mereka memberi kabar tadi sore untuk mempercepat pertemuan kedua, membahas tentang detail pekerjaan apa yang haru aku handel nanti"
"Sepertinya semangat sekali rekap kerjamu yang?" Sahut Zafian lagi.
"Hem, mungkin mereka juga menginginkan yang terbaik yang, aku hanya memberikan jasa sesuai di kontrak kerja"
"Baiklah, jangan terlalu kelelahan, jaga kesehatan mu, kurangi menerima kerja sama dari pihak luar kalau perlu, aku lihat perkembangan hotel milikmu sudah sangat bagus, pertahankan hal itu yang" ucap Zafian.
"Alhamdulillah, Iya yang, aku sudah mengurangi kerjasama yang membutuhkan jasaku terlalu banyak"
"Hem, itu lebih baik" ucap Zafian yang masih tak merelakan istrinya keluar dari pelukannya.
"Bisakah kamu melepaskan pelukanmu yang?" Tanya Afita.
"Kenapa?"
"Aku harus bekerja" ucap Afita sambil melirik kesamping, menunjukkan bahwa sudah sampai di tempat kerjanya.
"Oh okey, sorry.. hati-hati yang" ucap Zafian lalu yang baru saja menyadari bahwa sudah sampai ditempat kerja sang istri, lalu memberikan kecupan di kening dan bibir sebelum Afita pamit dan menyalin takzim sebelum melangkahkan kakinya.
Afita sedikit tergesa memasuki ruangan kerjanya, dan mendapati tatapan aneh dari Naura.
"Astagfirullah!, Kau mengejutkanku Nau, ada apa, kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Afita sambil menaruh tas dan perlengkapan lainnya.
"Ini sudah jam berapa Nona?" Tanya Naura lalu duduk didepan Afita.
"Oh iya, maaf-maaf, ada insiden yang tidak bisa aku hindari" sahut Afita yang tentu saja tidak dimengerti sama sekali oleh Naura.
"Insiden?, Nona nabrak orang lagi?" Tanya Naura curiga.
"Bukan, tapi aku yang di tabrak"
"What?!, Nona tidak apa-apa?" Naura panik, langsung berdiri mendekat, memeriksa tubuh Afita.
"Ish, apa sih, Zafian yang menabrak ku"
"Apa?!, Tega sekali Tuan Zafian, benar nona tidak apa-apa?" Dengan wajah polosnya Naura makin panik.
Afita tertawa sejenak
"Sudahlah Nau, nabraknya Zafian itu beda"
"Hah, apa?!" Naura mulai berfikir dan mengerutkan kening, melihat wanita cantik yang senyum aneh saat memberikan penjelasan, akhirnya membuatnya mengerti.
"Oh my God" sahut Naura selanjutnya sambil memukul jidatnya.
Keduanya segera keluar dari ruangan, sopir pribadi sudah bersiap mengantarkan mereka berdua melakukan aktifitas selanjutnya.
"Mereka sudah menentukan tempatnya?" Tanya Afita.
"Iya Nona, lima menit lagi sampai" ucap Naura.
Seperti yang di perkirakan, sampai juga mereka di tempat yang sudah di pesan, berjalan sedikit cepat, keduanya memasuki gedung hotel yang cukup megah.
"Lumayan" gumam Afita berjalan cepat sambil mengamati.
"Cukup mewah nona" sahut Afita.
"Mengusung unsur Eropa dalam penataan ruangannya" ucap Afita.
Dan tak lama mereka di sambut oleh dua orang yang rupanya sudah menunggunya untuk kemudian di bawa di sebuah ruangan eksklusif untuk mengadakan pertemuan.
Ceklek.
Afita dan Naura menunduk sejenak memberi hormat tanpa melihat siapa saja yang ada di dalam sana
Setelah mendongakkan kepalanya, keduanya sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"Nona ini_?" Ucap Naura lirih.
"Apa-apaan ini?" Lirih Afita menggertakkan gigi.
Apa yang sebenarnya mereka lihat?, Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.
.