
Bukan hal mudah melakukan hal itu, hingga seseorang yang bisa melesat cepat dan tidak bisa terlihat oleh mata biasa sudah ikut membantunya.
Terdengar teriakan Zafian, saat kekuatan begitu besar menghimpit dan menekan kekuatan sedalam-dalamnya, tubuhnya seketika lemah tak berdaya, rasa sakit di sekujur tubuhnya begitu luar biasa, hingga membuat Zafian berakhir dengan hilang kesadaran.
Alex dan yang lainya terkesima, segera berlari mendekati dan rasa penasaran mereka seketika terobati dengan melihat sosok suami istri yang kini tengah menyelesaikan tugas akhirnya dengan menyegel sementara kekuatan Zafian ke dalam tubuhnya.
"Edward" ucap Alex lirih di tengah keterkejutan.
"Mom?" Ethan merasakan kebahagiaan tak terkira, begitu juga dengan Evan yang sudah bersiap untuk memeluk Mommy-nya.
Edward segera berdiri kembali, disusul oleh Alena yang sebelumnya memastikan keadaan Zafian dalam kondisi aman.
Semua saling berpelukan, bahkan Alex terlihat begitu lama membuat sang Adik berada dalam dekapannya.
"Aku sangat merindukanmu, kemana saja Hem?" Ucap Alex seolah ingin meluapkan seluruh keluh kesah akan beban yang dirasakan.
"Maaf kak, ada hal penting yang harus aku lakukan, dan aku juga sangat merindukan mu" Jawab Alena.
Kemudian keduanya saling melepaskan pelukan.
"Kamu berhutang penjelasan padaku Lex, keterlaluan!" Sahut Edward kini berjalan memimpin rute untuk pulang.
Rupanya kekuatan Edwards akan teleportasi yang diasahnya sudah bisa di gunakan dengan baik, sedangkan Ailina tidak ingin di ganggu karena memperdalam tenaga dalam penyembuh dan perisainya di sebuah tempat.
Keadaan di dalam mobil terasa sepi, mereka meninggalkan lautan duka dengan begitu banyak nyawa yang sudah melayang karena perbuatan satu orang yang tidak bisa mengendalikan kekuatan hitamnya.
"Maafkan aku" ucap Alex.
"Jangan bilang kau tidak menyadari hal ini sebelumnya" sahut Edward dengan wajah yang begitu gusar.
"Aku ragu saat itu"
"Dan apa kau kira almarhum kakek menyegel kekuatan dengan penuh kalau tidak ada maksud tertentu?" Sahut Edward terlihat begitu kecewa dengan apa yang sudah di lakukan Alex terhadap Zafian.
"Aku mengira almarhum kakek melakukan itu karena kekuatan Zafian belum waktunya digunakan"
"Omong kosong, saat kau membuka kekuatan menantumu itu, tidak mungkin kau tidak merasakan sesuatu" ucap Edward.
"Okey aku egois, tapi aku melakukan juga demi Afita, agar dia ada yang melindungi, apa aku salah menginginkan keselamatan putriku, mengingat begitu banyak musuh yang ingin memban-tai keluarga kita" Alex memberikan alasan akan perbuatannya.
"Dan kau memilih menjadikan suami Afita sebagai pemban-tai, begitu maksudmu!"
"Ed!, Jaga ucapan mu!" Sahut Alex tak terima.
"Diam!, Tidak bisakah ini di bahas saat kita sampai?!" Teriak Alena menengahi pertengkaran dua laki-laki yang sangat berarti di hidupnya.
"TIDAK!" Jawab keduanya bersamaan dengan saling menatap tajam satu sama lain.
"Oh my God" sahut Alena merasa kesal sendiri dengan sikap keduanya, lalu memberikan tatapan tajam seolah mengultimatum untuk tidak membuat keributan.
Di mobil yang lain, tampak Ethan memeriksa keadaan Zafian, begitu juga dengan Aftan yang mencoba menyalurkan tenaga dalamnya.
"Apa menurut kak Ethan, tenaga dalam kak Zafian telah hilang?" Tanya Evan.
"Aku tidak tau, hanya saja, kekuatan tenaga dalam tersegel dengan kuat oleh tenaga dalam Daddy dan Mommy" jawab Ethan.
"Benar, aku lihat tenaga dalam Aunty dan om Edward semakin kuat" sahut Aftan.
"Hem, dan teleportasi sudah di kuasai oleh Daddy, sepertinya kamu akan punya saingan Ev" jawab Ethan dengan senyum tipisnya.
"Saingan yang sangat berat rupanya" sahut Evan, disambut senyum oleh kedua kakaknya.
Masih terus menggunakan tenaga dalamnya, ketiganya bergantian menjaga keadaan fisik Zafian agar tak terlalu lama dalam ketidak sadaran.
Hingga semuanya tiba dan memasuki Mansion, pengawal yang menjaga pintu gerbang utama menunduk memberi hormat saat melihat sang majikan masuk kembali.
Alena bergegas turun dan melesat masuk dengan langkah kaki yang cepat, karena ingin melihat keadaan keponakan tercintanya.
Setelah mengucap salam, sambutan dari putri tercantik nya sudah ada di depan mata, Ailina menjawab salam dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Mom"
Brug
Tubuh Ailina kini sudah berada dalam pelukan sang mommy yang sangat di rindukannya.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Ailina kini sudah meneteskan air mata di bahu sang Mommy.
"Mommy juga sayang, sudah jangan menangis lagi, maaf tidak bisa merespon dengan cepat telepati mu" ucap Alena sambil mengusap kepala sang anak yang masih berada di sebelah bahunya.
"Tidak apa-apa Mom, aku tau Mommy sedang sibuk dengan urusan penting" sahut Ailina.
"Bukankah Mommy mempunyai tugas penting?" Ucap Alena membuat putri cantiknya tersadar akan keadaan Afita.
Reyna segera menoleh akan kedatangan seseorang yang sangat ingin di temuinya.
"Alena!"
Brug
Mereka berakhir saling berpelukan, Alena mengusap punggung Reyna untuk menenangkannya, sementara Reyna menangis tak tertahan seolah ingin menyampaikan betapa sedih dirinya dengan keadaan Afita saat ini.
Setelah keduanya berpelukan dengan puas, Alena kini melihat keadaan Afita, keponakan sekaligus sudah seperti anak kandung sendiri.
"Sudah berapa lama?" Tanya Alena.
"Dua hari ini, dan tidak ada perubahan sama sekali" sahut Reyna.
"Benarkah?" Tanya Alena sepertinya mengetahui sesuatu.
"Iya Mom, memangnya ada apa, dan aku berusaha untuk menstabilkan keadaan kak Aftan Deni keselamatan bayi dan durinya" sahut Ailina.
"Bayi?" Tanya Alena mengerutkan kening, lalu memeriksa kembali keadaan Afita dan menemukan sesuatu yang membuatnya tampak berpikir.
"Janin itu menyerap kekuatan hitam Zafian, dan itu sangat kuat" suara seseorang mengagetkan.
Rupanya Alex sudah berada di ambang pintu setelah mengantar Edward untuk memastikan sudah mendapat pelayanan yang semestinya.
"Jadi begitu, tapi aku melihat racun ini mulai memudar" ucap Alena.
Deg
Reyna dan Ailina sangat terkejut.
"Apa artinya Wanita itu sudah memberikan penawarnya Mom?" Tanya Ailina memastikan.
Dan Alena langsung menggeleng pasti, menjawab pertanyaan sang anak dan menyatakan hal itu tidak terjadi.
Reyna langsung membelalakkan mata, berharap apa yang ada di pikirannya tidak terjadi, hingga bibirnya ingin mencari jawaban pasti.
"Apa wanita itu telah _"
"Meninggal, di bantai oleh Zafian, bukan hanya satu saja, hampir semua musuhnya bergelimpangan tak bernyawa" sahut Alena.
Brug
Tubuh Reyna seketika lunglai dan terjatuh di lantai, sungguh tidak menduga hal yang ditakutkan akhirnya terjadi juga.
"Lalu?" Tanya Lirih Reyna dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Alex segera membantu Reyna untuk duduk kembali di pinggiran tempat tidur, dimana Afita masih memejamkan mata dan enggan untuk membukanya.
"Aku minta maaf Honey" ucap sang suami yang merasa ikut bertanggung jawab akan hal ini.
Alena kembali memeriksa keadaan Afita, menotok sebagian syaraf untuk diistirahatkan, dan membuka beberapa titik aliran darah yang sudah aman dari racun.
"Maaf Mom, aku terpaksa melakukannya, karena aku rasa itu yang terbaik untuk dilakukan, karena racun itu begitu kuat berada dalam aliran darah, aku takut mengenai organ penting dalam tubuh kak Afita" Ailina menjelaskan apa yang sudah dilakukannya.
Alena tersenyum, rupanya putri cantiknya sudah sangat dewasa dan bijak dalam menentukan sikap.
"Itu jalan yang terbaik, mommy sangat setuju denganmu" sahut Ailina langsung berbinar wajahnya.
Tersadar ada yang kurang, Reyna yang sudah menghentikan tangisnya, keluar dari kamar untuk melihat kedatangan seseorang, namun keadaan di luar kamar masih sepi.
Hingga di beberapa detik berikutnya, Terlihat Aftan sudah berjalan menuju ke dirinya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Reyna nampak cemas setelah mendengar cerita Ailina.
"Iya Mom, ada apa?" Tanya Aftan.
"Dimana ibu Anita dan juga Naura?, Kemaren penjaga bercerita kalau mereka menyusul keberadaan Zafian" Reyna menjelaskan.
Disaat itu, muncul Evan dan juga Ethan, mereka langsung memeluk Reyna untuk melepas kangen.
"Ibu Anita dan Naura saya bawa ke Rumah Sakit, dan Naura sangat kritis saat ini" sahut Evan.
"Apa?!" Sahut Reyna.
What!" Sahut Aftan
Seketika Reyna terdiam tak percaya, membayangkan kedepannya, bagaimana seandainya Afita terbangun dan tau bahwa Naura tengah kritis di Rumah Sakit karena perbuatan Suaminya.
Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA ya.
Bersambung.