ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 84



Sudah terlanjur berada di ambang pintu, baik Afita maupun Naura tidak bisa lagi membalikkan badan untuk menghindar, apalagi ini adalah dunia bisnis, semua kontrak dan kerjasama yang telah disepakati harus di lakoni dengan profesional.


"Bre-ng-sek, mereka mau bermain-main denganku rupanya" batin Afita yang kini melanjutkan langkahnya dengan perlahan dan elegan.


Disusul oleh Naura yang mengikuti langkah Afita dengan memberanikan diri, walaupun sebenarnya begitu takut dan khawatir.


"Selamat datang Nyonya Afita Khaira, datang tepat lima menit sebelum pertemuan, lumayan, anda sangat tepat waktu menjalani pekerjaan" Ucap sosok laki-laki yang sudah tersenyum menji-jikkan bagi Afita.


"Tentu saja, maaf, saya tidak mengerti, bukankah anda tidak ada kaitannya dengan pertemuan ini Tuan Elonar?" Sahut Afita.


"Oh ya?, Disini nanti akan di jelaskan, seberapa besar kaitan saya dengan anda nyonya Afita" jawab Elonar.


Afita segera duduk, diikuti dengan Naura di sampingnya, Afita melihat dari ekor matanya bagaimana Naura tengah ketakutan hingga jari jemarinya bergetar.


Perlahan Afita menggenggam salah satu tangan Naura untuk menenangkan, Naura tersentak, terkejut menerima sentuhan lembut dan sangat membuatnya nyaman, tangan dinginnya perlahan menghangat, lalu Afita segera melepaskannya kembali.


"Baik, silahkan beri kami penjelasan" ucap Naura memberanikan diri, Afita tersenyum puas melihat apa yang dilakukan Naura dengan tegas.


"Kontrak kerjasama atas nama hotel yang anda tangani adalah milikku" ucap Elonar.


"Apa?!, Tapi itu tidak_"


"Tenanglah Naura, kita dengarkan dulu penjelasan Tuan Elonar, silahkan dilanjutkan" ucap Afita dengan tenang dan tatapan serius, walaupun sebenarnya hatinya bergemuruh ingin sekali memberi pelajaran kepada Elonar.


Naura terdiam, kembali berusaha tenang, tangan Afita menyentuh kembali tangannya memberikan kode untuk diam di tempat.


"Jadi, secara tidak langsung anda akan bekerjasama dengan ku dalam kepengurusan hotelku beberapa tahun ke depan, sesuai dengan kontrak yang sudah di sepakati" lanjut Elonar dengan rona kemenangan yang tampak jelas sekali.


"Tunggu, saya akan melihat kembali kontrak perjanjian kerjasama ini" ucap Afita, lalu membuka berkas yang di bawa dan membaca dengan teliti.


Sementara Naura semakin cemas, ikut membuka berkas salinan yang ada pada dirinya dan membaca dengan cermat.


"Oh sial, mereka benar-benar menipu_"


"Diam lah, tetap tenang Nau" sahut Afita lirih dan terus meneliti berkas perjanjian.


Afita menarik nafas dalam, memang benar di sana tidak tertulis nama Elonar Ricardo, tapi ada yang menguatkan bahwa seluruh keputusan akhir ada di pihak satu yaitu presiden direktur utama hotel yang bekerjasama.


"Bagaimana?" Tanya Elonar.


"Baik, kita bekerja dengan profesional"


"Tapi Nona_" sahut Naura terkejut dengan keputusan Afita, namun segera terdiam saat tatapan tajam Afita menembus manik matanya, seolah memberikan pesan agar diam ikuti alurnya.


Kembali Afita menutup berkas itu, lalu menatap Elonar yang tersenyum senang.


"Bagaimana Nyonya Afita, bisa saya lanjutkan, atau mungkin masih ada pertanyaan?" Ucap Elonar tersenyum sambil memainkan ballpoint yang berada di jari kanannya.


"Jangan terlalu banyak bicara, lanjutkan!" Sahut Afita.


Elonar masih dengan wajah kemenangan, mempersilahkan kedua anak buahnya yang sudah berhasil membuat kesepakatan untuk memberikan penjelasan langkah yang diinginkan kedepannya.


"Bagaimana menurut anda?" Tanya Elonar, kali ini dengan wajah serius, walaupun dihatinya merasakan getaran luar biasa ketika menatap Afita saat berbicara.


"Aku setuju, itu lebih baik, kerjasama ini akan menguntungkan kedua belah pihak dengan hasil yang adil, sesuai dengan kesepakatan diawal" sahut Afita yang berbicara dan berusaha menghindari kontak mata dengan Elonar.


Kini berganti dari pihak Afita menyampaikan ide dan keinginan dalam membangun hubungan kerjasama untuk memajukan bisnisnya, Naura yang ahli dalam memberikan semua kerangka kerja yang akan dilakukan, segera beraksi.


*


*


Sementara itu, Zafian yang juga baru datang meeting bersama para pegawainya, berjalan masuk keruangan dan duduk menyandarkan kepalanya di kursi sofa dan dirasa cukup nikmat untuk mengurangi rasa capek yang melanda.


Sejenak menutup matanya, lalu tersenyum mengingat kekacauan yang dibuatnya pagi tadi hingga membuat Afita menjerit nikmat walaupun berakhir protes berulang kali.


"Kenapa aku semakin merindukan mu" ucapnya lirih, lalu segera merogoh handphone yang ada di saku bajunya.


Baru saja Zafian akan menyentuhkan jarinya ke tombol huruf di handphonenya, disaat yang sama terlihat kode panggilan dari sebuah nama yang tak lain adalah sang dokter tampan yang kadang menyebalkan namun juga sahabat satu-satunya Zafian.


"Ck, iya ada apa?" Sahut Zafian.


"Wow, kamu PMS?" Sahut Firman


"Kalau tidak ada yg penting, aku tutup"


Klek.


Zafian langsung mematikan sambungan dengan cepat, tersenyum kembali akan melanjutkan niatnya menghubungi sang istri yang sangat dirindukan, Namun_


Ceklek


Suara pintu terbuka, dan seseorang tengah tersenyum lebar berjalan masuk begitu saja.


Terpaksa Zafian mengurungkan niatnya lagi, menarik nafas sedalam-dalamnya menyambut kehadiran sahabat luknatnya yang tidak nanggung-nanggung dalam mengganggunya.


"Hei, Ayolah.. aku merindukanmu Zaf"


"Ck, carilah wanita untuk kau jadikan kekasih, lama-lama tingkahmu mengkhawatirkan!" Sahut Zafian kesal dan melepaskan pelukan Firman dengan kasar.


"Hahaha, tenang, aku masih normal" sahut Firman yang kemudian duduk disamping Zafian.


"Ada apa?" Tanya Zafian.


"Merindukan mu"


Plak


"Sh-it!, Kau keterlaluan Zaf, pukulan mu sakit sekali!" Teriak Firman langsung ikutan emosi.


"Yang jelas kalau menjawab!" Zafian memperingatkan.


"Iya, ini aku mau minta lagi, bisa kamu pergi?!"


"Oh my God, Frontal sekali kata-katamu Zaf, Serius?" Ucap Firman menambah ke jengahan Zafian.


"Mau aku pukul lagi!" Sahut Zafian.


"Eit, No!, Jangan berani!" Lanjut Firman langsung pindah tempat duduk, lumayan jauh dari Zafian.


"Aku kesini mengabarkan sesuatu, sekalian juga berkunjung, lama kita tidak berbincang" Firman melanjutkan perbincangan.


"Ada apa?" Tanya Zafian kini sudah mood kembali.


"Aku beberapa kali melihat sekretaris istrimu berada di Rumah Sakit"


"Naura?, Dia sakit?" Tanya Zafian.


"Aku pikir awalnya juga begitu, tapi saat aku mengikutinya, rupanya dia mengunjungi seseorang"


"Siapa?" Tanya Zafian penasaran.


"Apa Istri mu tidak pernah cerita?" Tanya Firman balik.


"Tidak, mungkin belum" jawab Zafian.


"Ibunya sedang berada dalam perawatan di ruang khusus"


"Sakit apa?, Keadaannya serius?" Tanya Zafian lagi.


"Hem, sangat kritis, Kangker Tulang stadium Akhir, dan sudah menjalar ke seluruh organ penting di tubuhnya"


"Astagfirullah, apa mungkin Afita tidak tau?" Ucap lirih Zafian di tengah keterkejutannya, Firman pun ikut terdiam, merasakan prihatin juga akan sosok Naura, wanita yang selalu periang di tengah kabut kehidupan yang melanda.


*


*


Lama sekali pertemuan kali ini berlangsung, sedari pagi hingga pukul 11 siang semuanya baru terselesaikan, Afita segera bersiap pergi tanpa mbuang waktu lagi.


"Aku mengundang makan siang" ucap Elonar dengan cepat berada di depan langkah Afita.


Afita terkejut dan reflek menghentikan langkahnya, hingga Naura yang berada di belakangnya tak sempat menge rem dan menubruk tubuhnya.


Brug.


"Aw!, Kenapa Nona Afita berhenti mendadak?" Ucap Naura agak kesal juga.


"Ada yang menghalangi" sahut dingin Afita menatap tajam Elonar dengan kesal.


"Oh, maaf Nona" jawab Naura yang ikut mendongak dan melihat Elonar menghalangi jalan.


"Bagaimana?" Ucap Elonar lagi.


"Tidak perlu Tuan, kami masih banyak pekerjaan, permisi" ucap Afita begitu dingin dan menusuk.


Ada rasa sakit yang dirasakan Elonar saat mendapat perlakuan itu dari Afita, ingin sekali memaksakan kehendaknya seperti yang biasa dengan gampang dilakukan kesemua wanita yang harus melayani nya, namun tidak bisa dia lakukan terhadap Afita.


"Baiklah, aku harap lain kali bisa" sahut Elonar menyingkir.


"Jangan pernah berharap!" Ucap Afita sambil melangkah tanpa menoleh sedikitpun ke Elonar.


Berada di dalam mobil, tampak sekali Afita masih tidak enak hati, kesal bercampur marah saat harus dengan rela, melanjutkan kontrak kerjasama.


"Kenapa nona tidak batalkan saja kontrak kerjasama nya?" ucap Naura.


"Apa kau tidak lihat, ganti rugi yang tertera di sana saat memutuskan kontrak sepihak, nilai nya tidak main-main!" Sahut Afita makin kesal.


"Maaf Nona" sahut Naura sambil sesekali melihat handphone dengan wajah khawatir nya.


Melihat hal itu, Afita makin murka.


"Bisa tidak saat berbicara penting, kamu itu fokus, lihat, semua ini juga terjadi karen kamu teledor!" Suara Afita agak meninggi, sontak Naura kaget dan memasukkan kembali handphone nya.


"Iya Nona, maaf kan saya"


"Semuanya sudah terjadi, tidak bisa diperbaiki dengan kata maaf saja, kamu pikir mudah mencari uang dua milyar kalau kita membayar ganti rugi?!" Ucap Afita masih merasa kesal.


Naura terdiam, menunduk dan air matanya tidak bisa di bendung lagi, Afita membiarkan saja karena tidak tau kalau ada tangis tengah pecah disana, hingga lama-lama menyadari sesuatu saat tubuh Naura makin terguncang dalam tangisnya.


"Oh my God, kenapa kamu menangis Nau, kan sudah biasa aku begini?" Akhirnya Afita berusaha untuk menenangkan Naura kembali.


Mobil pun berhenti, Naura keluar masih dengan menangis.


"Nau, Tunggu, ada apa?!" Teriak Afita terkejut dan ikut keluar mengejar Naura.


"Nona bisa memecat saya, saya memang salah, tidak fokus dan membuat kerugian besar, saya iklhas!" Ucap Naura.


"Apa?, Kau itu ngomong apa, siapa yang akan memecat mu, aku hanya menjelaskan saja, dan itu wajar, biasanya aku lebih galak dan kasar dari ini kamu biasa saja, lalu ini apa?!" Tanya Afita yang makin tak mengerti.


"Saya tidak fokus, karena saya capek Nona, waktu saya harus terbagi, Ibu terbaring di rumah sakit tinggal menunggu ajalnya" ucap Naura langsung ambruk terduduk dipinggiran jalan, seolah tidak kuat menahan beban hidupnya.


Sabar Naura.. Sesabar pembaca yang makin penasaran dengan cerita Author selanjutnya.


Dan sesabar Author yang menunggu dukungan dari pembaca..hehe


Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA ya.. Terimakasih.


Bersambung.