ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 117



Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang melaju, nampak pemilik perusahaan Reno Trijaya sedang menanyakan sesuatu kepada sopir pribadinya.


"Apa kau tau wanita itu?" Tanya Reno.


"Maaf pak, maksudnya Nona Fita?" Pertanyaan balik dari sopirnya.


"Hem"


"Oh kenal pak, Nona Afita itu orangnya baik, sudah hampir enam bulan kerja di perusahaan kita" jawabnya.


"Lalu?" sahut Reno.


Pertanyaan yang membuat sang sopir bingung dan terdiam sejenak. "Maaf pak, maksudnya gimana?" tanya sopir pribadinya.


"Maksudku siapa dia, tinggal dimana, kamu tau?" Tanya Reno.


"Oh maaf pak, kalau itu, ibu Tiwi mungkin yang tau" jawab sang sopir tak ingin mengira-ngira menjawab pertanyaan Bos nya.


Sementara orang yang di bicarakan oleh mereka kini juga sedang dalam perjalanan ke perusahaan yang tentu saja untuk bersiap membereskan hasil rapat hari ini, lalu pulang.


Sampai di perusahaan, tentunya dengan sang bos yang lebih dulu beberapa menit, kini keduanya segera memasuki perusahaan, menuju ruang kerjanya dan kemudian masuk ke ruangan kerja masing-masing.


"Apa kalian melanjutkan pekerjaan?" Suara Reno terdengar, sontak Bu Tiwi langsung berdiri untuk menyambut, jarang-jarang bos nya itu masuk menyapa ke ruangannya.


"Iya Pak, sebentar lagi selesai, hanya memasukkan data penting di pertemuan tadi, biar tidak lupa" jawab Bu Tiwi dengan ucapan yang di tata sopan sedemikian rupa.


"Hem" jawab Reno tampak mengedarkan pandangan dan menangkap sosok Afita yang nampak serius di ruangan sebelah.


"Dia juga menemani mu?" Tanya Reno masih menatap Afita dari kaca yang samar menembus bayangan Afita yang berada di dalam sana.


"Iya pak, kami akan pulang bersama nanti" sahut Bu Tiwi yang hatinya ketar ketir saat melihat sepertinya sang Bos kini memperhatikan Afita, maklum bekerja bertahun-tahun di perusahaan, tentu saja Bu Tiwi sangat tau sepak terjangnya Reno di dunia perempuan.


"Jadi kamu _" Reno segera menghentikan pertanyaannya saat melihat Afita berdiri dan bersiap berjalan keluar ruangan.


Reno segera beranjak, berjalan begitu saja melewati Afita dengan tatapan lurus tanpa menyapa.


"Sore pak?" Afita menyapa sambil menunduk, beberapa detik kemudian, rasanya menyesal sekali kenapa dirinya harus menyapa sang bosnya yang nampak begitu sombong.


"Menyebalkan, dingin sekali, aneh" ucap Afita lalu melanjutkan langkahnya kembali


"Saya sudah selesai Bu, bisa kita pulang sekarang?"


"Oh iya, tentu saja" jawab Bu Tiwi dengan senang hati.


*


*


Tak lama Afita sudah berada di halam Rumah sederhana tapi masih lumayan luas, turun dari sebuah mobil kendaraan umum, Afita tersenyum menikmati dan segera melebarkan langkahnya, wajah sang putra tercinta Afian Nugraha Al faradz sudah memenuhi angannya.


Setelah mengucap salam, teriakan dari sang anak saat menyambutnya pun terdengar, diikuti senyuman lebar dari Naura diatas kursi rodanya yang kini mengikuti langkah Fian dari belakang.


"Hati-hati Fian!" Seru Naura berusaha terus mendekati.


Afita ikut melebarkan langkahnya menyambut kedatangan sang putra tercinta yang kini berakhir dalam pelukan.


"Mommy sangat merindukan mu sayang" ucap Afita.


"Fian juga Mommy" ucap anak kecil itu tampak lucu terdengar karena belum begitu sempurna mengucapkannya.


Naura tersenyum bahagia melihat keduanya kini berpelukan lalu tertawa.


"Sebaiknya kakak mandi dulu, ini sudah hampir petang" ucap Naura.


"Okey, jaga Fian dulu ya Nau" ucap Afita menitipkan anaknya.


Afita segera melangkah ke dalam rumah diikuti olah Naura dan juga Fian, namun menuju ke tempat mereka masing-masing, Naura ke kamar mandi, sedangkan Naura dan Fian ada di ruang tengah yang tidak begitu luas.


Tak lama kemudian mereka berkumpul kembali, disaat itulah Naura teringat akan pesan yang disampaikan oleh Raka.


"Oh iya kak, paman tadi telpon" ucap Naura.


"Oh ya, ada hal penting?" Tanya Afita.


"Hem, syukurlah, Fian juga pasti sangat merindukannya, bukan begitu sayang?" Ucap Afita sambil menarik Fian yang sedang asik bermain, dan kini jatuh dalam pelukan.


"Asik, kakek akan datang!" teriaknya girang.


"Fian gak boleh nakal ya?" ucap Afita.


Fian mengangguk patuh dengan senyum yang makin menambah ketampanannya nampak sempurna.


"Dia mirip dengan Daddy-nya ya" ucap Naura tiba-tiba saat Fian sudah berlari menjauh untuk mengambil mainannya.


Afita tersentak, memandang Naura sesaat dan hanya tersenyum hambar.


"Sebaiknya tidak usah membicarakan hal yang tidak penting" ucap Afita yang kini segera beranjak ke dapur yang letaknya hanya bersebelahan.


"Selalu saja menghindar" batin Naura dan masih terdiam, ingin melihat respon yang berbeda, namun rupanya percuma saja.


Afita tampak mulai mengambil beberapa sayuran untuk dimasak, seperti biasanya, hal itu dilakukan untuk menyiapkan makan malam, Naura akhirnya tidak melanjutkan perkataannya dan kini mendekat untuk membantu dengan tetap berada di atas kursi roda.


Tangannya mungkin bekerja untuk hidangan makan malam, tapi tidak dengan pikirannya, Afita teringat akan sesuatu di masa lalu.


FLASHBACK ON.


Saat itu Afita merasa sangat haus, setelah lelahnya tertidur dari peristirahatan yang panjang dimana dirinya harus berakhir berbaring di Rumah sakit dengan permasalahan berat di pundaknya.


Diliriknya sang Mommy tertidur di sofa sebelah tempat tidurnya, hingga tidak tega untuk membangunkan dan meminta tolong untuk mengambil botol air minum yang ternyata sudah kosong.


Niat hati ingin mengisi air dengan melangkahkan kaki berjalan mencari petugas yang berjaga, langkah Afita terhenti di saat pembicaraan bisa di dengar olehnya tanpa sengaja.


"Jadi kekuatan Janin itu tidak bisa di hilangkan sepenuhnya Be?" Ucap laki-laki yang tak lain adalah Edward.


"Itu adalah kekuatan Warisan dari darah keturunan Zafian, tidak bisa aku menghilangkannya begitu saja, dan seperti yang aku duga, kekuatannya unik, mereka saling terkait satu sama lain"


"Maksudnya dengan Zafian?" Tanya Edward dengan nada terkejutnya.


"Hem, kekuatan anak itu kembali aktif dan akan semakin kuat saat ada pemicunya"


"Dan itu adalah keberadaan Zafian di dekatnya, bukan begitu?" Tanya Edward menduga dengan pasti.


Alena mengangguk, saat Afita melihat dari tempat yang tersembunyi, nampak sekali wajah cemas Aunty-nya, begitu juga dengan Edward yang nampak memijit kepalanya.


"Lalu?" Ucap lirih Edward.


"Kekuatan itu membahayakan sang Janin dan bahkan Afita jika terus berdekatan dengan Zafian" Alena melanjutkan.


"Astagfirullah, tidak adakah jalan lain Bee?" Tanya Edward.


"Sampai sekarang aku belum bisa menemukan caranya" jawab Alena.


"Aku tidak sanggup melihat mereka harus terpisah, tapi di sisi lain ada nyawa yang harus mereka pilih untuk di selamatkan" sahut Edward.


"Aku tau, dan sungguh aku tidak bisa mengungkapkan semua ini ke Afita, apalagi dia mengandung anak pertamanya, dan sekarang harus memilih jalan yang sulit, menyelamatkan nyawa anaknya dengan berpisah dengan Zafian, atau dia harus rela kehilangan Janinnya" ucap Alena.


DEG.


Afita yang bisa mendengar dengan jelas, langsung terhuyung ke belakang, beruntung ada tembok yang bisa untuk berpegangan hingga tidak membuat dirinya terjatuh.


Sungguh kenyataan pahit yang harus diterima dan di pilih, Afita berusaha untuk mengontrol emosinya, dan kembali masuk ke dalam kamar mengurungkan niatnya.


"Ada apa?" Rupanya Reyna sudah terbangun, menatap aneh wajah Afita yang terlihat sendu.


Afita segera tersenyum, merubah raut wajahnya seakan tidak ada sesuatu yang terjadi, lalu Reyna melihat botol air dalam tangan Afita dan mengambilnya.


"Biar Mommy yang mengambilkan, kenapa tidak membangunkan?" Ucap Reyna uang kini sudah bergegas berjalan keluar kamar.


FLASHBACK OFF.


Yuk mana Komennya?, Dan jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.


.