
Seorang wanita kini masih tetap memberikan pertolongan sementara ke Zafian, tampak mata birunya kini kembali berbinar terang saat tenaga dalam cukup serius tengah dikeluarkan, sang pengawal dan beberapa orang pegawai yang sudah berdatangan bahkan seperti terbius akan kecantikannya yang luar biasa.
"Terimakasih kau sudah datang Ai" Afita mengusap punggung Ailina, sesaat kemudian keduanya Saling berpelukan.
"Sedikit lagi semua akan terlambat kak, sudah aku perkuat fungsi jantungnya untuk sementara, kita masih tetap membutuhkan perawatan medis sebagai penunjangnya kak" siapa lagi kalau bukan Ailina Eagle Nugraha yang kini telah datang dengan kekuatan penyembuh yang luar biasa dan juga Mata Birunya.
"Baiklah, Ambulan khusus sebentar lagi akan datang" sahut Afita lalu memerintahkan sang pengawal untuk mensterilkan tempat.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum aku menjadi tontonan pegawai di sini" ucap Ailina.
"Itu karena pesona dan kecantikan mu yang langka, aku bahkan sangat iri dengan mata biru mu Ai, sangat indah" sahut Afita sambil tersenyum.
Ailina Membalas senyuman itu, dan tak lama kemudian apa yang ditunggu telah datang, dengan cepat Zafian segera di pindahkan, detik berikutnya sudah di larikan ke Rumah Sakit bersama dengan Afita dan Ailina.
"Jangan ada yang mengambil gambar atau apapun dari kejadian ini, atau Nona Afita akan memberikan sangsi dan tuntutan yang berat!" Teriak sang pengawal yang kini sedang membereskan kekacauan yang terjadi di kantor Zafian.
Tentu saja tidak ada yang berani melanggar peringatan yang di berikan, mengingat bekerja di perusahan Zafian adalah impian semua pegawai yang menginginkan kesejahteraan gaji karyawan.
*
*
Sementara itu, dalam sebuah Mansion, nampak seorang laki-laki tengah duduk terdiam.
"Mengejutkan, rupanya kekuatan tenaga dalam wanita itu begitu dahsyat , tidak mungkin dia dari keluarga yang biasa-biasa saja" batin Elonar yang kini jari jemari nya menjelajahi dunia Maya dengan laptop yang tergeletak di atas meja.
"Sial!, Kenapa data Afita Khaira begitu susah untuk aku akses" gumam Elonar masih terus berusaha.
Elonar masih terus menggerakkan jari, hingga akhirnya dirinya menemukan sedikit data tentang Afita, data yang didapatnya berisi beberapa informasi tentang Afita.
"Bre-ng-sek!, Hanya ini saja, Sial-an!" Umpat Elonar segera menghentikan, siapa sebenar wanita ini?" Gumam Elonar kembali.
Tak lama kemudian, sang adik perempuan datang, menyapa dan mendekatinya.
"Apa kak Elo mendengar berita?" Tanya Eliza yang sudah duduk didepan Elonar.
"Apa?" Tanya Elonar memastikan.
"Zafian, aku dengar, sekarang dia dalam keadaan Coma di rumah sakit, benarkah?" Tanya Eliza.
"Hem" jawab Elonar masih terus menatap layar laptopnya.
"Kakak yang melakukanya?" tanya Eliza.
"Apa perlu aku jelaskan lagi?" Sahut Elonar.
"Kenapa harus Zafian kak?, Kenapa tidak wanita itu saja?!" Protes Eliza.
"Jangan sentuh wanita itu, hanya aku yang boleh menghadapi nya, kau mengerti!" Ucap Elonar yang tiba-tiba saja berubah seolah tidak terima dengan perkataan Adiknya.
"Ck, ada apa denganmu kak, dia hanya musuh bagi keluarga kita" sahut Eliza yang kini manyun di hadapan kakaknya.
"Aku bilang jangan ikut campur, turuti saja perintahku, atau kau akan menyesalinya nanti" ucap Elonar merubah tatapannya begitu mengerikan dimata Eliza.
"Sebaiknya aku keluar dulu kak, disini sangat panas!" Sindir Eliza yang kini sudah melangkah keluar ruangan dengan segera.
*
*
Telah berada di ruang perawatan Rumah Sakit kini Zafian berada, dengan beberapa selang yang terpasang di tubuhnya membuat Afita merasakan nyeri yang menghimpit dadanya.
"Tenanglah kak, semua akan baik-baik saja, bersabarlah, maaf aku datang agak terlambat" ucap Ailina memeluk Afita kembali.
"Aku tidak tau lagi Ai, seandainya kamu tidak datang, pasti Zafian akan_"
"Sstt.. sudahlah, kita bersyukur kak Zafian masih bisa di selamatkan, jangan berpikiran negatif, nanti akan membuat kak Afita bertambah panik, kita akan bergantian memberikan batuan tenaga dalam penyembuh untuk suami kakak" ucap Ailina.
"Iya Ai, dan kekuatanmu, semakin luar biasa, aku hampir saja tak percaya, kau sangat kuat saat ini, kakak bisa merasakannya"
"Dan Daddy masih menyegel sebagian kekuatanku" sahut Ailina sedikit manyun.
Afita tersenyum, wajah ayu nan aneh adik sepupunya itu bertambah lucu dan mempesona.
"Sabar Ai, mungkin Daddy mu tau , kalau kekuatanmu masih sangat membahayakan dirimu dan orang lain, tubuhmu masih belum bisa mengontrol nya kalau kekuatan itu di tampakkan semuanya" Afita menghibur Ailina.
"Hem, tidak apa-apa kak, aku santai saja, pada waktunya nanti aku akan sepenuhnya bisa menggunakannya, terutama untuk menjaga keluarga Nugraha, begitu bukan?"
Afita tersenyum, mengangguk lalu menatap nanar Zafian yang berada di ruang ICU dan masih belum ada yang boleh untuk menganggu.
"Kuatkan dirimu sayang, kamu pasti akan segera sembuh, ada kami disini"ucapnya lirih Afita, namun masih bisa didengar oleh Ailina.
Ailina menggenggam tangan Afita, memberikan support agar sang kakak kuat menghadapi cobaan yang sedang diberikan.
Tak lama kemudian, datanglah Anita dengan sedikit berlari dan air mata yang sudah membasahi pipi.
"Afita, apa yang terjadi dengan Zafian sayang?" Tanya Anita tampak begitu panik dan tak tenang.
"Bunda, tenanglah, Zafian sudah diatasi dengan baik, hanya sementara tidak boleh ditemui dahulu, masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut" ucap Afita sambil memegang tangan Anita untuk menenangkan.
"Iya Bunda, kami akan membantu Zafian, pasti akan segera sembuh, bunda yang sabar ya" ucap Afita lagi.
Anita merasa sedikit lega dengan apa yang dikatakan oleh Afita, duduk di kursi yang disediakan, lalu segera menyeka air matanya yang masih menggenang.
Sesaat kemudian Anita tersadar akan kehadiran seseorang yang masih asing baginya.
"Siapa gadis cantik yang ada di sampingmu sayang?" Tanya Anita lirih, setelah melirik dan terpana akan sosok Ailina.
"Perkenalkan Bunda, saya Ailina, adik sepupu dari Kak Afita" ucap Ailina membuat Anita sangat terkejut, tidak menyangka ucapannya yang begitu lirih masih terdengar, keduanya lalu berjabat tangan, dan Ailina segera memeluk Anita yang tengah terkejut dibuatnya.
"Oh, jadi, Nona Ailina dari keluarga Nugraha?" Tanya Anita dengan sopan.
"Panggil Ailina saja Bunda, saya salah satu si kembar dari adik kandung Daddy Alex" jawab Ailina.
"Oh iya-iya, maaf, Bunda masih belum bisa mengenal kalian, karena masih belum pernah berjumpa" ucapnya.
Ailina tersenyum saat terlihat bagaimana Anita tampak takjub dan mencuri pandang mengamati wajahnya.
"Dari semua saudara, hanya Ailina yang mewarisi mata dari almarhum nenek buyut kita, itu kenapa Ailina tampak begitu berbeda Bunda" Afita menjelaskan.
"Dan kak Afita sangat iri akan hal itu Bunda" sahut Ailina, disambut dengan cubitan kecil dari Afita.
Anita tersenyum melihat itu semua, juga menyadari pasti seorang Ailina bukan wanita biasa, sama seperti menantunya.
Beberapa saat kemudian, terdengar Dokter kembali keluar dan memanggil keluarga Zafian, sontak Afita berlari maju.
"Iya dokter, saya isterinya" ucap Afita.
"Keadaan Tuan Zafian begitu cepat membaik"
"Alhamdulillah, berarti perkembangannya sangat bagus kan dokter?" Tanya Afita.
"Iya, dan bahkan kami juga sangat terkejut, tapi Alhamdulillah, ini kabar yang sangat membahagiakan" ucap salah satu Tim dokter yang sedang memberikan penjelasan.
Anita memegangi dadanya, mendengar apa yang dikatakan dokter membuat hatinya begitu lega. "Alhamdulillah " ucapnya lirih.
"Jadi kami sudah boleh masuk bukan?" Tanya Afita kemudian.
"Tentu saja Nyonya Zafian, tapi hanya diperkenankan bergantian, mengingat ini adalah ICU ruang perawatan khusus bagi pasien nya" jawab sang dokter.
"Baiklah, terimakasih atas bantuan dan informasinya dokter" ucap Afita.
Dokter itupun tersenyum mengangguk, lalu menatap spontan ke arah Ailina, terpaku sejenak, lalu kembali masuk melakukan tugasnya.
"Aku sebaiknya memakai Kontak lensa saja" gumam Ailina yang masih terdengar Oleh Afita dan membuatnya tersenyum akan dirinya.
"Kau selalu menghanyutkan pandangan semua kaum Adam" sahut Afita.
"Ck, dan itu sukses membuatku risih dan pusing kak" jawab Ailina, disambut dengan senyuman kecil dan lembut Afita.
Afita segera mengantar Anita masuk ke dalam untuk melihat keadaan zafian, Anita Tertegun melihat keadaan anaknya, tak kuasa menitikkan air matanya kembali, Afita memeluk Anita untuk menenangkannya.
"Maaf, Bunda tidak tega, bisa kita keluar?" Ucap lirih Anita yang masih tak kuasa melihat keadaan Anaknya.
Keduanya kini kembali keluar, disambut dengan Ailina yang bersiap berganti masuk kembali.
"Kamu akan menemui Zafian lagi?" Tanya Afita.
"Hem, Aku akan melakukannya lagi" Ucap Ailina.
"Jangan terlalu memforsir tenaga mu Ai, sebaiknya istirahat dulu" shut Afita.
"Tenanglah kak, ada sesuatu yang ingin aku pastikan juga" jawab Ailina.
"Maksud nya?" Tanya Afita terkejut dengan ucapan Ailina.
"Nanti kak Afita juga akan tau, aku masuk dulu" Ailina meminta izin.
"Apa?, Eh, Ai!" Afita memanggil Ailina sedikit keras saat ditinggal masuk begitu saja.
Lalu kemudian terlihat Ailina menempelkan tangannya di dada Zafian lagi, tampak sinar putih keluar dari telapak tangannya, Anita sangat terkejut saat tubuh Anaknya merespon apa yang tengah dilakukan oleh Ailina.
"Tenanglah Bun, itu hanya proses penyembuhan Zafian yang tengah dilakukan oleh Ailina" ucap Afita.
Anita nampak mengerti dan masih terus menatap Anaknya dari kaca besar bersama dangan Afita.
Sesaat kemudian, Ailina keluar kembali, tersenyum penuh maksa, sorot mata yang menampakkan suatu rahasia.
"Kakak akan terkejut saat kak Zafian sembuh nanti" ucap Ailina.
"Maksudnya?"
"Itu kejutan, dan sepertinya Bunda sudah tau hal ini bukan?" tanya Ailina menelisik.
Apalagi yang dirahasiakan Ailina si mata biru?, Makin penasaran?, Jangan lupa kasih hadiah yang banyak ya...
VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, Tonton IKLANNYA.