ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
161. Firman_Naura 15



"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Firman sedikit cemas.


Sementara Naura hanya meringis kesakitan menggosok sebelah lengannya yang masih sedikit nyeri.


"Lain kali bercanda nya jangan keterlaluan Dokter, bisa keluar dulu?, Aku mau mandi" usir Naura yang sedari tadi di buat harinya tak tenang akan tingkah absurt dari seorang dokter yang ada di dekatnya.


Firman tersenyum, lalu segera keluar dari kamar untuk memberikan kesempatan pada Naura membersihkan badannya sendiri.


*


*


Tak terasa dua hari telah berlalu, dan sesuai prediksi, luka Naura bisa di katakan sudah mulai sembuh dan mengering.


"Aku akan pulang sekarang bukan?" Tanya Naura.


"Tentu saja, sesuai janjiku?" jawab Firman.


"Hem, dokter Firman memang hebat" jawab Naura memberikan pujian karena begitu senang hari-harinya tidak akan bersama dengan Firman lagi.


Rupanya ketiga sahabatnya juga masih mengingat apa yang diucapkannya kemarin, hingga ketiganya kini sudah berada di Apartemen untuk ikut mengantarkan Naura pulang.


"Kita akan bersama-sama mengantarkan mu Naura" ucap Leon


"Hem, tentu saja, terimakasih" ucap Naura.


"Apa kamu lupa siapa yang akan mengantarkan mu hari ini?" Sahut suara seseorang yang mengagetkan Naura dan Leon.


"Kita kan bisa berangkat bersama Dokter" protes Naura.


"Kita semua mempunyai hubungan yang sama dengan Naura, Dokter Firman" ucap Mark tak mau kalah.


"Sama-sama hanya seorang teman" sahut Leon membuat semakin panas.


"Jangan memulai persengketaan lagi, aku akan pulang dan tolong jaga kata-kata kalian" Naura memperingatkan.


Tampak sekali Mark dan juga Leon begitu tak senang dengan adanya Firman di sisi Naura saat ini, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.


Lalu semuanya turun meninggalkan Apartemen, berjalan menuju ke parkiran mobil, hampir saja tiba di mobil Firman, tiba-tiba saja Naura menghentikan langkahnya" maaf Dokter, Tas ku ketinggalan" ucap Naura tak enak hati.


"Ini?" Jawab Firman sambil menunjukkan barangnya.


"Terimakasih Dokter" ucap Naura saat melihat tasnya yang ternyata sudah di bawakan oleh Firman.


"Lain kali jangan ceroboh" Firman mengingatkan.


Firman segera menggandeng Naura di depan semua sahabatnya, seolah menunjukkan hanya dia yang boleh mendekati Naura, tentu saja hal itu membuat Leon dan Mark tidak memiliki kesempatan.


Naura menggigit bibirnya sambil terus berjalan, merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan Firman di depan teman-temannya.


Firman melihat hal itu dan segera menegurnya, "bibir mu!" Ucap Firman mengingatkan.


Naura berhenti menggigit bibirnya, lalu sedikit menunduk takut teman-temannya akan mendengar ucapan dari Firman untuk dirinya.


Naura mulai menyerah dengan sikap Firman yang memang keras kepala, sementara baik Mark dan Leon merasa aneh melihat sikap keduanya.


"Okey Nau, kita akan langsung berpisah saja nanti, dan semoga kamu cepat kembali sehat seperti semula okey?" Ucap Leon menatap penuh kasih ke arah Naura.


"Kita akan sering berjumpa lagi nanti, aku suka caramu memberiku tips untuk kemajuan perusahaan ku, bye!?" Ucap Mark juga menampilkan senyum terindahnya untuk Naura.


Kini Firman sudah menarik Naura untuk masuk ke dalam mobil dan segera pergi, sementara Lian yang juga membawa mobil sendiri ikut pamit untuk pulang.


"Mereka selalu bersikap seperti itu?" Tanya Firman.


"Ya, mereka teman-teman seperjuangan saat berada di kampus, kami saling menguatkan satu sama lainnya, hal itulah yang membuat kami begitu dekat" jawab Naura.


"Apa kamu sadar kalau kedua teman laki-laki mu itu menyukaimu?" Tanya Firman lagi.


"Iya, mereka berdua pernah menyatakan perasaannya" jawab Naura seketika membuat Firman mengerem dan menghentikan mobilnya.


"Lalu?" Ucap Firman dengan nada sedikit kesal.


"Tidak ada lalu, kami hanya berteman saja tidak lebih, aku juga sudah menjelaskan semuanya" jawab Naura.


"Maksudnya?" Naura balik bertanya.


Kamu suka sekali membuat pria di sekelilingmu merasa nyaman dan menyukaimu, lalu kamu dengan entengnya mengatakan kalau hanya ingin berteman" jawab Firman.


"Apa?, Kamu pikir aku sengaja melakukan hal itu?" Naura nampak terkejut dan kini menatap tajam ke arah mata Firman yang melanjutkan laju mobilnya.


"Hanya kamu yang tau" ucap Firman.


"Kamu pikir aku wanita yang sengaja menarik perhatian lawan jenis untuk tebar pesona dan kemudian mencampakkan mereka?!" Ucap Naura lagi.


Firman kini terdiam, tak menjawab sepatah kata pun, Naura begitu terluka dengan pertanyaan Firman hingga tanpa terasa air matanya mulai menggenang.


Naura kini mati-matian menahan air matanya agar tidak menetes didepan Firman, karena itu akan menurunkan harga dirinya, hingga akhirnya tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari ponselnya.


"Siapa?" Ucap Firman, setelah melihat Naura segera mematikan ponselnya kembali.


"Aku rasa itu bukan urusanmu" jawab Naura masih kesal.


"Ingatlah, sebelum kamu aku kembalikan ke Afita, kamu masih menjadi tanggung jawabku" ucap Firman.


"Tidak usah repot-repot melakukan hal itu" jawab Naura.


Naura merasa apa yang dilakukan saat ini tidak akan merubah keadaan apapun, hingga kemudian dirinya menceritakan bahwa panggilan yang baru saja berada di ponselnya berasal dari kepo-lisian setempat.


"Serahkan hal itu padaku, biar aku yang menyelesaikan" ucap Firman.


"Hem, terima kasih, maaf selalu merepotkanmu"


"Aku tidak keberatan akan hal itu" sahut firman dan melanjutkan perjalanannya kembali.


Mengingat urusan kecelakaan tunggal yang terjadi dengan Naura harus diselesaikan hari ini, Firman segera menghubungi zafian dan memberitahukan bahwa kedatangannya ke Mansion untuk mengantar Naura terpaksa terlambat.


Tak membutuhkan waktu yang lama semua urusan hukum yang menyangkut kecelakaan tunggal telah terselesaikan dengan baik, kini Naura bisa bernafas dengan lega begitu juga dengan Firman.


"Oh my_, apa kau baik-baik saja Naura?" Tanya Afita saat Naura sudah sampai di pintu dan segera memeluknya.


"Aku baik-baik saja kak, maaf sudah membuat kalian cemas" jawab Naura.


Afita melepaskan pelukannya kemudian melihat ke arah Firman dan membawa keduanya masuk ke dalam Mansion.


"Di mana Zafian?" Tanya Firman.


"Dia sudah menunggumu di taman belakang, kamu bisa langsung ke sana" jawab Afita.


Tiba di Mension tepat jam 2 siang, tentu saja Afita menunggu kedatangan keduanya dan segera mengajaknya untuk makan siang bersama.


Fian yang baru saja melihat kedatangan aunty-nya, berteriak histeris karena merasa begitu senang.


"Hati-hati Fian, Aunty masih terluka, jangan sampai membuat lukanya bertambah parah" Afita memperingatkan Fian saat bocah kecil itu meloncat begitu saja dalam gendongan Naura.


"Tidak apa-apa Kak, aku sangat merindukan Fian" sahut Naura.


"Kau harus tetap berhati-hati dengan lukamu sampai benar-benar sembuh Naura" Afita memperingatkan.


"Keadaan luka Naura sudah sangat baik, Aku harap untuk perawatan selanjutnya bisa kalian awasi, tahu sendiri kan bagaimana Naura?" Terdengar suara yang tiba-tiba saja berasal dari belakang Naura yang tak lain adalah Firman.


"Ck, Aku bukan anak kecil lagi dokter Firman" jawab Naura seolah tidak terima.


Afia dan Zafian yang melihat interaksi keduanya hanya saling pandang dan tersenyum.


"Sepertinya ada kemajuan" bisik Zafian ke istri tercintanya.


"Aku harap begitu" jawab lirih Afita sambil tersenyum.


"Apa Kalian sedang membicarakanku?" Firman yang curiga akan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri itu segera beranjak dan mendekat.


"Aku hanya berharap yang terbaik Fir" ucap Zafian sambil tersenyum mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan bermain mata dengannya, kau membuatku cemburu sayang" ucap Afita konyol dan membuat semua orang langsung tertawa.