ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 126



Sebuah Nama terpampang dengan nyata, di baca lebih dari satu kali oleh Firman untuk memastikan.


"Naura Hamzah, dan tanggal lahir yang sama, benarkah ini Naura, tapi kenapa wajahnya berbeda?" Pertanyaan dalam hati Firman saat satu persatu membuka lembaran arsip yang ada di sana.


Dalam kebimbangan Firman masih terdiam, memejamkan mata, teringat kembali bagaimana Naura terluka cukup hebat karena sebuah insiden yang tidak di sangka, lalu Firman pun teringat kalau luka bakar di wajah Afita memang perlu di lakukan perbaikan.


"My God, mungkinkah Naura sudah _"


"Apa Dokter Firman mengenalnya?" Ucap salah satu dokter yang juga berjaga di ruang Terapi.


Sontak Firman tersentak, lalu Kemudian menutup kembali Arsip yang ada di tangannya, "Oh tidak, saya hanya merasa pernah mengenal suaranya" jawab Firman merasa tidak enak dan mengembalikan Arsip yang tadi di minta.


*


*


Raka tengah bermain dengan Fian, melihat kedatangan Afita dan Naura, keduanya segera beranjak menghampiri.


"Aunty sudah selesai?" Tanya Fian dengan nada yang lucu.


"Sudah sayang, yok kita jalan lagi" ucap Naura.


Fian tersenyum senang, berteriak kegirangan saat Raja juga mengatakan kalau ingin ke mall membelikan Fian sesuatu.


Afita hanya tersenyum, lalu semuanya beranjak dari sana menuju mobil yang terparkir, untuk kemudian melaju kembali di jalanan menuju ke Mall yang ada di kota itu.


Hari yang menyenangkan tentu saja bagi Fian, anak itu bahkan tidak berhenti mengunyah jajanan sehat yang di belikan oleh Raka, hingga berakhir di sebuah Restoran untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.


Menu sudah datang, semua tampak ceria, hingga kemudian Afita teringat sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Raka.


"Sepertinya kunci mobilku tertinggal di toko mainan yang terakhir kita datangi Paman" ucap Afita sambil mengacak-acak tas nya.


"Kau ini, sembrono sekali, biar aku yang_"


"Tidak usah Paman, biar aku saja" sahut Afita yang sudah berdiri dengan cepat sebelum Raka mendahului nya.


Afita sudah melesat pergi, menuju pintu lif dan memencet tombol menuju lantai tiga, lumayan berdesakan di dalam sana, mengingat ramainya pengunjung mall di jam-jam seperti ini.


Pintu terbuka dan Afita siap melangkah, namun kakinya terasa tak bisa di gerakkan saat seorang laki-laki kini tepat berdiri lurus di depannya.


DEG.


Keduanya saling terdiam, dunia teras berhenti berputar, bahkan Afita merasa semakin susah untuk bernafas, perasaan yang bercampur aduk tak tau harus bagaimana.


"AFITA" ucapan lirih terdengar.


Afita segera mundur, memencet tombol lif agar secepatnya tertutup kembali, namun gerakannya terlambat, karena seseorang yang ingin di hindarinya sudah melesat masuk ke dalam dengan cepat.


"Apa yang kamu lakukan!" Ucap Afita mundur hingga tubuhnya membentur dinding lif.


"Inikah caramu bicara dengan Suamimu?" Ucap Zafian semakin mendekatkan dirinya.


"Berhenti Zaf, tolong, jangan mendekat lagi!" Ucap Afita yang semakin tidak bisa mengendalikan detak jantungnya.


"Kau kira aku akan menurutimu, bahkan saat ini, aku tidak akan melepaskan mu dan ikut aku untuk menjelaskan semuanya!" Teriak Zafian begitu marah melihat sikap Afita yang tidak di sangka justru ingin menghindarinya.


Lif terbuka, dan kini Afita segera berlari keluar, Zafian tak kalah cepat segera menyusul, rupanya kini mereka berada di balkon atas gedung mall yang tentu saja tak ada seorang pun di sana saat ini.


Sudah tak sabar lagi, Zafian segera menyusul langkah Afita, lalu menarik tangannya hingga Afita meronta untuk di lepaskan.


"Katakan padaku, kenapa kau melakukan semua ini Afita!" Teriak Zafian yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


Afita masih terdiam, bingung harus mengatakan apa untuk saat ini, mungkinkah Zafian akan mengerti kalau saja alasan yang di berikan adalah untuk keselamatan putranya sendiri.


"Aku hanya ingin kau menjauh dariku, itu saja" ucap Afita, lalu segera melepaskan genggaman tangan Zafian dan berjalan menuju lif kembali.


Zafian yang sudah tidak tahan lagi, segera menggunakan kekuatan tangannya untuk menarik kembali Afita dan berakhir jatuh ke dalam pelukannya.


"Zaf, lepaskan!" Ucap Afita berusaha keluar dari pelukan.


"Tidak akan!"


"Jangan paksa aku menggunakan kekuatan ku!" Sahut Afita.


Sungguh Zafian tidak peduli lagi, semua rasa yang di pendam dan sangat menyakitkan kini terasa saatnya di tumpahkan, bahkan pelukan itu semakin erat mendekap wanita yang sudah membawa separuh jiwanya.


Afita terpaksa melakukan perlawanan, kekuatan tenaga dalam miliknya yang sudah hampir tiga tahun tak di gunakan, akhirnya di pakai untuk membuka pelukan Zafian.


"Jangan salahkan aku!" Ucap Afita, lalu berhasil lepas dari pelukan Zafian.


"Baik, aku turuti apa maumu!" Ucap Zafian yang kini juga tengah bersiap, hampir tiga tahun kehilangan istri tercintanya, tak mungkin lagi saat ini akan melepaskan Afita begitu saja.


Afita tak ingin menyerang, hanya ingin segera lari dari hadapan Zafian, dirinya melesat cepat dengan kekuatan supranaturalnya, Namun Zafian melakukan hal yang sama, hingga berhasil mengunci tubuh Afita.


"Si-al!, Kekuatan Zafian begitu besar" ucap Afita yang merasakan tubuhnya tak kuat lagi menahan kekuatan Zafian.


"Sepertinya kau tidak pernah berlatih sayang" Sahut Zafian yang semakin mendekati Afita.


"Apa yang kau lakukan Za_"


Afita kini tak sadarkan diri, tangan Zafian menyentuh cepat ke beberapa titik kesadaran hingga Afita berakhir dalam gendongannya.


"Maaf aku terpaksa melakukan hal ini" ucap Zafian lirih, menatap wajah ayu istrinya yang terlihat lebih tirus dari sebelumnya.


*


*


Sementara di bawah sana, Raka tiba-tiba saja merasa tak tenang, khawatir akan keadaan Afita yang dirasa cukup lama belum juga kembali.


"Aku akan menyusul Afita, dia lama sekali" ucap Raka, lalu menitipkan Fian ke Naura.


"Hati-hati Paman" pesan Naura sebelum akhirnya Raka tak terlihat lagi.


Berjalan cepat Raka sudah memasuki pintu lif, dan tak lama kemudian keluar dan menuju ke tempat di mana kemungkinan kunci mobil Afita tertinggal.


Raka melihat ke sekitar, namun merasa aneh tak ada sosok Afita di sana.


"Maaf mbak, apa ada kunci mobil tertinggal disini?"


"Oh iya pak, tunggu sebentar, saya ingat tadi bapak dan keluarga yang tadi beli mainan disini bukan?"


"Iya mbak, jadi kuncinya masih ada disini?" Tanya Raka lagi.


"Iya pak, sebentar ya"


"Baik" ucap Raka yang semakin heran mendapati bahwa Afita ternyata belum mengambil kunci mobilnya.


Tak berselang lama, penjaga toko itu keluar dan memberikan kunci mobilnya, "Maaf Mbak, apa sebelumnya tidak ada wanita yang mau mengambil kunci ini?" Tanya Raka ingin memastikan.


"Tidak ada Pak"


"Oh, ya sudah, terimakasih sudah menyimpan kunci ini, saya permisi dulu" ucap Raka.


"Iya pak, sama-sama"


Akhirnya Raka pergi dan seketika langsung menghubungi Afita lewat ponselnya sambil terus berjalan, dan lagi-lagi Raka semakin di buat cemas karena tidak ada yang mengangkatnya.


"Astaga, Ayolah Afita, dimana kamu, kenapa tidak mengangkat panggilanku" gumam Raka sambil terus berusaha menghubungi Afita lewat handphonenya.


Raka menghentikan panggilan handphonenya, tidak ingin melihat Naura dan terutama Fian akan ikut cemas.


"Sudah Paman?" Tanya Naura.


"Hem" jawab Raka sambil menunjukkan kunci mobilnya.


Naura celingukan, seolah mencari seseorang di sekitar Raka yang tidak di temukan.


"Lalu, mana kak Afita Paman?" Tanya Naura merasa aneh.


"Oh, Afita masih ada kepentingan, sudah, kalian lanjutkan dulu makannya" jawab Raka yang rupanya baru saja mendapatkan sebuah pesan dari Afita kalau ijin untuk menyelesaikan urusan penting.


Jangan lupa VOTE di hari Senin, HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.