ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 121



Secerah matahari pagi ini, Fian sudah nampak rapi setelah mandi bersama dengan sang Mommy, sementara Naura sudah menyiapkan sarapan yang lezat seperti biasanya, aktivitasnya diatas kursi roda tidak pernah menghalangi dirinya untuk menjalani hidup dengan produktif.


Kini ketiganya sudah berkumpul di meja makan.


"Hari ini biar Fian yang memimpin doa" ucap bocah tampan yang sudah rapi dan wangi.


"Silahkan pangeran Fian" sahut Naura dengan senyuman bahagia.


Afita pun tersenyum, selalu bersemangat setelah melihat tingkah polah anaknya, seakan capek badan dan pikiran langsung menghilang.


Fian memimpin doa makan dengan beberapa ucapan yang terkadang masih terdengar lucu namun menggemaskan, Afita menuntun saat ada kalimat yang salah untuk di benarkan, setelah itu ketiganya menikmati sarapan pagi tanpa mengeluarkan suara.


Kurang lebih 20 menitan, kini Afita sudah bersiap untuk berangkat.


"Apa nanti pengasuh Fian sudah bisa masuk?" Tanya Afita sedikit khawatir nampak di wajahnya.


"Sepertinya belum, tidak ada kabar berita sampai hari ini kak"


"Kamu tidak menghubunginya lagi?"


"Di kampung halamannya masih nunggu sampai empat puluh harian, baru biasanya nanti kembali, itu pesan terakhir yang di sampaikan, untuk selanjutnya, nomer handphonenya mati, tidak bisa aku hubungi" jawab Naura.


"Ya sudah Nau, tapi kamu bisa kan jaga Fian sendirian?"


"Bisa kak, tenang saja, Fian sangat kooperatif, dia bahkan tak segan memberikan bantuan tanpa aku minta, keponakanku itu pantas jadi seorang pemimpin, seperti dad_" Naura langsung menghentikan ucapannya.


Afita sudah menatap tajam ke arahnya.


"Sorry kak, kebablasan" sahut Naura lagi.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, jangan ngomong sembarangan kalau berbincang dengan Fian, hari ini aku akan usahakan pulang tepat waktu" ucap Afita lalu segera pergi setelah mengucap salam dan mencium kening Fian yang sudah mendekat ke arahnya.


Beberapa menit kemudian, Afita sudah memasuki gedung tempatnya bekerja, hari ini nampak sedikit berbeda, Afita sempat mengerutkan kening melihat banyak pegawai yang sudah datang lebih pagi dari biasanya.


"Pagi Bu" ucap Afita yang sudah ada di belakang Bu Tiwi yang sedang sibuk membersihkan ruangan kerjanya.


"Eh, pagi Fita, cepat sana beberes!" Perintahnya Bu Tiwi.


Afita menaikkan kedua alisnya, seolah bingung namun enggan bertanya melihat betapa sibuk wanita yang ada di hadapannya, lalu kemudian berjalan keluar menuju ruangan kerjanya, Dan _


"Tidak!" Jeritan terdengar nyaring.


Dug.


"Aww!, Fita!" Teriak Bu Tiwi yang sudah menggosok kepalanya terbentur meja saat membersihkan ruangan dan terkejut mendengar teriakan Afita.


"Bu, kemana barang-barang ku, seperti saya sedang kerampokan!" Teriaknya heboh dengan wajah kagetnya, dan akan berlari melapor ke petugas keamanan.


Namun niatnya harus gagal dengan teriakan Bu Tiwi yang sudah berkacak pinggang dengan wajah seramnya.


"Jangan berani pergi!"


"Tapi Bu?!"


"Diam, kamu lupa, ruang kerja mu sekarang dimana?"


"Apa?, Maksud Bu Tiwi, ibu mengusir saya?"


"Fita!" Teriak Bu Tiwi makin kesal.


Sejenak Afita berpikir keras, lalu kemudian teringat akan perintah Bos yang sempat membuat dirinya emosi.


"Sudah ingat?, Atau perlu aku jitak dulu kepalamu?" sahut Bu Tiwi memperhatikan.


"Hehe, sorry Bu, sudah ingat, permisi" ucap Afita langsung nyelonong pergi begitu saja menuju ruangan baru dan membuat langkahnya semakin tak bersemangat.


"Mudah-mudahan orangnya belum datang" batin Afita perlahan membuka pintu dengan sedikit ragu.


Disaat itu untunglah ada OB yang sedang melintas.


"Pak, di dalam sudah ada orang?" Tanya Afita.


"Sudah mbak"


"Loh, mbak Fita memang tidak tau, perusahaan kita akan kedatangan tamu dari investor perusahaan besar hari ini, mangkanya kita di suruh bersiap-siap dari pagi"


"Apa?!, Mati aku" ucap lirih Afita yang kini makin takut untuk masuk ke ruangannya, semalam memang dirinya menjauhkan diri dari handphone dan tidak melihat informasi apapun yang ada dalam group WA perusahaan.


Belum genap Afita merutuki kecerobohannya, tiba-tiba saja di kejutkan dengan pintu ruangan kerja sang Bos yang terbuka.


"Masuk!" Suara tegas dan tatapan yang menusuk sudah di layangkan oleh Reno.


"Iya pak, maaf saya terlambat" ucap Afita dengan cepat mengikuti langkah atasannya.


Brug.


Selesaikan ini semua, baca dengan teliti, catat hal penting dan jadikan dalam satu berkas.


"Ha!" Ucap Afita lolos begitu saja.


"Tapi pak?!"


"Tidak ada tapi-tapian, kerjakan, dan di jam 11 siang, semua harus selesai, karena investor besar Kita nanti akan tiba di sini di jam 1 siang, sebelum itu, kita harus bersiap sebaik mungkin"


"Iya pak, tapi_"


"Kerjakan, selesaikan dan jangan sampai terlambat, pikirkan saja cara tercepat!" Bentak Reno tak menerima alasan lagi.


"Dasar Bos Gila" gumam Afita lirih tak ingin sampai di dengar yang punya nama.


Reno kembali ke meja kerjanya, setumpuk berkas dia pelajari kembali, tidak ada kata kurang atau sampai terlewat saat nanti membicarakan bisnis penting, dirinya juga harus menguasai apa yang ada di perusahaannya.


Afita terus meneliti satu persatu, membenarkan kata demi kata yang kurang dari beberapa berkas yang ada, kini ringkasan yang diminta mulai tercetak sedikit demi sedikit, hal penting yang tersaring sudah mulai di ketik dengan jari-jari lentiknya.


Reno tersenyum, suasana ruang kerjanya mempunyai hawa yang berbeda dengan adanya Afita di sana, walaupun jaraknya begitu jauh namun masih bisa di jangkau pandangannya.


Di tengah kesibukan mereka, tiba-tiba saja pintu di ketuk, Afita segera beranjak setelah menghentikan pekerjaannya, pintu pun kini terbuka dan matanya terkejut melihat sosok wanita dengan gaya pakaian yang membagongkan.


Wanita dengan balutan baju super ketat dan mini membuat asetnya menantang untuk dilihat, bahkan Afita sampai di buat sesak dengan melihatnya.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah, Afita sepertinya sangat mengenal wanita yang melenggang masuk tanpa menatapnya sedikit pun, namun hal itu malah membuatnya begitu lega.


"My God, untung dia tak menatapku, bukankah itu?"


Afita membalikkan badan, berjalan menunduk dan segera duduk dengan cepat di depan layar komputer yang kini sudah sempurna menutupi wajahnya, dan itu adalah hal terpenting saat ini untuk di lakukan.


Dalam hati Afita bersyukur, karena sudah memasang kontak lensa yang membuat matanya jauh berbeda dari biasanya, Afita juga sudah merombak semua penampilan dari awal berada di kota baru yang di tempati nya, hingga terlihat sangat jauh berbeda.


Makeup sengaja di pakai untuk memberikan garis wajah yang berbeda, walaupun tak terlalu terlihat, tidak ada Afita dengan wajah begitu polos nan segar seperti dulu, kecantikan alaminya tertutupi hampir 50 persen, dan semua itu sengaja di lakukan untuk mengamankan dirinya.


"Bagaimana, apa investor yang aku carikan akhirnya menghubungimu?" Tanya Wanita itu.


"Yes, Thanks baby, kau sahabat yang terbaik" ucap Reno yang kini tersenyum lebar.


"Ck, hanya saja sudah lama kau lupakan"


"Itu karena aku mendengar kalau kau sudah menikah, dan tidak aku sangka, hidupmu malah semakin berantakan"


"Tapi aku masih bisa membantumu bukan?"


"Yah begitulah, dengan menggiring perusahaan Besar itu untuk bergabung denganku berkat informasi penting yang kau berikan, aku sangat berterima kasih Baby"


"Lupakan hal itu, dan jangan lupa janjimu"


"Tentu saja, aku akan membantumu dekat kembali dengan mantan kekasihmu yang sekarang menjadi Bos Besar itu, jangan khawatir" sahut Reno.


"Aku percaya padamu, dan satu lagi, jangan memanggilku Baby, itu membuatku risih" sahut wanita itu.


Afita mendengar semua pembicaraan, masih belum jelas terdengar siapa yang dimaksud oleh keduanya, dan Afita memilih tidak peduli dengan apa yang mereka rencanakan, baginya saat ini adalah jangan sampai wanita itu mengenalinya apalagi sampai berurusan dengannya.


Yuk mana Komen dahsyatnya?, Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, dan tonton IKLANnya gaes.


Bersambung.