
Keduanya segera menaiki mobil yang sama, kali ini Firman yang membawa Zafian pergi, melewati jalanan di siang yang panas, keduanya terlibat perbincangan seputar seminar Akbar yang akan di laksanakan di Surabaya.
Sampai pada akhirnya, berhenti di sebuah Restoran besar tak jauh dari hotel milik Afita, dimana sebenarnya Restoran itu masih satu tempat dengan hotel yang berdiri.
Rupanya Afita sudah ada di tempat khusus yang telah di sediakan, menyambut kedatangan suami dan juga sahabatnya.
"Sudah di pesankan, tinggal nunggu saja" ucap Afita setelah mendapat pelukan dan ciuman mesra dari Zafian.
Sementara, tampak Firman celingukan merasa ada sesuatu yang tertinggal, lebih tepatnya sesuatu yang nampak tidak ada.
"Mencari siapa?" Tanya Afita merasa aneh dengan apa yang di lakukan Firman.
"Sendirian?" Tanya Firman pada akhirnya.
"Tenang saja, Naura sebentar lagi menyusul" sahut Afita seolah tau isi kepala Laki-laki yang sedang celingukan.
"Oh, hehe" sahut Firman, lalu kembali duduk dengan tenang.
Naura sudah mulai bekerja, berkutat kesana kemari seperti biasanya, tentu saja Afita nampak begitu senang, melihat wajah bahagia sekretarisnya, dan setidaknya pekerjaannya tidak terlalu berat lagi baginya, dan ijin untuk terlambat makan siang karena ingin menyelesaikan pekerjaan penting yang lama tertunda.
Tak lama setelah semua teratasi dengan baik, Naura segera berlari keluar dari hotel, menuju ke Restoran, nampak wajah capek namun sumringah kini telah ijin bergabung.
"Maaf saya terlambat" ucap Naura yang bingung harus duduk dimana, karena disamping Afita sudah ada sosok sang suami yang menemani.
"Duduklah disini" ucap Firman melihat Naura masih berdiri.
"Oh, tidak Dokter, saya akan cari tempat yang lain" jawab Naura, merasa dirinya tidak pantas.
"Baik, dimana kamu akan duduk?, Aku temani" sahut Firman dengan santai dan langsung berdiri.
"Ha, bukan begitu Dokter, anda disini saja, saya bisa makan sendiri di tempat yang lain" ucap Naura segera menjawab.
"Ck, berisik sekali, tidak bisakah kita makan dengan tenang, aku lapar sekali!" Sahut Afita yang sedari tadi tidak jadi makan karena ulah dia orang yang lagi berdebat soal tempat.
"Maaf Nona" ucap Naura lirih.
"Kalian duduklah, makan disini dengan tenang, hidangan sebanyak ini tidak mungkin kami berdua bisa menghabiskannya" ucap datar Zafian dan membuat keduanya langsung mengambil tempat tanpa ada protes lagi.
Setelah hampir setengah jam, makan siang bersama berjalan dengan baik, tiba saatnya membahas apa yang diinginkan oleh Firman, Afita mendengarkan dengan teliti, lalu memberikan beberapa opsi tempat yang sepertinya lebih tepat.
"Aku tidak biasa menyiapkan hal seperti ini, bagaimana kalau aku pasrahkan saja dengan budget seperti yang aku bilang tadi" ucap Firman.
"Aku terlalu banyak urusan pekan ini, kalau masalah itu sebenarnya mudah, Naura bisa mengatasinya, bukan begitu?" Sahut Afita.
Tentu saja di sambut rasa senang dan suka cita oleh Firman, sesungguhnya dia juga berharap seperti itu pada awalnya, tidak menyangka seperti peramal, Afita akhirnya tau isi hatinya.
"Saya?" Naura menunjuk dirinya sendiri, tak percaya harus membantu Firman dengan tangannya sendiri.
"Hem, kenapa, apa pekerjaan itu sulit bagimu?, Atau kamu keberatan membantuku?" Tanya Afita.
"Ti tidak Nona, baik, akan aku lakukan" ucap Naura di sambut senyuman misterius dari Firman yang ada di sebelahnya.
Zafian menatap Firman, seolah memberikan peringatan untuk tidak macam-macam dengan sektretaris istrinya.
Pembahasan yang lumayan detail sudah terselesaikan, memakan waktu hampir 3 jam dan sudah saatnya mereka pulang, Hingga berakhir dengan kesepakatan dan semua penjelasan yang gamblang, akhirnya mereka memutuskan beristirahat di kediaman masing-masing.
Hujan lebat akhirnya datang, seolah sengaja menghadang mereka untuk undur diri dari Restoran yang di tempati.
Afita dan Zafian segera pamit untuk pergi, Mobil kerja yang terparkir di gunakan oleh Afita untuk membawanya pulang bersama suaminya.
Sedangkan Firman tengah bersiap melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir yang letaknya tak jauh dari sana.
Ditempat lain, Naura sejenak nampak Panik, lalu berlarian ke pinggir jalan di bawah pohon yang cukup rindang untuk menahan air hujan menetes di tubuhnya, apa yang di lakukannya tentu saja menarik perhatian seseorang.
"Apa yang di lakukan Naura, bukannya dia membawa mobil?" Batin Firman bertanya-tanya.
Segera Firman mengambil handphone dan menghubungi Afita, oh tidak, segera menekan tombol off, lalu berganti melakukan panggilan di nomor Zafian.
"Ada apa?"
"Kenapa kau tanya padaku?" Jawab Zafian.
"Boleh aku telpon istrimu?"
"Ck, tidak, ini aku berikan padanya, tanyakan saja sendiri" jawab Zafian, lalu memberikan handphone nya.
Afita menerima dan menjawab bahwa dia juga tidak menyadari, karena hari ini pertama kali Naura masuk kerja setelah cuti panjangnya.
"Tolong bantu dia kalau kesusahan pulang, jaga Naura untukku, ingat, jangan macam-macam!" Ucap Afita malah mewanti-wanti.
"Iya, memangnya aku ini penjahat wanita, kalian ini sama saja!" Ucap Firman jadi jengah sendiri, lalu menutup handphonenya.
Firman melajukan mobilnya, berhenti di tempat agak jauh dari Naura yang berada di pinggiran jalan.
Memakai payung hitamnya, Firman segera menghampiri Naura.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Firman yang sudah membagi payungnya dengan Naura.
"Dokter Firman?" Ucap Naura tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Firman sekali lagi.
"Saya, oh, iya, tentu saja mencari taksi" ucap Naura sambil tersenyum aneh yang di buat-buat.
"Mobilmu ada dimana?"
"Masih di bengkel Dokter, saya tidak apa-apa, sebentar lagi taksi akan ada yang lewat sini"
"Dan sat itu terjadi, kamu sudah basah kuyup terkena tetesan air hujan, ayo masuk ke mobilku!" Seru Firman yang sudah menarik tangan Naura.
"Eh Dokter, tunggu!" Teriak Naura terkejut karena sebuah tangan yang sudah membawanya untuk mengikuti langkah nya.
Namun belum sempat mereka sampai di mobil, tiba-tiba saja meluncur dengan cepat sebuah mobil sport mewah hingga genangan air yang ada di pinggir jalan muncrat mengotori baju mereka.
"Bre-ng-sek!" Teriak Firman, lalu melihat keadaan Naura yang bajunya sudah sangat kotor, bahkan wajahnya juga ada yang terkena.
Segara firman menarik Naura lebih cepat untuk masuk kedalam mobil dan mengejar pelaku yang membuatnya naik darah.
Hingga Firman berhasil mendominasi dan kini mampu menghentikan mobil itu dengan penuh emosi di jiwa.
"Buka, dan keluar!" Teriak Firman.
Lalu sosok perempuan keluar perlahan, dengan wajah datarnya.
"Beraninya kau menghalangiku" ucapnya begitu dingin.
"Saya melakukan hal ini karena perbuatan anda keterlaluan, lihatlah!" Ucap Firman menunjukkan bajunya.
"Buang saja bajumu, masalah selesai" wanita itu itu menjawab tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kau_, harusnya kau yang berjalan pelan di genangan air, respek sedikit tidak bisa?, lihat apa yang sudah kamu lakukan, baju kami kotor tersiram air jalanan!"
"Kau ini berisik sekali, pergi dari sini, jangan menghalangi!" Ucap wanita itu.
"Kau benar-benar wanita bar-bar, yang tidak tau aturan!" Teriak Firman makin murka, seandainya yang di hadapi bukan perempuan, pasti dia sudah menghajarnya.
Tapi apa yang terjadi, diluar dugaan, justru wanita itu tiba-tiba saja menyerangnya, beruntung insting Firman cukup baik, melompat kesamping dan menghindari.
"Wanita ini, benar-benar kurang ajar" batin Firman yang terkejut dengan apa yg terjadi, tidak menduga sama sekali kalau ternyata wanita menjengkelkan itu mempunyai ilmu beladiri.
Wanita yang telah menyerang Firman segera menghentikan gerakannya, seringai mengerikan nampak disana.
"Manusia biasa rupanya, terimalah kekutan ku, dan kali ini kau akan mati!" Ucapnya lirih dan bersiap untuk mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya.
Apa yang terjadi?, Kita tunggu episode berikutnya, jangan lupa VOTE HADIAH LIKE KOMEN dan Tonton IKLANNYA.
Bersambung.