ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 46



Sentuhan tangan Zafian beralih ke bagian bawah sang istri, mengusap lembut dengan aktif dan merasakan basah di sana, dirasa sudah cukup siap, Zafian memposisikan tubuhnya.


Sementara Afita sangat terkejut saat pertama kali dirinya melihat satu benda pusaka yang kini sudah berukuran besar dan membuatnya semakin takut.


Zafian yang mengetahui apa yang di rasakan sang istri, segera menuntun tangan Afita perlahan untuk berkenalan dengan pusaka miliknya.


"Dia milik mu, jangan takut" ucap Zafian setelah merasakan tangan Afita kini telah menyentuh miliknya dengan lembut.


"Zaf, apa ini cukup?" Ucap Afita membuat Zafian tersenyum.


”Kita lihat saja sayang" ucap Zafian.


Afita mempersiapkan tubuhnya, tidak lupa membaca doa yang diajarkan oleh sang Mommy, begitu juga dengan Zafian.


Perlahan Zafian beralih mengurusi bagian bawah istrinya kembali, memberikan sentuhan dengan bibir dan lidahnya hingga tanpa di perintah Kedua kaki sang Istri terbuka begitu saja, pemandangan yang indah kini tampak begitu nyata, hingga Zafian semakin ingin menikmati semuanya.


Sang pusaka telah siap, untuk perkenalan awal sengaja di sentuhan ujungnya dengan lembut, namun sensasi yang tidak di duga, baik Zafian maupun Afita merasakan hal yang luar biasa baru pertama kali dalam hidupnya.


"Aku akan mendorongnya perlahan sayang, tahan ya?" Ucap Zafian.


Afita mengangguk pelan, tanda dia juga sudah mempersiapkan dirinya, hingga kemudian sang pusaka menyapa masuk di dalam rumah yang pintu nya masih begitu sempit.


"Zaf, sakit!" Teriak Afita.


Sontak Zafian menghentikan tindakannya, melihat wajah Afita yang begitu menahan sakit membuatnya tidak tega melanjutkan.


masih ingin mencoba kembali dengan lebih pelan, Zafian membelai wajah istrinya, melu-mat bibirnya dengan lembut untuk mengalihkan perhatian.


Mendorong kembali miliknya, terlihat Afita yang berada di dalam kungkungannya begitu menahan sakit kembali.


"Sakit, Akh!" tiba-tiba saja tangan Afita tanpa sadar menahan tubuhnya.


Tidak tega, sungguh.. Zafian tidak bisa melihat kesakitan di wajah istrinya.


"Maaf" ucap Zafian sambil membelai wajah istrinya, lalu bergeser ke samping membenahi posisinya.


Bernafas panjang untuk mengendalikan has-rat nya saat ini adalah jalan terbaik bagi Zafian, sementara Afita juga masih terdiam tidak tau harus berkata apa, karena rasa sakit yang sangat, membuatnya masih ragu untuk melanjutkan.


"Harusnya aku yang minta maaf, kalau kamu ingin melanjutkan tidak apa-apa, aku akan menahannya" ucap Afita.


Zafian yang mendengar perkataan sang istri langsung menoleh, dan tidur menyamping memeluk tubuh Afita.


"Tidak usah di paksa kan, masih ada hari esok, aku tidak bisa melihatmu begitu kesakitan, nanti kita coba lagi kalau Kamu sudah siap" ucap Zafian membuat Sang istri seketika terdiam.


Afita mengucap syukur akan pengertian sang suami akan keadaannya, menyamankan posisinya yang berada dalam pelukan


"Begini sampai pagi ya?" pinta Afita dengan manja.


"Hem, sesuka kamu saja, tapi jangan banyak bergerak, membuat yang di bawah sana bangun kembali" Jawab Zafian yang masih memeluk erat tubuh sang istri.


"Zaf, boleh aku bertanya?" Tanya Afita.


"Tentu saja, ada apa hem?" ucap Zafian.


"Bagaimana dengan perasaan mu pada wanita itu?" Pertanyaan Afita yang enggan mengucapkan nama Eliza.


"Wanita?" Sejenak Zafian berpikir, takut salah akan dugaannya sendiri, selanjutnya Zafian Menyambung ucapannya, "Maksudnya wanita yang mana?"


"Tentu saja mantan tunangan mu, Eliza, memang ada lagi?" Tanya Afita balik dengan wajah tak ramah.


Zafian tersenyum, semakin merapatkan pelukannya, sepertinya malam ini adalah kesempatan dirinya untuk berbicara dari hati ke hati.


"Awalnya aku sangat tidak bisa kehilangan Eliza, rasanya dunia seperti hancur, hatiku sangat sakit, lima tahun selama bersamanya seolah tidak ada gunanya sama sekali"


"Lalu?" Tanya Afita.


"Sabar, aku belum selesai bercerita" sahut Zafian lalu menci-um pundak sang istri yang masih polos dan berada dalam pelukannya.


"Sejenak aku terkejut dengan kehadiranmu, awalnya aku ingin membalas semua sakit hatiku akan perlakuan Eliza yang aku lampiaskan padamu"


"Oh, jadi be_"


"Tenang dulu, jangan bergerak, atau aku akan khilaf dan benar-benar menerjang mu, hem?!"


"Ck, lanjut!" Sahut Afita.


Zafian tersenyum kembali, kali ini semakin mengunci tubuh istrinya untuk tidak banyak bergerak dalam kuasanya.


"Dengan berjalanya waktu, aku justru melihat wanita dengan sosok yang lain dari biasanya"


"Maksud nya aku aneh?" Sahut Afita seolah tidak terima.


"Bukan sayang"


CUP


Zafian langsung menyambar bibir Afita yang kini sudah menoleh ke arahnya.


"Zaf!, Dasar!" Teriak Afita menghindari tatapan Zafian dan kembali ke posisinya di peluk dari belakang.


"Mangkanya jangan terlalu banyak protes, dengarkan dulu sampai selesai" ucap Zafian sambil terkekeh.


"Tapi jangan asal main ci-um juga kalau aku sedang berbicara" sahut Afita tak mau kalah.


Zafian membelai lembut rambut Afita, menci-um puncak kepalanya, lalu melanjutkan cerita.


"Aku belum paham Zaf, penjelasan mu membuatku tambah pusing" sahut Afita.


Zafian tersenyum kembali, dia sangat suka saat perkataan dari wanita yang polos seperti Afita terlontar begitu saja, membalikkan perlahan tubuh sang istri dan kini lurus menatap matanya yang begitu indah.


"Dari semua yang ku jelaskan, intinya hanya Aku Sangat Mencintai mu, Sangat..jangan pernah meninggalkanku, karena seorang Zafian tidak bisa hidup tanpa Afita Khaira Nugraha"


Afita sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya, laki-laki yang kini berada dalam satu selimut begitu jelas mengungkapkan isi hatinya, bahkan tatapan matanya begitu tajam penuh kesungguhan dan juga rasa tanggung jawab yang penuh.


Zafian tersenyum, tahu benar bahwa Afita masih sangat kaget dengan ungkapan isi hatinya dan perlahan mendekatkan bibirnya, menci-um dengan lembut, sedikit melu-mat namun terlepas kembali.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan sayang?" Tanya Zafian di tengah kediaman sang istri.


"A apa?" Afita terkejut.


"Masih ada lagi pertanyaannya?" Tanya Zafian dengan ibu jari yang membelai lembut bibir Afita, mengusap sedikit saliva yang tertinggal disana.


"Oh, itu, lalu_ soal itu, em, maksudku soal Eliza?" Ucap Afita berusaha menyadarkan dirinya.


"Hatiku cuma satu, di dalam sana sudah penuh dirimu, apa mungkin aku bisa memasukkan yang lainnya?"


"Kau ini, ish, jangan mempermainkan bibirku terus Zaf!, Jawab yang pasti!" Ucap Afita yang tidak tanggap akan maksud sang suami.


Zafian terkekeh kembali, "Kamu itu wanita yang sangat tangguh dan punya segalanya, tapi aneh, begitu susah memahami kata-kata indah dari hati yang tengah bahagia"


"Nggak usah gombal, jawab!"


"Tidak ada apapun untuk Eliza, aku dulu mengira itu Cinta, tapi sepertinya hanya perasaan ingin memiliki sekejab saja, sudah puas Nyonya Zafian?"


"Belum"


"Oh ya, lalu, apalagi?" Tanya Zafian.


"Berarti sekarang bagaimana?"


"Sekarang kita istirahat, ini hampir dini hari"


"Bukan itu Zaf!"


"Lalu apa lagi?"


"Cinta nggak sama Eliza?"


"Kan sudah aku jawab tadi"


"Kurang pasti, jawabanmu panjang kali lebar kurang jelas, iya apa tidak?"


"TIDAK, sudah jelas?"


Afita langsung tersenyum, kecantikan yang sangat luar biasa, dan Zafian semakin terpesona dengan wajah indah yang berada tepat di depan matanya.


"Selain hijab, apa kamu belum siap pakai burka?"


"Ha!, Memang kenapa?" Tanya Afita terkejut.


"Rasanya aku tidak rela membagi wajah cantik ini dengan yang lain" sahut Zafian membuat Afita tertawa.


"Kau ini, dasar!" Ucap Afita yang langsung berbalik dengan malu dengan wajah yang bersemu merah.


Dan selanjutnya, Afita menarik tangan Zafian menyusuri pinggang polosnya untuk mempererat pelukannya kembali dengan nyaman, keduanya pun akhirnya tertidur pulas sampai suara Adzan membangunkan.


Saat tangan Zafian meraih benda pipih yang mengeluarkan Alarm untuk segera bangun dari tidurnya, tiba-tiba saja di kejutkan dengan suara panggilan masuk, dan di lihat ternyata dari kepala keuangan di perusahaan nya.


"Ada apa?" Tanya Zafian setelah mengucap salam.


"Maaf pak, ada keadaan mendesak dan urgen, ini butuh kehadiran pak Zafian"


"Maksudnya?" Zafian langsung duduk di tepian tempat tidur.


"Ada masalah dengan Tuan Bimo Trihatmodjo"


"Apa?, Masalah bagaimana?" Tanya Zafian.


"Tentang pembayaran yang dilakukan pak, sesuai apa yang kita menangkan, semua surat-surat kepemilikan sudah saya amankan, tapi tidak tau dari mana tuan Bimo mendapatkannya, kini semua itu ada di pihak tuan Bimo"


"Apa!, Sh-it!, Bagaimana bisa!" Teriak Zafian sangat terkejut dengan penjelasan yang di berikan.


"Saya juga tidak tau pak"


"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Zafian.


"Sekarang kita kembali ke Surabaya, jangan di tunda!" Sebuah suara menyahut pertanyaan Zafian.


"Sayang?" Ucap Zafian terkejut Afita sudah duduk di sampingnya dengan selimut yang tergenggam untuk menutupi tubuhnya.


"Kita pulang, hari ini juga, aku akan bersiap dan bilang ke Daddy" ucap Afita.


Zafian mengangguk, lalu kemudian memberikan jawaban kembali ke anak buahnya, sambungan ditutup dan keduanya segera melangkah ke bathroom untuk mandi bersama.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.