ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
158. Firman_Naura 12



Naura hanya terdiam saat Firman kini mengambil alih kursi roda dari tangan Tio yang merasa tidak enak.


"Kalau begitu saya permisi dulu Dokter" ucap Tio.


"Hem" Jawa Firman yang kini sedang sibuk menekan tombol pintu Apartemen.


Naura menoleh ke arah Tio sebentar untuk menganggukkan kepala sebagai tanda berterima kasih, Tio membalas dengan senyuman yang seketika langsung hilang saat Sepasang mata tengah menatapnya dengan tajam.


"Tidak perlu seperti itu, Tio laki-laki yang baik, dia sangat ramah dan sopan bahkan berinisiatif memberikan aku minuman hangat di suhu yang kurang bersahabat" ucap Naura yang kini meneruskan laju kursi rodanya sendiri.


"Aku hanya meminta tolong untuk mencari mu dan membawamu masuk ke Apartemen, tidak ada embel-embel yang lain" sahut Firman lalu mengikuti Naura yang akan masuk ke kamar.


"Setidaknya hargai orang yang sudah membantumu, tidak harus bersikap arogan seperti itu" ucap Naura.


"Arogan dan mawas diri itu berbeda, aku hanya berjaga-jaga" Firman tak mau kalah.


Naura akhirnya terdiam, merasa percuma saja berdebat dengan sosok laki-laki yang semakin keras kepala.


"Kenapa dokter ikut masuk?" Tanya Naura.


"Memastikan kamu benar-benar istirahat dengan baik malam ini" jawab Firman.


"Ck, tinggalkan aku, tidak perlu dokter temani, aku bukan anak kecil lagi, bisakah dokter tidak menggangu ku?" Ucap Naura dengan perasaan sedikit kesal.


"Jadi kamu merasa terganggu?"


"Aku hanya ingin berjalan-jalan mengurangi bosan tadi, aku bahkan hanya tidur seharian, tidak bisa mengerjakan apapun, pekerjaanku banyak yang belum terselesaikan, jangan membuatku semakin kesal dokter"


Pertama kalinya Naura mau berkeluh kesah tentang masalahnya, bahkan mengeluarkan emosinya di depan Firman tanpa disadari, dan itu justru membuat Firman merasa senang.


Firman duduk disebelah Naura yang kini sudah berada di kursi balkon kamar dan merangkul bahunya.


"A Apa yang Dokter lakukan?" Ucap sandar terkejut, gugup dan canggung.


"Kenapa kamu malah menuju balkon, udara sangat dingin, jadi aku merangkul mu agar tubuhmu merasa hangat" Firman menatap wajah Naura yang terlihat sangat dekat di depan matanya.


Naura langsung menghindari pandangan, tatapan mata Firman membuat detak jantungnya semakin tak normal.


"Disini tidak terlalu dingin, jadi tidak perlu memelukku" jawab Naura yang sedikit bergerak berharap rangkulan Firman terlepas.


"Pilihannya hanya dua, masuk ke dalam dan tidurlah dengan nyenyak, atau tetap berada disini dalam pelukan ku semalaman" ucap Firman dengan senyuman.


"Ck, memaksa sekali" sahut Naura kesal.


Tentu saja Naura tidak akan kuat menahan semua gejolak di dadanya kalau harus terus-menerus berada dalam rengku-han Firman, hingga dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam.


Firman tersenyum senang, setelah melihat Naura tampak nyenyak dalam tidurnya, segera melangkahkan kaki keluar dari Apartemen untuk melanjutkan tugasnya di Rumah sakit.


*


*


Pagi hari yang hangat menyapa, Naura menyibukkan dirinya untuk mulai melatih kakinya berjalan perlahan tanpa kursi roda, sedikit nyeri di tahan asal keadaan masih aman.


"Dokter Firman belum pulang bi?" Tanya Naura yang kini sudah duduk di kursi makan.


"Sebentar lagi Nona, kalau shif malam biasanya jam 8 pagi baru datang" jawab asisten rumah tangga yang setia menemaninya di saat Firman tidak ada.


Dan tak lama kemudian orang yang sedang dibicarakan telah pulang, Firman mengucap salam, lalu melihat ke arah Naura sejenak.


"Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Firman.


"Ini, baru saja akan mulai sarapan"


"Tidak usah, Bi tolong simpan makanan yang bibi masak dan bawa pulang untuk keluarga bibi saja, kami akan mencari sarapan pagi di luar" ucap Firman membuat Naura melongo.


"Baik Tuan, terimakasih" jawab Asisten Rumah tangganya yang nampak begitu senang.


"Sebaiknya Non Naura segera bersiap, Tuan Firman akan membawa anda mencari makan di restoran, pasti lebih enak" ucap Asisten Rumah tangganya yang melihat Naura masih linglung.


"Apa?!, Oh jadi begitu, baiklah" jawab Naura tergagap, lalu segera pergi ke kamar untuk bersiap.


Tak lama keduanya telah berada di Resto tempat dimana Tio bekerja, Naura nampak celingukan seperti mencari seseorang.


"Dimana Tio, bukankah semalam dia menunjuk resto ini tempatnya bekerja" ucap Naura.


"Kamu datang kesini bersama ku yang juga laki-laki, dan sekarang kamu malah mencari laki-laki lain, tidak berperasaan!" Sahut Firman merasa tak suka.


Keduanya terdiam setelah datang pelayan laki-laki yang tak kalah tampan dari Tio.


"Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya.


Firman segera memesan menu special untuk sarapan dan juga minuman hangat, begitu juga dengan Naura, tak berapa lama semua pesanan telah datang.


"Ini semua pesanan anda, selamat menikmati" ucap pelayanan laki-laki itu dengan sopan.


"Terimakasih" jawab Naura dengan senyuman yang membuat pelayan itu menjadi salah tingkah.


Firman melihat hal itu, dan seketika pandangannya berubah begitu tajam, pelayan itu menunduk dan segera undur diri karena merasa tak aman lagi.


"Kamu harus mulai mengerem senyuman mu itu pada semua pria, Naura, karena mereka akan salah paham padamu" ucap Firman memperingati.


Naura terkejut dan tanpa sengaja menggigit bibirnya sendiri.


"Dan jangan suka menggigit bibirmu seperti itu di depan seorang laki-laki" lanjut Firman membuat Naura makin kaget dan menoleh ke arah nya.


"Aku tidak ada niat apapun" jawab Naura.


"Pikiranmu dan pikiran laki-laki itu berbeda Naura" ucap Firman lagi.


"Termasuk Dokter?"


"Hem, tentu saja"


Uhuk uhuk


Seketika Naura tersedak minuman yang baru saja menyambangi mulutnya.


"Hati-hati Naura, kamu tidak apa-apa?" Tanya Firman yang kini sudah berpindah tempat duduk disamping Naura dan bukan lagi di depannya.


Setelah keadaan tenang dan Naura sudah bisa makan kembali, tak lama setelah itu Naura tak tahan lagi untuk mengeluarkan unek-unek nya.


"Dokter bisa berteman dengan Dokter Ana, lalu kenapa saya tidak bisa?" Protes Naura.


Firman meletakkan sendok lalu menyeka mulutnya, segelas minuman hangat di teguk sebentar, kemudian berlanjut dengan menatap intens mata Naura.


"Karena aku tidak mau berteman denganmu" ucap Firman dengan tajam.


Naura terkejut, sontak hatinya terasa sakit, hanya untuk berteman saja ternyata laki-laki dihadapannya sangat keberatan, hingga tak tahan lagi, Naura berdiri dan melupakan kursi Rodanya, segera berjalan terpincang meninggalkan Firman.


Panggilan Firman tak didengarkan, bahkan Naura semakin mempercepat langkahnya, air matanya yang hampir menetes tak ingin terlihat oleh Firman.


"Tunggu!" Genggaman tangan akhirnya berhasil menghentikan langkahnya.


Naura melihat, dan ternyata Firman berhasil menyusulnya, lalu dengan cepat Naura menghempaskan tangannya, dan duduk kembali ke kursi roda yang telah di bawa oleh Firman.


Naura kini terdiam seribu bahasa, masuk ke dalam Apartemen tanpa sepatah katapun terucap, hingga dirinya masuk dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Kenapa aku begitu menyukainya!" Teriak Naura kesal akan dirinya.


"Kamu tidak pantas Naura, dan Dokter Firman hanya menganggap mu wanita yang lemah dan butuh bantuan, bahkan untuk berteman saja dia tidak Sudi lagi" ucap Naura yang kini sudah menangis dengan bantal untuk menyembunyikan wajahnya.


Sementara Firman yang berada di depan pintu kamar hanya terdiam, ingin masuk dan menjelaskan sesuatu yang mungkin sudah disalahpahami oleh Naura, namun dirasa tak mungkin, mengingat bagaimana Naura menutup pintu itu dengan rapat dan menguncinya.


"Ada apa Tuan?" Tanya Asisten Rumah tangga melihat Tuannya sedang termenung di depan pintu.


"Tidak ada, kenapa susah sekali memberitahukan ke seorang perempuan kalau aku ingin lebih dari sekedar teman"


"Maksud tuan ke Nona Naura?"


"Dirumah ini ada siapa lagi, masak iya aku menginginkan hal itu dari bibi" jawab Firman kesal sambil melesat pergi.


Asisten rumah tangga yang sudah berusia sangat matang itu hanya menggelengkan kepala. "Ada-ada saja jawaban orang yang lagi galau karena Cinta".