
Kini kedua keluarga yang sudah lama saling mengenal akhirnya bisa bertemu, maklum keluarga Firman bertempat di luar negeri karena induk perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang alat-alat kesehatan ada di sana.
"Jadi kamu yang bernama Naura?" tanya Farah yang tak lain adalah ibu Firman.
"Iya Bu, perkenalkan saya Naura Hamzah" jawab Naura dengan sopan.
"Dan dia adalah adikku" sahut Afita dengan senyuman.
"Oh ya, ibu tau, dan sudah banyak mendengar cerita tentangmu dari Firman, tapi itu dulu, sudah lama sekali" jawab Farah Hamid dengan senyuman yang begitu tenang.
Naura hanya tersenyum menatap sekejab, nampak sekali bahwa keluarga Dokter Firman bukanlah keluarga sembarangan, dari semua yang ada di depan mata Naura, keluarga Hamid yang notabene bisa di bilang salah satu konglomerat.
"Sungguh lucu" ucap Naura lirih dan tanpa terasa terucap dan sebenarnya sedang mentertawakan diri sendiri.
"Apanya yang lucu?" Tanya Afita terkejut saat mendengar apa yang terucap dari Naura.
"Ha, apa?, Oh itu, maaf, ini hanya heran melihat isi pesan dari teman-teman" jawab Naura berbohong demi menutupi ucapan yang tak sengaja keluar dari mulutnya.
"Rupanya kamu sangat suka hal lucu dari teman dekatmu" sahut Firman dingin dan membuat Naura tersentak kaget.
"Tidak ada salahnya Naura melakukan itu, dia tentunya banyak teman karena Kuliah di luar negeri tidak mungkin sendiri di kelasnya, bukan begitu?" Ucap Firdaus Hamid, sosok laki-laki dengan suara Berat yang tak lain adalah ayah dari Firman.
"Sepertinya saya sudah mulai lapar, apa masih lama makan malamnya?, Mungkin perlu bantuanku?" Anita sengaja bercanda untuk mencairkan suasana.
"Oh tentu saja, ayo mbak Anita kita cek bersama sebelum pasukan kita menuju meja makan ku yang sangat penuh" sahut Farah dengan suara tawanya.
"Ehem, bagaimana bisnis Paman?" Akhirnya Zafian berusaha untuk merubah keadaan.
"Alhamdulillah baik Zaf, hanya saja aku masih bingung, Rumah Sakit milikku yang ada disana harus ku kasihkan pada siapa, kamu tau sendiri kan anakku satu-satunya terlalu betah menetap di Indonesia" Sindir Firdaus ke Firman yang masih terdiam.
"Jangan berharap padaku Dad, aku sudah katakan tidak mau tinggal di sana" jawab Firman.
"Aku tau, kamu sepertinya sedang menunggu seseorang di sini, dan aku harap itu tidak sia-sia" sahut Firdaus.
"Tidak perlu Daddy menjadi Peramal hanya untuk membuatku terpojok"
"Hahaha, benarkah?, Jadi kamu tidak sedang dalam misi untuk mencari pelabuhan hati?" Sahut Firdaus terus menggoda.
"Dad, hentikan" wajah Firman seketika serius menatap Daddy-nya.
"Oh i am sorry Sun" sahut Firdaus mengehentikan tawanya.
Sementara Zafian dan Afita yang tadinya ikut tertawa, segera mengendalikan dirinya.
"Jadi tak ada hubungan apapun dirimu dengan salah satu dokter yang bekerjasama di rumah sakit itu?" Tanya Zafian mengklarifikasi kabar berita yang pernah terbaca olehnya.
"Aku tidak tau, kita lihat saja nanti" jawab Firman dengan menatap Naura yang masih tertunduk diam seolah tak peduli.
"Aku hanya berdoa, semoga kmu segera menemukan jodohmu Dokter Firman, mengingat usia dan juga kedua orang tuamu sepertinya sangat iri padaku" sahut Afita.
"Tentu saja, Aku menginginkan cucuku segera lahir dan mengisi keramaian dunia ini"
"Tenang saja, akan aku buatkan secepatnya Dad" sahut Firman dengan senyum miringnya.
PLAK
"Akh!, Kenapa Dady memukulku?" Tanya Firman terkejut.
"Jangan membuat cucuku lahir dengan masalah, aku akan menghajar mu, menikahlah dengan benar, dengan begitu semua keturunanku memiliki silsilah yang baik" Firdaus memperingatkan.
Afita dan Zafian tertawa, begitu juga dengan Naura yang akhirnya tak bisa menahan, dan senyuman yang begitu lama tak pernah dilihat oleh Firman kini berada nyata didepannya.
Namun hal itu tak berlangsung lama, karena sebua panggilan dari ponsel Firman mengharuskan dirinya segera pamit untuk pergi menangani pasien gawat darurat yang membutuhkannya saat ini.
Makan malam tetap berlanjut tanpa kehadiran Firman disana, dan hal itu membuat Naura sedikit lega, walaupun sebenarnya ada perasaan khawatir akan kesehatan Firman dengan jam makan yang tidak pasti.
Setelah semuanya mengisi perut dengan hidangan yang begitu lezat, kini kembali berkumpul dan berbincang di ruang tengah yang tak luput dari keramaian yang di buat oleh Fian bersama dengan Pengasuhnya.
"Sayang, jangan berlarian, nanti jatuh" Afita memperingatkan.
"Oh Bibi Farah, Zafian bisa terserang Insomnia kalau sampai hal itu aku setujui" sahut Afita.
"Bibi dan Paman bisa meminta Firman segera membuatkan cucu, caranya juga sangat gampang bukan?"
"Sayang, jaga kata-kata mu, ada gadis pera-wan disini" sahut Afita memperingatkan.
Naura hanya tersenyum, menikmati semua percakapan dan candaan yang semakin lucu dan seru, hingga akhirnya Farah menawarkan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Bagaimana Naura?, Kamu mau kan menjadi sekretaris di perusahan yang baru aku buka beberapa Minggu lalu disini?" Ucap Farah dengan antusias.
"Bukanya saya tidak mau Bu, tapi saya akan membantu Kak Afita di perusahaannya, bukan begitu kak?" Jawab Naura yang kini menatap Afita.
"Begini Nau, sebenarnya di perusahaan sudah ada sekretaris, itu kenapa aku dari kemaren tidak memintamu untuk segera membantuku, dan dia juga sangat berkompeten menggantikan mu selama empat tahun ini, kalau harus aku berhentikan rasanya tidak mungkin"
"Apa?, Tapi kak_"
"Apa aku harus memohon padamu Naura?" Sahut Farah membuat Naura terkejut dan tidak mungkin menolak lagi.
"Baiklah Bu, saya akan segera memasukkan persyaratan ke perusahaan, dan mohon bimbingannya jika nanti saya ada kesalahan dalam menjalankan pekerjaan" ucap Naura begitu resmi dan membuat Farah tersenyum.
"Tentu saja" jawab Farah dengan senyuman puas karena permintaannya akhirnya di terima oleh Naura.
*
*
Sementara di sebuah Rumah Sakit Besar.
"Jangan menggampangkan sedikit saja keadaan Pasien, semua keluhan harus benar-benar kita perhatikan, mengerti?" Ucap Firman yang merasa kesal.
"Maaf Dokter, aku tadi masih ada kepentingan yang mendadak" jawab Dokter Ana yang selalu mencari perhatian.
"Kalau kamu tidak bisa mementingkan keselamatan Pasien dari kepentingan pribadimu sendiri, sebaiknya ajukan pengunduran dirimu, itu akan lebih baik" sahut Firman dan pergi meninggalkan ruangan.
"Ma maaf Dokter Firman" ucap Dokter Ana, dan segera menghampiri Pasien untuk melanjutkan tugasnya.
Firman berubah menjadi sosok Dokter Spesialis Bedah yang menjadi lebih dingin dan perfeksionis dalam bekerja, walaupun seorang dokter Ana yang menjadi idola di Rumah Sakit itu dengan berbagai cara sudah sering kali mencari perhatiannya.
Tak lama Firman duduk di atas kursi kerjanya, memijit tengkuknya yang teras kaku, hingga kemudian dikejutkan dengan suara ponselnya.
"Iya Mom, ada apa?" Tanya Firman yang kini tengah berbincang dalam saluran handphonenya.
"Bacalah pesan Mommy, kau ini, aku mengirimkan dari tadi, kenapa tidak kamu lihat sama sekali?" Protes Farah yang merasa pesannya di abaikan.
"Aku baru saja keluar dari kamar operasi Mom"
"Baiklah, buka pesan dari ku sekarang"
"Okey"
Firman segera memutuskan sambungan, lalu menghela nafas sebelum kemudian membuka isi pesan dari Mommy nya.
Bibirnya tersenyum tipis saat melihat isi pesan Farah yang mengatakan kalau sudah mendapat Sekretaris handal yang sangat cerdas dan cantik, dan sebuah foto juga di kirimkan ke pesan selanjutnya.
Firman terdiam, menatap lekat foto Naura yang tengah tersenyum dan terlihat tak menyadari kalau sang Mommy telah mengambil gambarnya.
Hingga kemudian, Firman dikejutkan lagi dengan sebuah pesan yang baru saja masuk, saat di buka rupanya dari Farah yang menanyakan bagaimana pendapat Firman tentang Sekretaris barunya.
Firman menggelengkan kepala, kemudian membalas pesan Farah dan mengatakan selamat dan support akan apa yang sudah dilakukan oleh Mommy-nya.
Telah Hadir Cerita Seru Keluarga Nugraha di Channel YouTube: ketik Sinho Channel/Sinho Novel untuk segera mampir dan menikmati kisahnya.
Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.
Bersambung.