ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 142



Afita tersenyum, satu tangannya memeluk Alena dengan erat, bau tubuhnya yang mirip sekali dengan sang Daddy Alex membuat Afita seakan tak mau melepaskan pelukannya.


"Terimakasih Aunty sudah bisa menemukan kami, maafkan aku sudah menghilang dan meninggalkan kalian" ucap Afita penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, dan sepertinya aku mulai mengerti sesuatu" ucap Alena lalu menoleh ke sosok laki-laki yang berjalan tertatih hendak meninggalkan tempat itu.


"Maksud Aunty, Dia?" Tanya Afita terkejut menatap Reno dan masih tak mengerti akan ucapan Alena.


Alena mengangkat satu tangannya, dan sekali hentakan membuat tubuh Reno terseret dan kini sudah berada di depannya.


BRUG


"Akh!" Teriak Reno mendapati tubuhnya ambruk di depan Alena.


Reno terkejut dan berusaha bangun dengan tubuh yang rupanya tengah terluka, Alena mendekati dan membuat Reno bertambah panik seketika.


"Jangan membu-nuhku, ampuni aku!" Teriak Reno.


"Ck, aku bukan pembu-nuh" ucap Alena kini sudah meraih gelang yang ada di tangan kanan Reno, memperhatikan dengan seksama dan terlihat senyuman di sana


Reno terkejut, merasa aneh saat wanita itu tersenyum, jantungnya terasa berhenti berdetak melihat gigi putih yang nampak begitu manis berpadu dengan senyuman.


DAG.


"Akh!" Reno menjerit kembali saat tendangan kaki dari Afita kini mengenai tubuhnya. "Apa yang kau lakukan?!" Teriak Reno memberi protes ke Afita.


"Jaga Matamu, dia wanita yang harus kau hormati, dasar bre-ng-sek!" Ucap Afita.


Alena masih fokus melihat gelang itu, dan saat akan memegangnya, benda itu bersinar terang kembali, segera Alena mengeluarkan perisainya karena merasa gelang itu berusaha menghilangkan kekuatannya.


"Ini sangat unik, dan aku rasa sangat berguna untuk Fian sementara waktu, bawa laki-laki ini ikut bersama kita, itu akan memudahkan Zafian berdekatan dengan Fian, karena gelang itu akan menetralkan kekuatan kalian" ucap Alena.


Reno terkejut, begitu juga dengan Afita, Namum penjelasan Alena masuk akal juga, dan Anak buah Afita yang dia bawa segera mengamankan Reno dengan perintah untuk menjaga dan jangan sampai menyakitinya.


Tak lama kemudian, Afita segera menghubungi Zafian untuk mendekat, ada keraguan dalam dirinya, namun penjelasan Afita tidak memberikan alasan lagi kenapa dirinya harus menjauh dari sang Putra.


Pertemuan yang mengharukan terjadi, Zafian menatap Fian yang berada dalam gendongan Afita dengan penuh kerinduan yang tidak bisa diungkapkan dengan apapun.


"Apa dia Daddy ku Mom?" Tanya Fian saat melihat Zafian ada di depannya.


"Iya sayang, bukankah kakek Raka sudah menjelaskannya pada Fian?" Tanya Afita.


Lalu Fian mengangguk dan tak lepas menatap Zafian yang masih terdiam dalam kesedihan hati yang paling dalam.


"Aku ingin memeluk Daddy, boleh?" Tanya Fian.


Afita tersenyum, lebih mendekatkan lagi sang putra pada Zafian, dan segera Fian berpindah ke dalam pelukan dan gendongan Daddy nya.


"Daddy jangan meninggalkan Fian lagi" ucapnya lirih karena tubuhnya yang masih lemas karena kekuatan hitamnya yang baru saja terlepas.


Zafian memeluk Fian dengan erat, tak bisa berkata-kata lagi, hanya nafas yang merasakan sesak mulai longgar di rasakannya, tak terasa air mata pun keluar tanpa diminta.


Afita meneteskan air mata, begitu juga dengan Alena yang kini sudah merangkul bahu Afita memberikan support.


"Semuanya aman, dan sebaiknya kita pergi dari sini dulu, pihak berwajib akan menangkap wanita yang selalu membuat ulah itu, sementara laki-laki ini akan kita bawa kemanapun Fian pergi"


"Apa?!, Aku tidak bisa!" Sahut Reno.


"Aku tidak memberikan pilihan untukmu, ikuti saja apa yang diperintahkan, atau kau pilih berakhir di penjara dan aku pastikan itu tidak akan sebentar" sahut Alena.


Reno segera terdiam, tak bisa berbuat apapun saat ini, Zafian hanya sekejab menatapnya begitu nyalang, dan melihat gelang dalam tangan Reno menyala kembali.


"Bisakah kau hentikan reaksi gelangmu itu, bre-ng-sek!, Itu menghilangkan kekuatan ku!" Ucap Zafian.


"Tentu saja bisa, tapi apa kau yakin?, dari yang aku dengar kekuatanmu akan memicu kekuatan An_"


"Diam, atau kau ingin aku melempar mu lebih keras lagi?" Sahut Alena, lalu segera dirinya pergi.


"Jangan berbuat Jahat dengan Paman itu, dia baik padaku Dad" sahut Fian membela Reno.


Zafian hanya terdiam, tidak ingin kenyamanan Fian terganggu, hingga akhirnya berbicara dengan kode rahasia untuk membawa Reno ikut masuk kedalam mobil.


Tidak membutuhkan ijin apapun, kini semuanya di boyong ikut ke Surabaya, perintah Alena tidak ada yang berani membantah saat ini, dan tentu saja, Reno mendapat perawatan dalam perjalanan.


"Dia_?" Tanya Anita.


"Fian, cucu Bunda" sahut Zafian memperkenalkan.


Sontak Anita terkejut dan seketika hampir terjatuh, beruntung Afita segera menopang Anita, lalu kemudian perlahan menghampiri Fian yang masih asing dengan neneknya.


Tidak butuh waktu lama, Fian kini sudah berada dalam pelukan sang nenek yang tentu saja sangat merindukan kehadirannya.


"Maafkan nenek, tidak bisa menemukanmu sejak awal, maaf sayang" ucap Anita.


"Bukan salah Bunda, maafkan Afita Bun" sahut Afita yang berada di samping Zafian.


Disaat yang sama, salah satu pengawal datang untuk menanyakan sesuatu,"Maaf Tuan, dimana saya harus menempatkan orang itu?".


"Kamar di lantai bawah masih ada beberapa yang kosong bukan?, Tempatkan saja disana, urus dia dengan baik, dan jangan sampai lengah, awasi dengan ketat" Ucap zafian.


"Baiklah Tuan, saya mengerti " kata pengawal itu dan langsung mengundurkan diri untuk melakukan tugas yang di perintahkan.


"Siapa?" Tanya Anita yang nampak penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Zafian.


"Seseorang Bun, nanti akan aku ceritakan" sahut Zafian.


"Baiklah, sebaiknya kalian beristirahat dulu" ucap Anita sambil menggandeng Fian yang nampak tak rela dia lepaskan.


*


*


Pagi hari setelah Semuanya kini telah kembali, Nampak Alena kini tengah duduk bersama dengan Anita.


"Maaf Alena, aku mendengar semua yang terjadi dengan Afita dan juga Fian, dan akhirnya aku mengerti kenapa Afita pergi begitu saja, lalu bagaimana dengan mereka, apa Fian akan baik-baik saja berdekatan dengan Zafian?" Tanya Anita.


"Untuk itulah seseorang itu harus ada di sini Bu Anita, ada sesuatu dalam dirinya yang bisa menetralkan kekuatan Zafian dan juga Fian" ucap Alena menjelaskan.


"Seseorang?" Tanya Anita penasaran.


"Seperti yang akan aku beritahukan ke Bunda" sahut Zafian yang kini sudah tiba di sebelah Anita.


"Zaf, jelaskan semuanya ke Bunda" Ucap Anita menuntut penjelasan.


Zafian segera menjelaskan apa yang terjadi, tentang Reno yang mempunyai sebuah gelang dengan kekuatan bisa membuat Fian dan dirinya dalam keadaan aman, walaupun berdekatan.


Nampak Anita mengerutkan kening, seperti sedang mengingat sesuatu, dan berakhir dengan panggilan Afita yang sudah bersama Fian untuk memanggil semuanya untuk makan pagi bersama.


"Mana Paman yang baik itu dad?" Tanya Fian saat sudah berada di ruang makan.


Nampak Zafian terkejut, tidak menduga sepertinya sang putra mempunyai ikatan dengan Reno yang telah menculiknya.


"Sebaiknya kita panggil saja Reno kemari untuk ikut makan" ucap Afita memberikan pendapatnya.


"Kenapa tidak, bagaimana pun dia juga berjasa bisa membuat kalian berdekatan seperti ini, bukan begitu?"sahut Anita mendukung Afita.


Dan kemudian, Zafian segera berdiri, lalu berjalan menuju ke kamar dimana Reno berada.


"Ada apa?" Tanya Reno dengan tatapan sinis nya.


"Ikut aku sarapan bersama, jangan membantah dan segera bersiap, apa kau masih sakit?" Tanya Zafian mengamati.


"Tidak, anak buahmu mengurusku dengan baik, dan aku harap kau bersedia memberiku ponsel untuk menyuruh anak buahku menjemput" sahut Reno.


"Itu tidak akan terjadi saat ini, kalau kau tidak ingin kelaparan, Ayo ikut sarapan" ucap Zafian.


Terpaksa Reno mengikuti apa kata Zafian, melangkah dibelakangnya menuju ke ruang makan untuk ikut bergabung sarapan pagi seperti yang di perintahkan Zafian.


Untuk yang pertama kali Anita melihat sosok Reno, nampak keterkejutan di wajahnya, melihat Reno begitu mirip dengan seseorang.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.