ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 120



Sore yang melelahkan bagi Afita, tiba di rumahnya tepat jam lima sore, sambutan dari anak kesayangan seketika membuat keadaan baik-baik saja.


"Mommy!" Teriak Fian dengan semangat menghampiri Afita.


Afita tersenyum lebar, lalu mengucap salam yang langsung di jawab sempurna oleh sang putra tercinta yang kini sudah berada dalam pelukannya, keduanya berjalan masuk bersama.


"Kak, kau baik-baik saja?" Tanya Naura melihat Afita langsung duduk di ruang tamu sambil merebahkan badannya.


"Hem, hari ini melelahkan"


"Mommy sakit?" Tanya Fian ikut obrolan.


Afita terkekeh, melihat Fian dengan wajah lucunya tampak khawatir sok jadi orang dewasa.


"Nggak sayang, mommy hanya capek"


"Okey mom" sahut Fian lalu tersenyum dan kini sudah berlari masuk untuk melanjutkan aktifitasnya.


"Ini kak, minum dulu" Naura menyodorkan minuman dingin untuk Afita.


"Terimakasih" ucap Afita setelah air itu membuatnya segar kembali.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Lanjut Afita sambil menggeser gelas yang ada di depannya.


"Kak, aku sering bermimpi, seperti berada di tengah pertempuran, dan banyak kilatan api disana, aku juga melihat_, Akh!" Naura memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat nyeri.


"Hentikan, jangan memaksa ingatanmu Naura, itu berbahaya" ucap Afita dengan cepat memberikan sentuhan lembut di tengkuk Naura.


Perlahan nyeri hebat itu menghilang, Afita memimpin Naura untuk mengatur nafas dan rileks.


"Aku hanya ingin mengingat semuanya, aku merasa bingung dan seperti tidak tau harus bagaimana melihat Kak Afita seperti ini, ingatanku sangat terbatas, dan itu kadang menyiksaku kak" ucap Naura yang sudah berkaca-kaca.


Afita masih terdiam, semakin Naura menangis dan tampak begitu menderita, maka rasa bersalah Afita semakin besar akan kejadian itu, dan rasa sakit semakin menyayat hatinya.


"Maafkan aku" ucap Afita.


"Kakak selalu berkata Aneh, kenapa harus meminta maaf, apa kakak yang membuatku seperti ini, atau keluarga kakak?, tidak kan?" Sahut Naura membuat hati Afita semakin nyeri.


"Nau, tenanglah, kita bersabar, aku tau ini sulit untuk mu, kita akan terus berusaha mengembalikan ingatanmu dan disaat ingatan itu pulih kembali, aku berharap semua akan tetap baik-baik saja" ucap Afita lirih.


Naura terdiam, melihat wajah Afita yang begitu mendung, tentu saja Naura tidak tega.


"Kak, aku akan bekerja" ucap Naura sengaja memberitahu Afita untuk mengalihkan perhatian.


"Apa?" Tanya Afita terkejut, sementara Naura sudah tersenyum lebar.


"Bekerja bagaimana?" Lanjut Afita semakin heran.


"Membuat Kue pesanan Kak, kemaren guru sekolah yang ada di dekat rumah datang, menanyakan tentang kue yang aku buat dan tak sengaja di bawa oleh salah satu tetangga kita yang menjadi guru disana, mereka suka dan ada salah satu yang punya toko kue di pertokoan dekat Kota"


"Lalu?"


"Toko itu membutuhkan Aneka macam kue yang berbeda, baik penampilan dan juga rasa, aku di tawari untuk menjadi salah satu penyedia kue yang nanti akan di jual disana" jawab Naura dengan semangat berapi-api.


"Alhamdulillah, baguslah, tapi kamu buatnya dirumah saja kan?" tanya Afita.


"Iya dong kak, nanti akan ada yang mengambil ke sini" jawab Naura.


"Keren, selamat berkarya cantik" ucap Afita merasakan bahagia, begitu juga dengan Naura yang sudah menerbitkan senyum.


"Eh, ngomong-ngomong, kakak nggak pakai kacamata itu lagi?" Tanya Naura yang seketika membuat mood Afita berubah.


"Diminta sama orang"


"Ha, kok bisa?" Tanya Naura heran.


"Bisa lah, Bos kakak yang aneh bin ajaib, tidak suka melihat kacamata itu, ya sudah, dari pada ribut, aku yang ngalah"


"Hehehe"


"Kenapa tertawa?" Ucap Afita heran.


"Kak Afita itu banyak berubah, tambah sabar dan lebih tenang menghadapi masalah, tidak seperti dulu yang ada di sebagian ingatanku"


"Keadaan berbeda Nau, kita harus lebih hati-hati dan mawas diri"


"Hem, gatal gak itu tangan sama kaki?" Tanya Naura sambil tersenyum.


"Maksudnya?" Ucap Afita tak mengerti.


"Seingat ku, kakak punya tenaga supra_"


"Hus, diam!" sahut Afita langsung memperingatkan Naura dengan melebarkan mata dan beranjak pergi masuk ke kamar untuk membersihkan diri


"Sorry!" Seru Naura.


Naura tertawa sejenak, menggelengkan kepala, lalu menghela nafas mengingat bagaimana Afita sama sekali tidak pernah menggunakan tenaga supranatural dalam tubuhnya karena tidak ingin terdeteksi oleh siapapun.


*


*


Sementara itu, seorang laki-laki tengah sibuk memikirkan bagaimana cara seseorang mau menerima uang darinya.


"Kenapa Afita sangat keras kepala, dia malah bekerja begitu keras untuk menghidupi dirinya sendiri, sedangkan perusahaannya menghasilkan begitu banyak rupiah yang tidak akan habis tujuh turunan" gumam Raka sambil memijit pelipisnya.


Dan tak lama kemudian, datanglah sosok Alena yang makin membuatnya pusing tujuh keliling, karena wanita yang satu ini adalah salah satu wanita yang keinginannya sulit dia tolak begitu saja.


"Apa aku mengganggu?" Sapa Alena setelah mengucap salam saat memasuki ruang kerja Raka.


"Tentu saja, apalagi niatmu ke sini kalau tidak ingin menggangguku" jawab Raka yang kini sudah menutup laptopnya.


"Apa keadaan keponakanku baik-baik saja?" Tanya Alena.


"Ck, siapa yang kau tanyakan?"


"Ayolah, jangan berpura-pura Raka, aku tau kamu pasti yang membantu Afita kan?"


"Kalau kau tau, kenapa kau membiarkan, seolah membantuku untuk menutupi ini semua, jangan kira aku tidak tau" sahut Raka.


Alena tersenyum, sorot mata yang menggambarkan rasa terimakasihnya karena sudah menjaga sang ponakan dalam diam.


"Maaf, aku masih belum bisa menemukan cara untuk mengendalikan kekuatan hitam anak Afita yang berada dalam kandungannya waktu itu, dan sampai sekarang"


"Aku tau, tapi anak itu sudah tumbuh sempurna" sahut Raka.


Alena tertunduk, tak kuasa menahan air mata, lalu mengusapnya cepat agar tak terlihat.


"Dan pastikan agar menjauh dari Zafian, sampai aku menemukan cara untuk mengendalikan"


"Bukankah kekuatan Zafian sudah di hilangkan?" Tanya Raka.


"Bukan di hilangkan, tapi di rubah dan di kuasai"


"Seperti Kekuatan Kaisar?"


"Hem, dan artinya Zafian masih memiliki kekuatannya sendiri" Alena menjelaskan.


"Itu berarti keberadaan Zafian masih memicu kekuatan hitam yang masih ada di tubuh Fi_" Raka segera menghentikan ucapannya, hampir saja kelepasan.


"Jaga Rahasia mereka, walaupun dari aku sendiri Raka , kau tau betapa aku sangat merindukan mereka, tapi aku mohon, bantu aku untuk keselamatan keduanya, sampai waktunya tiba" ucap Alena, lalu pergi begitu saja dengan butiran air mata yang menetes menemani perjalanannya.


*


*


Di malam yang begitu gelap, seorang laki-laki sedang menunggu pesawat pribadinya siap untuk berangkat ke pulau seberang.


"Semua sudah siap Pak"


"Hem, pastikan tidak ada yang tertinggal"


"Siap Pak"


"Apa temanku sudah datang?"


"Sepertinya belum pak"


"Ya sudah, kita tunggu, menyebalkan!" Ucap sang bos yang menunggu sahabatnya karena kebetulan ada kepentingan di kota yang sama.


Tak lama kemudian, seorang dengan berlarian sudah nampak di depan mata, yang semakin membuat melongo adalah jas putih kebesaran yang masih bertengger di badannya.


"Apa tidak ada baju yang lainnya, sampai harus memakai baju identitas mu sebagai seorang dokter?!"


"Sorry bro, aku masih ada operasi gawat darurat tadi, langsung lari kesini setelahnya, takut tertinggal"


"Ck, sudah tau tenagamu sangat di butuhkan sewaktu-waktu, kenapa juga ingin berangkat bareng denganku"


"Hei, ayolah, kapan lagi aku bisa menikmati pesawat pribadi mu yang baru"


"Dasar!"


Keduanya mengakhiri adu mulut, lalu dengan langkah lebar berjalan memasuki pesawat yang sudah siap.


Yang makin semangat, yuk kasih HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANnya dong.


Bersambung.