ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
172. Firman_Naura 26



Liana, Leon dan Mark masih menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Naura.


"Katakan yang sejujurnya Naura, Apa benar yang dikatakan oleh dokter Firman?" Ucap Liana saat melihat Naura masih nampak terkejut.


"Maaf, aku tidak memberitahukan kepada kalian sebelumnya, dan apa yang dikatakan oleh dokter Firman adalah benar, kami sudah menikah" jawab Naura.


"What?!" Ucap Mark.


"Apa?!" Sahut Leon


"Oh Astaga" Liana terkejut.


"Terima kasih sayang, setidaknya sudah ada tiga orang terdekat kamu yang sudah mengetahui hubungan kita sebelum pesta pengumuman tentang pernikahan kita akan digelar sebentar lagi" ucap Firman dengan senyum kemenangan.


Nampak sekali Mark dan Leon begitu kecewa, tapi mereka juga sadar bahwa hati dan jodoh tidak bisa dipaksakan.


"Bukan aku melarang Naura untuk berkumpul bersama teman-temannya, Tapi aku harap kalian bisa menjaga diri saat bersama dengan Naura" ucap Firman menatap Mark dan Lion bergantian.


"Aku benar-benar minta maaf, belum sempat memberitahukan kabar bahagia ini pada kalian" ucap lirih Naura lagi.


"Hei Ayolah, ini kabar gembira, tentu saja aku sebagai sahabat sangat bahagia karena kamu sudah mendapat Kekasih hati yang sudah dihalalkan" jawab Liana dan segera memeluk Naura untuk mengucapkan selamat.


"Aku ucapkan selamat padamu Naura, walaupun hatiku tentu saja masih tak percaya dengan semua ini" ucap Leon yang segera dicegah saat ingin memeluk Naura


"Kalian bisa berjabat tangan saja, hanya Liana yang aku perbolehkan memeluk istriku, kamu tidak keberatan bukan?" Ucap Firman.


Liana hanya tertawa, begitu juga dengan Naura yang menatap Leon untuk memaklumi segalanya.


"Baiklah, sekali lagi selamat Naura" Leon menjabat tangan Naura.


"Aku juga, ku ucapkan selamat atas pernikahan kalian" sahut Mark lalu menjabat tangan Naura.


*


*


Berakhir dengan Firman yang kemudian sedikit berbincang dengan mereka, tak lama kemudian Firman memberikan kesempatan dan waktu untuk Naura bercengkrama dengan ketiga sahabatnya.


Sementara itu, dari kejauhan terlihat sepasang suami istri sedang tersenyum melihat Apa yang terjadi di taman belakang.


"Sepertinya Firman sangat posesif pada Naura" ucap Zafian.


"Mungkin dia melihat sahabatnya juga seperti itu" jawab Afita dengan senyuman.


"Itu karena aku sangat mencintaimu Sayang" ucap Zafian yang kini sudah memeluk dan mencium kening istrinya.


"Aku tahu, terima kasih atas ke ke posesif an mu" jawab Afita membalas pernyataan Zafian, lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Firman yang berjalan masuk ke dalam Mansion dikagetkan dengan sapaan dari Reno yang rupanya sempat mengamati apa yang sudah terjadi dengannya.


"Rupanya sang singa sudah menunjukkan taringnya" ucap Reno saat Firman berjalan mendekat.


"Tentu saja, Aku tidak ingin dua laki-laki sahabat Naura itu mempunyai harapan yang lebih, sesama laki-laki aku bisa merasakan kalau mereka berdua masih mengejar Naura" jawab Firman yang kemudian duduk di samping Reno.


"Benarkah?, Aku setuju kamu bergerak cepat Firman, karena adikku itu adalah wanita yang cukup digandrungi oleh banyak pria" sahut Reno.


"Aku tahu, dan rasanya sudah tidak sabar lagi ingin melangsungkan pesta pernikahan yang megah dan melegalkan hubungan kita Sah secara negara" ucap Firman.


"Perlu bersabar untuk hal itu, bukankah semuanya sudah dipersiapkan oleh keluargamu dan juga afita?" Tanya Reno.


"Tentu saja, masih satu bulan lagi aku harus bersabar akan hal itu" ucap Firman dengan menarik nafas panjang.


*


*


Hampir seminggu Naura menikmati hubungannya dengan Firman, semua berjalan dengan baik tidak ada kendala sama sekali, luka di kaki Naura sudah sembuh dan bisa dibuat berjalan seperti biasanya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Firman saat Naura sudah nampak begitu rapi di pagi hari.


"Tentu saja bekerja Sayang, aku sudah sembuh sekarang, dan kamu tidak lupa kalau istrimu ini adalah karyawan di perusahaan mertuanya bukan?" Naura tersenyum.


Firman yang mendengar penjelasan Naura sontak tertawa, lalu memeluk Naura dan mencium pipinya.


"Bisa jadi perusahaan itu akan menjadi milikmu"


"Dan tentu saja Mommy tidak akan membiarkan hal itu"


"Maksudmu?"


"Apa kamu tidak bisa merasakan, Kenapa Mommy dulu begitu memaksamu untuk membantunya, itu karena Mommy sebenarnya sudah mengetahui masalah kita, dan hubungan kita yang sekarang ini lah yang sangat diharapkan oleh Mommy" ucap Firman.


"Apa?!, Benarkah?" Tanya Naura yang nampak terkejut.


"Begitulah" Jawab Firman.


"Aku tidak menyangka sama sekali, bahkan dari awal aku begitu takut karena keluargamu adalah orang-orang yang begitu terpandang di mata dunia, sedangkan aku_"


"Kamu adalah nyonya Firman Hamid sekarang, jadi jangan ada lagi pemikiran konyol seperti itu, kedua orang tuaku akan sangat marah jika kamu masih merasakan hal itu" sahut Firman sebelum Naura menyelesaikan ucapannya.


"Maaf_" jawab Naura.


Firman tersenyum lalu memeluk istrinya kembali, bibirnya kini sudah menyentuh dengan lembut, merasakan manisnya bibir Naura dan bahkan mulai menyesap dengan dalam hingga Naura sedikit mende-sah dan membuka mulutnya.


Lidah Firman menjelajahi ke dalam, merasakan kehangatan dan has-ratnya yang seketika melambung tinggi, kembali tangan Firman tanpa diminta sudah melakukan tugas berikutnya.


Memberikan sentuhan ke dalam kulit Naura dan berakhir dengan remasan di kedua bukit kembarnya.


"Yang.." ucap Naura sedikit mende-sah saat mendapat ra-ngsa-ngan dari suaminya.


"Sshh.." Firman mulai melewati batasnya, tidak peduli dengan baju Naura yang dibuat begitu berantakan.


"Mmhh.." sekali lagi Naura ingin menolak namun luma-tan bibir Firman membuatnya tak berdaya.


Tangan Firman mulai berpindah tempat, seolah meminta lebih, perlahan turun ke bawah untuk menyambangi Aset harga sang istri yang belum pernah tersentuh.


Tanpa berpikir panjang, Firman melepas celana panjang Naura dan membuat celana melorot begitu saja, kaki panjang Naura yang begitu mu-lus dan putih bersih membuat Firman tersenyum.


Lalu tangannya perlahan membelai kedua pa-ha Naura yang berakhir dengan rema-san di kedua pan-tat yang padat dan berisi.


Kedua tangan Firman menelusup ke dalam kain yang menutupi area bawah Naura, dan apa yang terjadi kemudian, terdengar sebuah jeritan kecil.


"Hentikan yang!" ucap Naura.


"Oh my God, aku lupa, kamu masih belum bersih?" Tanya Firman seketika melepaskan tangannya.


"Sorry, tinggal sedikit" ucap Naura dengan pandangan mata berharap pengertian Firman.


"Heh, sepertinya aku perlu bersabar sedikit lagi" udah Firman yang kini sudah menangkup wajah Naura lalu kemudian mencium bibirnya.


"Terima kasih pengertiannya sayang" ucap Naura.


"Sama-sama, Aku tidak akan tega melakukan hal itu padamu disaat darah ha-id masih keluar, karena itu bisa menjadi pemicu munculnya penyakit di dalam rahim mu" ucap Firman begitu bijaksana lalu mencium kening istrinya.


Firman membantu Naura membenarkan pakaiannya yang sudah dibuat berantakan, kemudian keduanya segera keluar kamar menuju ke meja makan di mana anggota keluarga yang lain berada di sana.


"Apa Naura sudah akan bekerja hari ini?" Tanya Zafian.


"Iya, Naura sudah tidak tahan lagi kalau harus berdiam diri di Mansion, apalagi lukanya sudah sembuh, jadi tidak ada alasan aku menahan ya bukan?" Sahut Firman.


"Apa kalian akan berangkat sendiri-sendiri?" Tanya Afita.


"Tentu saja tidak, aku yang akan mengantarkan dan menjemput Naura mulai saat ini" jawab Firman.


"Manis sekali" sahut Reno sambil tersenyum.


"Yang jomblo dilarang sirik" jawab Firman.


Semuanya hanya tertawa, sementara Reno tetap santai melanjutkan makan paginya.


Sampai di depan perusahaan, Naura menyalami tangan Firman dan kemudian sebuah kecupan di kening didapatkan.


"Aku hanya bisa mengantarmu dan tidak bisa menemanimu sayang, hati-hatilah saat bekerja" pesan Firman.


Naura tersenyum lalu kemudian memeluk suaminya, "Apa aku boleh mencium bibirmu, untuk mood booster ku" ucap Naura.


"Kamu menggoda ku?" Sahut Firman, membuat Naura terkekeh, lalu dengan cepat mencium bibir suaminya dan segera pergi.


"Heh, dirimu selalu membuat sesak apa yang berada di bawah sini yang" gumam Firman yang kini berusaha mengontrol has-ratnya agar bisa dikendalikan dan kembali dalam ukuran yang normal seperti sebelumnya.