ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 39



Tidak tinggal diam begitu saja, Anita yang sudah mendengar semua cerita yang bergulir dari mulut Zafian sendiri segera menghubungi seseorang.


"Baiklah, terimakasih akan waktunya, Bunda akan tiba setengah jam lagi" ucap Anita lalu kemudian segera meletakkan kembali ponselnya.


Berjalan masuk ke dalam kamar ganti dan segera bersiap untuk keluar sesuai dengan janji temu yang tak lama di buat dengan seseorang.


Perjalanan begitu menyengat, panas kota Surabaya sangat terasa di hari ini, dengan di antarkan oleh salah satu penjaga Mansion menaiki salah satu mobil yang ada di garasi, Anita akhirnya tiba di sebuah Taman kota yang nampak sejuk dan asri.


Berjalan menuju tempat yang di janjikan, akhirnya bertemu dengan sosok wanita yang dicari.


"Bagaimana kabarmu Eliza?" Sapa Anita lalu duduk di sebelah wanita yang dulu hampir menjadi menantunya.


"Oh bunda, baik Bun, bagaimana dengan Bunda, lama tidak berjumpa" jawab Eliza menoleh ke arah Anita lalu tersenyum dan menyalami.


"Alhamdulillah Bunda baik, maaf terpaksa bunda merepotkan mu, ada sedikit hal yang perlu bunda bahas dengan mu"


"Tidak apa-apa Bun, Aku justru senang Bunda masih mengingatku"


Anita tersenyum walaupun dalam hati begitu menahan kemarahan karena perbuatan Eliza yang sudah di luar batas dan sudah membuat rumah tangga sang anak kini bermasalah.


"Maaf sebelumnya, Bunda hanya ingin menanyakan sesuatu, mungkin ini bersifat sangat pribadi, namun bunda terpaksa harus membahasnya dengan mu"


Sejenak Eliza terdiam, berusaha mencerna apa yang di katakan oleh Anita, walau pada akhirnya bisa menebak kemana arah tujuannya.


"Maaf Bun, apa ini masalah Zafian dan Afita?"


"Lebih tepatnya adanya dirimu diantara Zafian dan istrinya" sahut Anita.


"Oh, maaf Bun, aku tidak mengerti"


"Bunda mohon, hentikan apa yang kau lakukan terhadap Zafian, bukankah dulu kau yang menginginkan perpisahan ini?"


Eliza terdiam sejenak, dalam hatinya tidak suka Anita terlalu ikut campur urusannya.


"Saya menyesal sudah melakukan itu Bun, dan rasa cintaku terhadap Zafian tidak semudah itu bisa hilang begitu saja" tutur Eliza dan terus terang membuat Anita terkejut.


"Lalu, semua itu tidak harus melakukan tindakan yang bisa menghancurkan keluarga Zafian bukan, sesama wanita harusnya kamu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Afita"


"Semuanya memikirkan bagaimana perasaan Afita, lalu bagaimana dengan perasanku Bun, apakah Bunda dan Zafian juga memikirkan perasanku?!" Sahut Eliza mulai meninggi.


"Nak, sadarlah, Zafian sudah mempunyai istri sah yang harus dilindungi jiwa dan raganya, dan kalian sudah tidak ada hubungan apapun, tidak selayaknya Zafian harus memikirkan perasaan mu lagi bukan?"


"Bunda keterlaluan, kalian memang keterlaluan!" Teriak Eliza membuat Anita begitu terkejut di buatnya.


"Astagfirullah, bukan seperti itu maksud bunda Eliz"


"Apa lagi?!, Bunda dan anak bunda memang tidak tau terimakasih, tidak ingatkah dulu kalian seperti apa?!"


"Eliza!, Kau ini ini bicara apa?, Harusnya bunda yang marah disini karena apa yang sudah kau lakukan terhadap Zafian"


"Aku juga kecewa dengan sikap kalian Bunda, seolah tidak tau terimakasih, dan sekarang setelah hidup enak dalam kemewahan telah melupakan jasa keluarga ku!"


"Jangan keterlaluan Eliza!, Bunda juga punya batas kesabaran!"


"Tapi kan memang seperti itu kenyataannya, bunda tidak usah berkelit!"


"Eliza, kau benar-benar keterlaluan, jangan pikir Bunda tidak tau apa yang dilakukan keluargamu terhadap Zafian, memanfaatkan kecerdasan dan tenaganya untuk kepentingan perusahaan saja"


"Apa tidak salah?, bunda yang harusnya bersyukur, bagaimana jadinya Zafian tanpa support dari papa dan kakakku, pasti tidak akan jadi seperti sekarang ini, atau lebih tepatnya menjadi gembel"


"Eliza!"


Suara teriakan mengejutkan keduanya.


"Zafian?" Ucap Eliza terkejut melihat sosok laki-laki yang sudah berdiri tak jauh darinya.


Begitu juga dengan Anita yang tak menduga akan kedatangan Zafian, segera berdiri memperhatikan sang anak melangkah dan terus mendekat.


"Aku tidak pernah menduga kau akan begitu tega berucap dengan sangat kasar, apalagi dengan Bunda" ucap Zafian dengan tatapan tajamnya.


"Maaf Zaf, aku hanya_"


"Tidak perlu kau jelaskan lagi, aku tau semuanya, dan sangat kecewa terhadapmu Eliza, aku tidak menyangka lima tahun terlalu di butakan oleh rasa sayang yang aku anggap itu cinta"


"Zaf, bukan seperti itu, dengarkan dulu penjelasan ku"


"Cukup Eliza, kau sudah keterlaluan, dimana perasaan mu!"


"Apa katamu, kau sendiri dimana perasaan mu ha!, Hanya memikirkan perasaan wanita yang baru saja kau kenal dan kebetulan sekarang ber status istri sah saja, dan tanpa peduli lagi dengan perasaanku!" Teriak Eliza tak terima.


"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan, lupa bagaimana kau begitu melukaiku dengan membuang ku begitu saja setelah mengetahui keadaan ku?, kau sungguh wanita yang sangat egois Eliza!"


"Iya, aku egois, memangnya kenapa?, Sudah sepantasnya aku egois, semua yang aku inginkan harus ku dapatkan, dan kau salah satunya Zafian!"


"Hahaha, oh ya, lalu apa yang kau lakukan kemaren dengan ku ha!, Buktinya satu Minggu tidak sekalipun kau bisa menolak panggilanku, dan terus memperhatikan keadaanku"


"Dan Itulah penyesalan terbesarku ku saat ini!" Sahut Zafian penuh emosi.


"Cukup!, Kita pulang Zaf, maaf Eliza, Bunda pamit dulu, dan ingat apa yang sudah aku katakan, jangan ganggu Zafian dan istrinya lagi" ucap Anita kemudian langsung mengajak Zafian untuk menjauh dan pulang.


"Cih, aku bukan hanya akan mengganggu, tapi akan menghancurkan kalian!" Teriak Eliza penuh dengan emosi.


Sementara Zafian dan sang Bunda terus melangkah dan berakhir dengan menghilang dari pandangan Eliza.


Masih dengan amarah yang memenuhi dadanya, Eliza langsung menghubungi seseorang yang tak lain adalah Papanya, menceritakan semua tentang sakit hatinya, hingga terdengar kedua orang tuanya ikut murka akan hal itu.


**


Hari ke sepuluh dimana Afita sudah tidak berada di samping Zafian, dan di tempatnya terapi kini Zafian berada bersama dengan Firman dan juga sang Bunda.


"Sepertinya aku sudah mulai bisa berjalan normal kembali Fir, yah.. walaupun belum bisa berlari" ucap Zafian penuh semangat.


"Syukurlah, aku ikut senang melihat perkembangannya begitu pesat, dan rupanya prediksi istrimu sangat tepat" sahut Firman.


Zafian yang mendengar kata istri seketika langsung terdiam, merasakan hatinya yang begitu merindukan sosok wanita spesial yang kini menetap dalam hatinya.


"Kau kenapa?" Tanya Firman kemudian.


Zafian tersadar dari lamunannya.


"Apa?"


"Apa yang kau pikirkan Zaf?" Tanya Firman kembali.


"Aku_"


"Teringat istri mu?" Sahut Firman dengan pertanyaan.


"Hem, sangat, tidak bisakah aku_"


"Sudah aku bilang, beri kejutan istrimu dulu dengan memperbaiki keadaan mu, setelah itu kau baru boleh menjemputnya, aku yakin tidak lama lagi kamu akan sembuh seperti sedia kala"


"Sampai kapan?"


"Sabar, mungkin satu atau dua Minggu lagi, semua hasil pemeriksaan mu menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dan itu pertanda baik"


"Heh.. seminggu, dua Minggu lagi, sekarang saja rasanya sudah seribu tahun" gumam Zafian dan terdengar sahabatnya.


Firman tersenyum, lebih tepatnya ingin tertawa tapi takut dosa, mengingat keadaan Zafian saat ini perlu support, bukan olokan yang pasti membuat dirinya emosi tingkat dewa.


Sepulang dari terapi Zafian sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, berjalan dengan hati-hati, dan didampingi oleh sang bunda yang tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah Zaf, kamu sudah mulai bisa berjalan lagi"


"Iya Bun, Alhamdulillah, sepertinya aku tidak perlu lagi kursi roda, Bunda bisa menyimpan atau memberikan pada yang lebih membutuhkan" ucap Zafian.


"Iya, akan bunda simpan sementara waktu, besok atau lusa akan Bunda berikan ke orang-orang yang butuh kursi roda itu"


Zafian tersenyum, disaat dirinya berjalan selalu ada Afita dalam tujuannya.


"Sebentar lagi aku akan menjemputmu Afita" batin Zafian penuh bahagia.


Hingga waktu pun berlalu, semua gerakan tubuh yang diperlukan telah di lakukan oleh Zafian, terbentuk otot dan kegagahan tubuh Zafian telah kembali seperti dulu sebelum kelumpuhan terjadi.


"Bagaimana?" Tanya Zafian dalam rapat tertutup yang digelar siang itu.


"Sesuai dengan tuntutan kita pak, kita menang dan sebentar lagi Hotel mewah itu akan menjadi milik AFIAN GROUP sepenuhnya" ucap salah satu anak buah Zafian.


"Hem, bagus, sesuai yang aku perkirakan, Bimo tidak akan sanggup untuk membayar hutang kekurangan pembangunan itu"


"Iya pak"


"Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan hotel mewah ini, kita tidak punya orang-orang di bidang perhotelan"


"Tidak usah khawatir, aku sudah punya rencana sendiri untuk itu"


"Baik pak"


Rapat disiang itu pun segera berakhir, Zafian tersenyum puas, apa yang di rencanakan berjalan dengan baik, bahkan sekarang kepemilikan Hotel mewah itu sudah berpindah tangan atas namanya.


Dan tentunya Bimo tidak bisa berbuat apapun, karena jalur hukum yang di tempuh oleh Zafian sudah tidak bisa di ganggu gugat.


Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.


Bersambung.