ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 111



Alex tetap terdiam, walau dalam hatinya dia sangat terkejut, namun dirinya sudah bisa menduga bahwa kesalahannya sangat fatal, dan disini banyak nyawa yang sudah di korbankan.


"Daddy tidak pernah menduga dirimu akan se ceroboh ini, kau tau apa yang sudah kamu lakukan?"


"Maaf Dad, aku salah, dan aku akan bertanggungjawab dengan semua resikonya"


Abraham duduk dan sebentar memejamkan mata, rasanya sungguh berat untuk melakukan tugasnya, tapi harus dilakukan, karena semua perbuatan pasti ada konsekuensi yang harus di tanggung.


"Baik, aku yakin kamu tau apa yang harus di lakukan, sebelum itu, apa tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan" ucap Abraham.


"Aku ingin Daddy tau, ku lakukan hal itu, karena aku ingin anakku bisa di jaga dengan baik oleh suaminya"


"Daddy tau, dan disinilah, Egomu mengalahkan Naluri mu" sahut Abraham dengan tatapan tajam.


DEG.


Alex terdiam, sungguh dirinya baru menyadari, bahwa di saat itu ada kata hati yang membuatnya ragu melepaskan segel Zafian, tapi karena ego yang membuatnya hanya berpikir akan keselamatan putrinya, dia tidak memikirkan resikonya.


"Kau tau, aku Daddy mu, orang yang kebetulan dipercaya oleh Sang Pencipta untuk menjagamu, dan hari ini_, Aku merasa gagal" ucap Abraham begitu bergetar, nampak sekali air mata dengan kuat tertahan di sana.


"Dad, maafkan Aku" ucap Alex sekali lagi.


"Aku memaafkan mu, bahkan sebelum kau minta, tapi harus bagaimana Daddy meminta maaf dengan semua nyawa yang direnggut karena campur tangan kita, aku bahkan merasa sesak saat memikirkannya" sahut Abraham.


Kali ini Alex benar-benar terdiam, tidak tau lagi apa yang harus diucapkan, hatinya begitu tersayat dan sakit, namun dia juga tau, Daddy-nya merasakan hal yang sama.


"Tidak ada lagi alasan Daddy menunda hukumanku, aku menerimanya, lakukan Dad"


Abraham menatap sendu ke arah putranya yang sudah jatuh bersujud di hadapannya, kenyataan pahit yang harus di telan dan di terima, mau tidak mau Abraham harus menyegel seluruh kekuatan anaknya, dan hal itu bisa saja melumpuhkan semua syaraf di tubuhnya.


Bahkan semakin besar kekuatan Supranatural yang dimiliki, akan semakin besar juga dampak yang diterima oleh tubuhnya saat segel itu terpasang untuk menghentikan kekuatan.


Abraham mendekat dan mendekap tubuh Alex dengan erat, seolah tidak sanggup untuk melakukan hukuman itu.


"Maafkan Daddy, Alex" ucap Abraham disusul dengan tubuhnya yang bergetar.


"Lakukan Dad, aku siap" ucap Alex menguatkan hati sang Daddy untuk melakukan kewajibannya.


Abraham melepas pelukan, bersiap untuk melakukan hal yang sudah seharusnya, Alex melepaskan baju atasnya, kekuatan segel yang akan di hunjamkan ditubuhnya mengharuskan sentuhan telapak tangan sang Deddy langsung di kulitnya.


"Ini akan terasa sangat menyakitkan" ucap Abraham.


"Aku siap menahannya Dad, lakukan"


Abraham menyentuhkan telapak tangan di punggung Zafian yang sudah tak berbalut apapun, dengan tetap bersimpuh di bawah, Alex mengeratkan rahangnya bersiap untuk rasa sakit yang pasti akan menguras fisiknya.


"Aku lakukan sekarang" ucap Abraham, kekuatan segel maha dahsyat yang di berikan dari Kyai Rahmat mulai keluar dari tangannya, namun_


"Tidak, aku mohon Dad, jangan lakukan itu!" Teriak Alena terdengar begitu nyaring.


Sontak Abraham menarik kembali kekuatannya, menatap tajam ke arah wanita yang berani muncul di saat sebuah kewajiban harus segera di lakukan.


Begitu juga Alex, seketika langsung membuka mata dan membalikkan badan, terlihat sang Adik sudah berdiri di sana dengan dada naik turun mengatur nafasnya.


"Al, pergilah dari sini!" Ucap Alex memperingatkan.


"Tidak, Dad, aku mohon, ini semua bukan semata kesalahan kak Alex, dia melakukan karena ingin melindungi anggota keluarga kita!"


"Dengan mengorbankan banyaknya nyawa, begitu maksudmu!" Ucapan keras terlontar dari Abraham.


"Tapi Dad, tidak bisakah hukuman yang lainnya, misalkan kita asingkan kak Alex saja, jauhkan dia dari hiruk pikuk kehidupan manusia, tidakkah itu cukup?"


BRUG.


Alena menjatuhkan tubuhnya, kini bersujud memohon keringanan hukuman kakaknya.


"Dad, aku tau kak Alex salah, dengan melepaskan segel Zafian tanpa berpikir panjang sudah membuat pemban-taian itu telah terjadi, tapi hukuman dengan menyegel seluruh kekuatan kak Alex, akan membuatnya menderita, bahkan kak Alex bisa lumpuh, aku mohon Dad, jangan lakukan hal itu!" Ucap Alena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dan kau tau bukan, itu aturan yang sudah di sepakati keluarga kita sebelum kakekmu meninggalkan dunia ini, apa kau lupa?" Ucap Abraham.


Alex tersenyum, memeluk Alena yang berada di dekatnya. "Jangan membuatku semakin tidak bisa hidup dengan menahan Dosa ini Al, aku tidak apa-apa, aku kuat menghadapinya, kau masih tetap mengakui ku sebagai kakakmu walaupun tak sehebat dulu bukan?"


"Kak, jangan begitu, sampai kapanpun kau adalah kakak tersayang ku, tidak akan ada yang bisa merubahnya" kini air mata Alena tak bisa di bendung lagi.


"Terimakasih, selanjutnya tugasmu akan bertambah berat, kalian harus menjagaku yang tidak bisa apa-apa lagi"


"Jangan khawatir Kak, aku akan menjagamu dengan nyawaku" sahut Alena mulai bisa mengikhlaskan apa yang seharusnya terjadi.


*


*


Sementara itu, beberapa menit yang lalu, Afita baru saja terbangun dari tidurnya, sore yang di rasa cukup panas, hingga dia menambahkan volume AC di kamarnya, sebelum akhirnya terkejut melihat waktu yang hampir menunjukkan jam empat sore.


Memandang sekitar, rupanya baru tersadar kalau sang Mommy sudah tidak ada di dalam kamarnya, lalu kemudian dirinya segera bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Entah kenapa perasaannya begitu tidak enak, perlahan membasuh tubuhnya dengan air hangat sambil memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdenyut.


"Ada apa ini?" Ucapnya lirih berbicara dengan dirinya sendiri.


Hanya butuh sepuluh menit, Afita menyelesaikan ritual sorenya, setelah memakai gaun yang pas, berjalan perlahan di balkon kamarnya, nampak pemandangan yang mengejutkan saat sepasang matanya menangkap sosok wanita yang sangat dirindukannya.


"Grand Ma?" Ucap lirih Afita.


Tak menunggu waktu lagi, dirinya segera masuk kembali ke dalam kamar, kerapihan hijabnya, lalu berjalan cepat dengan senyuman yang mengembang, sungguh hatinya begitu rindu akan sosok perempuan yang sudah lama tak bersua.


Terus melangkah keluar kamar, Afita melihat sekilas Aunty nya berlari melewatinya, bahkan tanpa menolehnya apalagi menyapa.


"Aunty, apa yang terjadi?" Batin Afita.


Ceklek


Alena terlihat dengan cepat membuka pintu ruang kerja Zafian dengan wajah begitu cemas.


Afita masih terus mengamati, tak mungkin lagi dirinya melanjutkan langkah kakinya. Bahkan tubuhnya terasa kaku di tempatnya, hatinya tiba-tiba saja berdebar, hingga mengharuskan dirinya untuk mencari tau ada apa disana.


Langkah kaki Afita perlahan mendekat, kini semua obrolan di sana bisa didengar dengan baik karena pintu itu rupanya tidak tertutup dengan sempurna, hingga sebuah kenyataan menyambar hatinya.


Afita terhuyung, tangannya membungkam sendiri mulutnya yang sudah bergetar ingin menjerit. Bayangan Daddy-nya yang kemungkinan akan begitu menderita membuat tubuhnya semakin bergetar di setiap langkahnya.


Melangkah semakin cepat, hanya Reyna kini menjadi tujuan satu-satunya, karena dia menyadari bahwa semua anggota keluarga sengaja menyembunyikan apa yang sudah di lakukan Zafian darinya.


Perut Afita terasa kaku dan nyeri, namun tak di pedulikan lagi, langkahnya terus bertambah cepat di saat terlihat sosok sang Mommy berada di ruang tengah dan membelakangi.


"Mom.." ucap Lirih Afita hampir dekat dan ingin meraih Reyna.


Namun tubuhnya seketika berhenti, di saat sebuah kalimat terdengar, dimana sang Mommy menyebut nama Naura di dalam perbincangan ponselnya.


Apa yang akan terjadi ya?, yuk Senin pagi, waktunya memberi VOTE, VOTE, VOTE.


Bersambung.