
Firman kembali ke dalam Mansion bersama dengan Fian, mendengar akan kabar kepulangan orang tuanya, membuat bocah kecil itu tampak begitu senang.
"Mommy, Daddy!" Teriak Fian.
Afita segera ber hambur memeluk anaknya, Zafian tak lupa ikut serta, sedangkan Firman menyambut senang dengan senyuman, memeluk Zafian sesaat dan menuju sebuah balkon yang menghubungkan ruang tengah untuk duduk dan melihat pemandangan sekitar.
Beberapa menit kemudian, Zafian segera ikut bergabung menemani.
"Apa kau sendang mengawasi?" Tanya Zafian.
"Apa maksudmu?" Jawab Firman.
"Sepertinya dua laki-laki itu mencoba untuk mendekati Naura" sahut Zafian lagi.
"Aku tak peduli" jawab Firman mengalihkan pandangan.
"Oh ya, aku begitu mengenalmu Fir, aku sarankan dekati Naura lagi, dia cukup pantas untukmu sekarang ini, mungkin dengan meyakinkannya, semua akan lebih mudah" ucap Zafian.
"Kau memancingku Zaf?"
Firman memandang Zafian sekejab, lalu mengambil minumannya.
"Aku hanya memberimu saran, kau tahu Naura merasa tak pantas untukmu, untuk itu dia sengaja menghindari mu dari dulu, dan dia tidak akan mendekatimu walaupun kau tidur dengan wanita lain di depan matanya" jawab Zafian.
Firman masih terdiam, mencerna kata-kata sahabatnya.
"Dia akan bersikap Pasif Fir, jadi kau harus aktif, lihatlah kedua laki-laki itu, mereka bahkan berani bersaing sehat di depan Naura" ucap Zafian lagi.
Firman masih terdiam dan mengamati, isi kepalanya nya bekerja lebih ekstra untuk menghayati kata-kata sahabatnya.
*
*
Sebagai Tuan Rumah yang baik, Afita mengajak semua berkumpul untuk makan siang bersama, hari ini nampak Fian begitu senang karena Mansion begitu ramai.
Selesai acara makan, Firman berjalan ke belakang untuk mencuci tangannya, bersamaan dengan itu Naura berpapasan dengannya.
Naura terdiam, namun juga merasa lega karena kedua teman laki-laki nya sudah berpamitan pulang, Naura takut Firman akan salah paham, walaupun mungkin Firman tak peduli akan hal itu.
Zafian dan Firman melanjutkan perbincangan, sementara Fian sudah ditidurkan, Afita yang melihat Naura akan melintas segera memanggil nya untuk bergabung.
"Kemari lah Nau, ikut berbincang bersama kita" panggil Afita yang tentu saja tak bisa di tolak oleh Naura.
"Aku ingin beristirahat kak" ucap Naura Setelah mendekat.
"Apa kamu terlalu lelah dengan tingkah Fian?" Tanya Afita tampak khawatir.
"Dia terlalu capek dengan teman-temannya" sahut Firman tanpa melihat Naura.
Semua nampak terdiam, begitu juga dengan Naura, tidak ingin bertahan di tempat yang sepertinya ada yang tidak menginginkan nya, Naura segera berpamit.
"Maaf, sebaiknya aku ke dalam dulu kak" ucap Naura segera bergegas pergi.
Zafian menggelengkan kepala, lalu menatap Firman dengan tajam.
"Ada apa denganmu?" Tanya Zafian.
"Aku?" Sahut Firman sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya mau siapa lagi?" Ucap Zafian sedikit kesal.
"Tidak terjadi apapun denganku Zaf, apa yang aku katakan Riel seperti itu bukan, Naura sedari pagi sudah bersama dengan teman-temannya, wajar jika dia capek dengan hal itu"
"Tapi perkataan mu membuatnya tersinggung"
"Ck, dia dari tadi juga cukup bahagia bersama teman-temannya, bahkan mungkin hanya menganggap ku pengganggu saja"
"Dan kau sepertinya tidak rela, atau mungkin lebih tepatnya cemburu" sahut Zafian.
"Untuk apa aku cemburu"
"Jawabannya hanya ada pada dirimu Fir" sahut Zafian
"Aku datang kesini selain untuk melihat keadaan Fian, juga untuk melihat keadaan Naura, telapak kakinya tergores pecahan kaca, dan aku katakan untuk tidak banyak bergerak dulu, tapi nyatanya malah mondar-mandir bersama teman-temannya"
"Oh jadi begitu, dan hal itu saja yang membuatmu kesal, yakin tidak ada hal lainnya?" Kini Afita menyela.
"Terserah kalian saja, aku akan istirahat di kamar tamu, kalau harus kembali ke apartemen itu terlalu jauh, malam nanti sekalian aku berangkat piket di Rumah Sakit dari sini" ucap Firman berusaha menghindari tatapan Zafian lalu segera pergi.
"Kakimu sudah baikan?" Tanya Afita membuat Naura terkejut, karena dia belum menceritakan.
"Bagaimana kakak tau?" Tanya Naura.
"Dari Firman, dia mencemaskan mu"
"Untuk apa dia mencemaskan ku, melihatku saja dia sepertinya tidak mau" sahut Naura.
"Firman kesal padamu Nau, harusnya kamu mengikuti sarannya untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu, tapi saat dia ingin menyambangi mu, justru kamu sudah kesana kemari bersama dengan teman-teman mu"
Deg
Jantung Naura bergetar, tak menyangka sama sekali kalau firman ternyata begitu memperhatikannya.
Afita hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Naura yang kini sudah berubah, lalu dirinya segera pamit saat mendengar Fian menginginkan dirinya.
*
*
Firman bersiap untuk melakukan tugasnya sebagai Dokter, sehabis sholat Magrib dirinya bergegas mempersiapkan diri dengan rapi.
Sementara Zafian meminta tolong ke Naura untuk mengingatkan Firman, karena jam terus berjalan.
Naura menghentikan langkah di depan pintu kamar yang di tempati Firman, cukup lama berpikir hingga saat dirinya akan mengetuk pintu, justru Firman telah duluan membuka pintu.
"Ka kak Zafian menyuruh ku untuk mengingatkan dokter Firman untuk bertugas" ucap Naura dengan gugup.
"Kau takut padaku?" Tak perlu gugup seperti itu" ucap Firman, lalu menutup pintu kamar dan berjalan pergi meninggalkan Naura.
"Apa kamu marah padaku?" Naura memberanikan diri untuk bertanya.
Firman menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ke arah Naura, Firman menjawab" Tidak tapi aku memang menghindari mu" jawab Firman dengan jujur.
"Kenapa, tak bisakah kita berteman seperti dulu?" Tanya Naura.
Firman segera membalikkan badan dan satu langkah ke depan, lalu menatap mata Naura.
"Berteman?, Aku rasa tidak. Dan kulihat kamu sudah banyak teman laki-laki yang menjagamu sekarang, kau tidak membutuhkanku" jawab Firman lalu berbalik meninggalkan Naura yang masih membeku di tempatnya.
Ada rasa kecewa dan sakit yang datang bersamaan di hati Naura, dirinya segera menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
Firman segera mencari keberadaan Zafian diruang makan, sedangkan Afita membantu asisten rumah tangga untuk menyiapkan menu makan malamnya.
"Kamu tidak menunggu makan malam dulu Fir?" Tanya Zafian.
"Tidak, waktuku tak cukup, akan ada operasi sebentar lagi, aku pergi dulu Zaf" jawab Firman lalu segera mengucap salam dan pamit.
*
*
Pagi hari yang tidak secerah biasanya, lebih tepatnya mendung di serta hujan yang lumayan deras.
"Kamu akan berangkat sekarang?" Tanya Afita melihat Naura yang sudah bersiap tapi dan telah menyelesaikan sarapan paginya.
"Iya kak, ada rapat penting dengan perusahan besar dari negara lain, dan aku harus menyiapkan semuanya dengan baik" jawab Naura yang kini mengecek barang bawaannya.
"Hujan cukup lebat Naura, berhati-hati lah di jalanan" pesan Afita nampak khawatir, karena Naura kemanapun selalu membawa mobilnya sendiri.
"Siap kak, tenang saja" Sahut Naura lalu mengucap salam dan memeluk Afita, begitu juga dengan Fian.
Naura melakukan perjalanan dengan cukup pelan karena jarak pandang yang sedikit terganggu guyuran air hujan, namun begitulah ibu kota, selalu padat di pagi hari apapun keadaannya, dan tanpa di sangka, sebuah sepeda motor menyalip terlalu mepet hingga hampir saja tertabrak dirinya.
Naura banting stir hingga menabrak pembatas jalan, mobil depannya ringsek dan kakinya yang sudah terluka makin parah karena tergores sesuatu hingga membuatnya sobek dan banyak mengeluarkan darah.
Beberapa orang yang melihat segera memberikan bantuan di tengah guyuran hujan yang begitu lebat, beruntung Naura segera ada yang membantu di bawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan awal, lalu segera di rujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan lengkap lanjutan.
Jangan lupa memberi HADIAH,VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.
Mampir juga di Novel Author tentang si kembar tiga di THE TRIPLETS.
Yuk bergabung di Channel YouTube: Sinho Novel/Sinho Channel untuk melihat cerita lebih seru.
Bersambung.