
Rupanya sosok sahabat sejati Zafian sudah berdiri disana, lalu kemudian melirihkan suaranya saat melihat Anita sedang ada disamping Zafian.
"Nak Firman?" Ucap Anita.
"Bunda, maaf"
"Tidak apa-apa, masuklah, tadi bunda menyuruh bibi untuk menghubungimu, Zafian sempat terjatuh tadi" ucap Anita dengan senyuman hangatnya.
"Oh iya Bun" jawab Firman yang kini sudah berjalan mendekati Zafian.
Anita menggeser tubuhnya, kemudian melihat Firman dengan teliti melihat keadaan kaki Zafian.
"Alhamdulillah, tidak apa-apa, hanya luka lecet, bisa di obati sendiri" ucap Firman merasa lega.
"Alhamdulillah, kalau begitu Bunda tinggal sebentar ya?" Ucap Anita beranjak pergi ke dapur menyiapkan minuman dan cemilan untuk Firman.
"Baik Bun" ucap Firman yang kini sudah duduk di samping Zafian.
Plak!
Firman langsung menabok Zafian cukup keras di lengannya.
"Akh!, Kenapa kau memukulku?" Ucap Zafian terkejut dan menggosok lengannya.
"Sialan kau ini, harusnya aku menghajar mu saat ini, membuatku cemas saja"
"Ish, Bunda yang panik, aku tidak" sahut Zafian.
"Tidak apanya, gak panik di tinggal minggat sama istrimu?"
Zafian tersentak mendengar perkataan Firman, lalu memasang tampang curiga.
"Tunggu, bagaimana kamu bisa tau, atau jangan-jangan kau yang mengantarnya?" Tanya Zafian bersiap dengan wajah murkanya.
"Kau ini, lama-lama pengen aku hajar beneran ya?!" Sahut Firman mengepalkan tangannya.
"Diam, lalu kau tau dari mana?" Ucap Zafian tidak takut sama sekali.
"Tadi nona Afita menghubungiku"
"Apa?!, Kenapa dia bisa menghubungimu tapi tidak mau mengangkat telpon ku?" Sahut Zafian marah seketika.
Plak
Lagi-lagi Firman memukul Zafian kembali.
"Hei!, Kenapa kau yang memukulku, harusnya saat ini aku yang menghajar mu!" Teriak Zafian makin kesal.
"Mangkanya dengarkan dulu, salah paham saja kamu pelihara!" Sahut Firman tak kalah nge gas.
"Ck, lanjut!" Ucap Zafian.
"Istri mu memberikan pesan agar tidak lupa mengingatkan jadwal terapi mu dan memintaku untuk membantu sepenuhnya proses penyembuhan kakimu, katanya dia akan pergi ke Jakarta beberapa waktu dan tidak bisa menjagamu"
Zafian terdiam, merasa hatinya semakin pilu, rupanya kebaikan hati sang istri begitu tulus untuknya, air mata Zafian ingin protes untuk menetes, namun segera di usapnya sebelum terlihat oleh sahabatnya.
"Benarkah apa yang kamu katakan?" Tanya Zafian memastikan.
"Untuk apa aku membohongimu, aku juga heran, kenapa nasib mu selalu lebih baik dariku, bahkan sekarang mendapatkan istri cantik dan berhati bak malaikat"
"Kau ini bicara apa?" Ucap Zafian dalam kesedihannya.
"Harusnya aku yang mendapatkan Afita, seandainya kau tidak tiba-tiba saja punya ide gila untuk membuatnya menikahi mu" sahut Firman teringat masa itu.
"Ingin mengajakku berkelahi sekarang juga?" Sahut Zafian makin murka mendengar sahabatnya berbicara.
"Hahaha, ayolah Zaf, aku hanya bercanda, dari tadi kita terlalu serius, aku pusing kawan, di rumah sakit pekerjaan membuatku harus berpikir keras, disini aku ikut tertekan melihatmu tidak bersemangat seperti ini"
Zafian memandangi sahabatnya yang kadang memang sedikit gila, namun dalam hati dia bersyukur karena seorang Firman begitu baik selama ini, bahkan saling melindungi dalam keadaan apapun.
Mereka berdua kemudian dikejutkan dengan kedatangan Anita yang membawa minuman segar dan juga beberapa cemilan diatas nampan.
"Alhamdulillah, sepertinya kamu sudah membuat Zafian bisa lebih tenang nak Firman?"
"Benarkah Bun?, Padahal kami baru saja mau berkelahi disini" jawab Firman dengan senyuman.
"Oh ya, wah.. bunda mengganggu dong?"
Hahaha
Bunda dan Firman langsung tertawa bersama, dan Zafian hanya tersenyum melihat kekonyolan dua orang yang ada di hadapannya.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja ngobrolnya, bunda akan keluar dulu, nanti makan malam disini saja ya nak Firman, bunda buatkan makanan kesukaan kalian"
"Alhamdulillah, siap Bun, lumayan saya gak jadi keluar uang untuk beli makanan, hehe"
"Cih, dasar jomblo, sok ngirit padahal uang menumpuk selangit" sahut Zafian.
"Masih banyakan kamu, gak usah sirik" balas Firman.
Anita makin melebarkan senyumnya, melihat keduanya berseteru dalam candaan, membuat hati Anita tenang, setidaknya untuk saat ini Zafian bisa mengendalikan dirinya.
Keadaan kembali sepi, saat Zafian terdiam, begitu juga dengan Firman.
"Aku juga tidak tau, ikut merasa bersalah kenapa aku mendukungmu untuk memutuskan hal itu tadi, seandainya kamu jujur lebih awal, mungkin Afita tidak begitu terluka, bukankah begitu?"
"Hem, apa mungkin dia akan memaafkan ku?" Tanya Zafian.
"Aku tidak tau Zaf, tapi aku heran, apa dia mengerti semuanya?"
"Lebih dari yang aku kira, bahkan aku tidak tau kalau Bimo dan Eliza merencanakan hal itu"
"Apa?, Breng-sek!, Jadi mereka berdua sengaja menjebak mu begitu?"
"Iya, dan justru Afita yang tau semuanya"
"What!, Kok bisa?"
"Tentu saja, aku lupa siapa sebenarnya istriku, hehh"
"What!, Memangnya siapa istrimu, bukankah dia Afita seorang wanita dengan beberapa kepemilikan hotel mewah saja?"
"Dia itu dari keluarga Nu_" Zafian segera menghentikan ucapannya, tersadar hampir saja melanggar janji untuk merahasiakan siapa sebenarnya Afita.
"Nu apa?, Kenapa tidak dilanjutkan, memangnya dia dari keluarga apa?"
"Sudahlah, kenapa kau malah mengurusi istriku, cari sendiri saja calon istri sana!" Sahut Zafian mengalihkan perbincangan.
"Eh, itu urusan ku, gak usah kamu kasih tau aku setiap hari juga sudah berusaha!" Ucap Firman.
Perseteruan berhenti saat mendengar suara Adzan magrib, dan mereka pun segera beranjak untuk melakukan ibadah bersama.
**
Pagi hari yang sangat cerah, dimana Afita baru saja terbangun dari tidurnya, sengaja ingin memanjakan diri dengan bangun sedikit siang tanpa ikut membantu sang Mommy berkutat di dapur bersama beberapa asisten rumah tangganya.
Berjalan turun setelah membersihkan diri di Bathroom mewah miliknya yang lama sudah tidak disambangi, kini Afita tersenyum mendapati Mommy Reyna menyapanya.
"Pagi cantik, sudah bisa bangun ni?" Tanya Reyna.
"Pagi Mom, sorry tidak bisa membantu" ucap Afita yang kini sudah memeluk sang mommy dari belakang.
"Tidak apa-apa, bagaimana keadaanmu?, dari semalam tidak keluar kamar"
"Sudah lebih baik Mom, capek semua ini badan" jawab Afita menggeser duduk di kursi sebelah sang Mommy.
"Buat latihan saja sana, sepertinya kamu tidak pernah melatih ototmu" ucap Reyna.
"Bagaimana disana mau melatih, Afita kan masih harus merahasiakannya" jawab Afita.
"Iya juga sih, tapi sebaiknya segera jujur saja ke suami kamu, kasian, dia juga ber hak tau keberadaan kita yang sebenarnya" ucap Reyna.
"Belum saatnya, belum tau juga dia tulus apa nggak sama Afita, apalagi cinta, belum kelihatan" sahut Afita membuat Reyna mengerutkan kening.
"Kamu sendiri?"
Afita terdiam, terus terang terkejut dengan pertanyaan Mommy nya, dan Afita hanya mengangkat bahunya saja untuk menjawab pertanyaan yang dirasa cukup berat baginya untuk di jawab.
Reyna tersenyum melihat tingkah Putri satu-satunya, memaklumi kalau memang sebenarnya putri cantiknya belum pernah merasakan jatuh cinta selama ini, jadi mungkin juga dia belum menyadarinya.
"Sudah, pada saatnya nanti kamu akan menyadarinya sayang, sana sapa dulu kakak sama Daddy mu, mereka pasti menunggu mu" ucap Reyna.
"Siap Mom, kangen sekali, aku datang!" Teriak Afita yang kini berlari keluar dari pintu samping menuju ke taman belakang.
Dua orang laki-laki yang sedang beristirahat setelah pertarungan yang menguras keringat, dikejutkan dengan kedatangan wanita cantik yang lama tidak menghiasi Mansion megah yang di tempati.
Brug.
"Daddy, kangen!" Afita sudah menubruk sang Daddy memeluknya erat.
"Jangan manja, sudah punya suami, ingat!" Sahut sang kakak yang tak lain adalah Aftan Brian Nugraha.
"Ish, sirik ini kakak Dad" jawab Afita.
Sedangkan Alex sang Daddy hanya tertawa, merasakan kebahagiaan kembali setelah lama tidak bercanda dengan putri cantiknya.
"Sudah, kalian berdua adalah kesayangan Dady, sini peluk semua" ucap Alex.
"Tidak perlu Dad, aku masih berkeringat" sahut Aftan yang tentu saja tidak akan mau di peluk manja oleh sang Daddy.
Alex tertawa melihat apa yang di perbuat anak laki-lakinya, menyadari bahwa karakter anak tertuanya memang sangat kuat dan dewasa, lebih suka melindungi daripada harus bermanja.
"Kalau aku yang peluk masih boleh kan kak?" Tanya Afita.
"Tentu saja, sini!"
Brug.
Tanpa aba-aba Aftan sudah menarik tubuh Afita hingga terjatuh dalam pelukannya, sang Daddy tersenyum melihat kedua anaknya saling berpelukan melepas kangen, sementara Reyna sang Mommy ikut tersenyum bahagia mengawasi dari jendela dapur yang tak jauh dari sana.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA juga ya.
Bersambung.