ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 107



Mansion terlihat masih sepi, kemungkinan rasa lelah di alami hampir semua penghuni membuat keadaan begitu lengang setelah ibadah pagi di lakukan, hanya beberapa asisten rumah tangga yang sibuk dengan tanggung jawabnya menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi, dan pengawal di Mansion yang selalu siap siaga bergantian untuk berjaga.


Terlihat Zafian duduk di balkon kamarnya, menatap sejenak sang istri yang masih tertidur pulas dengan tubuhnya yang masih lemah.


Tiba-tiba saja rasa nyeri di beberapa tubuhnya dirasakan oleh Zafian, seolah ada yang memberontak dan ingin keluar dari dirinya, detik berikutnya tubuhnya merasakan panas, namun dia tetap menahannya.


"Ssh, apa ini?" Ucap Zafian lirih dan masih berusaha untuk menahan semuanya, dan rasa itu berakhir hilang dengan sendirinya.


"Yang" suara sang istri membuat Zafian segera melangkahkan kaki masuk kembali.


"Iya sayang, aku disini, ada apa, kamu sudah bangun?" Tanya Zafian mengecup kening dan bibir Afita dengan lembut.


"Aku bermimpi itu lagi" ucapnya lirih.


Deg.


Zafian kembali terdiam, ada hati yang tercubit sakit saat Afita kembali mengatakan tentang mimpi lautan Darah yang dilihatnya.


"Maaf, tenanglah, semua akan baik-baik saja" ucap Zafian sambil memeluk erat istrinya, lalu mengusap lembut perutnya.


"Dari semalam kenapa kamu suka sekali mengusap perut ku?" Protes Afita akan kebiasaan baru suaminya.


"Aku akan memberitahu sebuah kejutan, apa kau siap?" Ucap Zafian setengah berbisik tepat di telinga istrinya.


Afita tampak berpikir keras, menebak kira-kira apa yang akan di sampaikan oleh suaminya, hingga kemudian Zafian berkata.


"Ada Al Faradz Junior disini"


DEG.


Afita sangat terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja terdengar di telinganya, lalu menatap lekat mata suaminya seolah mencari kebenaran akan kata yang baru terucap.


"Benarkah sayang, sungguh?" Seketika mata Afita berkaca-kaca.


Zafian tersenyum dan mengangguk pasti, Afita begitu bahagia membelai perutnya sendiri sambil menyeka air matanya beberapa kali, "Maaf, Mommy tidak tau keberadaan mu sayang" Afita terus tersenyum dan berbicara dengan bayi yang ada dalam perutnya.


Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu, Zafian segera beranjak dan membukanya untuk melihat siapa yang berkunjung ke kamarnya.


"Maaf, aku mengganggu istirahat kalian" rupanya Aftan sudah berdiri di sana.


"Tidak juga, Kami sudah terbangun" jawab Zafian.


Aftan melihat ke dalam, dan Zafian mempersilahkannya masuk, keduanya melangkah berdampingan mendekati Afita yang sudah tersenyum menyambut.


"Rupanya keadaanmu semakin baik Af" ucap Aftan yang tampak lega melihat keadaan adiknya.


"Alhamdulillah kak, terimakasih sudah menjagaku" sahut Afita dengan senyum indahnya.


"Aku minta maaf, tidak bisa menjagamu dengan baik" Aftan seolah menyesali semua yang terjadi.


"Aku yang paling bersalah disini" sahut Zafian tampak begitu sedih.


"Sudahlah, aku baik-baik saja sekarang, bukan salah siapapun ini terjadi, semua sudah di takdir kan harus seperti ini" Afita menggenggam tangan kedua laki-laki yang begitu berarti di hidupnya.


"Hem, ayo kita ke bawah untuk sarapan, semua anggota keluarga sudah menunggu di ruang makan" ucap Aftan selanjutnya.


"Baiklah, tunggu kami sebentar lagi" sahut Zafian.


Aftan segera melangkah pergi, keluar dari kamar menuju ke meja makan kembali, sedangkan Zafian segera membantu Afita untuk membersihkan diri, lalu keduanya turun bergabung di meja makan.


Meja yang begitu besar kini tampak terisi penuh anggota keluarga Nugraha, kegiatan sarapan pagi yang sangat langka tentu saja, mengingat kesibukan semua anggota keluarga hingga tak memungkinkan untuk berkumpul seperti sekarang ini.


Afita mengerutkan kening, saat menyadari ada yang kurang, hingga satu pertanyaan keluar dari bibirnya dan membuat semuanya terdiam dan saling pandang."dimana Bunda?"


Zafian juga terkejut, melihat kembali diantara semua anggota keluarga yang duduk disana dan tidak menemukan Bundanya, kebetulan asisten rumah tangga yang melayani sedang mendekat.


"Apa bunda belum keluar dari kamar?" Tanya Zafian.


Tidak ada yang bisa menutupi apapun lagi sekarang ini, hingga Reyna akhirnya menjawab, "Bunda Anita sedang ada di Rumah Sakit, ada keluhan di tubuhnya, hingga harus menjalani perawatan sebentar di sana"


"Apa?!, Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Ucap Zafian terkejut dan hendak berdiri.


"Bunda tidak kenapa-kenapa kan Mom?" Sahut Afita terlihat cemas.


"Duduk dan sarapan dulu, kita akan ke sana setelah itu, Afita tetap di rumah bersama yang lain" perintah Alex, dan membuat Zafian segera duduk kembali walaupun di hatinya begitu tak tenang.


Setelah sarapan pagi, sesuai yang di janjikan, Zafian segera bersiap bersama Alex dan Aftan untuk pergi ke Rumah sakit melihat keadaan sang Bunda, kesempatan itu juga di gunakan oleh mereka untuk menceritakan segalanya ke Zafian.


Evan berjalan di samping Ethan, mengantar kepergian mereka sambil menceritakan sesuatu


"Aku berharap keadaan di sana baik-baik saja kak, yang paling memprihatinkan adalah keadaan Naura" Evan menjelaskan.


"Hem, apa lukanya sangat parah?"


"Sangat, dia bisa hidup sampai sekarang itu adalah keajaiban, mengingat luka fatal di hampir seluruh tubuhnya"


"Oh my God, ampuni dosa kami" sahut lirih Aftan sambil menarik nafas dalam dengan pelan.


Alex mulai membuka pembicaraan setelah melirik Aftan yang berada di kursi depan.


"Maaf Zaf, kami tidak menceritakan keadaan Bunda mu yang sebenarnya tadi waktu di ruang makan"


Deg


"Maksud Daddy?" Zafian merasa ada hal serius yang di tutupi.


"Ada Afita yang harus kita jaga emosinya, apalagi dia tengah hamil, jadi kami tidak berani memberitahukan ini dulu ke istri mu" sahut Aftan, membuat Zafian makin tak sabar mendengarkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi Dad?" Tanya Zafian.


Alex menatap Zafian sekejab, lalu menceritakan semua kejadian, dimana Anita yang tengah berlari menyusul dirinya di saat detik-detik kekuatan hitam itu terlepas, Beruntung Evan berhasil menyelamatkan dengan cepat, hingga Anita tidak terluka terlalu parah, namun tetap harus dilakukan perawatan di Rumah Sakit untuk sementara waktu.


Zafian terkejut, menghempaskan punggungnya di sandaran kursi mobil, menyesali apa yang sudah terjadi karena perbuatannya, "Astagfirullah, apa yang sudah aku lakukan, aku mohon Dad, hilangkan kekuatan ini, aku tidak layak memiliki, aku rela kalau harus mati, asal tidak lagi bisa menyakiti siapapun" ucap Zafian yang begitu Frustasi.


Alex menepuk bahunya, berusaha menenangkan menantunya sebelum memberikan kabar berikutnya.


"Aku menyesal sudah melepaskan segelnya, dan akulah yang paling bersalah disini" Alex menarik nafas panjang untuk mengurangi beban pikiran.


Sementara Aftan hanya bisa terdiam untuk saat ini, membiarkan kedua orang yang ada di jok belakang untuk tenang kembali, hingga beberapa waktu kemudian sampai di tempat yang di tuju.


Zafian segera bergegas masuk dan mencari ruangan Sang Bunda, sambutan dari sahabatnya bahkan tak begitu di gubris, Aftan lah yang kemudian berjalan bersama dengan Firman menuju kamar Bunda Anita.


"Apa Zafian tau kenapa Bundanya sampai terluka?" Tanya Firman, dan Aftan mengangguk membenarkan.


"Lalu?" Tanya Firman.


"Tentu saja Zafian merasa terpukul akan hal itu" jawab Aftan.


Keduanya tiba di sebuah ruangan, dari balik pintu kini terlihat, bagaimana Zafian menangis dan memohon ampunan kepada Bunda tercinta nya.


"Bunda tidak menyalahkan mu Zaf, aku tau itu di luar kuasamu" ucap Anita masih menangis pilu, dia merasakan betapa berat beban dosa yang di tanggung oleh anaknya.


Anita memeluk Zafian dengan erat, persis seperti yang di lakukan bertahun-tahun lalu saat kejadian dimana Zafian tidak sengaja melukai teman kecilnya di pesantren tempat seorang kyai menyelamatkannya.


Aftan dan Firman membuka pintu dan masuk, Ibu Anita segera tersadar bahwa ada orang selain anaknya yang kini sudah berada di ruang perawatan.


"Maaf Pak Alex, terimakasih sudah berkunjung di sini" ucap Anita.


"Sama-sama Bu, saya senang anda sudah lebih baik, semoga segera sembuh dan kembali bersama kami di Mansion Zafian" ucap Alex memberi hormat.


Lalu Anita melihat kearah Firman dan Aftan yang sudah ada di ruangannya, Firman segera mendekat untuk bertanya


"Apa bunda sudah baikan?" Tanya Firman.


"Alhamdulillah sudah, apa Bunda boleh pulang hari ini?" Anita berharap.


"Sabar Bun, nanti akan diperiksa kembali, kemungkinan bunda sudah boleh pulang hari ini" ucap firman membuat Afita begitu bahagia.


"Tapi_, bagaimana dengan Naura?" Ucap ibu Anita.


Semua masih terdiam, hingga Zafian tampak berpikir akan ucapan Bundanya.


"Naura?, Ada apa dengan Naura?" Tanya Zafian ke sang Bunda yang tampak bingung menjelaskan.


Firman segera mendekat dan meminta Zafian untuk mengikutinya, sementara Alex dan Aftan masih diruang Bunda Anita untuk memeriksa keadaanya.


"Fir, kita mau kemana, ada apa Sebenarnya?!" Zafian berkata sedikit keras, karena dia tidak paham apa yang sedang di lakukan oleh sahabatnya, hingga Firman berhenti tepat di depan ruang ICU.


"Apa ini, kenapa kita harus masuk ke ruang ICU?" Tanya Zafian makin tak tenang.


"Lihatlah Itu, dia Anita"


DEG


Zafian terperangah tak percaya, melihat keadaan yang sungguh memilukan dari Naura, bahkan bantuan hidupnya berasal dari beberapa alat yang terpasang di tubuhnya.


"Kekuatan mu yang mengakibatkan Naura seperti ini, hanya itu yang aku tau dari penjelasan Evan saat tiba-tiba muncul dan mengantarkannya padaku"


BRUG.


Zafian terjatuh duduk di lantai, seolah tubuhnya lemas tak bertenaga melihat kenyataan yang mengerikan akibat kekuatannya.


"Apa yang harus ku jelaskan ke Afita soal Naura, apa Fir?" Ucap lirih Zafian begitu pilu terdengar di telinga sahabatnya.


"Aku pun belum mampu membayangkan hal itu" jawab Firman yang kini membantu Zafian untuk berdiri dan duduk di kursi yang telah diambilkan oleh petugas yang ada di sana.


Jangan lupa untuk mengunjungi karya terbaru Author "The TRIPLETS" Kisah masa remaja Ailina, Ethan dan Evan.


Ditunggu juga dukungannya, beri HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN, dan Tonton IKLANNYA.


Bersambung.