ACCIDEN IN LOVE

ACCIDEN IN LOVE
Episode 133



Afita kini kembali ke rumahnya, nampak Zafian terlihat masih duduk dengan tenang di ruang tengah setelah mengantarkan Afita pulang.


"Ini sudah malam" ucap Afita.


"Hem, aku tau, bolehkan aku menginap disini?" Tanya Zafian berharap.


"Tapi Kamar disini terbatas, hanya ada dua, satu Naura dan satu lagi _"


"Aku akan tidur dengan tenang di kamarmu"


"Apa!, Tapi_"


"Apa kau lupa, kita masih suami istri, tidak ada yang aneh kalau tidur bersama bukan?" Ucap Zafian dan tentu saja membuat Afita tak lagi bisa beralasan.


Zafian tersenyum, lalu beranjak dari tempatnya."Dimana kamarmu, atau aku harus mencarinya sendiri?" Ucap Zafian.


Afita melangkah mendekati, lalu berjalan menuju kamar yang tak jauh dari sana, membuka perlahan seolah bimbang, namun tiba-tiba saja Zafian sudah berjalan masuk begitu saja.


"Aku akan membersihkan diri, dimana kamar mandinya?" Tanya Zafian setelah meletakkan kunci mobilnya.


"Ada di luar, disini hanya ada satu kamar mandi" jawab Afita.


"Baiklah, tak masalah" ucap Zafian yang sebenarnya juga terkejut.


Afita hanya menggelengkan kepala, lalu duduk terdiam sambil memegangi dadanya, entah kenapa seolah kembali di mana pertama kali mengenal suaminya, detak jantungnya berpacu cepat saat berdekatan, apalagi sekarang harus satu ranjang.


Zafian kembali masuk ke dalam kamar yang tidak begitu luas, lalu melepaskan celana.


"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Afita terkejut.


"Melepaskan celanaku, ini tidak nyaman kalau di buat tidur malam"


"Tapi_"


"Tenanglah, aku memakai dalam-an, dan aku tidak akan melepaskannya kecuali _" Zafian tersenyum aneh, lalu mendekati Afita yang kini semakin melebarkan matanya.


"Zaf, tunggu, ini_"


Beruntung Afita segera bisa menggeser tubuhnya, karena ponselnya berbunyi dan ada alasan untuk menghindari Zafian.


Rupanya Raka kini menghubungi, Zafian duduk mendekati Afita saat perbincangan berlanjut, dan rupanya Raka sudah memberikan waktu dua hari lagi agar Zafian segera pergi ke sana untuk melihat putranya.


Afita segera menutup handphonenya, tanpa sadar segera berbalik dan wajahnya hampir saja bertabrakan dengan Zafian yang kini wajahnya begitu dekat.


"Sorry, aku tidak tau kalau kau_"


Cup


"Zaf_"


"Aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merasakan hal yang sama?, Atau hatimu ini sudah berubah?" Ucap Zafian dengan menempelkan jari jemarinya tepat di dada Afita setelah mencuri satu ciu-man tepat di bibirnya, seolah ingin mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.


"Aku_" ucap Afita tertahan.


"Lanjutkan sayang"


"Sangat merindukanmu Zaf, tapi juga begitu takut kalau takdir mengharuskan kita berpisah untuk keselamatan anak kita" sahut Afita.


"Itu tidak akan terjadi lagi"


"Tapi Zaf _"


"Percayalah padaku, pasti ada jalan keluar terbaik, namun sementaranya waktu, aku percaya kan putraku padamu sayang, tidak apa-apa kita berjauhan, walaupun itu sangat membuatku frustasi" sahut Zafian.


"Maaf Zaf, aku akan tetap memilih Fian, dia adalah prioritas ku dalam hidup"


"Aku tau, dan aku tidak akan terus membiarkan mu harus memilih salah satu dari kami, aku pastikan kita akan bisa berkumpul seperti keluarga yang lain.


"Aamiin, aku sangat mengharapkan hal itu" sahut Afita.


Zafian menarik tubuh Afita denah tiba-tiba, dan kini Afita sudah berada dalam pangkuannya, masih berada dipinggiran tempat tidur, Zafian kini bisa mencium dengan puas bau tubuh wanita yang sudah beberapa tahun hampir membuatnya gila.


"Apa yang dikatakan paman Raka?" Tanya Zafian sambil menempelkan wajahnya di dada Afita.


"Paman mengatakan dua hari lagi, kamu bisa melihat Fian dari jauh"


"Kenapa 2 hari?"


"Paman Raka akan memperkenalkan dirimu dulu kepada Fian lewat ceritanya, agar nantinya dia tidak terkejut atau takut"


Zafian terdiam, semakin erat memeluk Afita yang masih berada dalam pangkuannya.


"Apa kamu tidak pernah menceritakan tentangku?" Tanya Zafian.


"Maaf, aku tidak berani melakukan itu, ketakutan ku akan pertemuan kalian yang nantinya bisa membahayakan nyawa Fian, membuatku menahan semua keinginan ku akan hal itu, sekali lagi, maafkan Aku Zaf"


Zafian membelai lembut punggung Afita, lalu mendongak melihat Afita yang masih menunduk seolah begitu merasa bersalah.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, aku memaklumi semuanya setelah tau apa yang sebenarnya terjadi, terimakasih kamu sudah menyelamatkan anak kita, dan hanya satu hal yang ingin aku tanyakan padamu?" Ucap Zafian.


"Apa tubuh dan hati ini, masih milikku?"


"Asal kamu tau, aku sibuk menghidupi kami bertiga, tidak ada pikiran lain, hanya fokus mencari nafkah untuk mencukupi semuanya"


"Aku percaya, dan aku ingin meminta satu hal darimu"


"Apa?"


"Panggil aku seperti dulu kita bersama, aku sangat merindukan hal itu sayang" ucap Zafian.


Afita terdiam, dalam hati Afita sudah begitu merindukan bibirnya memanggil nama suaminya dengan sebutan sayang.


"Apa itu terlalu berat untuk mu?" ucap Zafian lagi.


"Ah, tidak, maaf aku sedikit melamun, baiklah, itu tidak terlalu berat untukku, Yang" jawab Naura.


Zafian tersenyum, mendengar kalimat yang begitu dia rindukan, lalu kemudian perlahan tangannya menyusuri area Dafa istrinya.


"Apa boleh?" Tanya Zafian.


"Apa?" tanya Afita tak begitu mengerti.


"Menikmati apa yang sudah halal bagiku" jawab Zafian yang kini mulai memberikan sen-tuhan lembut, hingga jari jemari ya sudah berani meremas kedua bukit kembar Afita.


"Yang, oh" ucap Afita tertahan, saat rasa yang aneh kini menghantam has-rat yang semakin kuat untuk bersentuhan dengan suaminya.


Zafian tersenyum, kemudian membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya, pemandangan yang sangat indah terpampang disana, ada yang semakin tak tahan dan kini sudah berdiri tegak seolah begitu senang sudah menemukan sarangnya.


Pad akhirnya keduanya berakhir dengan melakukan aktifitas diatas ranj-ang, sungguh seru kerinduan yang tertahan kini bisa terlampiaskan, bahkan Zafian tanpa henti membuat Afita berteriak dan mende-sah berulang kali.


"Sayang sudah" ucap Afita yang merasa tenaganya terkuras begitu banyak.


"Satu kali lagi sayang, aku mohon, diamlah, biar aku yang bekerja" sahut Zafian yang kini sudah memposisikan sang istri me-nung-ging diatas kasur dengan sasaran tembak yang kini sedang di eksplor nya.


Satu hentakan pelan membuat keduanya berteriak, "yang, pelan" ucap Afita yang merasa milik suaminya begitu penuh di dalam miliknya.


Hingga kemudian berakhir dengan de-sa-han dan jeri-tan saat mencapai puncak bersama-sama.


*


*


Pagi yang begitu cerah, Afita sudah bangun duluan dan sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan pagi, tentu saj di bantu dengan Naura yang senyum-senyum dari tadi.


"Kamu kenapa Nau?" Tanya Afita, masih sambil melakukan aktifitasnya.


"Tidak ada, hanya senang saja melihat wajah kak Afita pagi ini berbeda dari biasanya"


"Maksud mu?"


"Tampak segar dan lebih muda kak, sepertinya semalam ada yang sudah memberikan vitamin langsung"


Afita menatap Naura sejenak, lalu kemudian melanjutkan aktifitasnya lagi, setelah semuanya selesai, dan siap untuk dinikmati.


"Apa kakak akan pergi bekerja hari ini?" Tanya Naura.


"Tentu saja, memangnya kenapa?"


"Tuan Zafian mengijinkan?" Tanya Naura.


"Entahlah, tapi aku harus bekerja Nau, paling tidak menyelesaikan tugasku dulu, setelah itu, aku juga masih belum tau kelanjutan hidup kita seperti apa, kami belum menemukan solusi soal Fian dan juga Daddy-nya"


"Apa aku boleh bergabung?" Suara seseorang mengejutkan Afita dan juga Naura.


"Dokter Firman?!" Ucap Afita dan juga Naura bersamaan.


"Maaf, aku masuk begitu saja, dari tadi aku berteriak tidak ada jawaban dari pemilik rumah"


"Oh ya, maaf, kami tidak dengar" sahut Naura yang kini beraktifitas menggunakan kursi roda membersihkan meja makan dan menyeret satu buah kursi makan untuk di tambahkan disana.


"Dimana Zafian?" Tanya Firman.


"Sepertinya masih tidur" jawab Afita.


"Di kamarmu?"


"Hanya ada dua kamar di rumah ini, tidak mungkin menempatkan Zafian di kamar Naura bukan?"


"Kalau sampai itu terjadi, aku akan membu-nuhnya" ucap Firman.


"Sebelum kamu melakukannya, aku duluan yang akan menghabisi nya" sahut Afita, dan membuat Firman terkekeh.


Namun tidak dengan Naura yang terlihat bingung dengan percakapan Firman dan juga Afita yang nampak tak normal baginya.


Jangan lupa HADIAH, VOTE, LIKE, KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.